Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Riesta di larikan ke Rumah Sakit ?


__ADS_3

2 bulan kemudian.


Di kediaman rumah Juna dan Riesta. Riesta yang sudah bangun dari subuh, Riesta dengan pakaian formal kerja nya tak lupa menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami tercinta. Sebagai istri yang baik ia selalu suka memasak, dengan sangat cekatan Riesta menata masakan yang di buat oleh nya dia atas piring cantik. Dia pun menaruh piring yang berisi makanan kesukaan Juna di meja makan, walaupun sudah 3 tahun lebih usia pernikahan mereka dan mereka belum di beri keturunan. Tetapi keluarga mereka tetap harmonis, walaupun keluarga mereka selalu di terpa berita yang tidak sedap tapi tidak membuat bahtera rumah tangga mereka goyah.


"Yosh! Sarapan sudah siap, tapi sepertinya DIA masih tidur cantik. Lebih baik aku bangunkan."


Setelah Riesta sudah selesai menyiapkan sarapan, ia pun segera memanggil Juna yang masih berada di dalam kamarnya.


\= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \=


Riesta pun sudah berdiri di depan pintu kamar nya, lalu tanpa mengetuk pintu Riesta pun segera masuk kamar. Tetapi . . . . Di saat Riesta sudah masuk kamar, ia tidak sengaja melihat pemandangan yang sangat epic, dan bisa membuat setiap wanita mimisan ketika melihat pemandangan itu.


"AAAKKH!!"


"Kenapa kamu tidak memakai bajumu!?"


"HUH? Kenapa sayang? Kamu tidak perlu malu, bukannya kamu sudah melihat, mencium, dan menyentuhnya?"


"Jangan mendekat!!"


"Sayang, kamu jangan malu-malu seperti itu. Kita masih memiliki waktu lho, lihatlah."


"Jang— Hoek!"


"Sayang? Kamu kenapa?"


"Hoek . . . Hoek!"


"Kita harus ke rumah sakit sekarang!"


Juna pun segera berpakaian, dan mengendong Riesta yang sedari tadi mual-mual. Dengan kecepatan seperti kilat Juna segera menancapkan gas, dan mobil itu pun segera melaju. Juna harus membawa Riesta segera ke rumah sakit, ia tidak tega melihat wajah Riesta yang terlihat pucat dan berkeringat dingin.


20 menit kemudian. Juna dan Riesta tiba di rumah sakit yang memiliki pelayanan paling bagus di kota Seoul, Juna pun segera mengendong sang istri memasuki rumah sakit. Dan meminta suster dan dokter untuk segera mengecek keadaan Riesta.


"Suster! Dokter! Tolong segera periksa keadaan Istri saya, saya akan bayar berapapun!"


"Iya! Baik pak! Kami akan segera memeriksa istri anda. Anda tolong tenanglah!"


Dokter dan Suster itu pun segera membawa Riesta ke ruang IGD. Juna pun menunggu di luar ruangan IGD.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dokter itu pun keluar dari ruangan IGD, dan Juna pun langsung bangkit dari kursi ruang tunggu, ia pun segera menanyakan ke Dokter tentang keadaan Riesta.


"Dok! Istri saya sakit apa? Apa dia baik-baik saja?"


"Pak, tolong tenang! Saya bagaimana mau menjelaskan jika anda tidak bisa tenang."


"Baik! Saya akan tenang dok! Tapi istri saya bagaimana keadaannya?"


"Istri anda baik-baik saja. Tidak ada penyakit apa pun, dan saya mau anda mengulurkan tangan kanan anda saat ini juga."


"Huh? Ok!"


Juna pun segera mengulurkan tangan nya sesuai yang di perintahkan oleh Dokter yang menangani Riesta. Setelah Juna sudah mengikuti perintah dari Dokter, kemudian Dokter itu pun segera menjabat tangan kanan Juna sembari menunjukkan senyum kebahagiaan.


"Selamat pak! Anda akan segera menjadi seorang ayah."


"HUH!? Maksud Dokter istri saya hamil?"


"Iya pak! Usia kandungan istri anda sudah 3 minggu. Sekali lagi selamat."


"Terima kasih Tuhan! Akhirnya aku dan istriku di percayakan untuk memiliki anak."


"Iya sama-sama. Nanti saya akan berikan resep penguat kandungan dan obat mualnya. Nanti saat usia kehamilan istri anda sudah 4 bulan, dan jangan lupa istri anda kembali lagi kesini untuk check up."


"Baik Dokter! Sekali lagi terima kasih."


"Iya. Sekarang anda lebih baik menemani istri anda, sedari tadi dia seperti sedang menunggu anda. Kalau begitu saya permisi."


"Baik Dok! Iya."


Juna pun segera berlari kecil memasuki ruangan IGD.


Riesta pun masih terbaring di tempat tidur pasien. Tak lama kemudian Juna datang sembari mencium kedua tangan Riesta dengan sangat lembut dan penuh cinta, Juna pun menatap sang istri dengan sangat hangat dan terlihat sekali sinar-sinar kebahagian yang terpancar di kedua bola mata Juna.


"Sayang, akhirnya aku akan menjadi seorang ibu. Aku sudah sangat lama menantikan kehadiran suara tangisan buah hati kita."


"Iya, jangan lupakan aku juga dong sayang. Aku akan menjadi ayah juga, doa kita terkabul oleh Tuhan. Aku sangat senang sampai tidak bisa berkata-kata saat berada di luar ruanganmu."


"Aku sangat panik jika terjadi sesuatu padamu, mulai saat ini akan selalu menjagamu dan juga menjaga buah hati kita."

__ADS_1


"PFFFT!"


"Kenapa istriku malah tertawa? Aku ini panik setengah mati, aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanmu dengan begitu cepat."


"Maaf sayang. . ! Tapi sepertinya kamu belum melihat bawah kakimu, lihatlah papa mu ini. Dia sangat menyayangimu, sampai-sampai dia memakai dua sepatu yang berbeda."


"Iya . . Iya! Berarti itu tanda nya aku sangat menyayangi kalian berdua."


"Iya! Terima kasih ya sayang. Kamu begitu sangat baik kepadaku, oh iya sekarang sudah jam 8! Kamu tidak berangkat kerja?"


"Ah males sayang, aku mau nemenin kamu dan calon anak kita."


"Jangan gitu! Kamu harus berangkat kerja, nanti kalau karyawanmu pada demo bagaimana? Masa pemimpin yang terkenal sangat disiplin, tekun, kerja keras dan juga KILLER jadi pemalas begini. Ayo dong sayang!"


"Tapi . . Siapa yang nemani kamu?"


"Tenang sayang, nanti aku bisa minta tolong sepupuku Reina untuk datang kesini."


"Reina kah!?" gumam Juna mengerutkan dahi, hingga membuat kedua alis nya seperti menjadi satu saat Juna mendengar Riesta akan meminta Reina sepupu nya untuk menemani Riesta.


Dan tentu saja Juna tidak percaya kepada sepupu nya Riesta, Juna mempunyai firasat buruk terhadap sepupu nya Riesta. Tetapi, Juna masih harus menyelidiki lebih dalam lagi tentang keluarga Aileen, Dina pun juga ikut serta dalam menyelidikan Reina. Dari awal Juna dan Dina masih curiga dengan kedatanagan Reina yang tiba-tiba apalagi saat media berita memberitakan berita jahat tentang Riesta.


"Sayang . . . Sayang."


"Huh? Ada apa sayang?"


"Kau kenapa? Sedari tadi aku memanggilmu. Apa ada masalah? Kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu."


"Oh, tidak apa-apa! Sayang, tidak aku tidak memiliki masalah. Benar! Nanti aku akan menyuruh Dina untuk menjagamu."


"Sayang, jangan merepotkan Dina lagi. Sekarang dia sudah memiliki suami, dan aku tidak ingin mengganggunya. Kan saat ini sudah ada sepupuku, dan kami berdua jarang sekali mengobrol banyak. Jadi, lebih baik aku meminta Reina yang menjagaku ya?"


"Iya sudah deh, sayang terserah kamu."


Juna pun segera keluar dari ruangan Riesta, dia harus pergi bekerja. Walaupun dalam hati kecil Juna, ia tidak tega meninggalkan Riesta yang sedang mengandung anak nya.


Tetapi, Riesta tetap menyuruhnya untuk tidak perlu mengkhawatirkan dirinya, dan menyuruh Juna untuk bekerja seperti biasa. Di luar ruangan rumah sakit Juna segera menelepon kedua orang tua untuk memberikan berita baik tentang kabar kehamilan Riesta.


JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT KAN AGAR ADA NOTIF KETIKA UPDATE DAN TERUS DUKUNG AUTHOR ❤❤

__ADS_1


__ADS_2