Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 34. Camping Part 4


__ADS_3

Suasana di luar masih gelap. Menandakan jika hari itu masih terlalu pagi untuk bangun. Tapi, hari ini semua peserta camping sudah bersiap untuk memulai pendakian mereka. Jam di tangan Aira masih menunjukkan pukul setengah empat pagi. Tapi wajah semangat dari teman-temannya membuat matanya ikut terbuka lebar.


"Sejuknya.... "Aira mengambil nafas dalam. Menikmati udara segar di pagi hari yang sangat tidak mungkin dia dapatkan di ibu kota yang penuh polusi.


"Dingin Ra. Sejuk dari Hongkong??" Mikaila mengetatkan tangannya pada jaket tebal yang dia pakai.


"Ck. Dasar cewek!" Sungut Aira.


"Lo juga cewek kali."


"Hehehe. Harap maklum. Kadang lupa kodrat."


Melati yang berdiri di samping keduanya hanya tersenyum memperhatikan interaksi dua sahabat barunya. Dia segera mengajak Mikaila dan Aira pergi saat melihat Wildan melambaikan tangannya mengisyaratkan agar ketiga gadis itu mendekat.


Mikaila, Melati dan Aira berjalan dengan santai ke arah Wildan, Juna dan Ridwan yang sudah terlebih dulu berkumpul dengan teman-teman yang lain dalam barisan.


Setelah mendapatkan pengarahan dari panitia pembimbing, semua siswa mulai perjalanan mereka dengan semangat. Bayangan sunrise sudah berkeliaran bebas di pikiran mereka. Membuat semangat berkobar untuk perang. Eh, untuk berjalan maksudnya. pendakian menuju spot untuk menikmati sunrise terdekat dari sana hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari satu jam. Jadi mereka harus bersemangat demi Sunrise!


Mikaila dan Wildan seperti biasa, sudah mengaitkan tangan mereka. Saling memberi kehangatan dan asik dengan dunia mereka sendiri dan meninggalkan sahabat-sahabatnya. Emang benar-benar sahabat luknut mereka itu. Kalau Ridwan sudah pasti bersama kedua selirnya yang sudah ganti baru lagi entah untuk yang ke berapa dalam bulan ini. Kini hanya Aira, Juna dan Melati yang berjalan bersama. Juna beberapa kali melirik tangan Aira yang dia masukkan ke dalam saku jaketnya.


"Kenapa lo liat-liat?" Juna hanya nyengir kuda melihat pelototan Aira.


"Jangan galak-galak Ra."


"Suka-suka gue." Aira segera mempercepat langkah kakinya. Juna segera mengejarnya. Mencoba mengimbangi langkah lebar Aira.


"Ra cepet-cepet amat sih!"


"Biar cepat sampai."


"Aduh!" Aira menoleh. Melati terduduk di tanah sambil memegangi kakinya. Dia kembali dan menghampiri Melati. Diikuti Juna.


"Kenapa Mel?"


"Kaki gue kena duri kayaknya." Melati menyingkap celananya. Benar saja. Ada duri tajam yang menancap di pergelangan kaki kirinya.


"Ini mesti dicabut. Lo tahan bentar." kata Juna sambil berjongkok mencoba mencabut duri tersebut.

__ADS_1


"Ish." Melati meringis merasakan perih saat duri berhasil tercabut. Sedikit dara keluar dari luka itu. Aira menguarkan tisu dari dalan ranselnya dan memberikannya pada Melsti utnuk membersihkan darahnya.


"Makanya Hati-hati kalo jalan!" ucap Juna sambil membuang duri ke dalam semak-semak.


"Ck. Lo itu Na. Teman kesusahan bukannya dibantui malah dimarahin!"


"Gue nggak marahi, cuma nasehatin."


"Lo nggak pantas nasehatin orang. Lo pantasnya dinasehatin."


"Sama kayak lo!"


"Seenggaknya gue sadar Diri. Udah Na. Cepat bantu Melati jalan. Keburu sunrisenya kelewatan." Aira mencoba membatu Melati berdiri. Walaupun dengan wajah yang terlihat kesal, Juna tetap membantu Melati untuk berjalan.


"Aku nggak papa kok. Kalian duluan saja." Melati merasa tak nyaman dengan posisi itu. Jujur, dia grogi. Harum tubuh Juna seketika menyeruak hidungnya saat tangan Juna berada di pinggangnya. Dengan posisi itu, otomatis tubuhnya menempel denagn tubuh Juna. Menyadari akan hal itu, pipi Melati sontak memerah. Pemandangan itu tak lupit dsri penglihatan tajam seorang Aira. Diam-diam binirnya sedikit terangkat setelah mendapatkan ide yang dianggapnya jenius.


"Nggak bisa gitu Mel. Kita satu kelompok. Kita nggak boleh pisah. Gue sama Juna nggak keberatan kok. Iya kan Na?"


"Hem. Sudah jangan berdebat. Kita harus cepat."


Ketika ketiganya tiba di spot yang telah ditentukan oleh panitia, sudah banyak yang sampai dan menyebar mencari tempat yang sesuai untuk mereka. Ridwan dan selirnya menghampiri ketiganya.


"Maksud lo?"


"Dari apa yang gue lihat, lo udah kayak gue. Dengan dua selir kayak gue." Ridwan terkekeh. Menggoda Juna itu menyenangkan.


"Enak aja selir. Jadi ratunya aja gue nggak mau. Apalagi selir! Tuh lihat! Kaki Melati sakit. Jadi kami berdua membantunya." Ridwan memperhatikan kaki Melati, dan benar memang ada sedikit darah yang sudah mengering di celana gadis itu.


"Jahat banget sih Ra?" Juna menatap Aira dengan kesal. Dia benar-benar menolak Juna di depan semua orang. Dia sungguh-sungguh tak ingin berurusan lagi dengan cewek-cewek pengganggu yang selalu berkeliaran di sekitar Juna.


"Demi kemerdekaan gue Na." Aira segera melepaskan tangannya dari Melati. Membiarkan hanya Juna yang membantu gadis itu.


"Ra lo mau kemana?"


Aira tak menjawab. Hanya mengerlingkan matanya menggoda Juna. Berjalan menjauh dan mencari spotnya sendiri.


"Lo nggak mungkin ninggalin Melati kan Na?" ucap Rizwan sebelum berlalu meninggalkan dua orang yang sekarang suasananya mendadak menjadi canggung.

__ADS_1


"Juna, aku nggak apa-apa kok. Kamu bisa tinggalin aku


"Ck. Gue bukan cowok yang nggak tanggung jawab. Gue bantu lo cari tempat duduk." Juna kembali membantu Melati jalan. Setelah menemukan batu yang nyaman untuk duduk, Juna dengan Hati-hati membantu Melati duduk. Setelah itu dia juga duduk di dekat Melati.


"Maaf sudah merepotkan."


"Nggak masalah. Bukankah kita teman sekarang?"


"Ya."


Banyak siswi yang memeperhatikan keduanya. Banyak sekali macam tatapan yang diarahkan pada Melati. Tatapan iri, ada. Tatapan memusuhi, ada. Tatapan sinis, ada. Tatapan jengkel, ada. Tatapan tak percaya, ada. Hayo tatapan apa lagi yang belum di absen bisa angkat tangan...☝


Huh! Mulai ngelantur. Ya sudah kembali ke cerita.


Tapi, Diantara banyak macam tatapan itu, hanya Aira yang menatap keduanya dengan berbeda. Dia mengulas senyum melihat perlakuan lembut Juna terhadap Melati. Juna tidak pernah memperlakukan cewek seperti itu sebelumnya. Bahkan pada Aira saja tidak pernah. Juna selama ini selalu memperlakukan Aira tak jauh beda dengan teman cowok yang lain.


"Gue harap kalian berdua segera Menyesuaikam diri." guman Aira sebelum dia kembali mengarahkan atensinya pada sesuatu yang mulai mengintip di ufuk timur. Matahari mulai bersiap menampakkan diri. Memberi keindahan yang menghilangkan segala pegal di kaki dan lelah di hati. Dengan malu-malu matahari mulai muncul. Pesonannya hanya membuat rasa kagum yang menghangatkan jiwa. Membuat siapa saja tidak akan pernah menyangkal kebesaran sang pencipta.


Semburat kuning terlihat memancar dari ujung cakrawala. Memanjakan mata yang memandangnya. Menyapa dunia dengan kehangatan. Burung-burung hutan mulai berkicau secara bersahutan. Menimbulkan melodi alam yang menggetarkan jiwa, menghangatkan raga.


Aira memejamkan mata, merasakan hangat yang mulai terasa menggantikan rasa dingin yang melanda akibat angin yang berhembus perlahan menyentuh kulit. Ketika dia membuka mata, dia kembali menoleh pada sepasang muda-mudi yang sengaja dia tinggalkan.


Melati tersenyum saat itu. Gadis itu juga mengagumi keindahan tanda dimulainya pagi. Terlihat menawan dengan senyum manis di bibirnya. Aira tahu jika sebenarnya Melati mempunyai wajah yang cantik, hanya penampilan culunnya yang selama ini menutupi keindahan itu.


Melihat itu Aira tersenyum. Sepertinya keputusannya untuk mendekatkan Melati dan Juna memang keputusan yang tepat. Keduanya terlihat cocok. Dia hanya harus melatih Melati untuk dapat berdiri tegak di samping Juna dan menghadapi lalat-lalat pengganggu. Calon ratu lalat telah ditemukan. Aira terkekeh mengingat perdebatan unfaedahnya dengan Juna.


"Sepertinya akan menghabiskan waktu yang cukup lama." Aira menghela nafas. Juna sangat cuek terhadap seorang gadis. Itu akan membuatnya sedikit sulit. Apalagi dengan karakter Melati yang selama ini kerap menjadi bahan bullyan. Sepertinya membuat keduanya bersatu menjadi sedikit sulit. Tapi, dia adalah seorang Aira yang tak akan pernah putus asa sebelum mencoba. Sekali tekad terbuat, walaupun harus mendaki gunung dan melewati lembah, Akan Aira lakukan.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 😁...


...Jangan lupa like👍 vote 😍dan rate ⭐lima...

__ADS_1


...Boleh banget lo kasih komentar, saran maupun kritik😎...


__ADS_2