Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Ternyata idemu cukup licik!


__ADS_3

LIKE          👍


FAVORIT   ❤


VOTE         ⭐


Datang seorang pria yang memakai Jas berwarna hitam dengan hiasan bunga mawar putih di saku jas nya yang tengah berbahagia bersama.


Pria itu tidak lain adalah Juna Sebastian dia langsung tahu tentang kebohongan William untuk mengusir para tamu wanita itu pergi, dengan senyum licik nya dia berkata sesuatu terhadap pria yang di depan nya yang masih memegang buket bunga di tangan nya.


“ William. . . . William, ide mu ternyata cukup licik. Apalagi kamu menggunakan karyawanku dan sekaligus merupakan teman wanita Riesta untuk berlindung dari kejaran para tamu wanita itu kah?” sahut Juna yang baru saja nongol, sembari menggeleng-gelengkan kepala dan senyuman seperti ukiran simbol matematika pengurangan.


“ Awal nya aku mengira kalian berdua memang mempunyai hubungan yang spesial. Tapi kalau di lihat baik-baik kalian berdua terlihat serasi.” ujar Riesta yang langsung berdiri di samping suami nya.


“ Hah? Serasi darimana?” jawab kompak Dina dan William.


“ Lebih baik aku mencari pria lain yang sifat nya lebih dewasa dari dia, dan aku membantu nya biar aku bisa tenang menikmati makanan yang enak.” ujar Dina memalingkan wajah nya dari William, mengerucutkan bibir nya terlihat seperti seseorang yang tidak tertarik pada pria yang berdiri di sebelahnya.


“ Aku juga tidak mau memiliki seorang mantan atlet petinju seperti nya, bisa-bisa nyawa dan wajah tampan ku yang jadi pertaruhannya. Huh.” sahut William dia pun memalingkan wajah nya kedua tangan nya di letakkan di bawah dada nya.


“ Kau bilang apa barusan? Mantan atlet petinju?” tanya Dina dengan suara tegas nya dan menatap tajam dengan tatapan yang mengerikan.


“ Ooh. . . Benar juga apakah kau ingin merasakan pukulan ku untuk ke tiga kali nya? Dan kali ini aku tidak akan segan-segan untuk membuatmu babak belur!” tambah nya Dina mulai menunjukkan sebuah kepalan tangan ke arah William.


“ Ehh!! Riesta help me!.” teriak William dia pun langsung bersembunyi di belakang punggung Riesta, Juna yang masih berada di samping Riesta dengan tatapan yang lebih mengerikan menarik tangan William yang sedang bersembunyi di balik pungung Riesta.


“ Kau! Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan! Riesta saat ini sudah menjadi istriku. Oh benar juga aku setuju yang di katakan oleh Dina, tetapi lebih baik membuatmu menghilang dari muka bumi ini dengan tanganku sendiri!.” Juna melepas gandengan tangan Riesta yang berada di samping nya, dia pun melakukan pemanasan karena kedua tangannya sudah merasa gatal dan dia pun ingin membuat William menghilang dari muka bumi ini dengan tangan nya sendiri.

__ADS_1


GLEK!


William pun menelan saliva setelah melihat Juna sedang melakukan pemanasan kedua tangan nya, bunyi tulang jari-jari tangan Juna William yang mendengar dan melihat Juna yang sedang melakukan pemanasan untuk mengajar William, William pun berpamitan kepada Riesta. “ Maaf Riest, sepertinya aku harus kabur!.”


Riesta pun hanya tertawa kecil saat melihat kedua temannya itu seperti Tom and Jerry, yang kadang bisa akur dan tak lama kemudian berantem karena masalah kecil.


William mengambil ancang-ancang seperti atlet lari estafet sembari membawa buket bunga di tangan kanan nya, dalam sekejap William menghilang dan hanya terdengar bentakan suara kaki yang membuat Indera pendengaran ngilu.


\= \= \= \= TAK \= \= \= \= TAK \= \= \= \= TAK \= \= \= \= \=


\= \= \= \= TAK \= \= \= \= TAK \= \= \= \= TAK \= \= \= \= \=


Dalam beberapa detik William menghilang diantar tiga orang yang masih berdiri mematung, dan hanya melihat punggung belakang seseorang yang berlari sangat cepat sudah seperti pelari estafet.


Dina hanya tercengang saat melihat pria pembuat masalah itu sudah menghilang hanya dalam waktu beberapa detik, dan hanya meninggalkan wangi parfum dari pria tadi tinggalkan.


“ Oh benar Riesta kita berfoto sebentar ya. Kamu sudah seperti Princess dari negeri dongeng sangat cantik dan anggun, aku benar-benar bahagia saat melihatmu bahagia. Semoga cepat-cepat di karuniai baby aku tidak sabar ketika anakmu memanggilku dengan sebutan auntie. Hehehe, aku tidak sabar menunggunya.” lanjut Dina yang mengeluarkan HP nya dari dalam clutch bag.


“ Hehehe, ok baiklah. Suamiku, aku minta tolong fotoin aku bersama Dina.” pinta Riesta sembari memberikan ponsel Dina kepada Juna untuk memotret mereka berdua.


“ Baiklah, gaya bebas. Sudah siap?” jawab Juna yang sudah memegang ponsel Dina dan menyuruh mereka untuk bergaya bebas dan bersiap-siap untuk mencari posisi yang bagus untuk mengambil foto.


“ . . . .” Dina yang hanya berdiri dan tanpa berkata apa pun. Dina pun menyenggol siku tangan kiri Riesta secara berulang. Seperti memberi sinyal kepada sahabat karib nya.


Lalu Riesta pun sadar bahwa Dina seperti memberi tanda isyarat, kemudian Riesta pun menengok ke arah Dina dan berkata kepada Dina dengan suara yang sangat kecil.


“ Ada apa. Din?” bisik Riesta dan hanya Dina yang bisa mendengar suara Riesta.

__ADS_1


“ Ries, aku sedikit canggung karena yang foto in pak Juna. Apalagi sewaktu itu aku memberi julukan kepada nya BOSS Killer, kenapa kita tidak meminta tolong kepada fotografer yang ada di sekitar sini?” bisik Dina dan hanya Riesta saja yang mendengar itu.


“ Slow aja Din, kamu tidak usah merasa canggung kan ada aku. Kalau suamiku memarahimu, aku marah in balik. Dan juga dia sangat bagus dalam mengambil gambar sudah seperti fotografer pro. Senyumlah anggap aja di depanmu bukan direktur Juna, Hehehe.” sahut Riesta untung menenangkan Dina agar dia tidak perlu canggung di depan Direktur Juna. Karena jika suatu saat Juna memarahi Dina, maka Riesta akan memarahi balik kepada Juna.


“ Ya sudahlah.” jawab singkat Dina.


“ Ayo tersenyumlah! Say Cheese!.” ucap Juna yang menyuruh kepada dua orang wanita untuk mengatakan Cheese sembari tersenyum dan bergaya bebas


“ CHEESE!!.” seru dua orang wanita yang sangat akrab itu mereka berdua tersenyum manis sembari bergaya bebas.


CEKREK!!


Juna pun memberikan ponsel itu kepada pemilik nya. Mereka berdua pun melihat hasil jepretan Juna Sebastian, Dina yang baru pertama kali nya melihat hasil jepretan beberapa foto yang ada di ponsel nya saat ini. Dina sangat kagum hasil foto nya sudah seperti fotografer profesional.


“ Presdir Juna hasil jepretan foto nya sangat bagus sekali, sudah seperti seorang fotografer profesional atau jangan-jangan sewaktu Presdir Juna belum menjadi seorang direktur anda seorang fotografer yah?” puji Dina setelah melihat hasil jepretan direktur Juna yang sudah seperti fotografer pro. Sebab semua foto yang di potret oleh Juna sangat jelas, tidak blur, halus, dan foto nya hanya berfokus kepada dirinya dan Riesta.


Juna hanya menjawab nya dengan poker face yang seperti biasanya, Dina yang melihat reaksi dingin dari BOSS nya itu Dina yang merasa nambah canggung, kemudian ia langsung membungkukkan badannya kepada Juna, dan setelah itu tersenyum melihat Riesta lalu Dina pun segera pergi sebelum terjadi hal yang membuat BOSS nya itu memecat nya.


“ Aduuh! Sebaiknya aku harus segera kabur dari pengantin baru, padahal aku masih ingin berfoto dengan Riesta. Tapi ini pilihan terbaik daripada karir ku terancam, hanya melihat poker face nya saja sudah sangat menyeramkan. Aku salut kepada Riesta yang bisa mencairkan bongkahan es dari kutub utara. Maafkan aku ya Riesta. . . . Aku harus kabur dulu dan aku juga tidak mau menjadi obat nyamuk di antar pengantin baru.” batin Dina yang tersenyum canggung saat mencari alasan lain untuk bisa pergi karena Dina tidak mau menjadi nyamuk yang tidak di undang.


“ Terima kasih pak Juna atas jepretan foto anda yang sangat bagus, dan makasih Ries. Mulai saat ini kamu sudah memiliki seseorang yang bisa menyayangimu, melindungimu dan mencintaimu apa adanya. Aku berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua, dan aku juga menunggu kehadiran baby yang tentunya cantik dan ganteng mirip kalian berdua. Dan satu lagi maaf ya Ries aku harus mencari makanan lagi, hehehe. Aku tidak mau mengganggu pengantin baru.” ucap Dina. Dina pun memberi doa yang terbaik untuk sahabat nya Riesta, dan Riesta pun memeluk Dina dengan erat.


Riesta pun menangis terharu saat Dina mengatakan itu semua, Riesta sangat beruntung bisa memiliki sahabat yang selalu ada di samping nya, sahabat yang mau mendengarkan keluh kesah, dan selalu sigap membantu Riesta dalam keadaan terpuruk. Dan Dina memberi semangat kepada nya agar tidak mudah menyerah, tidak boleh putus asa, mendorong Riesta untuk terus tetap tegar dalam menjalani kehidupan yang sangat keras di dunia ini.


Jika Riesta tidak memiliki sahabat sebaik Dina mungkin Riesta sudah mengurung diri nya, dan lebih parah nya lagi mungkin akan melakukan percobaan bunuh diri seperti yang dilakuin oleh mendiang ayah Riesta. Di tambah dengan pertemuan pertama kali antara Riesta dan Juna membuat Riesta semakin depresi, dan Riesta pun yang sudah sangat yakin dengan keputusannya untuk menghilang dari muka bumi selama-lama nya.


( *Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika sudah membaca novel ini 🥰🥰 )

__ADS_1


Bersambung*. . . . .


__ADS_2