Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Permintaan dari seorang Ibu!


__ADS_3

Setelah selesai makan malam bersama di rumah orang tua Juna. Ibunda Juna pun sangat senang sekali akhir nya bisa berkumpul bersama, raut wajah ibu Wendy sangat bersinar-sinar.


Lalu karena sudah larut malam Juna pun yang masih memakai kemeja, karena Juna dan Riesta langsung menuju ke toko kue untuk membelikan dessert kesukaan ibu dan juga membelikan biji kopi Arabika untuk sang ayah, ayah Juna sangat menyukai berbagai jenis biji kopi.


Juna pun yang sudah memakai jas berwarna abu gelap, dan Riesta yang tak lupa berpamitan kepada mertua nya yang sudah memperlakukan nya sangat baik kepada dirinya.


“ Ibu, ayah. Riesta dan Juna pulang dulu ya. Maaf karena hanya membawa sekedar nya saja. Dan terima kasih atas jamuan makan malam nya, masakkan ibu sangat enak sekali.” ucap Riesta yang berterima kasih kepada ibu dan ayah mertua nya yang sudah sangat baik, memperlakukan Riesta layaknya seorang anak kandung. Lalu, Riesta pun meminta pamit karena Juna sudah memberi tanda isyarat.


“ Kalian berdua menginaplah di sini. Ini sudah sangat larut malam, akan sangat berbahaya jika kalian berdua pulang. Apalagi lagi rawan sekali kejahatan, lebih baik kalian berdua menginap disini. Sudah sangat jarang, apalagi di rumah ini kadang ibu merasa ke sendirian.” pinta ibu Wendy yang sedang membujuk Juna dan Riesta untuk menginap semalam di rumah ini.


“ Maaf bu aku tidak bisa. Lain kali saja kami akan menginap di sini.” tolak Juna.


“ Tapi . . .” gumam ibunda Juna wajah nya sangat kecewa dan sedih, Riesta yang melihat wajah ibu mertua nya lalu menatap kesal kepada Juna.


“ Suamiku. . . Kita menginap saja ya. Benar apa yang di katakan ibumu, kita sudah sangat lama tidak pernah menginap di rumah ibu.” bujuk Riesta yang menggunakan senjata andalan nya yaitu ekspresi seperti anak kecil yang imut, sembari merangkul lengan tangan Juna.


“ Ya baiklah!” jawab Juna. Semberi tersenyum kaku saat Riesta menunjukkan ekspresi yang bida membuat mata silau, dan akhirnya Juna pun terluluhkan hatinya.


“ Benarkah itu? Kalian akan menginap di sini?” tanya Ibu Wendy. Terlihat dari suara dan sorot mata nya yang terlihat senang, sebab sudah sangat lama sekali Juna dan Riesta menginap di rumah ini.


“ Ya bu. Apalagi ini sudah sangat larut malam, tidak mungkin kami menyuruh pak Gino untuk menjemput kami.” sahut Riesta sembari tersenyum hangat. Lalu ibu Wendy segera berjalan ke arah Riesta yang tengah berdiri di depan nya, lalu memeluk Riesta.

__ADS_1


“ Terima kasih Riesta, ibu sangat bersyukur sekali memiliki menantu yang peka terhadap seorang ibu. Juna! Kau seharusnya peka terhadap ibu yang telah melahirkan dan juga membesarkanmu!” kata ibu Wendy yang masih memeluk Riesta dengan sangat erat, ia pun tak lupa berterima kasih pada Riesta yang sudah berhasil membujuk Juna.


“ Apalagi sebelum Juna menikah, Juna selalu mengutamakan pekerjaan. Tidak pernah mengunjungi kedua orang tua nya, ibu pernah berpikir apakah anak semata wayangku hanya memedulikan pekerjaan nya saja?” lanjut ibu Juna yang bercerita kepada Riesta, saat sebelum Juna bertemu dengan Riesta.


“ Ish. . . Ish, sabar ya bu. Tenang di sini ada Riesta. Riesta akan selalu menemani ibu, jika ibu butuh teman langsung hubungi aku.” sahut Riesta yang selalu membela ibu Wendy, dan memeluk ibu Wendy. Dan membuat Juna hanya berdiri berdiam di situ, saat melihat kelakuan ibu dan istri nya yang masih kekanak-kanakkan.


“ Dan suamiku. Kamu seharusnya lebih memperhatikan kedua orang tuamu, aku tahu kamu memang sibuk dengan perusahaan. Mungkin kamu memang ingin membuat perusahaan berkembang pesat, bisa bersaing dengan perusahaan lainnya, dan bisa menjadi perusahaan TOP no 1 di seluruh negara. Dengan seluruh kemampuanmu, tapi kamu jangan lupa dengan kedua orang tuamu.” tambah Riesta yang terus memojokkan Juna. Ia memberi nasehat pada sang suami nya untuk lebih berbakti lagi pada kedua orang tua nya yang masih sehat.


“ Ya, maafkan aku. Ayah, ibu. Baiklah kami berdua akan sering mengunjungi ayah dan ibu. Tapi mungkin tidak terlalu sering, karena perusahaan sedang sangat sibuk apalagi saat ini ada proyek kerja sama dengan perusahaan Addison Creative.” jawab Juna. Ia pun segera meminta maaf kepada ayah dan ibu nya. Lalu ia pun segera menjelaskan saat ini perusahaan Marsh sangat sibuk, dan mungkin suatu saat mereka tidak memiliki waktu luang seperti saat ini.


“ Iya tidak apa-apa. Ibu dan ayah sudah sangat senang, bangga. Karena kamu bisa memimpin perusahaan lebih baik dari kami berdua.” jawab ibu dan ayah Juna secara bergantian, dan memang sang ayah sangat bangga dengan anak nya Juna. Karena ia sudah mampu menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab.


Ibu Juna pun langsung menarik Riesta bersama nya, dan dia pun terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu yang penting.


“ Maaf ibu. Riesta mengecewakan ibu lagi, belum ada tanda-tanda.” jawab Riesta bersuara sedih, dan wajah nya terlihat murung. Dia merasa pasti saat ini ibu Wendy juga kecewa mendengar bahwa Riesta belum bisa memberikan seorang cucu untuk ibu mertua nya yang sudah sangat baik padanya.


“ Pasti karena Juna yang masih memakai alat pengaman yah? Atau jangan-jangan karena dia terus menyerahkan berkas-berkas kepadamu yah? Anak itu yah!” sahut ibu Wendy. Ia mengusap lembut pundak menantu nya. Tetapi ibu Wendy pun tetap terus membela Riesta, karena ia sudah tahu anak nya Juna seorang pria yang GILA KERJA. Dan ibu Wendy berpikir pasti Juna selalu membuat Riesta kelelahan bekerja di kantor, ibu Wendy ingin membuat perhitungan kepada Juna agar jangan hanya memikirkan pekerjaan saja.


“ Hehehe. Tidak seperti yang ibu pikirkan kok, tenang Juna tidak pernah membuatku terlalu lelah untuk bekerja. Dia yang melalukan semua pekerjaan nya, tapi kadang aku merasa sedikit bersalah karena tidak membantunya.” ucap Riesta. Dia pun menjelaskan yang sebenarnya kepada ibu mertua nya.


“ Oh baguslah. Itu tidak apa-apa! Ibu malah senang, itu karena salah Juna kenapa dia masih tetap saja fokus dengan pekerjaan nya. Humm . . . . Kayak nya ibu punya sesuatu yang bagus untuk kamu.”

__ADS_1


“ Oh benar! Ibu lupa, kamu ikut ibu ke kamar ibu.”


“ Heh? Baik ibu.”


Riesta pun mulai mengikuti sang ibu yang menyuruh nya untuk ke kamar sang ibu Juna, Riesta berpikir apa yang di maksud dari perkataan ibu mertua nya tadi. Dan dia pun sedikit penasaran, sekaligus ada perasaan nervous yang saat ini di rasakan oleh Riesta.


Mereka berdua pun segera ke kamar utama yang berada di lantai dua, Riesta pun mengikuti sang ibu mertua tepat di samping ibu mertua.


Riesta sangat bersyukur memiliki ibu mertua yang sangat baik kepada, memperlakukan Riesta sudah seperti anak nya. Malah Juna yang merupakan anak kandung nya sering sekali di abaikan oleh ibu nya sendiri, ibu Juna sering sekali teleponan dengan Riesta, sering mengajak makan di luar, shopping bersama dan masih banyak lainnya. Sudah seperti anak dan ibu yang jalan-jalan bersama menghabiskan waktu bersama.


Mereka berdua pun telah tiba di depan pintu kamar utama, ibu Juna pun mulai membuka pintu kamar tersebut. Dan mereka pun mulai memasuki kamar utama yang bernuasa etnik, tembok dinding nya berwarna abu tua, dipan kasur nya pun ada ukiran-ukiran di sekitar dipan kasur yang berwarna coklat.


Karena ayah Juna sangat suka sekali dengan barang antik, yang bernilai seni etnik, dan dipan itu khusus di buat langsung dari Jepara Indonesia. Dan itu merupakan hadiah dari seorang klien yang memberikannya saat hari pernikahan ayah dan ibu Juna.


Dan dipan itu sudah berumur lebih tua daripada Juna, walaupun memang sudah berumur puluhan tahun. Tetapi dipan yang di buat dari kayu jati, ukiran nya benar-benar sangat detail, epik, terlihat sangat elegan sekali.


Dan ibu Juna pun langsung memberikan sesuatu yang sangat rahasia kepada Riesta, menyalami tangan anak menantu nya.


( **Jangan lupa ya kakak-kakak ! Tinggalkan LIKE dan VOTE jika sudah membaca novel ini 🥰🥰 )


Bersambung. . . . .

__ADS_1


THANK YOU 😍😍**


__ADS_2