Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Kembali berpenampilan Tomboy!


__ADS_3

LIKE          👍


FAVORIT   ❤


VOTE         ⭐


Dina pun mengambil ponsel di dalam tas kecil milik nya, mereka berdua pun saling menyimpan nomor itu di ponsel mereka berdua. Lalu, saat Dina memasukkan ponselnya kembali. William pun berbicara.


"Kau, lebih baik aku mengantarmu pulang sampai rumahmu. Tidak baik malam hari bila seorang gadis berjalan sendirian." ajak William. Dia menawarkan pada Dina untuk mengantarnya pulang sampai ke rumah, William merasa khawatir pada Dina apalagi sekarang sudah larut malam. Terutama, untuk seorang gadis cantik.


"Ah? Tidak, tidak usah. Tenang saja aku sudah sering pulang sendirian, kau kan sudah melihat keahlian taekwondo ku bukan? Dan aku juga tidak ingin merepotkanmu lagi." tolak Dina dengan nada sopan. Dia menolak tawaran William, dan ia bilang pada William untuk tidak usah mengkhawatirkan apalagi Dina bukan lah gadis yang lemah. Jika ada sesuatu terjadi Dina sudah memiliki senjata PAMUNGKAS yaitu TAEKWONDO.


"Hahaha . . Ya sudah! Aku berterima kasih kau sudah mau menjadi pemandu wisata sementara untukku, aku jadi bisa merasakan hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya." jawab William tertawa saat melihat Dina memperlihatkan otot lengan nya.


"Hum, baiklah! Sampai ketemu besok, bye!" pamit Dina.


"Uhm! Kau juga hati-hati di jalan." jawab William.


Mereka berdua pun mulai mengambil arah jalan yang berbeda. Dina pun segera menaiki bus yang akan mengantarkannya ke tempat tinggal nya yang tidak terlalu jauh dari kantor hanya butuh waktu 30 menit dari halte bus yang berada tak jauh dari perusahaan Marsh.


30 menit setelah menjadi pemandu wisata sementara untuk William. Dina sudah sampai di rumah nya, area yang paling nyaman, tenang, dan tentram walaupun tidak terlalu luas dan megah. Tetapi Dina sangat bersyukur bisa membeli rumah ini dengan uang gaji dari perusahaan Marsh yang sudah ia kumpulkan dari awal ia di terima bekerja di perusahaan itu.


Dina pun memasuki rumah nya, dia tidak lupa mengunci kembali. Dia pun segera berlari ke arah cermin yang berada di kamar tidur.


\= \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= \=


Dina pun segera melihat diri nya di depan cermin.


"Woow! Aku sangat terlihat berbeda, riasanku, dress yang cantik ini. Apakah aku saat ini terlihat seperti seorang cinderella?" gumam nya yang melihat diri nya sendiri di cermin sembari memutar-mutarkan badan nya. Dia pun menjadi pangling dengan diri nya yang saat ini memakai dress yang sangat feminin, sangat jarang Dina memakai pakaian wanita feminin seperti saat ini.


"Haiiz . . .! Dina hilangkanlah imajinasimu yang berlebihan! Tidak mungkin seorang wanita tomboy sepertimu bisa menjadi seorang cinderella." tukas Dina sembari menepuk-nepuk kedua pipi nya.

__ADS_1


"Oh! Lebih baik aku simpan barang-barang ini dengan sangat hati-hati, untuk pertama kali dalam hidupku ada seseorang yang mau mengeluarkan uang banyak hanya untuk membelikanku barang yang sangat mahal." lanjut nya. Dina pun mengusap-usap lembut dress cantik yang saat ini sedang di pakai nya.


"Lebih baik aku tidur! Besok masih harus bekerja kembali." tambah nya.


Dina pun segera melepaskan dress, menghapus make up di wajah nya sembari membersihkan wajah, dia pun tak lupa meletakan sepatu itu di dekat laci meja kecil yang berada di sebelah single bed.


Setelah Dina sudah kembali menjadi wanita tomboy yang memakai T-shirt oversize, celana yang panjang yang sedikit kebesaran. Dia pun langsung membaringkan tubuh nya di atas kasur yang sangat nyaman, sembari memandangi sepatu baru yang merupakan memberian dari William.


Dina tidak menyadari nya bahwa dia tersenyum-senyum sendiri saat memandangi sepatu yang cantik di depan matanya. Kedua mata Dina pun mulai menutup, dan Dina pun langsung tertidur dengan cepat.


Zzzz . . . . Zzzz


Pagi menyambut rumah yang sederhana, burung-burung kecil yang berkicau di atas pohon menandakan hari sudah pagi. Dan tentu saja Dina yang sudah bangun dari tadi, dia sedang bersiap-siap memakai blouse berwarna merah marun dengan model tali yang berada di leher nya, Dina pun hanya mengikat nya satu kali karena dia tidak ingin di ikat model pita. Dan tentu saja Dina akhrinya memakai celana panjang berwarna hitam yang panjangnya tepat di mata kaki Dina, Dina pun mengubah penampilan nya seperti biasa yang penampilannya seperti gadis tomboy. Dina pun harus bisa melupakan pria yang bernama Renald, dan dia harus membuka lembaran baru untuk masa depan nya kelak.


Dina pun mengikat rambut nya seperti ekor kuda, membiarkan poni samping nya untuk menutupi kening lebarnya. Tak lupa Dina mempoleskan sedikit bedak di wajah, saat dia melihat lipstik berwarna pink muda. Lalu tiba-tiba dia teringat perkataan pelayan di YS Boutique.


"Nona sangat cantik sekali! Nona sesekali coba berdandanlah, pasti pacar anda akan terpesona melihat kecantikkan nona yang selama ini tersembunyi."


"Apakah aku terlihat seperti seorang badut hiburan? Lebih baik aku menghapusnya kembali, nanti saja kalau habis pulang kantor aku memakainya." gumam nya sembari melihat cermin.


"Oh tidak! Sudah jam 7.15! Lebih baik aku segera berangkat! Atau nanti akan terkena masalah kembali." sontak nya yang melihat pantulan jam dinding di cermin, Dina pun segera menghapus lipstik yang menempel di bibir nya.


Dina pun segera memasukkan lipstik ke dalam sling bag nya, lalu dia pun segera bergegas untuk berangkat ke kantor.


Dina pun tiba di kantor jam 7.45 . Ia pun segera bergegas menekan tombol lift sebelum Direktur Juna atau manajer Moon yang terkenal sangat galak, menyeramkan, dan tegas kepada para karyawan yang tidak mematuhi peraturan.


Saat lift itu berhenti di lantai 20. Lalu Dina pun segera bergegas ke tempat meja kerja nya, ia pun segera duduk di kursi kantor yang berwarna hitam pekat ala kursi komputer.


Setelah 2 jam Dina menatap layar laptop kemudian ponsel yang berada di dekat keyboard komputernya berdering, Dina pun melihat layar ponsel milik nya dan ternyata itu telepon dari Riesta. Dina pun segera menjawab telepon dari temannya yang sebentar lagi akan segera menikah.


\= \= \= \= \= \= \= \= \= PHONE \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=

__ADS_1


"Halo! Dina. Pak Juna menyuruhmu untuk mengirimkan salinan analisis investasi tahun lalu. Ke email pak Juna, di tunggu jam 11. Lalu kamu di suruh datang ke ruangan nya sekitar 30 menit!"


"Heh? Aku punya firasat yang tidak enak!"


"Uussh! Jangan seperti itu, tenang saja kalau kamu di marahi oleh nya segera lapor padaku ya! Oh iya, kemarin sore Juna memberitahuku kalau kau yang menemani William jalan-jalan ya?"


"Terima kasih ya Dina! Aku tahu kamu pasti sangat merepotkan, apalagi sudah 18 tahun William baru berkunjung ke Seoul. Dan sewaktu masih kecil dia sering sekali menghilang di pusat permainan, oh dan satu lagi dia paling takut dengan rumah hantu. Sudah sering sekali William menolak untuk masuk ke area rumah hantu, wajah nya langsung terlihat sangat pucat sekali."


"Kamu benar sekali Ries! Aku seperti seorang ibu yang harus mengawasi anak berusia 5 tahun, kemarin dia sempet mengambil jalur yang salah. Untung saja aku menemukannya! Kalau tidak, tidak mungkin aku melapor pada petugas keamanan yang ada di sekitar stasiun Jamsil bahwa pria berumur 30 tahun menghilang di stasiun. Nanti aku hanya di tertawakan oleh petugas."


"Hahaha! Walaupun sifat nya menyebalkan. Tapi dia sebenarnya sangat baik, lucu, dan juga perhatian. Dina, lebih baik kamu buka hatimu untuk pria lain. Aku ingin Dina mendapatkan pria yang sangat baik kepadamu, yang selalu melindungimu, menjagamu dengan baik."


"Tidak tahu Ries, aku tidak ingin memikirkan pria lagi. Sekali lagi maafkan aku Ries! Memang William dia pria yang baik dan perhatian, tapi aku tidak ingin sakit hati lagi."


"Ya sudah. Seharusnya aku yang minta maaf kepadamu Din, aku yang salah mengungkit hal itu lagi. Oh ya!? Nanti habis pulang kerja kita jalan-jalan yuk!"


". . . ."


"William mengajakku pergi habis pulang kerja! Aku harus bagaimana? Masa, aku harus membohongi temanku sendiri? Itu tidak mungkin!" batin Dina


"Maafkan aku Ries! Aku harus berbohong kepadamu, aku melakukan ini karena aku ingin membayar atas kebaikan William." batin Dina


"Uh . . Hum! Maaf Riesta, nanti sore aku ada janji untuk bertemu dengan teman."


"Iya tidak apa-apa! Kamu tidak harus meminta maaf denganku, kita pergi lain waktu saja. Tenang saja."


"Oh! Kita lanjut mengobrol nya nanti. Pak Juna sudah selesai keluar dari ruangan meeting! Bisa-bisa kita berdua di marahi oleh nya, semangat Dina! Bye."


"Oh! Bye!"


\= \= \= \= \= \= \= \= \= END CALL \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=

__ADS_1


__ADS_2