Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Take care of your Wife and future Grandchildren!


__ADS_3

Juna segera membawa Riesta ke kamar mereka. Dan ibu Wendy pun menutup kembali pintu rumah bak istana, saat Juna yang masih mengendong Riesta mereka pun bertemu sang ayah Juna tepat di dekat kamar tamu. Terlihat sosok Juna versi tua yang berjalan mendekati Juna dan Riesta.


"Take care of your wife and future grandchildren!"


"Yeah! Aku akan menjaga Istriku dan calon anakku dengan sangat baik."


"Hum!" jawab singkat ayah Juna menepuk pelan pundak Juna dan beliau pun berjalan kembali menuju tangga yang berada tak jauh dari kamar tamu.


Juna pun kembali melanjutkan langkah nya. Ia pun segera membuka pintu kamar mereka berdua, tetapi Juna sedikit kesulitan untuk meraih gagang pintu kamar. Karena saat ini berat badan Riesta sudah bertambah, berbeda saat pertama kali mereka bertemu di bar. Tubuh Riesta sewaktu itu sangat ringan, seperti mengendong anak sekolah menengah pertama. Tetapi semenjak 3 tahun berlalu dan Ibu Wendy selalu menghidangkan makanan saat Juna dan Riesta berkunjung ke rumah orang tua Juna, dan tentu saja Riesta tidak ingin membuat ibu mertua sedih, ataupun kecewa. Ia pun dengan sangat lahap mengambil berbagai hidangan menu yang sudah di sajikan, ibu Wendy pun turut sangat senang melihat Riesta yang makan dengan sangat lahap.


Tanpa Riesta sadari berat badan Riesta naik 7 kg, dan tentu saja pasti saat ini Juna sedikit kesulitan untuk meraih gagang pintu itu. Riesta pun kemudian berbicara pada suami tercinta nya.


"Sayang, berat badanku sudah naik lho. Lebih baik kamu turunkan aku ya, ini sudah berada di depan pintu kamar. Kamu kan sudah capek, pasti kamu belum istirahat. Jadi, please . . Turunkan aku ya!"


"Uhm? Apakah kamu saat ini sedang meremehkan tenagaku? Sayang, tenang saja."


"Bukan seperti itu . . . Aku, aku hanya tidak ingin kamu sakit, karena kecapean."


"Sstt . . ."


Juna pun akhirnya meraih gagang pintu, ia pun segera menarik gagang pintu ke arah bawah. Dan pintu kamar itu pun terbuka.


KREK!


Juna kembali berjalan menuju ranjang berukuran KING, di lindungi oleh sprei dan juga selimut yang cukup tebal berwarna biru navy polos. Juna pun segera membaringkan Riesta pelan-pelan dan penuh kelembutan, saat Riesta sudah di atas tempat tidur. Ia melihat Juna memandang nya dengan pandangan lembut, terlihat dari sorot mata Juna yang sangat teduh membuat Riesta nyaman memandang suami yang sangat perhatian padanya.


Juna pun memandangi Riesta, ia menyelimuti sang istrinya.


"Sayang, istirahatlah! Kalau membutuhkan apapun panggil saja, aku sudah menyiapkan bel darurat untukmu."


CUP!


Juna mencium kening Riesta dengan sangat lembut, hingga membuat sedikit suara dari kecupan yang di berikan Juna pada Riesta.

__ADS_1


Juna pun kemudian berbalik arah seperti ingin membiarkan Riesta untuk beristirahat sendiri, tetapi tiba-tiba pergelangan tangan kiri Juna ada yang menahan nya dari belakang. Riesta pun menatap sang suami.


"Sayang, jangan tinggalkan aku. Aku ingin kanu menemaniku disini."


"Hum? Baiklah."


"Aku akan menemanimu hingga kamu tertidur, jadi sekarang penjamkan matamu. Dan istirahatlah, aku akan selalu berada di sisimu."


"Janji! Jangan tinggalkan aku sendirian."


"Iya! Aku janji."


"Uhm! Baiklah aku akan istirahat."


Riesta pun mulai memejamkan kedua mata nya. Dan Juna yang menemani Riesta di samping nya, menyadari bahwa Riesta sudah tertidur pulas Juna pun segera pergi dari kamar itu meninggalkan Riesta. Juna pun membersihkan diri nya di kamar tamu, karena tidak ingin membangunkan sang istri atau mengganggunya.


Setelah Juna sudah selesai mandi ia pun segera turun ke ruang kerja nya yang tidak jauh dari ruangan kamar pasutri. Tetapi, saat Juna sedang berjalan santai sembari mengusap-ngusap rambut yang sedikit masih basah menggunakan handuk, tiba-tiba sang ibu memanggilnya.


"Juna!"


"Oh! Maaf! Kamu ngapain? Apa kamu mau bekerja lagi?"


"Lalu? Tentu saja. Besok ada meeting yang cukup penting, jadi aku harus bersiap diri untuk besok."


"Kamu jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Ingatlah, kesehatanmu yang nomer satu. Ibu tidak ingin kamu kenapa-kenapa, nanti Riesat pasti juga bakal sedih. Ayolah, untuk sekali saja turuti kata-kata ibumu ini. Juna!"


"Tapi! Bu!"


"Juna, please. . . !! Kamu nurutlah pada ibumu ini, kamu pasti juga tidak ingin membuat Riesta khawatirkan? Apalagi dia sedang mengandung anak pertamamu, dia pasti akan sangat sedih bila kamu jatuh sakit."


"Iya, Juna tahu. Tapi, tidak mungkin Jun meninggalkan meeting para investor kali ini."


"Uhm . . ! Bagaimana kalau kamu memperkerjakan satu orang sekretaris? Untuk menggantikan Riesta sementara."

__ADS_1


"Maksud ibu Dina? Dia sudah memiliki seorang suami, tidak mungkin sekali apalagi suami nya masih bertingkah kekanak-kanakan."


"Bukan, tadi pagi pas di rumah sakit ibu di perkenalkan oleh Riesta dengan sepupu nya yang bernama Reina. Riesta bilang Reina baru saja lulus dari University ternama, dan ia belum mendapatkan pekerjaan. Dan setelah ibu melihat nya, seperti nya Reina cukup di andalkan. Jadi, ajaklah Reina untuk bekerja di perusahaanmu."


"HUH? Dia kan masih baru lulus, tidak mungkin aku mempekerjakan anak yang baru saja lulus. Apalagi menempatkannya dalam posisi Sekretaris!"


KREK!


Tiba-tiba suara pintu kamar terbuka, dan membuat anak dan ibu yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar yang terbuka menengok ke arah pintu kamar pasutri. Dan ternyata Riesta yang membuka pintu berjalan mendekati kedua orang yang sedari tadi ribut mempermasalahkan tentang pekerjaan.


"Sayang!?"


"Kenapa kamu bangun? Beristirahatlah."


"Tadi aku sedikit mendengar pembicaraan kalian, jadi aku terbangun."


"Suamiku, benar apa yang di bilang oleh ibumu. Aku tidak ingin kamu sakit, jangan memaksakan dirimu sendiri ya! Lebih baik kamu mempekerjakan Reina sebagai sekretaris pengganti, kamu pasti kesulitan kalau kamu tidak memiliki seorang sekretaris. Reina merupakan anak yang rajin, ulet, dan bertanggung jawab. Jadi, biarkan Reina jadi sekretaris keduamu. Ya!"


"Uhm! Baiklah, kalau itu permintaan dari My Beloved Wife. Tapi, sekarang kamu istirahat lagi ya! Jangan bandel!" jawab Juna sembari memencet hidung Riesta denagn cara yang manja.


"Huuhm!! Iya . . Iya!"


Di pagi hari yang cerah di kediaman Juna. Terlihat seorang pria yang sedang bersiap-siap berpakaian untuk kembali bekerja, ia pun hanya memandangi sang istri nya yang masih tertidur pulas. Juna tidak tega membangunkan Riesta, ia pun memilih untuk diam-diam pergi berangkat bekerja tanpa mengganggu Riesta.


SREET!


CUP!


"Sayang, aku berangkat dulu ya!"


"Baby, ayah berangkat bekerja dulu ya. Jangan membuat mama mu kesulitan ya! Cup!"


Juna pun mulai berjalan dengan langkah pelan-pelan agar tidak membuat suara langkah kaki yang bisa membangunkan Riesta yang masih istirahat.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT KAN AGAR ADA NOTIF KETIKA UPDATE DAN TERUS DUKUNG AUTHOR ❤❤


__ADS_2