Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Jam Istirahat


__ADS_3

LIKE          👍


FAVORIT   ❤


VOTE         ⭐


“ Haha. . . . Haha. Apakah kau bodoh? Kamu juga bukan orang lama ataupun karyawan sini, jadi kamu pasti tidak tahu kantin nya. Ya sudahlah karena kamu sudah bisa membuatku tertawa karena leluconmu yang sedikit membuat perasaanku sedikit baik, aku akan menunjukkan jalan nya dan juga mentraktirmu makan. AYO KITA PERGI UNTUK MENGHILANGKAN RASA PATAH HATI!!.” jawab Dina dengan senyuman yang sangat lebar. Membuat gigi gingsul yang putih dan tertata rapi terlihat ketika Dina sedang tersenyum lebar, kedua mata Dina pun sedikit menyipit saat tersenyum.


Senyuman hangat Dina itu hanya pernah di lihat oleh 2 orang sebelum William. Yang pertama tentu sahabat nya Riesta, yang kedua Renald dan saat ini Dina menunjukkan senyum hangat nya kepada orang yang baru dikenal nya beberapa jam yang lalu dan yang membantu nya agar Dina tidak melihat kejadian itu yaitu William.


Dina pun segera mengajak William untuk pergi makan siang di kantin. Dina yang belum melepaskan gandengan tangan William dan sekarang Dina malah mengeratkan telapak tangan kiri milik pria yang menolong nya dari rasa sakit itu, mereka berdua pun berjalan kembali untuk segera sampai ke tempat yang mereka berdua tuju. Karena setelah Dina menangis diam-diam perut Dina ingin sekali segera diisi oleh makanan yang enak dan tentu yang sangat banyak, biasanya kalau Dina sedang tidak dalam mood yang baik biasanya porsi makan nya akan bertambah 5x lebih banyak dari yang biasanya.


William yang merasa telapak tangan kiri nya di genggam semakin erat oleh wanita yang sebelumnya tersenyum sangat manis. Itu membuat William mengingat senyuman Dina seperti Riesta yang masih kecil dan memanggil namanya untuk mengajak bermain ke taman bermain, tetapi sewaktu itu Riesta tersenyum kepada William bukan dengan sorot mata dan senyuman tanda dia menyukai nya sebagai seorang pria. Tetapi senyuman Riesta yang ditunjukkan oleh William seperti seorang kakak. Ya, seperti Dina yang tersenyum kepadanya tersorot bahwa Dina sudah menganggap nya sebagai temannya.


Itu membuat hati William senang karena akhirnya si Kanguru galak bisa tersenyum dan juga tidak memukul nya seperti kejadian tadi pagi dilantai kantor paling atas.


\= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= \=


\= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= \=


Akhir nya mereka berdua pun sudah tiba di kantin yang ada di dalam perusahaan khusus untuk karyawan yang ingin makan sepuasnya dengan biaya sangat terjangkau. Di restoran yang sederhana itu sudah banyak sekali karyawan yang sedang makan, Dina yang menengok kanan, kiri dan sambil berjinjit-jinjit mencari tempat duduk yang masih kosong di antara para karyawan sangat sulit apalagi karena kejadian tadi membuat Dina telat 5 menit.


“ Waaah!! Tempat ini sangat ramai sekali, apakah kita bisa dapat tempat duduk?.” tanya William yang melihat orang banyak di tempat makan perusahaan Marsh.


“ Apa lebih baik kita makan diluar? Aku yang traktir kamu saja, karena kamu sudah membantuku dan juga tidak mengusir ku dari perusahaan Marsh. Dan juga seperti nya makanan nya tidak terlalu higienis?.” lanjut William menurut nya pasti akan sulit untuk mencari tempat duduk di keramaian seperti ini.


“ Tidak! Aku tidak mau, kita makan saja disini. Pasti ada tempat duduk yang tersisa, apalagi makanan yang ada disini itu sangat lezat daripada yang di luaran. Biasanya aku dan Riesta makan sini, jadi tenang saja jangan terpengaruh dengan tempat yang seperti ini. Dan juga aku yang setiap hari makan disini masih baik-baik saja bukan?.” jawab Dina. Dina menolak tawaran William untuk makan di luar karena pasti dia akan melihat Renald yang sedang makan bersama dengan Maretha di restoran yang berada di luar kantor.

__ADS_1


“ Ya sudah. Baiklah aku menurut saja.” jawab singkat William sambil memegang perut nya yang saat ini sudah sangat lapar.


\= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= \=


\= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= \=


“ Hmm...!? Kenapa tidak ada tempat kosong, semua nya sudah penuh. Dan jika aku makan di luar pasti akan ketemu dengan wanita ****** itu lagi! Kasihlah aku tempat duduk yang kosong!.” batin Dina menengok kanan kiri kantin di perusahaan Marsh.


Dina yang masih berjinjit-jinjit, kedua bola mata nya melirik ke kanan dan juga ke kiri tempat meja makan yang hanya terbuat dari kayu dan model nya seperti meja makan yang biasanya di piknik-piknik ala keluarga ketika sedang membakar barbeque.


Tak lama kemudian ada suara dari kejauhan memanggil nama Dina.


“ DINA!!.” suara seorang wanita yang memanggil nya dari kejauhan. Dina yang mencari sumber suara yang memanggil nama nya dengan suara yang sangat jelas


Tiba-tiba ada sebuah tangan putih dan kecil yang sedang melambaikan tangan dan memanggil Dina.


Ya, siapa lagi kalau bukan teman nya dan juga sekaligus sahabat kecil dari pria yang masih berdiri di samping nya itu. Dina pun segera menuju arah tangan yang melambaikan nya dari kejauhan.


Dina pun langsung mencolek lengan tangan kiri William, dia memberikan tanda kepada William untuk mengikuti nya.


“ Hey!.” seru Dina


“ Hah? Apa? Sudah ketemu tempat yang masih kosong kah?.” tanya William dia tanya kepada Dina apakah Dina sudah menemukan tempat duduk.


“ Ayo ikut! Aku sudah menemukannya, dan juga pasti akan membuatmu sangat terkejut.” jawab Dina. Dia tidak bilang kepada William tentang yang dimaksud oleh Dina itu, William mengaruk pelipis kepala nya dan jika di gambarkan dalam manga di atas kepala William terdapat simbol tanda tanya satu dengan ukuran yang sangat besar.


William memiringkan kepala nya, dan dia pun mengikuti Dina yang sudah berjalan di depan nya.

__ADS_1


“ Kejutan? Apa maksudnya? Entahlah ikuti saja. Yeyy! Waktu nya makan!! Perutku sudah berbunyi terus sedari tadi.” William bergumam dalam hati


\= \= \= Bla \= \= \= \= Bla \= \= \= \= Bla \= \= \= \= \=


\= \= \= Bla \= \= \= \= Bla \= \= \= \= Bla \= \= \= \= \=


Di kantin yang sangat sederhana itu karena tempat nya sangat ramai sekali banyak karyawan yang sedang menyantap makanan mereka, ada yang sedang berbincang-bincang dan lain-lainnya. Dan ada karyawan yang melihat William tengah berjalan mengikuti Dina, dan kemudian dia berbicara kepada temannya yang di depannya.


“ Dia siapa? Kenapa, dia terlihat dekat dengan Dina?.” tanya Karyawan wanita yang melihat William dengan pakaian kasual santai nya. Tengah berjalan bersama di samping Dina.


“ Enggak tahu? Mungkin dia karyawan baru yang ingin melihat-lihat tempat ini.” jawab Karyawan di depan nya yang sedang makan ramyeon.


“ Tapi itu tidak mungkin kalau dia karyawan baru, lihatlah pakaian yang dia pakai semuanya terlihat bermerek. Dan lihat wajahnya juga lumayan tampan, sudah pasti dia bukan karyawan baru. Mungkin dia klien yang sedang melihat-lihat perusahaan ini.” ujar Karyawan yang masih memegang supit di tangan kanan nya. Dan dia berpikir bahwa William merupakan klien direktur Juna seperti biasanya.


Tapi kalau di lihat dengan baik tidak semua klien yang seperti dia, apalagi pria itu hanya memakai pakaian kasual apalagi di tambah sneaker olahraga. Karyawan itu masih tidak percaya dengan memikirkannya sendiri. Dan apalagi di tambah sifat dingin, kompeten, dan disiplin yang di melekat dalam diri direktur Juna. Dan ada yang mengira William itu mungkin rekan dekat dari direktur Juna, terlihat dari pakaian nya yang berbranded dari atas hingga bawah kaki. Pasti menurut karyawan yang melihat William pertama kali berpikiran yang sama bahwa orang itu bukan karyawan baru ataupun klien.


William yang merasa bahwa diri nya sedang dilihati oleh karyawan dari perusahaan Marsh, dia pun menyenggol lengan kiri Dina.


“ Kita mau kemana sebenarnya? Aku merasa seperti menjadi pusat perhatian karena tampangku yang sangat asing bagi mereka.” ucap William dengan suara kecil. Dan tentu hanya Dina yang bisa mendengar suara William.


“ Ikuti saja aku, ah masa sih? Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Yang pasti nya kita akan menuju kursi kosong.” jawab Dina yang memang tidak memperhatikan karyawan yang masih memandang William, tapi mungkin apa yang William ada benarnya setelah Dina melirik ke karyawan yang tengah makan siang.


Setelah mereka berjalan untuk menuju tempat yang tadi ada tangan yang sangat Dina kenal, akhirnya mereka sampai. Mata William dan wanita itu yang di samping nya ada seorang pria yang sangat tampan dengan pakaian kerja yang sangat halus, sehalus sutra.


( *Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika menyukai novel ini 🥰🥰 )


Bersambung*. . . . .

__ADS_1


__ADS_2