
LIKE 👍
FAVORIT ❤
VOTE ⭐
Note : Maaf membuat pembaca penasaran 🙏🙏 apa yang di lakukan William terhadap wanita yang bernama Kim Sera.
SELAMAT MEMBACA!!
Karyawan wanita itu pun mulai mengambil ponsel nya yang di berada di atas meja makan yang terbuat dari kayu. Banyak sekali karyawan yang menonton, merekam dan ada yang diam-diam memotret nya.
Bagi karyawan Marsh sudah seperti hal yang ( Lumrah ) ketika melihat kejadian yang menghebohkan, mereka yang sangat senang suka menyebarkan berita lalu kemudian itu akan menjadi buah bibir (gosip) di perusahaan Marsh dan ada yang membuat berita yang di lebih-lebihkan.
Dan tentu saja William memarahi habis wanita yang bernama Kim Sera di kantin, dan terdengar jelas oleh seluruh karyawan yang tengah makan siang di sana.
William pun berdiri sembari mengerutkan dahi nya, dia juga menahan emosi untuk tidak main tangan terhadap wanita. Walaupun sebenarnya William ingin mencekik leher wanita yang sudah menjelekkan Riesta di hadapanya.
“KAUU!! LEBIH BAIK DIAM! KAU TIDAK MENGERTI RIESTA, DAN JIKA KAU BERANI MENJELELKAN RIESTA! KAU AKAN TAHU AKIBATNYA!.”
“UNTUK SAJA KAU SEORANG WANITA! KALAU TIDAK, MUNGKIN AKU AKAN MENCEKIK LEHERMU SAAT INI JUGA! SEKARANG KAU PERGI DARI SINI! AKU PALING MEMBENCI WANITA BERHATI JAHAT SEPERTIMU!! WAJAHMU CANTIK, TAPI HATIMU JELEK!!.”
Sera pun segera pergi terbirit-birit meninggalkan William dan juga kantin, dia tambah membenci Riesta yang membuat nya di permalukan seluruh karyawan saat semua orang melihat kejadian Sera di marahi habis oleh William.
“AKU TIDAK TERIMA INI!! AKU SEMAKIN MEMBENCIMU RIESTA! DAN TENTU SAJA AKU AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN DENGANMU, KARENA SUDAH MEMBUATKU DI MARAHI HABIS OLEH SEORANG PRIA!.” batin Sera yang mencengkeram telapak tangan kanannya
Walaupun direktur Juna sudah pernah memberitahu kepada seluruh karyawan untuk tetap fokus pada pekerjaan masing-masing bukan fokus membuat berita yang tidak penting bagi Perusahaan Marsh, tapi mereka masih saja mengabaikan perkataan seorang pemimpin yang sangat dingin terhadap karyawannya.
__ADS_1
Bagi mereka yang membuat berita itu sudah seperti sebuah hiburan sampingan, apalagi karena direktur Juna selalu menekankan karyawan nya. Dan tugas yang di berikan oleh direktur Juna harus cepat di selesaikan dalam kurun waktu 1x24 jam, jika ada yang terlambat walaupun cuman 1 menit karyawan itu di berikan hukuman sebagai konsekuensi karena terlambat menyerahkan data ataupun tugas, karyawan yang mendapatkan hukuman di suruh untuk lembur dalam waktu 1 minggu berturut-turut.
Mereka menyebarkan berita secara diam-diam dan sangat rapih agar direktur Juna tidak mengetahui bahwa para karyawan itu masih melanggar peraturan.
Di waktu yang bersamaan Riesta yang keruangan kerja Juna. Riesta meminta izin cuti kepada Juna untuk menemani William yang baru pertama kali setelah 18 tahun menginjakkan kaki nya di tempat kelahiran nya, Riesta ingin mengajak sahabat kecil nya itu untuk berkeliling di Kota Seoul.
Riesta pun menarik nafas nya dalam-dalam dia sedikit gugup, apalagi sejak kejadian sewaktu Juna mencium nya di depan umum saat di kantin. Riesta pun berdoa sebelum membuka pintu yang sangat besar, tinggi dan sangat kokoh.
“ Semoga saja Juna memberikanku izin. Apalagi karena kedatangan William yang tiba-tiba pasti membuat mood nya sedikit buruk, tapi aku harus berusaha. Tidak mungkin aku membiarkan sahabat baikku yang sudah datang jauh-jauh aku abaikan begitu saja.” ujar Riesta yang mengangkat tangan kanan nya dan mengepalkan telapak tangan nya.
Riesta pun mulai memberanikan diri nya untuk mengetuk pintu yang berada di depan nya saat ini. Tangan kanan nya sudah menyentuh pintu yang tinggi dan besar, kemudian telapak tangan kanan menggenggam hingga membuat semua jari tangan nya refleks menekuk seperti daun putri malu.
\= \= \= Tok \= \= \= \= Tok \= \= \= \= Tok \= \= \= \=
Riesta pun akhirnya mengetuk pintu yang berada di depannya.
Riesta pun menyentuh gagang pintu dengan ukiran yang sangat unik. Dan tangan kanan nya mendorong gagang pintu yang saat ini di pegang nya. Lalu setelah pintu sudah terbuka Riesta menutup kembali pintu yang saat ini sudah berada di belakang punggung nya, setelah sudah di tutup lalu Riesta yang sudah berada di ruangan yang cukup luas dan sangat rapih. Riesta pun mulai berjalan mendekati meja kerja dan ada seseorang pria yang sangat tampan. Yap, siapa lagi kalau bukan calon suami Riesta dan juga seorang yang memimpin perusahaan ini.
Riesta pun sudah berdiri hanya berselisih beberapa cm dari meja yang ada tumpukkan beberapa lembar kertas, pena, dan juga komputer.
Lalu pria yang sedang duduk di kursi putar nya, meletakkan kedua tangan nya di atas meja lalu menyanggah dagu nya menggunakan kedua tangan, jari tangan kanan nya menyatukan dengan jari tangan kiri. Lalu dengan tatapan datar nya pria tampan itu bertanya kepada seorang wanita cantik yang saat ini berdiri di depan nya.
“ Ada apa? .” tanya pria. Tatapan mata nya seperti sedang membaca pikiran seorang wanita yang berdiri di depan nya dengan tangan nya yang memegang bawah kain blousenya. Sangat terlihat dari gerakannya, juga wajah nya yang sedikit gugup.
“ . . . . .”
“ Huuuhf. . . . .”
__ADS_1
“ Baiklah, ada masalah apa yang ingin kamu katakan? .” tanya Juna dengan suara yang lembut dan bibir nya tersenyum samar.
“ Aku . . . . Aku mau minta maaf. Karena kedatangan William yang tiba-tiba.” ucap Riesta mencubiti tangan nya sendiri, Riesta sedikit gugup untuk meminta izin kepada Juna.
“ Kamu tidak usah meminta maaf kepadaku. Dan juga ini bukan salahmu, ini salah nya (William) .” jawab Juna yang masih sibuk memegang pulpen di tangan kanannya.
“ Apakah hanya itu saja yang ingin kamu sampaikan kepadaku? .” lanjut Juna terlihat sangat sibuk menanda tangani berkas dokumen yang masih bertumpuk di atas meja.
“ Ada satu lagi. Tapi . . . Aku kemari untuk meminta izin darimu, apakah kamu mengizinkanku?.” sahut Riesta. Dan akhir nya dia pun bertanya kepada Juna, kenapa Riesta tiba-tiba masuk ke ruangan Juna.
“ Mungkin keinginanku ini terkesan egois, aku hanya ingin mengajak nya berkeliling di kota ini.” lanjut Riesta menundukkan kepala nya sedikit. Dia sudah mengira pasti Juna tidak bakal menyetujui nya, tetapi Riesta ingin mencoba bertanya langsung kepada Juna.
“ . . . . .” Juna langsung berhenti dan menaruh lembaran kertas dan meletakkan pulpen di atas meja kerja nya, lalu Juna pun menatap wanita cantik tengah berdiri di depannya yang akan menjadi Istrinya itu.
“ Maaf, sayang! Aku tidak mengizinkanmu, lebih baik menyuruh seseorang untuk mengajak nya berkeliling di kota ini. Walaupun dia merupakan sahabat kecilmu.” jawab Juna wajah nya langsung berubah walaupun menjadi wajah poker face. Riesta sudah mengetahui bahwa Juna sedikit kesal kepada William,.Riesta pun akhirnya menyerah setelah Juna tidak mengizinkan nya untuk menemani William berkeliling di kota ini.
“ Oh aku tahu, baiklah. Aku minta maaf atas permintaan egoisku ini, kalau begitu aku permisi. Terima kasih.” jawab Riesta hati nya sedikit kecewa karena Juna tetap saja egois pada perasaan nya sendiri. Padahal William merupakan sahabat kecil Riesta, Riesta pun bergegas meninggalkan ruangan Juna.
Riesta pun keluar dari ruangan CEO. Wajah nya sedikit kecewa, campur sedih. Juna yang merasa bersalah kepada Riesta, tetapi rasa cemburu nya menguasai dirinya.
“ Aku yang seharusnya meminta maaf Ries. Karena sifat cemburuku yang lebih egois.” batin Juna yang melihat punggung belakang Riesta sebelum menghilang, karena sebuah pintu yang menjadi penghalang.
Akhirnya pun Juna memanggil seorang karyawan lain dan meminta kepada mereka untuk menjadi pemandu wisata karena bagaimana pun William merupakan sahabat yang sangat penting bagi Riesta. Dan jika Juna tetap mengabaikan seorang itu, itu akan berpengaruh kepada repurtasi perusahaan. Setelah satu – persatu departemen di panggil ke ruangan milik nya, tetapi dari mereka pada menolak dan akhirnya pun nama Kang Dina Hee di sebut.
( *Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika menyukai novel ini 🥰🥰 )
Bersambung*. . . . .
__ADS_1