
Di lapangan sekolah yang luas, ratusan siswa dari berbagai jurusan kelas dua belas sudah berbaris rapi. Hari ini adalah pengumuman kelulusan yang telah mereka perjuangkan. Dimana, akhir dari kegiatan pembelajaran selama hampir tiga tahun di sekolah SMA kebanggaan mereka.
Kepala sekolah berdiri di atas podium di depan lapangan. Memberikan kata-kata yang membangun Siswa-siswinya. Memberikan wejangan yang akan baik untuk masa depan mereka. Memberikan kilas balik kenangan yang telah siswanya berikan di hati laki-laki paruh baya itu.
"Kami sangat bangga pernah memiliki Siswa-siswi hebat seperti kalian di sekolah ini. Terima kasih untuk setiap tawa yang kalian hadirkan. Untuk setiap senyum yang telah terbit. Untuk setiap prestasi yang telah kalian persembahkan." ucap kepala sekolah.
"Disini, tiga tahun yang lalu. Kalian semua berkumpul disini masih menggunakan seragam biru putih. Menginjakkan kaki kalian disini untuk pertama kali. Kini, tidak kami sangka kalian akan segera meninggalkan sekolah ini." Banyak siswi yang menangis. Mereka tidak menyangka jika waktu berjalan sangat cepat. sepertinya moment itu masih sangat nyata di ingatan mereka. Mereka datang dengan wajah yang polos khas anak SMP. Dan sekarang mereka sedikit demi sedikit telah menemukan jati diri mereka dan telah mengepakkan sayap kehidupan mereka.
"Kalian semua adalah Siswa-siswi yang istimewa. Kami akui bahwa angkatan kalian adalah angkatan terhebat sepanjang masa. Kami bangga pada kalian." siswa laki-laki bersorak gembira. Di balik setiap polah tingkah siswa, selalu ada kelebihan disana.
"Hari ini, saya umumkan, bahwa kalian semua dinyatakan.... LULUS!" semua siswa bersorak senang dan saling berpelukan dengan sahabat mereka. Air mata tak luput ikut mengalir di setiap pasang mata. Memberikan keharuan yang tercipta.
Kepala sekolah segera turun dari panggung dan bersama-sama dewan guru ikut bergabung ke lapangan dan memberikan selamat pada Siswa-siswi yang telah mereka bina selama mereka belajar disini. Setelah ini, mereka akan melepaskan siswa disukainya untuk menuju bangku kuliah yang akan semakin menguatkan karakter para remaja itu.
Corat-coret dan juga semprat-semprot seragam tak terhindarkan meski sudah diperingatkan untuk di tinggalkan. Saling memberi tanda tangan dan juga tulisan-tulisan penuh kesan di seragam milik temannya. Baju, rok, celana, wajah, dan rambut mereka pun kini jauh dari kata rapi. Semua sudah berwarna-warni seperti pelangi.
Bahkan banyak guru yang ikut membubuhkan mahakaryanya di seragam sang murid.
"Na, kasih tanda tangan lo." kata Aira pada Juna yang baru saja selesai memberikan karyanya di baju Wildan.
Juna menuliskan sebuah kata sederhana di lengan baju kanan Aira. "Sahabat terindahku, terima kasih memberi warna dalam kisah persahabatan kita... "
"Lo nulis apa?" tanya Aira saat Juna selesai menyemprotkan pilox tipis berwarna biru muda di atas tulisannya.
"Ntar lo baca ndiri. Giliran lo yang nulis. Disini!" Juna menunjukkan dada sebelah kanannya.
Aira melepas tutup spidolnya dengan mulut dan menjaganya disana agar tidak jatuh. Ia kemudian menuliskan kata-kata yang selama ini ada di hatinya untuk Juna.
"Sahabat terbaikku, terima kasih telah ikut menemani hari-hariku. Semangat Jones... "
Pilox yang tadi Juna semprotkan sudah dibuat Aira untuk menyemprot tulisannya. Aira memperhatikan tempat kosong disebelahnya. Dada sebelah kanan Juna masih kosong.
"Ini buat siapa Na?"
"Bukan buat siapa-siapa sih. Nggak ada yang khusus." jawabnya sekenanya. Padahal dia juga tidak tahu kenapa dari tadi dia melarang siapa pun memberikan tulisan disana.
"Ow... Kuy lah kita penuhi seragam ini." Aira sudah berlalu dan meminta teman sekelasnya untuk menuliskan kalimat kenangan di bajunya.
__ADS_1
"Ra! Ada yang cari noh di depan." teriak salah satu temannya.
"Siapa?"
"Tauk. Tadi katanya suruh yang lain ikutan." jelasnya. Aira dan sang pembawa pesan tahu betul siapa yang dimaksud. Yang masih belum diketahui adalah orang yang mencari mereka.
"Oke. Terima kasih Ya." Sang pembawa pesan hanya mengacungkan jempol tangannya sebelum beranjak pergi.
Kini Aira dan teman-temannya berjalan ke arah gerbang sekolah menemui orang yang mencari mereka. Para cewek berjalan di depan sedangkan para cowok berjalan di belakangnya.
Di depan gerbang, mereka dapat melihat sebuah mobil mewah berwarna merah. Dia orang pria berdiri di depan mobil membelakangi mereka.
Melihat punggungnya, Aira tersenyum. Ia sudah tahu siapa yang mencarinya. Tak kain dan tak bukan mereka berdua adalah Elang dan Reno.
Aira segera berlari dan memeluk pacarnya meninggalkan kelima sahabatnya yang belum mengenali Elang. Mereka menebak bahwa mereka berdua adalah sepupu kembar Aira. Mereka tidak mengira jika itu Elang karena Elang belum pernah menemui mereka di sekolah.
"Ini kenapa jadi warna-warni kayak gini sih sayang?" Elang menarik rambut Aira yang dikuncir. Warnanya tak lagi hitam karena semprotan pilox yang bermacam warna.
"Hehehe. Biasa mas. Ritual pelepasan gelar. Dengan ini kami resmi bukan lagi anak SMA. Kami lulus." Aira nyengir. Menjawab sekenanya. Elang hanya tersenyum sambil mengelus kepala Aira dengan lembut. Berusaha memahami pemikiran remaja seusia pacarnya itu.
"Lengkap betul Kak. Kayak absen aja." kata Ridwan.
"Belum lengkap. Aku belum diabsen kak. Nanti kalo nilaiku kosong gimana?" Aira mencebik sambil melepaskan pelukan Elang.
"Elo mah nggak usah diabsen Ra. Cukup diteken sama bos gue." semua teman Aira tertawa. Puas melihat Aira yang suka jahil digoda seperti itu.
"Serah lah kak. Mas! Kasih tanda tangan disini." Aira menunjuk tempat kosong di dada sebelah kirinya. Aira memang sengaja mengosongkan tempat itu untuk Elang.
Elang membaca sekilas tulisan-tulisan alay khas remaja yang lebih dulu ada di seragam gadis di depannya sebelum memberikan tulisannya. "Teman hidup masa depanku... Congrulation sayang. Mari tulis cerita cinta kita bersama." kalimat itu akhirnya tertulis indah di seragam bagian dada kiri Aira.
Setelahnya Elang memberikan bingkai berbentuk Hati untuk tulisan dan tanda tangannya. Yang lain pun meminta Elang dan Reno memberikan tulisannya pada seragam mereka.
"Emm Na, boleh aku minta tulisan kamu?" tanya Melati saat Elang dan Reno baru saja menuliskan kalimat mereka di seragamnya.
"Boleh. Dimana?" Melati memandangi seragamnya. Di semua tempat sudah penuh kecuali di bagian dada kirinya. Sehingga dia berbalik dan meminta Juna menuliskannya disana.
"Udah penuh Mel. Di belakang udah nggak ada tempat."
__ADS_1
"Em. Ya udah kamu nulis disini saja." Melati sedikit menarik seragamnya agar tidak menempel di kulitnya. Akan sangat canggung jika Juna menuliskannya dengan posisi seperti itu.
"Teman baru, walaupun perjumpaan masih sebentar, namun rasa tidak bergantung pada itu... " Entah apa maksud kalimat yang Juna tuliskan. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Sudah. Giliran lo yang nulis di seragam gue." Juna melihat baju depannya juga sudah penuh. Dia pun membalik tubuhnya. "Masih ada tempat?"
Melati menggeleng. "Sudah penuh Na. Bahkan sekedar tanda tangan tidak akan muat."
"Ya sudah. Disini aja yang masih kosong." Juna menunjukkan saku seragamnya.
Melati segera menuliskan kalimatnya disana. Juna memperhatikan gerakan tangan Melati yang seperti menari di dadanya.
"Teman melangkah, terima kasih telah memberi keberanian untukku melawan ketakutanku dan memenangkannya."
Setelah selesai, dia mendongak. Juna yang menundukkan wajahnya seketika terkejut karena kepergok sedang memperhatikan Melati dengan jarak yang sangat dekat. Mereka sekarang bahkan berdiri dengan jarak hanya beberapa senti hingga hembusan nafas keduanya sama-sama terasa. Detak jantung mereka juga saling berpacu.
"Ehem. Yang laen ngontrak nih." Mikaila yang dari tadi mengalungkan tangannya pada tangan Wildan melepasnya dan menyenggol lengan Aira yang dari tadi cekikikan melihat kedua remaja yang belum mengerti perasaan mereka.
Melati dan Juna bahkan tidak sadar jika mereka menjadi pusat perhatian diantara mereka. Keduanya asik dengan dunia mereka sendiri dari tadi. Jika bukan karena Wildan yang melarang semua orang pergi, mungkin mereka berdua masih akan lama berduaan disana.
Untuk saat ini, apa yang terjadi pada Juna dan Melati harus disembunyikan. Melati masih belum bisa menghadapi para fans fanatik Juna jika suatu saat mereka mengetahui kedekatan antara keduanya. Jadi, untuk sementara mereka akan melindungi Melati.
Juna yang sekarang juga sudah mulai bisa mengontrol dirinya untuk tidak langsung pergi jika dirinya merasa canggung. Dia mengerti dengan dia bersikap begitu akan memperburuk situasi antara mereka. Juna berusaha menerima perasaan asing yang hadir di hatinya. Berusaha meyakinkan benarkah tempat yang telah ditempati oleh seorang Melati Anggia Riska di dalam hatinya.
Namun, dirinya akan menahan perasaannya hingga mereka lulus dari sekolah. Jika Juna memperlihatkan perhatiannya sekarang, Juna khawatir akan kenyamanan Melati. Jadi, jalan satu-satunya adalah dengan bersabar. Menunggu waktu dan keadaan yang tepat.
Aira dan teman-temannya memutuskan untuk tidak mengikuti konvoi yang teman-teman seangkatannya lakukan. Setelah pulang untuk membersihkan diri, mereka berkumpul melanjutkan acara mereka. Acara pelepasan gelar sebagai siswa SMA akan mereka akhiri dengan mengunjungi rumah baca. Mereka mengadakan syukuran kecil-kecilan disana. Membagikan kebahagiaan pada anak didik disana. Tapi, baik Elang maupun Aira masih merahasiakan masalah rencana untuk memindahkan rumah baca tersebut sampai semua benar-benar siap.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa like like like like 👍
__ADS_1