Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Ibu Menelepon?


__ADS_3

LIKE          👍


FAVORIT   ❤


VOTE         ⭐


Yoshiro pun mulai pergi membawa daftar menu makanan, dan saat ini hanya menyisakan William dan Dina di meja makan.


Dina pun kembali bertanya kondisi William, sebab tadi wajah William sangat pucat sudah seperti vampir yang akan menjadi abu.


“ Kau masih ada yang terasa sakit? Kalau masih kurang sehat, nanti setelah selesai makan. Lebih baik kita pulang saja, aku tidak ingin membuat anak orang masuk rumah sakit.”


“ Jangan dulu! Baru saja kita main 2 wahana, masa pulang? Lebih baik nanti kita coba wahana yang ada di sini saja.”


“ Kau yakin? Ya sudah, nanti kita coba masuk rumah hantu yang tidak ekstrem. Setelah itu pulang.”


“ Itu! Bagus Tuan! Pastikan setiap wanita, jika mereka merasa takut maka dia tanpa tidak sadar memegang erat tangan seorang pria! Jadi, itu bisa membuat Tuan seperti pria gentleman!” bisik setan kecil di telinga kiri William.


“ . . . . . . .”


“ Tuan? Tuan kenapa tubuh Tuan terlihat gemetar, dan berkeringat? Jangan bilang! Tuan takut pada hantu?” tuduh nya sembari tertawa mengejek.


“ I . . Tu benar! Apa kau tidak tahu denganku? Aku paling tidak suka saat masuk rumah hantu, apalagi melihat film horor pun aku tidak mau!”


“ Haiiizz!! Baiklah . . . Kali ini serahkan saja padaku! Aku juga seorang setan, tapi dalam wujud yang tampan! Pasti semua setan kalengan akan takut kalau melihat wujud asliku. Hahaha!”


“ Wooahh! Kau terlihat keren! Setan kecil aku mendukungmu!!”


“ Hehehe!”


Dina pun melihat William yang melamun, dan tidak menjawab Dina. Dina pun mendekatkan wajah nya melihat wajah William yang terlihat pucat. Sembari Dina mengerakkan tangan nya di depan wajah William, tetapi tidak ada respons. Lalu kemudian Dina tidak mempunyai pilihan, dia pun memegang poni rambut nya ke atas, dan Dina mencoba mengecek suhu tubuh dirinya dan juga William menggunakan keningnya. Tetapi Dina sedikit merasa gugup, karena ini baru pertama kali nya dia membandingkan suhu tubuh menggunakan kening nya. Biasanya Dina menggunakan tangan nya, tetapi saat dia mencoba nya. Tidak ada yang berbeda antar suhu tubuh, jadi akhirnya Dina memakai kening nya untuk mengecek suhu tubuh William dan juga Dina.


Saat Dina mengatur nafas nya. Dina memang pernah sakit hati, tapi menurutnya dia tidak harus tenggelam dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dia harus fokus untuk menjalani kehidupan seperti sedia kala, dimana Dina harus mendapatkan seorang pria yang mencintainya dengan setulus hati.


Dina pun mulai mendekati wajah nya ke wajah William, jantung Dina yang terus berdebar. Dina sampai bisa mendengar jantung nya, dan Dina berharap semoga William tidak mendengar suara jantung Dina yang berdebar.

__ADS_1


DEG . . . !


DEG . . . !


Dan akhirnya William pun tersadar, dan dia menjawab sembari menyembunyikan rasa gugup nya.


“ Oo . . Oh okay! Ayo setelah makan, mencoba uji nyali!” sahut William.


“ Hum!” jawab singkat Dina yang menutupi rasa gugup nya, lalu ia memalingkan wajah nya.


Suasana pun berubah canggung sejak saat Dina mendekatkan wajah nya ke wajah William, antar mereka berdua seperti menyembunyikan perasaan aneh yang sedang melanda mereka.


Dan saat makanan yang di pesan sudah datang, mereka pun menyantap omurice.


Tak lama kemudian mereka telah selesai makan, mereka pun tak lupa membayar makanan itu. Dan mereka meninggalkan restoran itu, setelah itu mereka melanjutkan jalan kembali untuk mencoba uji nyali di rumah hantu. Tapi saat di jalan akhirnya William pun berusaha mencari bahan perbincangan dengan Dina.


“ Pria yang di restoran tadi. Kau terlihat sangat dekat dengan nya, apakah waktu masih di SMA kau pernah memiliki hubungan yang khusus dengan nya?” tanya William tentang pelayan restoran itu pada Dina.


“ Oh, Yoshiro? Haha tidak, kita hanya teman biasa. Dan saat masa sekolah aku tidak ingin berpacaran, karena aku ingin masuk ke Universitas Inha. Dan bisa mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan, jadi akhirnya aku bisa mewujudkan impianku!” jawab Dina


“ Uhm . . .? Apa ya? Aku tidak tahu. Oh ayo kita percepat lagi! Sebelum antrean nya memanjang.” jawab Dina . Dia pun langsung mengahlikan pertanyaan yang di lontarkan dari William.


Mereka di berikan kacamata 3D oleh petugas. Dan tentu saja, saat William ingin memakai nya. William terlihat memandangi kacamata 3D cukup lama, William pun menelan saliva yang terasa sangkut.


GLEG!


“ Aku pasti bisa! Will, kau harus berani. Dan jangan mempermalukan dirimu sebagai seorang pria apalagi saat ini kau sedang bersama seorang perempuan!” batin William dia pun mulai memakai kacamata 3D.


Dan pada saat William sudah memakai kacamata nya, dia pun merasa sedikit gugup. Tetapi rasa gugup itu mulai menghilang saat tiba-tiba ponsel yang berada di dalam saku celana milik William berdering.


Dret . .!!


William pun segera melepas kacamata 3D nya, lalu dia pun mengambil ponsel yang di celana milik nya. Dan melihat layar ponsel yang bertuliskan 'Mom', tanpa berpikir panjang lalu William pun meminta izin Dina untuk mengangkat telepon dari ibu nya.


“ Maaf! Aku harus mengangkat telepon dulu.” ucap William yang memberitahu pada Dina kalau dia harus menjawab telepon.

__ADS_1


“ Oh! Ya!” jawab singkat Dina. Dina pun lupa tidak sempat bertanya pada William.


William pun mengembalikan kacamata 3D nya kepada petugas yang tengah berdiri, William pun keluar dan mengangkat panggilan dari ibunya, sembari William mencari tempat yang tidak terlalu bising.


\= \= \= \= \= \= \= \= \= PHONE \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


“ Halo, mom! Ada apa?” jawab William yang mengangkat telepon dari sang ibu, ia pun sudah berada di luar rumah hantu, sembari berjalan-jalan mencari tempat duduk taman.


“ Kau! Anak durhaka! Kenapa kau baru menjawab telepon dari ibu? Kau ada dimana?” sahut sang ibu dengan suara galak nya memarahi anak nya William karena cukup lama mengangkat telepon dari ibu nya.


“ Maaf bu! Tadi aku ada sedikit urusan jadi ponselku di mode getar, dan saat ini aku ada di jalan. Biasa sedang berada di dalam taksi, ada apa Ibu meneleponku?” jawab William yang sudah duduk yang di sediakan khusus di taman bermain.


“ Ibu, mendengar kabar kalau 1 minggu lagi Riesta akan segera menikah. Kau kapan akan segera menikah? Atau kau masih tidak bisa move on dari Riesta?” ujar ibu William yang menanyakan William untuk segera menyusul seperti Riesta.


“ Iya! Itu bukan urusan Ibu, jadi apakah Ibu akan datang menghadiri pesta pernikahan Riesta?” kata William masih bersungut-sungut saat sang ibu nya berbicara tentang Williiam yang belum bisa move on dari Riesta


“ Seharusnya kau bisa move on darinya. Atau Ibu jodohkan kembali dengan teman anak Ibu, dia baru saja pulang dari paris dan barus saja lulus kuliah. Oh satu lagi dia sangat cantik nanti Ibu akan kirimkan foto nya!” ujar ibu nya berbicara lewat telepon dengan duara yang sangat bersemangat, hingga membuat William bosen mendengarkan sang ibu jika sedang membicarakan tentang perjodohan nya dengan anak temen nya sosialita ibu William.


“ Aduuh! Ibu!! Bisa tidak jangan mengabaikan pertanyaanku? Ibu, apakah Ibu akan datang ke pesta pernikahan Riesta?” potong William. Dia pun kembali bertanya keppada ibu nya apakah nanti beliau akan hadir dalam pesta pernikahan Riesta.


“ Oh! Maaf Ibu tidak bisa datang, saat ini kesehatan ayahmu kurang bagus. Jadi tolong kamu belikan kado untuk Riesta ya! Dan sampaikan permintaan maaf Ibu kepada nya, maaf tidak bisa datang.” jawab sang ibu.


“ Hah? Kenapa aku yang harus beli kado? Aku sangat malas. Ibu!” ucap William berkeluh kesah sembari menyandarkan punggung nya ke kursi taman.


“ Tolonglah . . . Ibu mu ini, sangat tidak sopan kalau menghadiri pesta pernikahan tanpa membawa kado. Jadi, Ibu serahkan padamu ya!” pinta sang ibu merengek-rengek memohon pada sang anak William untuk membeli kado pernikahan untuk Riesta.


“ Oh benar! Jangan lupa kalau kau sudah selesai dengan pekerjaanmu yang ada di Seoul, kau harus ikut perjodohan nya! Ibu tunggu kepulanganmu!” perintah sang ibu yang menyuruh William untuk segera pulang ke Tokyo bila pekerjaan dia yang ada di Seoul sudah selesai, karena saang ibu menyuruh William untuk ikut perjodohan yang di buat ibu nya untuk William.


“ Ah! Mom!!” renggek William, tapi sebelum ia menjawab perintah dari sang ibu. Sang ibu William pun langsung menutup telepon secara langsung. Jadi, William tidak memiliki kesempatan untuk menolak nya.


TUUUT!


\= \= \= \= \= \= \= \= END CALL \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


( ***Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika sudah membaca novel ini 🥰🥰 )

__ADS_1


Bersambung***. . . . .


__ADS_2