Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Curiga pada Reina Aileen !


__ADS_3

Lalu kemudian kedua wanita itu segera masuk ke pusat perbelanjaan, Juna pun segera menginjak gas mobil nya untuk segera menuju ke perusahaan. Sebenarnya Juna ingin menelusuri berita tengang Istri nya yang saat ini menjadi trending topik, Juna pun juga ingin mencari pelaku yang menyebarkan berita jahat seperti itu.


Di perusahaan Marsh. Juna pun segera meminta Dina yang masih duduk di meja kerja nya, sebab Juna tahu kalau Dina tidak menyukai kedatangan Reina.


"Kang Dina Hee! Apakah kamu mengetahui sesuatu mengenai sepupu Riesta itu?."


"Wanita bermuka dua itu ya? Saya tidak mengetahui tentang nya, tetapi semenjak kedatangannya saya merasa curiga."


"Curiga?."


"Uhm!."


"Lebih baik kita bicarakan ini di ruangan tertutup! Di sini bukanlah tempat yang tepat Direktur Juna."


"Ya sudah! Kita bicarakan di ruanganku."


"Baik!."


Dina pun segera mengikuti Juna yang sudah berjalan di depannya, mereka pun segera masuk ke ruangan kerja milik Juna yang satu-satunya ruangan tertutup dan tidak akan ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.


"Kita lanjutkan pembicaraan yang tadi. Yang kamu maksud dengan curiga terhadap sepupu Riesta."


"Ini hanya firasat saya pak. Sejak kedatangan Reina, banyak sekali berita jahat tentang Riesta. Apalagi sekarang saat ini di SNS banyak sekali tagar yang menyebut Riesta bertebaran di mana-mana. Tentu saja saya sebagai sahabat Riesta, saya tidak terima jika ada seseorang yang menyebarkan berita jahat mengenai Riesta."


"Whaat!? Di SNS juga? Orang-orang itu sungguh cepat kalau memposting berita yang palsu. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengawasi pergerakkan Reina beserta keluarganya!."


"Sekarang kamu boleh pergi! Dan terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama Direktur Juna. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai sahabat dari Riesta, kalau begitu saya permisi."


Dina pun segera keluar dari ruangan CEO. Tepat di depan pintu Dina mengepalkan tangan kanan nya, dan dia pun bermonolong kepada dirinya sendiri.


"Aku akan menjaga Riesta! Jika suatu saat tidak ada orang yang menjadi tempat curhat nya, aku adalah orang pertama yang akan meminjamkan kedua bahu ku!."


"Dan satu lagi! Aku harus lebih berhati-hati dengan wanita siluman ular! (Reina)."


Di pusat perbelanjaan. Riesta bersama Reina sedang memilih kado untuk pernikahan Dina dan William, Reina pun berlagak seperti wanita polos, ceria, dan penurut. Reina pun mengandeng tangan Riesta, dia pun tetap mempertahankan suara yang seperti adik yang sedang bermanja-manja dengan sang kakak.


"Kak Riesta! Ayo kita kesitu." ajak Reina merayu Riesta sembari menarik tangan Riesta untuk mampir ke toko butik.


"Oke Rei! Jangan jalan terburu-buru." jawab Riesta yang melihat raut wajah sepupu yang bersinar-sinar, Riesta pun merasa seperti memiliki seorang adik kandung perempuan.

__ADS_1


"Uh? Ayo kak! Reina ingin lihat dress-dress yang lucu. Oh iya! Sekalian Reina ingin membeli satu Dress untuk di pakai ke acara pernikahan kak William. Ayo kak, kita pilih bersama-sama!."


"Oh benar juga! Sudah sangat lama sekali, sejak kita berbelanja bersama."


"Iya kak! Apalagi selama ini Reina merasa kesepian. Tidak ada tempat untuk curhat, ataupun teman hangout. Selama ini Reina selalu saja di rumah bersama dengan Mommy. Jadi hari ini Reina ingin menghabiskan waktu berbelanja bersama kak Riesta!."


"Maafkan kakak ya! Beberapa tahun kakak ga bisa berada disisimu. Pasti kamu sangat sedih, baiklah hari ini kita menghabiskan waktu bersama. Sehabis kita mencari kado untuk kak William selanjutnya Rei ingin kemana?."


"Uuhmm . . . Terserah kakak, soal nya Rei tidak pernah keluar rumah."


"Okey! Nanti kakak akan beritahu kak Juna kalau kakak akan pulang telat, kakak ingin menghabiskan waktu bersama sepupu kakak yang sangat kakak sayangi."


"Jangan kak, kakak kan sekarang sudah memiliki suami. Itu tidak baik, nanti kalau ada berita yang bilang kalau kakak adalah istri yang suka keluar malam bagaimana?."


"Tapi, kakak ingin menemanimu jalan-jalan."


"Kan bisa lain hari kak, aku tidak ingin membuat kakak di benci oleh semua orang karena berita jahat tentang kakak."


"Ya sudah! Maafkan kakak ya, sejak ada berita itu kakak tidak bisa menenamimu."


"Ya kak! Ga apa - apa. Yang penting sekarang aku bisa bertemu dengan kakak, jadi kakak jangan pemikirkan berita jahat itu ya kak. Kakak harus buktikan bahwa berita yang bertebar di mana-mana itu tidak benar! Aku akan selalu berdoa untuk kakak, dan kak Juna semoga kalian segera di berikan momongan."


"Sama-sama kak! Aku kan sudah menganggap kakak seperti kakakku, jadi jangan bicara terlalu formal begitu dong kak!."


"Saatnya kita berbelanja!."


"Uhum!."


Mereka berdua pun berbelanja bersama, memilih gaun yang akan di pakai untuk menghadiri pesta pernikahan William dan Dina.


Tak terasa hari sudah menjelang sore, Reista dan Reina pun terlihat keluar dari mall LFG. Dan tentu saja mobil Juna sudah stand by menunggu Riesta di Lobby utama, Riesta pun terkejut karena tiba-tiba Juna sudah menunggu nya padahal dia tidak meminta Juna untuk menjemputnya.


"Suamiku, tadi aku sudah bilang. Kamu istirahat saja, apalagi kamu habis kerja pasti lelah."


"Aku tidak capek, kan sudah menjadi tugas menjadi seorang suami untuk selalu menjemput istrinya. Masa tidak boleh aku menjemputmu?."


"Boleh banget, tapi aku hanya tidak enak. Nanti kan aku bisa pulang sendiri atau minta jemput pak Gino."


"Kenapa tidak enak hati? Aku kan suamimu?."


"Ayo pulang!."

__ADS_1


"Uhm! Oh kita harus mengantarkan pulang Reina, tidak mungkin kan aku meninggalkanya sendiri?."


"Ayo Rei!."


"Tidak usah kak! Aku bisa pulang naik taksi, aku tidak ingin membuat kak Juna kerepotan. Apalagi jalur nya tidak sama, dan kalau aku ikut lagi dengan kakak nanti bisa sampai malam. Pasti kak Juna sudah sangat lelah setelah bekerja."


"Tapi . ."


"Tidak kak, aku nanti bisa pulang naik taksi. Dan pasti kak Riesta sudah capek setelah berkeliling toko, aku juga harus pergi ke suatu toko. Tenang kak! Rei kan sudah besar, Rei sudah bisa menjaga diri."


"Beneran ga papa?."


"Iya kak! Tenang saja, aku tidak ingin merepotkan kak Riesta dan kak Juna."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya! Jangan pulang larut malam, dan selalu waspada terhadap pria asing!."


"Iya kak! Pfff. . . Kakak lucu deh, kalau begitu Reina pergi dulu ya! Bye kak!"


"Bye! Hati-hati di jalan!."


"Iya kak!."


Juna yang sedari tadi berdiri di samping Riesta hanya terdiam saat kedua wanita itu sedang mengobrol, Juna pun sedikit teringat perkataan Dina saat di kantor siang tadi. Tentang sifat asli sepupu Riesta, mungkin saat ini Juna tidak tahu apa yang di rencanakan oleh Reina. Tetapi Juna akan terus menyelidiki rencana Reina sepupu Riesta, Juna pun tidak ingin memberitahukan kepada Riesta tentang dia selama ini menaruh curiga dengan sepupu nya, sebab jika Juna memberitahukan yang sebenarnya pasti Riesta akan marah kepadanya karena melakukan penyelidikan diam-diam tentang Reina yang merupakan sepupu yang sangat Riesta sayangi.


Juna pun mulai mengandeng tangan Riesta, dia pun segera mengajak istri nya untuk pulang ke rumah.


"Sayang, ayo kita juga pulang. Aku rindu dirimu!."


"Juna!? Kita masih berada di Mall!."


"Baiklah! Kita akan lanjutkan ketika sudah sampai di rumah."


BUUFF!


Riesta menutupi kedua pipinya berusaha untuk menyembunyikan pipi nya yang saat unu mungkin sudah merah seperti tomat. Riesta pun mengurutu sendiri, "Merayuku di tempat umum."


**Jangan lupa ya kakak-kakak ! Tinggalkan LIKE dan VOTE jika sudah membaca novel ini 🥰🥰


Bersambung. . . . .


THANK YOU 😍😍**

__ADS_1


__ADS_2