Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Kelahiran Gavin Sebastian !


__ADS_3

4 Bulan kemudian.


Di rumah Juna. Riesta terus menunggu kepulangan sang suami yang berada di Perancis selama 4 bulan. Ia pun mulai mengkhawatirkan keadaan Juna yang tidak permah menghubungi nya lagi, dan tentu saja Riesta mengingat kalau perjalanan bisnis kali ini akan memakan waktu selama 1 bulan. Tetapi, sekarang ini sudah 4 bulan. Dan Riesta pun masih belum mendapatkan kabar dari Juna, sembari memegang perut buncit nya yang sudah memasuki 9 bulan. Sudah dengan berbagai cara Riesta mencari kabar tentang Juna yang menghilang bagaikan di telan bumi, tentu saja William serta Dina pun membantu mencari Juna di negara Perancis. Tetapi hasil nya tetap nihil.


"Suamiku, sebenarnya kamu berada di mana? Sebentar lagi anak kita menyambut dunia ini."


"Aakh! Perutku! Tiba-tiba sakit. . . Ibu . . . Tolong aku!"


Ibu Wendy pun yang membawa makanan untuk Riesta, tiba-tiba ia menjatuhkan piring yang tadi di pegang nya. Ia terkejut saat melihat Riesta yang sudah tertidur di lantai.


PRANG!!


"RIESTA!!"


Ibu Wendy pun segera memanggil ambulan, dan membawa Riesta ke rumah sakit.


TIK . . . . TOK . . . TIK . . . TOK


Sudah 4 jam Riesta masih di ruangan Operasi. Ibu Wendy, ayah Juna, Dina serta William menunggu.


HOEK . . . HOEK . . !!


"Oh! Suara nangisan bayi, syukurlah."


KREK!


Dokter serta perawat pun keluar. Dan ibu Wendy langsung menanyakan keadaan Riesta dan cucu nya.


"Bagaimana keadaan anak menantu dan juga cucu saya, Dok?"


"Syukurlah cucu ibu sehat. Jenis kelamin nya Cowok, tetapi kalau ibu nya. Dia masih kritis."


"Ya tuhan! Apa boleh saya menengok nya?"


"Silakan tetapi hanya boleh 1 orang saja yang masuk."


"Tetapi setelah pasien mendapatkan perawatan, dan ia akan di pindahkan ke ruangan rawat inap."


"Baiklah!"


Ibu Wendy di temani oleh Dokter pun masuk ke ruang Riesta. Setelah menunggu 1 jam, ibu Wendy pun melihat Riesta yang masih terbaring koma dengan selang-selang infus melilit tangan serta bantuan oksigen.


"Sayang, ini ibu. Kamu harus bangun, lihatlah wajah tampan anakmu. Wajah nya mirip sekali dengan Juna, dan bibir nya mirip denganmu."


"Ibu tahu kalau pasti selama ini kamu memikirkan keadaan Juna, ibu akan mengerahkan polisi untuk mencari keberadaan Juna dan juga Reina. Jadi, sekarang kamu fokuslah dengan untuk kepulihanmu."


Hari Esok nya, ibu Wendy tetap menemani anak menantu dan juga cucu nya.


Kring . . . Kring!!


\= \= \= \= \= \= \= \= Unknown number \= \= \= \= \= \= \= \= \=

__ADS_1


"Uhm? Siapa yang menelepon?"


"Atau jangan-jangan pihak polisi sudah menemukan Juna, lebih baik aku segera mengangkat nya!"


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


'Halo!'


'Nyonya Wendy Sebastian!'


'Pasti saat ini cucu pertama anda telah lahir bukan?'


'Siapa kau? Kenapa kau tahu tentang itu cepat jawab!'


'Tenanglah! Aku hanya ingin bernegosiasi dengan anda! Dan tentu saja pasti anda mencari anak anda yang bernama Juna Sebastian!'


'Apa maumu! Dan kenapa kau bisa tahu bahwa Juna menghilang! Atau jangan-jangan kau yang !!'


'Sekarang bukakah E-mail anda Nyonya Wendy!'


Ibu Wendy pun segera menuruti perkataan suara pria misterius itu. Lalu ia membuka e-mail dan tentu saja ia melihat foto Juna yang terlihat berada di ruangan asing, dengan semua selang-selang yang melilit di tubuhnya.


'Kenapa anakku bisa ada bersamamu? Cepat jawab!!'


'Anak ibu mengalami kecelakaan dan dia sedang dalam keadaan kritis mungkin sebentar lagi akan kehilangan nyawa nya.'


'CEPAT KATAKAN!! DIMANA JUNA SEKARANG!!'


'HUH? MANA MUNGKIN AKU MELAKUKAN ITU!?'


'Iya itu terserah padamu sih, nyonya Wendy! Mungkin saja aku bisa saja membunuh anakmu saat ini!'


'JANGAN!! AKU MOHON!'.


'IYA! AKU AKAN MENURUTI PERINTAHMU! TAPI DENGAN SYARAT!!'


'Oh, sebutkan syarat nya!'


'KAU JANGAN APA-APAKAN ANAK MENANTUKU DAN JUGA CUCUKU!'


'Baiklah! Nanti saya beri tahukan alamat nya! Dan ingat sekali lagi! Jangan membawa-bawa polisi, pengawal, ataupun yang lainnya!'


'Iya! Tenang saja!'


TUUUUT!!


Ibu Wendy pun hanya menghela nafas panjang, ia pun segera membuka e-mail untuk melihat alamat yang di kirimkan oleh pria misterius yang baru saja meneleponnya.


"Riesta, maafkan ibu ya! Ini terakhir kali nya kita bertemu, kamu pasti bisa melalui semua ini. Ibu yakin itu! Jagalah dirimu baik-baik!"


Ibu Wendy pun mengusap penuh sayang pelipis kepala Riesta, lalu ia pun mencium sang cucu yang di tengah di gendong nya. Ia pun segera memanggil seorang perawat.

__ADS_1


Dan ibu Wensy beserta ayah Juna meninggalkan kediaman rumah mereka, diam-diam mereka meninggalkan satu anak perusahaan kecil milik keluarga Sebastian untuk Riesta dan anak nya.


1 minggu kemudian setelah kepergian ibu Wendy dan Ayah Juna ke suatu negara untuk menemui anak nya Juna. Riesta terbangun dari koma.


"Uh! Dimana aku?"


"Ries! Kamu sudah bangun? Syukurlah!"


"Dina? William?"


"Aku akan panggilkan Dokter kesini!" ujar William yang berlari keluar untuk memanggilkan seorang Dokter.


"Anakku! Dimana anakku?"


"Tenanglah anakmu ada bersamaku. Sekarang kamu sambutlah anakmu, dia belum aku beri nama setelah 1 minggu kamu di rawat."


"HUH? 1 MINGGU!!"


"Lalu dimana ibu Wendy? Dan ayah?"


"Uhm . . Kalau itu aku tidak tahu, aku berusaha untuk menghubungi mereka berdua tetapi nomor nya tidak pernah aktif. Dan aku pernah mengunjungi rumah, tetapi banyak yang bilang kalau mereka sudah pindah dari rumah itu."


"Lalu kemana ibu Wendy pergi?"


"Aku tidak tahu, oh iya! Tante Wendy pernah menitipkan sebuah surat kepada perawat, ini aku belum membuka surat ini. Kali saja ini merupakan alasan kenapa tante Wendy pergi meninggalkanmu tanpa sepatah kata."


HIKS . . . !!


Riesta pun segera membaca selembar kertas yang merupakan peninggalan terakhir ibu Wendy.


Saat Riesta telah selesai membaca surat dari ibu mertua nya. Ia meneteskan air mata, terisak menangis dengan cukup keras.


"Huhu. . . . Huhu" (suara nangis)


"Ries! Kenapa! Apa kamu menemukan dimana ibu Wendy tinggal sekarang?"


"Dinaaa! Ken . . . Napa aku selalu di tinggal? Aaappa saalahku?"


"Tenang Ries! Kamu tidak sendirian disini ada aku, William dan juga orang-orang yang akan selalu berada disisimu."


"Kamu harus kuat! Demi anakmu, aku tahu kamu adalah seorang perempuan yang kuat!"


"Ken . . . Napa hidupku selalu seperti ini! Di tinggal dengan orang-orang yang menyayangi, dan mencintaiku. Dulu kedua orang tua ku, sekarang suami, serta kedua mertuaku pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apapun!!"


"Tenang Ries! Aku dan William akan membantumu sebisa kami. Sekarang, kamu fokuslah merawat anak pertamamu. Dan jangan lupa beri nama nya, dia sangat tampan."


"Hum. Baiklah! Aku akan memberinya nama Gavin"


"Ooh! Gavin Sebastian. Nama yang unik, pasti dia akan menjadi seorang pria yang tegas, dan bisa menjaga Ibu nya dengan sangat baik."


"Terima kasih, Dina!"

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT KAN AGAR ADA NOTIF KETIKA UPDATE DAN TERUS DUKUNG AUTHOR ❤❤


__ADS_2