
LIKE 👍
FAVORIT ❤
VOTE ⭐
GLEK!!
Dina menelan tenggorokan yang sudah kering karena pria ini terus saja berbicara dan membuat tenggorokan menjadi kering kerontang, sudah seperti sebuah ladang padang rumput yang harus di beri air agar tidak tandus. Tetapi di saat yang bersamaan Dina melihat pria aneh ini yang jarak nya sudah sangat dekat, dia memperhatikan ternyata pria ini memiliki wajah yang tampan. Hingga membuat nafas Dina tertahan.
DEG...!!
DEG...!!
DEG...!!
Jantung Dina tiba-tiba berdegup sangat cepat. Dia memperhatikan wajah pria itu dari kedua mata nya yang memiliki lipatan ganda, hidung nya yang mancung, dan bibir yang tidak terlalu tebal, rahang pipi nya seperti ukiran patung yang biasanya berada di galery seni.
“ Kalau dilihat-lihat ketika pria ini. Kalau sedang diam dia cukup tampan juga.” batin Dina dia diam-diam melihat wajah William. Ketika William sedang melihat ID Dina yang dikalungi oleh Dina.
“ Dina! Sadarlah! Dia pria yang menyebalkan kamu jangan sampai terpesona dengannya!.” lanjut Dina dia pun menggeleng-gelengkan kepala nya sebelum pria itu mengetahui bahwa dia diam-diam melihat wajah pria itu.
__ADS_1
Akhirnya pun Dina segera cepat-cepat menjauh dari pria itu, karena tiba-tiba nafas Dina seperti diambil oleh wajah tampan pria itu.
“ A-a-apa yang kamu lakukan? Tiba-tiba menarik ID ku! Untung saja aku tidak ke menabrak tembok itu!.” ucap Dina sara nya menjadi tidak stabil dan dia pun berubah menjadi gagap.
“ Mengapa bicaramu tiba-tiba berubah menjadi gagap seperti itu? Aku hanya ingin tahu namamu. Jadi, aku melihat nya di ID mu yang masih tergantung-gantung di lehermu.” jawab William dengan tampang polos nya itu. Padahal pipi Dina sudah sangat merah akibat perbuatannya yang tiba-tiba menarik Dina, untung saja para karyawan tidak melihat mereka berdua dan tidak melihat Dina yang sedang menyembunyikan pipi merah nya.
“ Itu salahmu!! Pokoknya itu semua salahmu! Ya, sudahlah aku akan menyuruh orang untuk membawamu pergi ke tempat yang lebih aman dan bisa membuat Riesta terkejut karena kedatanganmu.” Jawab Dina dengan nada kesal nya, sambil mengangkat jari telunjuk dan kemudian mengarahkan nya ke arah William.
“ Bukannya kamu bilang akan membantumu?.” tanya William sambil memiringkan kepala nya, menyipitkan mata, dan tangan kanan nya memegang dagu lancip milik nya. Wajah kecewa samar nya di wajah tampan William.
“ Iya aku akan membantumu, jadi kamu duduk disini dulu aku akan panggil kan cleaning service/ Security untuk memapahmu.” jawab Dina yang baru melangkahkan kaki nya dan tiba-tiba tangan kanan nya seperti ada yang menahan dia untuk pergi.
“ Kenapa bukan kamu saja yang memapahku?.” Tanya William dengan nada seperti anak kecil yang sedang memohon kepada sang ibu.
“ PLEASSEEE. . . . .” lanjut memohon ala William dengan tatapan memelas seperti seekor kucing yang ingin dipelihara majikan barunya setelah dia ditelantarkan oleh majikan lama nya. Dina yang melihat wajah William yang seperti itu pun sangat tidak tega, melihat tatapan seekor kucing yang imut dan menggemaskan.
“ SIAL!! Kenapa harus membuat wajah memelas seperti itu!!.” batin Dina dia pun mengentakkan kaki nya dan memapah William untuk pindah dari sofa itu.
“ Ini terakhir kali nya aku membantumu! Setelah itu kamu boleh meminta bantuan kepada security ataupun karyawan yang lainnya. Karena setelah aku mengantarkanmu aku akan kembali lagi ke pekerjaanku. Paham!.” ucap Dina yang sudah tidak ingin berurusan dengan William lebih lama lagi, karena jika Dina berurusan dengannya itu akan lebih merepotkan sekali bagi nya.
Dan juga sifat kekanak-kanakan dari William seperti menunjukkan ekspresi wajah seperti tadi ataupun jika Dina berlama-lama dengan William. Mungkin, Dina tidak tahan melihat wajah tampan seperti tipe pria ideal nya Dina. Tapi bagi Dina pun sifat pria aneh itu tidak masuk ke dalam daftar list pria ideal nya, apalagi yang sifat yang merepotkannya.
__ADS_1
William pun tersenyum kepada Dina yang sedang memapah tubuh nya yang tinggi nya melebihi wanita yang dengan kekuatan tenaga menahan berat badannya.
“ Kamu berat sekali tahu!! Apakah tubuhmu terbuat dari batu?.” Ujar Dina yang memapah tubuh kekar dan tubuh nya cukup tinggi. Dina pun merasa bahwa tubuh William cukup berat dan membuat nya kesulitan untuk berjalan.
“ Aku bukan manusia batu tahu! Itu mungkin karena tubuh kecilmu itu yang sangat kecil seperti anak sekolah. Seharusnya kamu rajin berolahraga agar badanmu tidak kecil dan pendek.” ejek William kepada Dina. Sebab dia sedikit merasa ada yang aneh pada lengan tangan nya yang di sampirkan kepada Dina. Dan William merasa dia sedang di bantu oleh seorang anak sekolah atau anak kecil. Karena tubuh Dina yang memang lebih kurus daripada tubuh Riesta.
“ Hah? Maksudmu apa? Mengatai tinggi badanku? Jika aku tidak memiliki hati yang baik seperti malaikat, aku akan meninggalkanmu sendirian disini! Jadi berhentilah mengatai tinggi badanku!.” sahut Dina dia pun mencubit lengan tangan kanan William yang menempel dipundak nya itu.
“ Awwh! Sakit! Baiklah aku akan berhenti mengataimu.” William pun langsung berhenti mengatai Dina pendek.
\= \= \= TAP \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \=
\= \= \= TAP \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \=
Setelah 15 menit mereka berdua berjalan akhirnya mereka berdua tiba di tempat yang dimaksud oleh Dina. Dina pun menurunkan William untuk duduk di sofa yang berwarna hitam mengkilap itu, Dina pun melakukan peregangan kedua lengannya karena menurut nya kedua pundaknya serasa seperti membawa barbel seberat 15kg.
“ Tulang di pundakku seperti mau patah, baiklah sekarang kamu tunggu disini saja. Aku akan kembali lagi ke meja kerjaku.”
“ Oh dan satu lagi kamu jangan sampai bertemu dengan direktur Juna, atau jangan bilang kalo aku membantumu. Oke! Kalau sampai kamu membeberkan semuanya kepada direktur Juna. Aku akan terus mencarimu untuk meminta tanggung jawab! Karena aku di pecat dari pekerjaanku, sebab aku membantumu!.” lanjut Dina dia pun memberitahu William untuk tidak memberitahukan kepada direktur Juna bahwa Dina membantu William untuk bertemu dengan Riesta, ya itu karena akting William yang berbohong kepada Dina bahwa hidup nya udah tidak lama lagi. Dina tidak punya pilihan lain, kalo dia tidak membantu William pasti suatu hari ketika William sudah berubah menjadi roh pasti akan mengganggu Dina. Dan juga Dina tidak ingin dihantui oleh William karena tidak memenuhi harapan terakhirnya untuk bertemu dengan sahabat kecil nya itu.
( *Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika menyukai novel ini 🥰🥰 )
__ADS_1
Bersambung*. . . . .