
Kasih Jempol Dulu ya kaka.... πππ
Karena jempol anda adalah jempol ajaib buat saya. Hehehe π
Berbagai macam makanan sudah tersedia di atas meja makan. Di sekitar meja sembilan orang sudah duduk untuk menyantap makan siang mereka. Chef Arnold yang baru selesai menata hidangan buatannya berdiri di ujung meja dengan Miss Tasya di belakangnya.
"Silahkan menikmati." ucap Chef Arnold.
"Terima kasih banyak Chef Arnold, Miss Tasya." ucap Aira. Elang melirik tajam Aira yang duduk di sebelahnya. Kedua orang itu segera berlalu.
Menyadari tatapan tajam dari sang kekasih, Aira memegang lengan Elang yang berada di atas meja makan.
"Kami tadi sudah berkenalan saat tour Vila ini. Kami juga sudah kenalan dengan pak Paijo. Ya kan Mik? Mel? Del?" Aira melirik ketiga gadis yang duduk di sebelahnya. Mencari dukungan. Ketiganya kompak mengangguk. Mereka faham jika Elang sedang cemburu sekarang.
"Baguslah. Ayo dimakan. Tunggu apa lagi?" Dasar Elang tidak peka! Mereka semua menunggumu. Melihat tuan rumah berwajah masam tentu makanan yang tersedia akan terlihat menyeramkan.
Baru setelah wajah Elang kembali enak dipandang, semua yang ada di meja makan langsung tancap gas pol menikmati hidangan yang dibuat khusus untuk mereka.
Mereka sangat menikmati makanan yang disediakan. Chef Arnold memang Chef andalan di hotel Elang. Jadi tidak heran jika masakan yang dihasilkan sempurna.
"Makanannya benar-benar enak. Kayaknya, tiga hati disini bakal buncit perut gue." Mikaila mengelus perutnya yang terasa kenyang.
"Kamu benar Mik. Pasti pulang dari sini pipiku berubah jadi bakpau." Melati mengembungkan mulutnya.
"Oh diet ketat gue. Sepertinya tiga hari ini gue cancel dulu." Dela siang ini tidak sadar jika dia telah memakan porsi jauh melebihi aturan dietnya.
"Ck. Kalian ini terlalu banyak berfikir." Ridwan mengambil ayam goreng dan memakannya.
"Iya. Para wanita terlalu serius memikirkan masalah berat badan." timpal Wildan.
"Itu pasti. Bagi perempuan badan yang ideal itu sangat penting." jawab Mikaila.
"Cukup!" Teriak Aira. Dia memicingkan matanya ke arah temannya yang berdebat. "Bisakah kalian tidak membicarakan hal yang unfaedah ini saat makan?" semuanya diam. Mereka hafal sifat Aira yang satu itu.
"Aira benar. Cepat selesaikan makan kalian. Setelah ini kita akan ke laut. Ada spot bagus untuk diving dan snorkling di sekitar sini." ucap Elang membuat keenam remaja itu berbinar. Mereka tidak menyangka jika bolos sekolah berkedok liburan ini akan sangat menyenangkan.
"Kami sudah selesai kak." ucap Wildan mewakili teman-temannya.
"Ayo berangkat." Elang berdiri. Diikuti oleh semua orang.
Di depan vila sudah ada dua mobil terparkir. Satu mobil Reno, dan sebuah mobil van. Kali ini, mereka akan menggunakan mobil van yang telah disiapkan Elang untuk membawa mereka ke dermaga. Reno tidak ikut mereka karena dia memiliki tugas sendiri. Aira mengernyit heran saat melihat mobil Van bertuliskan Dirgantara Resort di bodi mobilnya. Aira ingat betul jika resort itu adalah resort yang viral beberapa waktu lalu karena mereka menyediakan fasilitas snorkling yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum.
'Jadi resort itu milik keluarga kak Elang.' gumam Aira. Dia jadi berfikir, sebenarnya seberapa kaya lelaki yang menjadi pacarnya itu?
__ADS_1
Dirgantara merupakan salah satu resort yang dimiliki keluarga Elang. Resort itu berada tidak terlalu jauh dari vila mereka tinggal. Bukannya Elang tidak mau mengajak mereka menginap di resort, tapi Elang hanya ingin suasana yang damai untuk Kencan berkedok liburan bersama yang sengaja ia atur. Garis bawahi kata kencan itu. Itu point terpenting untuk Elang.
Setelah sampai di dermaga, sebuah kapal kecil telah menanti mereka. Setelah semua naik ke kapal, Perlahan kapal melaju meninggalkan dermaga. Bergerak ke laut yang lebih jauh.
Baju selam, kaki katak dan juga tabung oksigen sudah terpasang di tubuh Aira. Aira yang memang menyukai diving langsung menjatuhkan diri ke laut saat kapal berhenti karena sudah sampai pada spot yang sesuai untuk kegiatan bawah laut itu. Elang segera mengikuti Aira. Berenang di dekat gadis itu. Berenang ke dalam laut yang menampilkan eksotisme bawah airnya. Terumbu karang masih terjaga dengan berbagai jenis ikan kecil berwarna-warni dan spesies hewan laut lain yang berenang bebas di antara mereka.
οΏΌ
Kedua orang itu berenang di dalam laut beriringan. Saling bicara melalui bahasa tubuh mereka di dalam sana. Melihat keindahan yang ada. Berkeliling di dalam laut. Menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.
Di tempat lain, Mikaila dan Wildan memilih Snorkling. Keduanya tidak terlalu menarik untuk di ulik. hihihihi. Biarkan saja mereka berdua.
Sedangkan Dela dan Ridwan malah bermesraan di atas kapal. Saling berpelukan dan bercumbu mesra di ujung kapal itu. Membuat nakhoda kapal yang masih muda hanya bisa melelehkan air liurnya di balik kemudi kapal.
Sudah jangan dibahas terlalu dalam yang mesum itu, lebih baik kita membahas Juna dan Melati yang saat ini duduk berdampingan di sisi belakang kapal. Mereka sebenarnya juga menghindar karena merasa canggung melihat apa yang dilakukan oleh dua pasangan mesum di ujung kapal.
"Lo kenapa nggak ikut renang?"
"Aku tidak bisa berenang." Juna mengernyit mendengar jawaban Melati. SMA Bakti Nusa juga memiliki pelajaran renang dan itu wajib diikuti. Dan gadis di sebelahnya ini tidak bisa berenang. Ini mustahil!
"Aku sebenarnya phobia air. Waktu aku kecil aku pernah terseret arus banjir." Juna hanya ber-oh ria. Jadi ini yang membebaskan Melati dari pelajaran wajib di SMA mereka.
Juna berdiri. Mengambil dua buah pelampung dan menyerahkan satukepada Melati.
"Tunggu apa lagi? Pakai."
"Gue akan mengajari lo cara berenang. Percayalah." Melati memasang pelampung di tubuhnya.
"Sini." Juna sudah berada di pinggir kapal. Bersiap untuk turun.
"Aku takut Juna."
Juna menghampiri Melati. Menggenggam tangan gadis itu. Tangan itu sudah dingin. Dia benar-benar takut. Juna memberikan senyum mautnya yang jarang ia keluarkan. Mencoba memberikan ketenangan pada gadis di sampingnya.
Melati menurut saat digiring ke pinggir kapal. Dia menutup mata karena ngeri. Juna tersenyum melihatnya.
Juna berdiri sejajar dengan melati. Meminta gadis itu membuka matanya.
"Lihatlah Mel. Pemandangannya Indah. Lo akan rugi jika tidak membuka mata." perlahan mata indah itu terbuka. Mikaila sengaja memesankan softlens yang berwarna sama dengan mata milik Melati. Akan sayang sekali jika Mata indah Melati tertutup softlens.
οΏΌ
"Benar Na. Ini indah."
__ADS_1
"Itu benar. Dan di bawah sana jauh lebih indah. Lihatlah di bawah sana tidaklah dalam." Melati melihat ke bawah. Pemandangan di bawah sana memang terlihat dengan jelas.
"Ayo sekarang kita turun." Juna menuruni tangga di tepi kapal.
"Tenang saja. Percayalah. Gue akan jagain lo." kata Juna saat dia sudah masuk ke dalam air. Melati mengambil nafas sebelum ikut turun dan masuk ke dalam laut.
"Ini akan mudah Mel." Juna memegang erat tangan Melati. Begitupun gadis itu. Dia terlalu takut untuk melepaskan tangannya dari tangan Juna. Biarlah dulu dia abaikan detak jantungnya yang tidak beraturan setiap kali berdua dengan Juna. Detak jantung itu kini lebih cepat bekerja karena takut tenggelam.
Juna dengan telaten mengajari Melati berenang. Berusaha memberikan ketenangan pada gadis yang phobia air itu. Bagaimanapun, ini pertama kalinya Melati belajar berenang.
Perlahan-lahan Melati mulai tenang. Berusaha melakukan apa yang diintruksikan oleh Juna. Dia menggerakkan tangan dan kakinya di bawah air. Pegangan tangan Juna dengan perlahan dilepaskan saat Melati sudah mulai menguasai teknik dasar renang.
Juna tersenyum saat melihat Melati berhasil mengalahkan ketakutannya dan sudah bisa berenang sekarang. Gadis itu bahagia sekarang.
"Aw aduh duh duh!" Juna menoleh. Dia segera mendekati Melati yang kesakitan. Menggapai lengan gadis itu.
"Kenapa Mel?"
"Kakiku kram Na."
"Berpegangan yang erat." Juna mengalungkan tangan melati di lehernya. Melati mengeratkan pegangannya pada leher Juna. Juna berenang menuju kapal dengan Melati berada di belakang punggungnya.
"Pegangan yang erat. Gue akan bawa lo naik." Juna segera menggendong Melati naik ke atas kapal. Setelah itu, mendudukkan gadis itu di kursi santai di atas kapal. Juna berjongkok untuk memeriksa kaki Melati yang kram sebelum memberikan sedikit sentuhan ajaibnya.
"Au!" pekik Melati saat Juna membenarkan posisi kakinya yang kram. Tanpa sadar Melati mencengkeram erat bahu Juna yang berada tepat di depannya. Juna mendongakkan kepalanya. Pandangan keduanya bertemu.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung keduanya berpacu secara bersama-sama.....
...***...
Mungkinkah benih-benih cinta Melati dan Arjuna mulai tumbuh sekarang?
Nantikan kisah selanjutnya ya Readers.
...Terima kasih sudah mampir π...
...Maaf Typo bertebaran π...
__ADS_1
...Salam sayang π...
...β€β€β€Queen_OKβ€β€β€...