
Tetapi, saat Juna baru saja membuka pintu. Riesta tiba-tiba terbangun, ia melihat ke arah pintu yang hanya terlihat punggung belakang yang gagah perkasa. Riesta mengucek mata nya pelan mencoba menghilangkan lendir mata yang sedikit masih sedikit menempel di sudut matanya.
"Uhm!? Suamiku, kamu mau berangkat bekerja?"
"Iya, sayang."
"Kenapa kamu tidak membangunkanku?"
"Aku tidak ingin mengganggu istriku yang masih berada di dalam mimpi. Jadi, biar kamu bisa beristirahat dengan baik."
"Seharusnya kamu membangunkan aku saja, masa sebagai istri harus bermalas-malasan? Dan sudah menjadi tugas istri nya untuk membantu suami nya untuk bersiap-siap berangkat bekerja."
"Iya kamu memang istriku, tapi tugasmu hanyalah menerima cinta, dan kasih sayang dariku. Bukan bekerja seperti seorang asisten rumah tangga. Oh iya, sebentat lagi asisten rumah tangga akan segera datang. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Dan ingat! Kamu jangan keluyuran keluar dulu, ingat kata dokter. Terus nanti kepala pelayan akan datang untuk membawa obat pereda mual untukmu. Harus di minum!"
"Haiiz . . Obat lagi ya? Sampai kapan aku harus minum obat? Kondisiku sudah memba— hoooek!"
Riesta pun menutup mulut nya, dan tentu saja Juna yang masih berdiri di depan pintu dengan kecepatan cepat seperti kilat guntur berlari menolong Riesta yang tiba-tiba merasa mual untuk membantu nya masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi terdengar Riesta yang masih mual.
Juna pun mulai khawatir pada keadaan sang istri tercinta, dia tidak tega bila melihat Riesta yang masih dalam keadaan menahan sakit.
"Sayang, lebih baik kamu di rawat di rumah sakit dulu."
"Hoek! A-aku tidak ap— oek! Sayang, lebih baik sekarang kamu berangkat kerja dulu saja. Tidak enak kalau seorang pemimpin perusahaan masuk telat."
"Yakin kamu tidak apa-apa?"
"Iya sayang, kan di sini sudah ibu kamu. Jadi, kamu tenang saja."
"Sayang, maaf ya! Pasti sekarang kamu sangat mengkhawatirkan keadaanku." batin Riesta.
"Ya sudah deh, aku berangkat kerja ya. Jangan lupa minum obat, dan istirahat dengan baik!"
"Oke! Sayang, kamu hati-hati di jalan. Dan ingat, jangan memaksakan diri ya!"
Juna pun mulai pergi dan mengambil tas kerja yang masih berada di lantai, karena tadi Juna terburu-buru untuk membantu Riesta berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
BENG!
Terdengar suara pintu kamar yang tertutup, mengartikan kalau Juna sudah benar-benar tidak ada di kamar itu. Dan Riesta pun baru saja keluar dari kamar mandi, wajah nya terlihat sangat pucat dari yang biasanya. Apalagi di tambah ini adalah hamil pertama kali nya bagi Riesta, ia pun akhirnya merasakan apa yang mendiang ibu nya rasakan dulu saat Riesta masih di dalam perutnya.
Riesta pun segera duduk di atas ranjang kembali mengusap lembut dan penuh kasih perut nya.
"Anakku sayang, kamu menurutlah ya! Semoga kamu menjadi anak yang baik, berbakti pada orang tua dan bisa membanggakan bagi semua orang. Maafkan ibumu ini, pasti terlihat seperti orang berumur yang membuat repot ayah dan nenekmu."
"Ibu, apakah rasa sakit ini yang di rasakan oleh ibu saat ibu mengandung Riesta? Pasti ibu sudah menahan rasa sakit ini, tetapi ibu terus menutupi nya pada Ayah. Kalau saja ibu tidak menyembunyikan penyakit ibu, pasti ibu dan ayah saat ini tengah berbahagia seperti ibu dan ayah mertuaku. Kalau saja waktu bisa terulang kembali, aku tidak ingin meninggalkan ibu dan ayah sendirian. Riesta benar-benar anak yang egois. Maafkan Riesta ya ibu, ayah!"
TOK . . . !!
"Nak Riesta?"
"Boleh ibu masuk? Ibu bawakan makanan untukmu"
"Oh, iya! Bentar Riesta bukakan pintu nya bu."
Riesta pun segera berjalan mendekati pintu kamar nya karena ia mendengar ibu Wendy (ibu mertua nya). Ia segera membukakan pintu kamar nya, dan ibu Wendy pun masuk dengan membawa nampan yang membawa susu, dan juga makanan untuk Riesta.
"Nak Riesta, makanlah dulu. Kamu kan belum makan dari kemarin malam, ibu tahu kalau hamil Trimester pertama pasti tidak ingin makan. Tapi ibu mohon padamu, makanlah ya! Walaupun hanya sedikit, tapi yang penting kamu dan calon bayimu sehat."
"Iya sama-sama!"
"Uhm . . Bolehkah Riesta bicara permintaan yang egois pada ibu?"
"Uh? Maksudnya?"
"Riesta sedikit malu untuk mengatakannya. Uhm . . Riesta ingin sekali-sekali di suapin oleh ibu, soalnya Riesta tiba-tiba rindu suapan mendiang ibu Riesta."
"Hahah . . Kamu ya! Membuat ibu deg-deg an. Tentu saja boleh, sini ibu suapin. Ibu juga ingin sekali merasakan memiliki anak perempuan yang sangat manja pada ibu, sewaktu Juna sudah berumur 4 tahun. Ia sudah sangat dewasa sebelum waktu nya, jadi ibu merasa rindu memanja-manjain anak. Dan ibu sangat senang saat kamu bilang ingin di suapin oleh ibu, akhirnya ibu bisa merasakan lagi peran seorang ibu."
Riesta dan Ibu Wendy pun duduk di sofa panjang berdampingan, dan dengan perasaan senang ibu Wendy menyuapi menantu nya Riesta. Dan tak terasa mangkuk yang di pegang bu Wendy sudah sangat bersih, membuat ibu Wendy pun bersyukur.
"Habis, syukurlah! Kamu harus makan yang banyak ya, jangan lupakan calon bayimu harus di beri makanan yang bergizi. Agar dia cepat tumbuh besar, dan cerdas. Nah sekarang minumlah susu untuk meringankan rasa mual, dan buat menguatkan janin bayi."
"Iya!"
__ADS_1
Ibu Wendy pun segera memberi gelas berisi susu untuk Riesta, dan Riesta pun menerima nya. Ia langsung meminum susu yang di buatkan oleh ibu mertua nya.
Setelah susu segelas berukuran tinggi itu sudah di minum habis oleh nya.
"Sekarang kalau sudah habis semua, kamu beristirahatlah. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun, sekarang kamu harus fokus sama kesehatanmu. Oke!"
"Hum! Okey. Sekali lagi Riesta berterima kasih, maaf kalau Riesta merepotkan ibu."
"Ssstt...! Kamu jangan ngomong seperti itu lagi ya! Ibu ga suka lho, kan ibu sudah bilang anggap aja ibu. Sebagai ibu kandungmu. Kalau kamu membutuhkan teman curhat, bahu untuk bersandar, teman jalan-jalan juga bisa."
"Iya bu."
"Nah sekarang kamu tidur lagi ya! Nanti setelah itu baru minum obat."
"Hum! Oke, baik!"
5 bulan kemudian . . .
Sudah beberapa bulan sejak Riesta kembali bekerja sebagai sekretaris utama di perusahaan Marsh. Dan tentu saja sudah 4 bulan juga Reina menjabat sebagai sekretaris kedua di perusahaan Marsh. Dan sudah 2 bulan Riesta kembali bekerja, walaupun Juna tidak menyuruh Riesta mengerjakan pekerjaan yang bisa membuat tubuh Riesta kelelahan, apalagi saat ini kandungan Riesta sudah memasuki trimester kedua.
Di meja kerja khusus Sekretaris. Reina pun menyapa sepupu nya dengan sangat ramah.
"Selamat pagi kak Ries!"
"Selamat pagi! Rei, bagaimana dengan meeting kemarin? Apakah berjalan dengan lancar?"
"Aduh . . Kak Ries, kemarin tuh benar-benar seperti di sidang pengadilan! Ya untung saja lancar jaya, Kak Juna terlihat sangat cool. Dia berhasil mengajak investor asing untuk bekerja sama. Kakak sangat beruntung sekali, seandainya Rei memiliki seorang pria seperti Kak Juna."
"Iya kak Ries benar-benar wanita paling beruntung. Juna merupakan pria idaman dan juga suami yang penuh perhatian. Pasti kamu akan mendapatkan pria yang sangat baik padamu Rei, apalagi kamu anak yang baik, cantik, cerdas. Banyak banget pria-pria yang mengantri untuk mendapatkan hatimu, kakak yakin itu."
"Iya amin! Terima kasih kak Ries!"
"Menyebalkan! Kenapa wanita miskin seperti dia harus memiliki suami yang sempurna seperti kak Juna! Aku harus cepat-cepat menyingkirkan wanita miskin ini, setelah itu aku akan merebut kak Juna!"
"Apalagi di tambah bayi dalam perut kak Riesta sudah bertambah besar, pasti dia akan menjadi wanita yang bahagia! Aku tidak terima ini!" batin Reina.
KREK!
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT KAN AGAR ADA NOTIF KETIKA UPDATE DAN TERUS DUKUNG AUTHOR ❤❤