
LIKE 👍
FAVORIT ❤
VOTE ⭐
Di tempat meeting Perusahaan Hyunya tak sengaja Riesta bertemu dengan teman kecilnya yang bernama William.
"Hey! Riesta masih inget aku tidak?," tanya William kepada Riesta sambil menepuk pundak Riesta.
"Hey. Will tentu saja aku masih inget, karena wajahmu tak pernah berubah," jawab Riesta yang menyapa teman kecil nya itu.
"Kamu semakin cantik saja, aku tak menyangka bisa bertemu denganmu Riesta," jawab William serta memuji Riesta karena dia nambah cantik sejak terakhir mereka berpisah.
"Kamu masih sama seperti dulu Will. Masih pinter merayu," canda Riesta menepuk santai punggung William.
William tampak sekali pipi nya merah karena salah tingkah
"Aduh Riesta, kamu masih seperti dulu selalu menepuk punggungku dengan santai. Aku sudah bukan anak kecil lagi". jawab William yang mulai mendekatkan wajah nya ke Riesta. Riesta memblok wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Will! berhenti kita sedang dilihat oleh orang - orang," pinta Riesta yang masih memblok wajah nya agar wajah William tidak mendekati lagi
"hahahah. Riesta jangan menutupi wajahmu dan juga jangan dibawa serius dong. Aku tidak akan menciummu kok," goda William yang beralasan kepadanya agar dia percaya. Padahal William juga bermaksud ingin mencium teman kecil nya itu.
Tapi setelah melihat reaksi Riesta, William pun membohonginya agar tidak menyakiti teman kecilnya.
"Oh iya, gimana dengan kabar kedua orang tuamu mereka baik-baik saja kan?," tanya Willam yang memang tak tau bahwa orang tua Riesta sudah meninggal.
Riesta yang masih terdiam rasanya dia tak ingin menjawab pertanyaan itu bisa di lihat dari raut wajah nya. Dan akhirnya pun Juna yang melihat nya sedari tadi.
Pria yang bersama dengan Riesta akan mencium Riesta, Juna menahan cemburunya serta dia menyelamatkan Riesta agar Pria itu tidak berbuat lebih lagi.
__ADS_1
"Maaf kita masih ada urusan penting," pinta Juna dan langsung mengandeng tangan Riesta menuju ruang meeting.
Setelah mereka berada di ruang meeting yang hanya ada mereka berdua, Juna mengunci pintu ruangan tersebut dan mendorong Riesta ke tembok. Juna langsung mencium Riesta dengan sangat kasar berbeda dari yang biasa nya.
Mata belakak Riesta karena tiba-tiba Juna menciumnya sangat kasar dia memukul punggung belakang Juna.
"Berani sekali wanita ini! Berdekat-dekat dengan pria lain ketika tidak ada aku! D seperti nya pria itu terlihat mencurigakan. Tapi tak akan ku biarkan, Riesta akan menjadi milikku!, " batin Juna yg mengerutkan dahi dan mulai memegang kepala Riesta agar dia tak banyak bergerak.
Riesta yang mulai kehabisan nafas karena Juna tak memberi nya kesempatan untuk jeda. Suara langkah kaki pun menghentikan ciuman mereka.
"Tck! Menganggu saja," batin Juna yang melepaskan ciumannya.
"Huuft! Untung saja, saya masih tertolong," batin Riesta yang mengumpulkan nafas nya yang masih terengah-engah.
Setelah mereka selesai meeting. Juna mencari pria yang tadi mengobrol dengan Riesta. William.
"Hey! Kamu kemarilah," perintah Juna kepada William, karena dia tak tau nama nya.
"Iya kamu. Yang tadi berbicara dengan Riesta, kamu siapanya Riesta kenapa dia terlihat sangat senang ketika dia bertemu dengan mu?," tanya Juna. Dia sedikit cemburu karena melihat wajah Riesta bertemu dengan pria ini dia tampak bahagia sekali.
"Ooh. Saya William. Teman masa kecil Riesta, apa kamu boss nya Riesta?". jawab William dengan memberi tangan nya untuk bersalaman dengan Juna
"Iya aku bos nya Riesta. Juna". jawab Juna yang menerima salaman perkenalan mereka.
"Oh iya saya mau nanya sesuatu kepadamu, Juna apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tua Riesta? Riesta tampak sedih ketika aku menanyakan kabar mereka," tanya William kepada Juna karena merasa Riesta seperti menunjukkan ekspresi sedih.
"Kamu bodoh! Menanyakan keadaan orang tua Riesta, jelas saja itu akan membuatnya sedih lagi. Karena kedua orang tua Riesta sudah lama meninggal". bentak Juna karena Willam dengan bodoh nya menanyakan pertanyaan yang akan membuat hati Riesta menjadi sedih lagi.
"Whaat! Benar yang kamu katakan? Sejak kapan mereka meninggal?". Willam menanya lagi kepada Juna.
"Kurang tau, kamu jangan pernah mencoba untuk menanyakan kepada Riesta, soalnya aku pernah bertanya kepadanya tetapi Riesta hanya diam saja". jawab Juna yang kemudian meninggalkan William dan melangkah bayangan Juna pun menghilang dari pandangan william.
__ADS_1
Dan kemudian. William langsung melangkahkan kaki dengan sangat cepat dia mencari Riesta untuk segera meminta maaf kepadanya karena membuatnya sedih. Setelah William sudah menemukan Riesta lalu dia menghampiri teman masa kecilnya yang masih berada di ruangan meeting tadi pagi.
"Riesta, maaf karena aku sudah menanyakan tentang keadaan orang tuamu, dan pasti membuatmu merasa tidak nyaman," kata William meminta maaf kepada Riesta karena dia sudah diberitahu oleh Juna ketika semua orang sudah meninggalkan Ruang meeting
"Iya will, aku yang seharusnya minta maaf karena tak menjawab nya," jawab Riesta kepada William
"Riesta aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting," kata Willam dan menarik Riesta. Juna yang melihat dari kejauhan pun mulai mengikuti mereka berdua
Setelah mereka sampai di lobby kemudian William langsung memegang kedua tangan Riesta dan mulai menyatakan perasaannya.
"Hum. Riesta aku ingin mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar teman kecil". William mulai berkata kepada Riesta yang membuat Riesta bingung
"Hah? Maksudnya, apa will?," tanya Riesta yang nampak kebingungan dengan perkataannya William
"Maksud aku itu. Mau kah kamu menjadi pacarku Riesta? Aku sudah menyukai mu sejak kita masih kecil dan selalu bermain bersamamu".
William pun berhasil menyatakan perasaan kepada Riesta yang ia pendam selama 18 tahun lamanya karena mereka berpisah sudah sangat lama. Waktu Will pergi ke luar negeri Riesta tidak merelakannya dan terus menangis karena kepergian Will.
Juna yang melihat dan sekaligus mendengar William menyatakan perasaannya kepada Riesta pun langsung melangkah cepat ke tempat mereka berdua dan langsung menarik tangan Riesta dengan erat. Dia tidak ingin Riesta direbut oleh pria lain selain dirinya.
"Riesta!! Ayo kita pulang!," ucap Juna dengan suara tegas. Dia cemburu bahwa wanitanya suatu saat akan direbut oleh orang lain. Tapi Juna tak akan membiarkan itu terjadi Riesta akan selama lama nya milik nya.
"Maaf will, Aku pulang dulu," jawab Riesta kepada William dan berpamitan dengan nya.
"Pak Juna lepaskan ini! sakit! Lepaskan tangan mu dari ku!," bentak Riesta kepada Juna tapi Juna tak mau melepaskan nya dan Juna memanggil Taksi dan meminta kepada supir.
"Ke Hotel Tokyo," perintah Juna kepada supir taksi itu.
"Baik pak," jawab Supir taksi nya.
^^^Thank You^^^ 🥰🥰
__ADS_1