
LIKE 👍
FAVORIT ❤
VOTE ⭐
“ Baiklah, aku memaafkanmu. Tetapi dengan kamu tetap harus menerima denda.” ucap Juna. Akhirnya pak Juna memaafkan kesalahan Dina, tetapi tetap saja walaupun Dina tidak jadi di pecat tetap ada hukuman ataupun menerima denda. Saat Juna berkata bahwa Dina harus membayar Denda, seketika wajah Dina langsung berubah dan terlihat dari wajah nya bahwa Dina sangat terkejut membuat kedua tangan Dina terlihat gemetar.
“ Denda??.” tanya Dina menelan saliva nya. Dina berpikir bahwa Juna menyuruh nya untuk membayar denda berupa uang konsekuensi karena Dina melakukan kesalahan. Apalagi dalam moto yang di buat oleh direktur Juna. Sangat menyeramkan untuk semua karyawan yang melanggar moto yang di buat oleh Direktur Juna sendiri, dan tidak bisa di ganggu gugat jika ada seorang yang melanggar moto yang sangat kuat seperti tembok cina.
Jika seseorang membuat kesalahan dalam bekerja maka dia akan di pecat
Dan kemudian yang moto kedua adalah
Jika seseorang membuat direktur marah besar maka dia akan membayar denda dan maka orang itu akan menghilang dari muka bumi.
__ADS_1
Dina pun langsung mengingat aturan itu, apalagi saat berada di kantin pak Juna menggebrak/ memukul meja. Karena melihat seseorang yang mungkin kedatangannya tidak di inginkan oleh Juna. Dina pun hanya berpasrah dengan semua hukuman yang akan di terima nya, Dina pun tak lupa berdoa dalam hati nya. Agar dia mendapatkan hukuman lain seperti kerja lembur 1 minggu berturut-turut, atau di pindahkan ke Department lain nya.
Dari pada harus membayar denda konsekuensi dan mungkin lebih buruk lagi Dina menghilang dari muka bumi ini. Sebelum dia memiliki kesempatan untuk bahagia bersama dengan pria di masa depan, dan mungkin kehidupan yang di selalu di mimpikan oleh Dina tidak akan pernah menjadi kenyataan.
“ Tenang saja, kamu harus menyetujui perintah dariku. Kamu akan di pulangkan lebih awal, tapi kamu harus menjadi pemandu wisata nya William. Apakah kamu mau menyetujui nya?.” perintah Juna. Sembari memutar-mutar pulpen yang berwarna silver di jari-jari tangan. Juna sudah menentukan hukuman untuk Kang Dina, dan Juna pun menyuruh Dina untuk menemani William berkeliling kota Seoul. Sebab, tadi Juna tidak memperbolehkan Riesta untuk menemani William. Walaupun Riesta hanya menganggap William sebagai kakak nya, tetapi rasa cemburu Juna terhadap William tidak bisa di abaikan oleh Juna. Jadi karena itu Riesta tidak boleh menemani William untuk berkeliling di Kota Seoul.
“ . . . .” Dina hanya terdiam saat Direktur Juna memberinya tugas untuk menjadi pemandu Wisata sementara untuk William. Padahal dalam hati kecil Dina, dia lebih memilih untuk bekerja lembur daripada harus berurusan dengan pria aneh itu.
“ Tapi kalau kamu menolak nya, kamu akan di pecat dari perusahaan Marsh. Walaupun kamu merupakan sahabat Riesta, tetapi itu tidak ada hubungan nya denganku ataupun perusahaan Marsh. Tentukan pilihanmu! Yes or No?.” lanjut Juna yang memberikan pilihan kepada Dina. Apalagi Juna tidak suka dengan seseorang yang melanggar peraturan yang di buat oleh nya, walaupun orang itu merupakan kerabat, saudara, ataupun sepupu nya sendiri. Selama orang itu sudah melanggar peraturan maka Juna tidak peduli dengan ikatan hubungan itu, Juna hanya membutuhkan seseorang yang bisa menerima peraturan, mengikuti peraturan dan tidak boleh menentang peraturan yang sudah di buat secara mutlak.
Dina pun berdiam diri memikirkan jawaban dari perintah yang di sudah dikatakan oleh Direktur Juna.
Dina pun akhirnya memilih untuk membuang keegoisan nya daripada dia memilih untuk menolak perintah yang disuruh oleh direktur Juna.
“ Yes!.” jawab Dina dengan tegas. Dan dina memilih untuk menjadi memandu wisata pria yang tidak ingin di temui oleh Dina lagi, daripada dia harus kehilangan karier nya, mimpi nya dan juga masa depan nya.
Lalu Dina pun membungkukkan badannya sebagai terus-menerus karena Juna tidak memberikan hukuman yang lebih berat, sembari mengucapkan rasa terima kasih nya kepada Direktur Juna.
“ Saya berterima kasih kepada pak Juna karena sudah mau memaafkan saya, dan saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kalau begitu saya permisi.” sahut Dina dia berjanji kepada direktur Juna. Bahwa dia tidak akan melanggar peraturan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan Marsh.
__ADS_1
Dina pun keluar dari ruangan Direktur Juna. Saat ini memang perasaan Dina sedikit lega karena dia tidak dipecat dari perusahaan, tetapi sekarang Dina masih kesal karena dia harus menjadi pemandu wisata untuk pria aneh seperti William. Memang sewaktu kejadian di bawah lift William sudah membantu nya, tapi di waktu yang bersamaan Dina lebih memilih untuk membuat data rekapan proyek lainnya di banding harus menemani William mengelilingi kota Seoul.
“ Huuffh!! Hari ini aku sial sekali. Tapi jika aku tidak melakukan tugas ini, pak Juna akan membunuhku karena aku melanggar moto nomor dua yang di buat oleh nya.” batin Dina yang masih merasakan gugup dan jantung nya masih berdebar hebat serasa habis keluar dari hutan yang gelap. Dan menurutnya hari ini adalah hari sial nya, apalagi saat dia bertemu dengan William jadi direktur Juna memberikan pekerjaan tambahan.
“ Semangat Dina!! Hanya menjadi memandu saja! Daripada harus memilih mati sebelum menggapai masa depan.” Dina memberi semangat untuk dirinya sendiri, dia pun lekas pergi dari pintu yang besar tepat di belakang dia berdiri saat ini.
Dan sesuai yang dikatakan oleh Juna Sebastian. Dina pun di pulangkan lebih awal pada pukul 2, William yang menunggu di ruang tunggu tidak mengetahui apa yang terjadi. William hanya tahu dan ia menunggu dengan tidak sabar untuk segera berkeliling bersama sahabat kecil nya, William merasa ini seperti sebuah kencan yang sudah di nanti-nantikan. Walaupun Riesta sudah bertunangan dengan Juna, tapi William sudah sangat senang akhirnya dia bisa berjalan berdua bersama Riesta.
Di Waktu yang bersamaan. Dina yang menekan tombol lift perusahaan, dan Dina juga sudah mencari referensi tentang wisata yang menyenangkan dan terbaru saat ini. Tak lama kemudian lift pun telah berhenti di lantai 1 tempat dimana kejadian yang tidak di inginkan oleh Dina untuk kembali di ingatnya, Dina menghela nafas sebelum melangkahkan kaki untuk keluar lift.
William yang menyilangkan kaki dan terus menerus melihat jam tangan di pergelangan nya, sembari bersiul seperti sebuah alunan musik gembira yang sangat di rasakan oleh William.
\= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \=
\= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \=
Terdengar suara sepatu high heel yang semakin mendekat ke arah ruangan tunggu tempat di mana William menunggu saat ini. William yang mendengar suara langkah kaki yang sudah semakin mendekat ke arah nya, dia menunjukkan senyum senang nya karena akhir nya setelah beberapa jam dia menunggu penantian yang sudah lama di damba-dambakan akan menjadi kenyataan. Walaupun hanya segejap saja tetapi bagi William itu sudah sangat cukup bagi dirinya bisa menghabiskan waktu bersama Riesta, berjalan seperti sepasang kekasih, mengambil foto berdua, dan makan malam berdua di restoran yang sangat romantis.
Lalu terdengar suara perempuan yang sudah berada di belakang pintu.
“ Maaf membuat anda menunggu!.” ucap seorang wanita yang menunggu di balik pintu ruang tunggu.
__ADS_1
( *Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika menyukai novel ini 🥰🥰 )
Bersambung*. . . . .