
LIKE 👍
FAVORIT ❤
VOTE ⭐
Mereka berdua pun naik lift khusus untuk pemimpin perusahaan. Dan setelah lift mereka berhenti tepat di mana ruangan mereka berada, dan juga di waktu yang bersamaan. Seorang karyawan pun mengumumkan bahwa direktur Juna dan nyonya direktur sudah kembali bekerja setelah 3 Bulan cuti setelah hari pernikahan mereka. Semua karyawan dan juga Dina berdiri rapi, berbaris ke samping.
Bunyi langkah kaki yang di kombinasikan suara sepatu high heel sudah mendekat dan sedikit mengema ruangan itu.
\= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \=
\= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \=
\= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \= Ktalk \= \= \=
Semua karyawan yang sudah berdiri sangat rapi itu pun langsung menundukkan kepala nya kepada direktur serta nyonya direktur. Sembari mengucapkan.
“ Selamat pagi! Direktur dan nyonya Direktur.” sambut seluruh karyawan yang berbaris sangat rapi, sembari membungkukkan badan mereka kepada dua orang pasangan pengantin baru.
“ Ehh? Nyonya Direktur? Itu sangat berlebihan.” batin Riesta wajah nya sedikit terkejut dan baginya di sebut nyonya direktur terlalu berlebihan.
Riesta yang mendengar karyawan menyebut nya nyonya direktur. Bagi Riesta itu sedikit aneh untuk di dengar, lalu Riesta pun meminta kepada para karyawan yang masih menundukkan kepala nya.
__ADS_1
“ Sebut saya seperti yang dulu saja. Sekretaris Riesta saja.” pinta Riesta kepada karyawan yang masih membungkukkan badan nya, dan kemudian pun Riesta meminta kepada karyawan dan juga teman-teman untuk tetap memanggil nya seperti biasanya.
Dan karyawan yang masih berdiri, berbaris ke samping sangat rapi pun hanya terdiam saja, dan setelah mendengar permintaan Riesta. Karyawan itu pun meringkukkan kedua tangan di depan perut sembari menundukkan kepala nya kepada Riesta.
“ Baik! Sekretaris Riesta.” seru karyawan yang berjajar sangat rapi itu.
“ Nah begitu jadi tidak terlalu berlebihan saat di dengar. Terima kasih untuk kalian semua.” sahut Riesta yang tersenyum hingga membuat kedua mata nya terlihat seperti ada kerutan kecil pada ujung luar mata kanan dan kiri. Bentukan kerutan itu terlihat seperti cetakan telapak kaki burung gagak.
Juna pun berjalan sendiri kembali ke ruangan yang sudah di tinggalkan oleh nya selama 3 Bulan itu. Dan para karyawan pun kembali ke tempat meja kerja masing-masing, tetapi Riesta yang masih berdiri di situ mengada-ngada tangan kanan nya ke arah Dina. Dina pun langsung meninggalkan meja kerja dan berjalan ke arah sahabat baik nya itu, dan mereka pun mengobrol di Pantry Room.
“ Riestaaaa!! Aku sangat merindukanmu.” seru Dina yang langsung memeluk Riesta. Setelah 3 Bulan mereka tidak bertemu sejak hari pernikahan Riesta dan Juna. Mereka berpelukan seperti kartun teletubbies, untung saja kantor belum masuk jam istirahat. Orang-orang masih sibuk duduk di meja kerja, sembari menatap layar monitor komputer seperti menatap seorang yang sedang pacaran. Mungkin akan berbeda jika kantor sedang masuk jam istirahat, dan ada seseorang yang tidak sengaja masuk ke Pantry Room hanya ingin membuat kopi ataupun mencari tempat paling sepi untuk menghabiskan bekal. Pasti orang itu akan salah paham setelah melihat dua orang wanita cantik yang sedang berpelukan persis seperti yang di lakukan oleh dua orang wanita cantik ini di Pantry Room, semua orang yang melihat nya akan mengira bahwa mereka penyuka sesama jenis.
“ Aku pun sama Dina, merindukanmu. Bagaimana dengan kabarmu? Oh iya aku juga mendengar dari Juna bahwa kamu berhasil melakukan proyek tender kerja sama yang berada di anak perusahaan di Kota Icheon? Kamu hebat sekali! Keren deh.” sahut Riesta yang menepuk-nepuk punggung belakang Dina. Dan Riesta pun memuji Dina karena Dina sudah berhasil melakukan proyek yang cukup sulit di anak perusahaan Marsh yang berada di kota Icheon
“ Belum Din. Belum ada tanda-tanda kehamilan, baru saja 3 Bulan masa langsung berbuah? Haha...haha.” jawab Riesta yang langsung mengetahui pertanyaan dari sahabat karib nya, sembari menggeleng-gelengkan kepala nya dan tertawa kecil.
“ Iya juga sih. . . Hmmm... Tapi sewaktu itu ada teman kampusku, nah dia itu baru sekali saja berhubungan itu dengan suami nya langsung berbuah. Apakah posisi mu berada di bawah tubuh pak Juna? Sewaktu melakukan itu?” ucap Dina yang kembali melontarkan pertanyaan yang semakin membuat Riesta berpikir saat sahabat karib nya bertanya tentang posisi nya saat melakukan itu dengan Juna.
“ Tidak.” sahut Riesta yang tersenyum cengengesan.
“ Hah? Tidak? Jangan bilang kepadaku kalau kamu malah mendominasi daripada pak Juna?” tanya kembali Dina nada suara nya berubah, ia terkejut dengan jawaban dari sahabat karib nya yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali. Dina pun menepuk kening, lalu menggeleng-gelengkan kepala nya.
“ Sssst.... kecilkan suaramu itu Din! Kalau ada orang yang mendengar nya bisa gawat.”
__ADS_1
“ Itu benar yang di katakanmu. Pokok nya aku sangat malu sekali . . Huhu. . Huhu, saat melakukan itu aku sungguh sangat agresif.”
“ Haiizz... aku tidak percaya kamu lebih agresif dari padanya. Coba deh nanti malam kamu kendalikan dirimu! Kendalikan juga sifat agresifmu. Pasti kamu bisa, hm. . . Untuk saat ini kamu harus menjadi seekor anak kucing. Pasti akan berhasil.”
“ Baiklah. Aku akan mencoba cara itu, sekali lagi makasih ya Dina.”
“ Ya sama-sama. Semoga kali ini berhasil berbuah ya Ries! Hahaha. . . . Aku tidak sabar menunggu kabar bahagia darimu, apalagi kedatangan bayi-bayi lucu. Kalau berbuah jangan lupa hubungi aku ya. Riest!.” ujar Dina yang mendukung sahabat nya serta mendoakan untuk memiliki momongan. Dina pun sudah seperti ibu-ibu yang sudah sangat menanti-nantikan kehadiran bayi-bayi lucu dari Riesta.
“ Hahaha... oke Din! Kamu sudah seperti ibu-ibu yang ingin sekali mengendong seorang cucu.” jawab Riesta tertawa. Menurut Riesta, Dina seperti seorang ibu yang sudah tidak sabar dengan kehadiran seorang cucu nya.
Raut wajah Riesta sedih. Riesta langsung mengingat mendiang ibu nya, pasti jika beliau masih hidup mungkin beliau akan melakukan yang seperti dina katakan. Dina pun yang melihat sahabat nya terdiam dan sedikit menundukkan kepala nya, Dina pun langsung memeluk nya dan mengusap-usap punggung nya.
CUP . . !!
CUP . . !!
CUP . . !!
“ Pasti di surga sana tante dan paman tenang dan tersenyum, dan juga kamu sudah menemukan pria yang mencintaimu, menyayangimu dan melindungimu. Kamu tidak lagi kesepian, ketakutan karena kesendirian. Sudah jangan nangis, kalau kamu menangis nanti mereka ikut sedih.” Dina menenangkan Riesta sembari mengelus lembut pundak Riesta. Dina ikut merasa empati saat melihat wajah sedih Riesta, Dina tahu apa yang saat ini di rasakan oleh Riesta. Dina sangat tahu rasa nya hidup sebatang kara, seperti yang di alami Riesta. Apalagi belum di tambah dengan masalah dengan rentenir dari bank, karena mendiang ayah Riesta memiliki hutang yang ternyata belum di lunaskan sejak sepeninggal istri tercinta nya. Jadi karena itu saat Riesta sudah lulus kuliah, dan sang ayah meninggalkan Riesta untuk selama-lamanya. Riesta pun di kejar-kejar rentenir, dan akhirnya Riesta memilih untuk menjual rumah orang tua nya untuk melunasi semua hutang sang ayah.
( *Jangan lupa ya kakak-kakak ! Tinggalkan LIKE dan VOTE jika sudah membaca novel ini 🥰🥰 )
Bersambung. . . . .
__ADS_1
THANK YOU 😍😍*