Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Kehangatan sebuah Keluarga!


__ADS_3

Riesta melihat dirinya sendiri di cermin yang cukup besar. Dan saat dia melihat tanda merah yang cukup banyak di leher nya dan sekujur tubuh nya.


“ Huuhhff! Dia benar-benar seperti harimau yang belum makan selama 7 hari. Punggungku sakit sekali!” gerutu Riesta yang memijat punggung belakang nya, ia pun kesal pada Juna yang tadi malam melahap nya habis seperti harimau, hingga membuat kaki Riesta sedikit kesemutan.


“ Tapi . . . Walaupun sekujur tubuhku pegal tetapi aku sangat menikmatinya.” Gumam nya yang memikirkan bagaimana Juna menjamah tubuh nya dengan penuh gairah.


“ Haiiz!! Sadarlah . . . . . Sadarlah Riesta!” gumam Riesta menepuk kedua pipi nya berkali-kali.


PUK . . . !!


PUK . . . !!


PUK . . . !!


Dan setelah itu Riesta yang sudah keluar dari kamar mandi dan dia Riesta pun mengambil baju yang berada di lemari.


Juna memandangi nya terus, sembari tersenyum kecil melihat tingkah laku istri nya yang sedang ngambek seperti anak kecil. Riesta masih mengabaikan Juna yang sedari tadi terus memandangi dirinya, Riesta pun lalu menyuruh Juna untuk segera mandi.


“ Sekarang kamu pergi mandi! Tidak enak dengan ibu dan ayah kalau kita bangun telat, dan pasti mereka sedang menunggu kita di meja makan.” perintah Riesta dengan nada ketus nya menyuruh Juna yang masih tidur bermalas-malasan di atas ranjang.


“ . . . . .”


“ Huufh! Ya sudah aku pergi saja!” ketus Riesta. Iap pun mulai melangkahkan kedua kaki nya, menuju pintu yang tak jauh berada di samping kanannya.

__ADS_1


Riesta pun pergi meninggalkan Juna yang masih berbaring di atas tempat tidur, Riesta pun menutup pintu kamar nya. Lalu bayangan punggung Riesta sudah menghilang dari pandangan Juna.


Riesta yang sudah berada di luar kamar, dia pun mulai melangkahkan kaki untuk berjalan menuju ruang makan. Dan Riesta merasa tidak enak hati sebagai seorang menantu perempuan, padahal Riesta sangat ingin membuat sarapan spesial untuk mertua nya. Riesta ingin membalas semua kebaikan ibu serta ayah mertua nya yang sudah memperlakukan Riesta dengan sangat baik, tulus, serta memberikan Riesta kehangatan keluarga yang pernah hilang dari kehidupannya.


Riesta pun mulai menuruni tangga nya. Dan tentu saja dari jarak dimana Riesta berdiri dia sudah melihat ibu serta ayah mertua, ibu Wendy yang selalu tersenyum hangat, dan ayah mertua yang terlihat cuek sedang membaca koran tetapi beliau memiliki hati yang baik.


Riesta pun membalas senyuman ibu Wendy. Riesta segera mempercepat langkah nya.


Riesta pun hampir tiba di ruangan makan, Riesta pun menyapa dan meminta maaf kepada kedua mertua nya yang sudah duduk di kursi yang satu set dengan meja makan berbentuk persegi.


“ Selamat pagi! Ibu dan Ayah.” sapa Riesta. Menyambut ibu dan ayah mertua yang sudah duduk di kursi meja makan.


“ Riesta minta maaf karena bangun jam segini! Maafkan Riesta! Riesta seharusnya menyiapkan sarapan pagi, sekali lagi maafkan Riesta. Riesta merasa gagal menjadi menantu yang bisa di andalkan!” ucap Riesta menundukkan kepala nya dengan sopan, ia pun segera meminta maaf karena ia tidak membantu ibu mertua untuk menyiapkan sarapan pagi.


“ Kami sangat beruntung memiliki seorang menantu yang baik, cantik, perhatian, dan bisa menjadi seorang wanita tegar. Kan ibu sudah bercerita ke Riesta, sejak Juna mengenal Riesta. Ibu merasa ada yang memperhatikan ibu, sewaktu dulu ibu merasa kalau ibu seperti tidak lagi di perhatikan oleh anak ibu Juna. Dan semenjak kedatangan Riesta, Riesta sangat perhatian sama ibu. Kamu menantu yang sempurna.” Lanjut ibu Wendy, ia pun segera menyeret Riesta dan duduk di samping nya.


“ Terima kasih ibu.” sahut Riesta yang tersenyum.


“ Oh iya! Juna masih belum bangun?” tanya ayah Juna yang masih sibuk membolak-balikkan halaman koran.


“ Haizz . . Sayang! Palingan Juna dia sedang melanjutkan tidur nya lagi, bukan begitu nak Riesta?” sahut ibu Wendy yang menjawab pertanyaan sang ayah. Sembari menaruh lauk pauk di piring putih, lalu memberikan nya kepada sang suami yang merupakan versi tua Juna kelak.


“ Uhm . . . Hehehe, itu benar ibu.” jawab Riesta yang tersenyum canggung, sembari mengangguk-anggukan kepala nya.

__ADS_1


“ Aduuh . . . Anak itu! Dia seharusnya ikut bergabung sarapan bersama-sama! Selalu saja seperti itu!” sindir sang ayah mertua yang kesal dengan Juna karena sifat nya masih cuek seperti dulu, sembari menutup dan menilap koran, lalu meletakkan nya di atas meja makan.


\= \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= \= \=


“ Kenapa semua selalu saja bercerita tentang kuburukkanku? Aku ini anakmu lho ayah, ibu!” ucap pria yang tiba-tiba menyanggah pembicaraan 3 orang yang tengah duduk bersama di meja makan, dan membuat 3 orang itu menengok ke arah sumber suara pria itu


“ Oh! Tapi ibu selama beberapa tahun ini, ibu merasa kalau anak ibu sudah melupakan kedua orang tua nya. Benar begitu kan sayang?” sela ibu Wendy mulai mendramatisi seperti dongeng malin kundang, menyindir kembali pria yang baru saja bergabung untuk sarapan bersama 3 orang itu.


“ Hum . . Hum! Itu benar sekali! Ayah pun sampai melihat ibumu yang sedang memegang bingkai foto saat kamu masih sekolah.” sahut sang ayah mertua, ia pun melihat sang istri nya memberi sinyal mata dan ia pun langsung mengerti arti nya. Akhirnya ibu dan ayah Juna pun kompak bekerja sama menyindir sang anak nya.


“ Iya . . Iya maafkan Juna, kalau beberapa tahun ini Juna terlalu sibuk mengurus perusahaan. Sampai membuat Juna melupakan kedua orang tua yang sudah sangat berjasa untukku, tentu saja aku hanyalah manusia yang belum bisa membayar semua kebaikan, kasih sayang, serta kehangatan dari ayah dan ibu.” jawab Juna.


“ Huuh!! Selalu saja kamu menyebut sibuk-sibuk! Seharusnya kamu perhatikan ibumu ini! Ya sudahlah sekarang mari kita sarapan pagi bersama, momen ini sangat lah jarang terjadi. Semoga saja suatu hari nanti keluarga kita bertambah, dengan suara anak kecil. Dan bisa melengkapi kursi yang masih kosong ini.”


“ Amin! Semoga doa ibu di kabulkan oleh Tuhan.” jawab Riesta mengaminin doa ibu Wendy.


Mereka pun sudah rampung sarapan. Dan tentu saja sang ayah pun mulai berbicara bersama sang anak Juna, karena sudah sangat lama sekali Juna memiliki waktu lebih saat berada di rumah kedua orang tua nya. Ayah Juna pun mengajak Juna untuk berbicara 4 mata.


“ Juna! Ayah ingin berbicara face to face denganmu! Mari kita bicarakan ini di ruang baca ayah!” kata ayah Juna menunjukkan mode wajah serius menatap sang anak nya, dan Juna pun tahu arti wajah serius dari sang ayah nya. Pasti ini menyangkut tentang bisnis proyek.


“ Uhm . . . Baik Yah!” jawab singkat Juna.


JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT KAN AGAR ADA NOTIF KETIKA UPDATE DAN TERUS DUKUNG AUTHOR ❤❤

__ADS_1


__ADS_2