
LIKE 👍
FAVORIT ❤
VOTE ⭐
( ***Dan mohon jangan berkomentar pedas jika tidak menyukai karya ini 🙏 author hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. 😊 Dan author memiliki perasaan, ketika author melihat ada yang berkomentar pedas author sedih, kecewa. )
( Tolong hargai karya author, jangan meninggalkan komentar yang buruk! 🙏🙏*** )
“ Haiizz!! Sekarang kau baru menyadari nya? Semoga saja direktur Juna tidak mendengar apa yang kamu katakan tadi.” sahut teman karyawan yang posisi nya sama seperti pria tadi.
“ Semoga saja omonganku tadi tidak terdengar oleh direktur Juna. Kalau terdengar maka aku akan dipecat, aku harus mencari pekerjaanku ke mana lagi.” ucap Karyawan itu terus berdoa sesuai agama yang dimilik nya.
Para karyawan Wanita pun merasa iri kepada Riesta, karena Riesta selalu saja ada seorang pria tampan yang menyukai nya dan mencari perhatian Riesta agar bisa mendapat perhatian dari nya. Banyak sekali pria yang berada di dalam perusahaan Marsh menyatakan perasaan secara langsung kepada Riesta sebelum perusahaan Marsh diambil ahli oleh direktur Juna.
Kembali lagi ke pertarungan antar dua pria yang saat ini sedang saling menatap satu sama lain, yang saat ini sudah ada di depan mata mereka. Riesta yang tidak tahu harus bagaimana agar bisa menghentikan kedua pria yang sangat penting bagi Riesta, Dina pun menggeleng-gelengkan kepala nya memberi isyarat kepada Riesta bahwa tidak ada cara untuk menghentikan kedua pria ini.
Dina pun memutuskan untuk memesan makanan karena sedari tadi perut nya sudah merasa lapar, dan Dina pun juga berniat untuk segera kabur dari malaikat pencabut nyawa dan membawa makanan nya pergi ke meja kerja milik nya. Sebelum direktur Juna memecat Dina secara langsung karena telah membawa rival cinta nya ke perusahaan yang di pimpin oleh Juna.
Saat ini juga Dina berharap bahwa William menepati janji nya, yaitu janji bahwa dia tidak membawa nama diri nya kepada direktur Juna.
__ADS_1
Seolah mereka sedang menggunakan telepati yang hanya akan terhubung kepada dua orang pria tampan itu.
“ Kau!!! Kau kenapa bisa ada di perusahaanku! Dan kau mau ngapain kesini!! Apakah kau tidak memiliki sebuah pekerjaan??.” tanya Juna Sebastian menatap tajam seorang rival yang sudah ada di depan mata nya. Juna melipatkan kedua tangan nya di atas dada. Ujung bibir Juna sedikit melengkung ke atas. Ya walaupun suara mereka tidak terdengar, tetapi dari tatapan mereka berdua seperti memiliki kemampuan untuk membaca pikiran satu sama lain nya.
“ Heh! Itu terserahku mau kemana, selama aku masih mempunyai kedua kaki ku aku bisa kemana pun yang aku mau! Dan satu lagi tentu saja aku kesini untuk bertemu dengan sahabat kecilku!!.” jawab William tatapan nya sedikit nyolot seperti ingin memancing seorang untuk pertanding di atas ring tinju. Tatapan nya William tidak kalah tajam, seperti tatapan mata Juna. Sembari menunjukkan senyuman masam.
“ Sepertinya, aku harus mematahkan salah satu kakimu agar kau tidak bisa kemana-mana! Bukannya kemarin sewaktu berada di Hyunya kau sudah bertemu dengan Riesta!!.” Batin Juna yang sedang bertelepati dengan William. Menyipitkan mata dan senyuman sangat tipis.
“ Silahkan saja kau patahkan kaki ku!!. Jika kau berani melakukan itu pasti Riesta tidak akan tinggal diam melihat sahabat kecil nya terluka karenamu!! Bukannya sewaktu di perusahaan Hyunya kau menggangguku ketika aku sedang temu kangen dengan perempuan yang aku sukai?.” jawab William yang masih bertelepati di dalam alam pikiran kedua pria itu. William pun hanya tersenyum mengejek kepada Juna, karena jika Juna berani mematahkan kaki milik William. Pasti Riesta akan membenci Juna dan lebih memilih menyelamatkan sahabat kecil nya.
“ Oh benar satu lagi, menurut para karyawanmu yang berada sini apa benar kau sudah melamar Riesta?.”
“ Iya! Itu benar sekali, aku sudah melamar Riesta. Jadi, kau jangan macam-macam terhadap calon istriku! Apalagi sampai memeluk calon istriku seperti waktu berada di perusahaan Hyunya.”
Akhirnya setelah saling bertatapan mata dan berbicara dalam hati seperti menggunakan telepati, William pun membuka suara nya setelah bertarung dalam diam tanpa ada suara. Hanya ada kilatan petir diantara mereka yang saat ini sudah menghilang.
William pun mengangkat tangan kanannya seperti membuat kesepakatan diantara mereka berdua yang tidak pernah di ketahui oleh dua orang wanita yang berada di samping mereka.
Riesta dengan wajah yang sudah sangat panik. Karena melihat pertarungan tatap muka yang dilakukan oleh dua pria yang dekat dengan Riesta. Satu pria adalah calon suami nya yang sangat Riesta cintai , dan satu pria lagi adalah sahabat kecil yang sudah dianggap oleh Riesta sebagai seorang kakak yang sangat perhatian, baik kepada nya
“ Itu janji sebagai seorang pria jantan! Jika kau mengingkari janji itu. . . . ! Tidak ada kehidupan yang tenang untukmu Juna Sebastian!!.” mereka pun membuat tanda perjanjian seperti yang biasanya di lakukan saat bernegoisasi antar perusahaan.
__ADS_1
“ Baiklah! Aku sebagai Juna Sebastian tidak akan mengingkari janji itu.” jawab Juna dia pun mengangkat tangan kiri nya. Kemudian dua orang pria itu pun berjabat tangan.
TAP!
DEALL!
Tanda bahwa kesepakatan yang di buat oleh William sudah sah dan Juna sebagai orang yang sudah menyetujui janji dari William, maka Juna tidak boleh mengingkari janji itu. Jika Juna menyakiti Riesta maka William akan mengambil sahabat kecil nya kembali, karena dia tidak ingin Riesta di sakiti terus menerus oleh Juna.
Akhirnya setelah itu mereka berdua kembali duduk di kursi yang terbuat dari kayu, William yang baru sadar bahwa ada seseorang yang telah pergi begitu saja dari hadapan nya. Ya, siapa lagi kalau bukan Dina. Sejak William bertarung bersama rival nya sekaligus orang yang di takuti oleh Dina, Dina mengambil waktu yang tidak banyak untuk melarikan diri dari amukan ala direktur Juna.
Lalu Juna pun yang selera makannya sudah hilang, menyeruput kopi hitam yang sudah hampir dingin karena pertarungan dia dengan William. Untung saja kopi itu hanya tinggal satu tengukkan saja, Juna langsung menghabiskan kopi hitam dan dia pun lekas berdiri sambil mengancingkan jas dengan motif tartan berwarna abu keluaran dari brand Kiton K-50. Kiton K-50 merupakan perusahaan yang berdiri sejak tahun 1968 dan menjadi salah satu brand terkenal untuk pakaian pria.
Bahan yang digunakannya untuk membuat setelan jas berkualitas adalah wol domba Merino. Harga untuk sebuah setelan jas ini senilai US$ 60 ribu atau sekitar Rp 809,6 juta.
Juna pun mulai melangkahkan kaki nya meninggalkan William serta Riesta yang masih duduk di meja makan, Riesta yang menyadari bahwa mood Juna sedang tidak baik. Riesta pun berkata kepada Juna.
“ Kamu sudah mau pergi? Makananmu belum habis.” tanya Riesta kepada Juna yang tiba-tiba mulai melangkahkan kaki nya untuk meninggalkan mereka bertiga. Dan Juna pun belum menghabiskan makanan yang ada di atas meja makan tepat di sebelah mangkuk milik Riesta.
“ Aku sudah tidak mood.” jawab Juna sembari memakai jas milik nya yang sedari tadi di letakkan di samping kursi kayu itu.
“ Oh begitu yah.” ucap Riesta. Menundukkan kepala nya, wajah nya pun sedikit terlihat sedih tetapi dia tidak ingin membuat Juna melihat wajah sedihnya.
__ADS_1
( Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika menyukai karya novel ini 🥰🥰 )
Bersambung. . . . .