Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 27. Sudah Terlalu Biasa


__ADS_3

Aira mendudukkan dirinya di meja makan setelah tiba di rumah. Dilihatnya anggota keluarganya lengkap ada di sana. Ini sungguh moment yang langka. Karena kesibukan yang sering membuat papi dan kakaknya berada di kantor hingga malam, kedua orang itu jarang makan malam bersama Aira dan Amira.


"Sa kenapa makanmu sedikit sekali?" Safna memperhatikan piring adiknya yang tidak seperti biasanya.


"Tadi udah makan di luar sama teman."


"Oo."


"Oh ya Mam, tadi dapat undangan rapat walimurid dan pengambilan raport dari sekolah."


"Kapan Sa?"


"Lusa Mam. Hari Sabtu."


"Oh sayang sekali sayang. Sabtu ini mami ada arisan sama teman-teman mami."


"Baiklah."


"Kamu nggak marah kan sama mami?"


"Nggaklah Mam. Sudah biasa juga."


Ya. Memang sudah biasa seperti itu. Dari zaman SD kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki mereka di sekolah tempat Aira belajar. Mereka lebih suka menyuruh pembantu mereka untuk melakukan semua itu mewakili mereka. Pun saat Aira membuat masalah di sekolah. Para pembantu lah yang akan datang dan menyelesaikan masalah itu.


"Maafin mami ya... "


"Tenang Mam. Salsa baik-baik saja. Lagian Salsa juga sudah besar dan bisa ambil sendiri."


"Apa mau diambilin sama mbak Ida saja?"


"Nggak perlu Mam. Undangannya juga sudah Salsa buang kok."


"Kenapa? Kalau tidak ada undangan kan nggak bisa masuk sayang?"


"Nggak ada gunanya juga kan Mam. Lagipula keluarga Salsa nggak ada yang bisa datang juga." sindir Aira. Kini maminya mengerti apa maksud dari Aira sebenarnya.


Mimik wajah Amira berubah sendu. Ia merasa tidak menjadi ibu yang baik. Selama ini dia tidak pernah memperhatikan masalah itu. Dia kira dengan datangnya Ida sudah cukup untuk mewakili dirinya. Amira tidak menyadari bahwa datangnya dirinya menjadi penyemangat tersendiri untuk anaknya.


Dulu saat Safna sekolah, dia selalu menjadi juara umum. dan dia akan menjadi bangga mendengar nama anaknya di elu-elukan. Tapi Aira tak pernah sekalipun mendapat juara umum. Jadi dia merasa bosan dan tidsk tertarik. Begitupun dengan Andra.


"Sa, nggak baik ngomong gitu sama Mami." Safna melirik adiknya yang duduk di sebelahnya.


"Tidak sopan kamu." sekarang Andra juga melayangkan pandangan sinisnya pada Aira.


"Maafin Salsa Mam. Bukan maksud Salsa buat bikin mami sedih." jika sudah di kepung seperti ini bisa apa selain minta maaf. Mengalah pada keluarga adalah hal biasa buat Aira. Jadi melakukan sekali lagi tak jadi masalah untuknya. Yang penting mereka bahagia. Lagipula dirinya bisa mencari kebahagiaan di tempat lain bersama orang lain.


"Salsa selesai. Terima kasih makan malamnya Mam. Salsa ke atas dulu." Aira mendorong pelan kursinya ke belakang. Berjalan ke dapur untuk mengambil botol air minum yang selalu disediakan oleh mbak Ida untuknya. Pelayan yang satu itu tahu betul jika Aira sering bangun malam karena rasa haus.


"Makasih mbak." Aira menggoyangkan botol berisi air putih itu ke arah Ida yang sedang duduk-duduk di ruang televisi khusus pembantu.


"Sama-sama Mbak Aira. Selamat malam."


" Selamat Malam."


Aira segera naik dan masuk kamarnya setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan. Kemudian menjatuhkan dirinya di kasur empuk yang ada di kamarnya. Meraih HP yang ada di nakas. Menyalakan benda pipih itu dan membuka aplikasi Whatsapp.


"Berandal Sekolah"


Jones πŸ—¨ Kita ikut camping kan tahun ini?

__ADS_1


Cap Teri πŸ—¨ Yoi


Mikimos πŸ—¨ Udh gue daftarin lo pada


Si Bos πŸ—¨ Uye


Cap Teri πŸ—¨ BTW 7an kali ini kemana?


Jones πŸ—¨ Makanya kalo ada pengumuman tu dibaca. Nggak cuma di dengar


Si Bos πŸ—¨ Apalagi pakek mata ke empat...


Mikimos πŸ—¨ ???


Cap teri πŸ—¨Maksudnya?


Si Bos πŸ—¨ Lah pake mata punya selir lo apa bukan mata ke empat itu namanya?


Jones πŸ—¨ 🀣🀣🀣🀣


^^^Besok kita bolos aja yuk πŸ—¨ Nyonya Jones^^^


Mikimos πŸ—¨ Ini kenapa nongol-nongol ngajakin bolos?


Cap Teri πŸ—¨ Gue se7. Kita nongkrong di warung


Jones πŸ—¨ Kenapa Lo Nyonya Jones?


^^^Besok kita ke rumah baca πŸ—¨ Nyonya Jones^^^


aja. Kita beres-beres disana


Si Bos πŸ—¨ Ide bagus


Jones πŸ—¨ Oke. Kita langsung ketemu disana


Cap teri πŸ—¨ Jadi nggak ada nih yang se7 sama ide gue???


Jones πŸ—¨ Nggak


Si Bos πŸ—¨ Lo kalah suara


Mikimos πŸ—¨ Betul


^^^Kalo lo kabur, Abis lo!!! πŸ—¨Nyonya Jones^^^


Cap Teri πŸ—¨ Ish Belum apa-apa udah ketahuan aja


Jones πŸ—¨ udah kebaca akal bulus lo


Mikimos πŸ—¨ Nurut ama kita


Cap Teri πŸ—¨ Siap 86


*****


Esok harinya Aira dan teman-temannya berkumpul di rumah baca sesuai rencana. Mereka berlima membersihkan rumah baca dan sekitarnya. Mereka tidak seperti remaja kebanyakan yang akan asyik nongkrong di kafe atau jalan-jalan di Mall. Mereka lebih suka menghabiskan waktu mereka di rumah baca ini.


"Uhuk-uhuk! Mik Pelan-pelan dong nyapunya. Uhuk" seru Ridwan saat merasa debu dari lantai yang disapu Mikaila masuk ke dalam hidungnya.

__ADS_1


"Sorry-sorry. Lo minggir dong." Mikaila mengusir Ridwan yang memang sedang duduk sambil membenarkan kabel putus.


"Ck. Ganggu orang aja." Ridwan segera berdiri dan membereskan peralatannya dan duduk di tepi ruangan itu.


Aira yang sedang menata buku di rak yang mulai berantakan hanya tersenyum. Dia juga menyortir buku yang sudah tidak bisa dipakai atau perlu diperbaiki.


"Na lo beresin buku ini." Aira menyerahkan sebuah buku yang terlepas beberapa karena lem pinggir buku yang longgar.


"Ok. Taruh aja disitu. Ini masih belum kelar." Juna hanya melirik Aira, kemudian melanjutkan membubuhkan lem untuk menyatukan kembali lembaran buku yang lepas.


"Selesai." Seru Wildan yang baru selesai membersihkan bagian bawah atap.


"Huahahahaha" tawa keempat temannya meledak. Bagaimana tidak, wajah Wildan kini terkena noda hitam dari sarang laba-laba yang berada di atap.


"Kenapa?" Wildan bertanya pada Mikaila.


"Wil muka lo hitam." Dengan segera, Wildan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Tanpa diduga hal itu malah membuat wajahnya semakin menghitam. Tawa jahat keempat temannya meledak kembali.


Mikaila mengambil tisu dari dalam tasnya. Dengan menahan tawa dia bersihkan wajah kekasihnya itu dengan menggunakan tisu. Wildan memandangi Mikaila yang sedang serius membersihkan wajahnya. Mikaila terlihat semakin cantik dengan wajah seriusnya.


Lama kelamaan keduanya saling berpandangan. Dan hal itu membuat ketiga temannya ikut merasa canggung melihat adegan romantis keduanya.


"Banjir Woi!" teriak Aira menyadarkan kedua anak manusia yang dilanda asmara itu. Juna dan Ridwan tertawa puas melihat Mikaila dan Wildan salah tingkah.


"Pacaran mulu." Juna meledek keduanya.


"Makanya cari pacar Na. Biar nggak jadi jomblo abadi. Percuma punya wajah tampan kalau nggak laku." ejek Mikaila. Juna mendengus.


"Gue bukannya nggak laku ya. Tapi belum ada yang cocok."


"Tenang Na. Ntar lo ikut gue. Gue kenalin sama awewe-awewe cantik." ucap Ridwan sambil merangkul pundak Juna.


"Kolong wewe?"


"Bodo amat lah Na. Gue curiga kalo lo tu bengkok..." Juna langsung menulis kasar lengan Ridwan yang bertengger di bahunya.


"Enak aja. Gue normal ya." muka Juna menghitam. Bagaimana mungkin sahabatnya sendiri mengatainya bengkok. Sahabat luknut.


"Selama ini kita lihat lo selalu menghindar dari para gadis Na."


"Gue risih. Mereka genit sih. Lagian gue nggak pernah menghindar kan dari Lo dan Aira." Juna menunjuk Mikaila yang sepertinya juga ikut-ikutan membuat darahnya naik seketika.


"Gue ama Aira beda. Gue udah jelas ada Wildan. Aira juga cewek jadi-jadian." kali ini Aira ikut melirik tajam.


"Lo Ngatain gue Mik?"


"Sorry Ra. Gue nggak maksud." Mikaila mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Hahahaha. Lo takut sama gue Mik?"


"hehehehe." Mikaila menggaruk tengkuknya.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 😍...

__ADS_1


...Jangan lupa Like πŸ‘vote 😎dan Rate⭐ lima ya...


...Love you all Readers 😘😘😘...


__ADS_2