
DON'T FORGET!!
LIKE 👍
FAVORIT ❤
VOTE ⭐
Melodi penyambutan kereta.
‘Sesaat lagi, kereta akan segera tiba di Jamsil station. Berhati-hatilah dalam melangkah, dan jangan lupa barang bawaan anda.’
Mereka berdua pun mendengar suara melodi kereta yang menanda kan. Mereka telah sampai di tujuan, dan William pun melepaskan tangan nya dari mulut Dina. Tetapi saat William refleks membungkam mulut Dina, tiba-tiba jantung William berdebar. Dan William merasa perasaan nya kali ini kepada Dina berbeda dengan Riesta, William sedikit bingung kenapa dia merasakan perasaan yang berbeda dari sebelumnya.
“ Iya. . . . Iya kalau begitu maaf in aku, aku yang salah karena tidur di bus. Dan sekali lagi terima kasih. Ayo cepat turun kita sudah sampai ke tempat yang aku maksud, tapi ya kita harus berjalan kaki selama beberapa menit.” Dina pun segera meminta maaf atas kesalahan karena membuat kehebohan di kereta. Lalu dia pun mengajak William untuk segera turun dari kereta. Sebab, mereka sudah tiba di tempat yang di maksud oleh Dina. Dina pun segera bangkit dari tempat duduk kereta lalu dia berjalan kembali ke dekat pintu yang akan terbuka otomatis apabila kereta sudah sampai di stasiun.
“ Iya!.” jawab singkat William yang mulai mengikuti langkah Dina dari belakang.
Mereka berdua pun segera turun dari kereta.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan di saat mereka turun di stasiun banyak sekali orang-orang, dari berbagai kalangan seperti lansia, orang tua yang terlihat menggandeng anak nya, mahasiswa, anak sekolah dan masih banyak lainnya.
Dan membuat Dina sangat sulit untuk mencari pintu exit 4, dan pasti akan lebih susah lagi kalau tiba-tiba dia kehilangan William. Meskipun Dina sudah tahu kalau William bukan anak kecil, tapi tetap saja Dina tidak ingin membuang-buang waktu nya.
“ Kita harus cari pintu exit 4. Ayo ikuti aku! Kau jangan sampai keluyuran ataupun menghilang!.” perintah Dina ida memberi perintah kepada William untuk terus berjalan dan tetap mengikuti dirinya di belakang.
“ Siap!.” William pun kembali memberi tanda penghormatan seperti seorang tentara.
Dina pun mulai berjalan dan dikuti dengan William yang masih melihat tangan kanannya. William masih merasakan saat tangan nya membungkam mulut Dina, masih merasakan sedikit kehangatan nafas Dina dan bibir Dina yang lembut saat menyentuh telapak tangan William.
“ Kenapa? Sewaktu aku membungkam mulut nya, aku merasa mulut nya sangat lembut dan kenyal. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, apalagi perasaan ini sangat berbeda saat aku bersama dengan Riesta?.” batin William yang mengingat saat William membungkam bibir Dina dengan tangan kanan nya, William masih merasakan sensasi lembut di tangan kanan nya. Apalagi ini pertama kali nya dia membungkam bibir seorang wanita.
William tidak mungkin memiliki perasaan terhadap wanita yang kelakuan nya, sifat nya seperti preman. Apalagi William memiliki kriteria wanita idaman yang seperti Riesta. Feminin, sopan, lemah lembut. William pun sudah membuat daftar list kalau Dina itu bukanlah tipe wanita idaman nya, dan sedari awal dia juga sangat tidak beruntung saat bertemu dengan Dina. Dari yang terkena pukulan maut dari mantan atlet petinju, juga bantingan ala karate yang sangat kuat dari Dina. Padahal ukuran tubuh Dina yang terlihat mungil, tetapi jangan di tanya soal kekuatan yang ada di dalam diri Dina. Kekuatan nya sudah setara dengan para cowok, bahkan mungkin menurut William melebihi kekuatan seorang cowok. William menilai kalau kekuatan Dina sudah seperti seorang atlet.
Dina pun mulai berjalan, tetapi saat dia melihat dari kejauhan tulisan EXIT 4. Dia pun segera meluncur ke tempat itu, dia benar-benar sudah menantikan tempat yang paling di sukai oleh nya saat ketika di beri cuti dari pekerjaan yang melelahkan.
“ HEYY! Kau! Kau mau ke mana? Berhenti!.” teriak Dina yang melihat William keluar dari jalur. Dan dia tidak mengikuti nya, tetapi dia mengikuti orang lain yang mengambil tujuan yang berbeda dari Dina.
“ . . . .” William masih melamun melihat telapak tangan kanan nya. Dan membuat pandangan nya tidak fokus mengikuti Dina dan kemudian pun Dina yang menyadari bahwa William tidak mengikuti nya. Dina pun segera meneriaki William dari kejauhan, tapi karena jarak nya yang cukup jauh dan banyak nya penumpang yang mengobrol serta suara melodi penyambutan kereta yang terdengar di mana-mana. Membuat teriakkan Dina tidak sampai ke William, William pun masih terus berjalan tanpa melihat bahwa dia sudah salah jalur dan malah William menuju jalur pusat perbelanjaan yang berada di kereta bawah tanah. Ada berbagai macam pernak-pernik, baju, dress, tas dan masih banyak lainnya. Dina pun segera berlari untuk mengejar William yang semakin lama malah semakin menjauh dari tujuan sebenarnya.
__ADS_1
“ Haiizz . . . . Dia sungguh merepotkan! Lebih merepotkan daripada ngurus anak kecil.” gumam Dina sembari memegang kening nya, dan menggeleng-gelengkan kepala nya. Sebab, mengurus William lebih repot daripada mengurus adik kandung nya sendiri yang tinggal bersama dengan kedua orang tua nya di pulau Geoje di provinsi Gyeongsangnam.
Dina pun segera berlari sebelum William masuk ke tempat pusat perbelanjaan yang cukup ramai, dan akan lebih sulit mencari William jika sudah masuk pusat perbelanjaan.
\= \= \= TAP \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \=
\= \= \= TAP \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \=
William pun masih tenggelam di antara perasaan nya dari lubuk hati nya dan juga pemikiran egois nya. William masih memperdebatkan kenapa saat dia bersama dengan wanita kanguru (Dina) sangat berbeda saat sewaktu dia bersama Riesta, dan saat setelah William mendengar teriakkan yang terus menerus memanggil nama nya. Akhir nya William tersadar dari lamunan nya, dan dia pun berdiri mematung melihat sekitar nya yang sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan dan banyak sekali orang-orang yang tidak di kenal oleh William dan juga ternyata selama ini dia mengikuti seorang wanita yang tidak di kenal nya.
“ Heh? Aku dimana? Dimana cewek kanguru itu?.” gumam William yang mulai celingak-celinguk mencari Dina. Dan tetapi dia tidak menemukan nya di tempat dia berdiri
William melihat sekeliling nya dan dia pun sama sekali tidak menemukan cewek kanguru. Dan yang lebih penting William tidak ingat dia harus menuju ke mana, Wiliam benar-benar seperti anak yang kehilangan ibu nya. Apalagi William sudah 18 tahun tidak pernah menginjakkan kaki nya di kota Seoul, William pun bertanya-tanya ke orang yang berlalu lalang. Sampai pada akhir nya ada seseorang yang terus menerus meneriaki nama nya.
“ William! Will! Kau dimana? Kau jangan menambah bebanku!.” ujar Dina yang memanggil nama William, di sekitar stasiun Jamsil.
( *Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika sudah membaca novel ini 🥰🥰 )
Bersambung*. . . . .
__ADS_1