
Riesta menutupi kedua pipinya berusaha untuk menyembunyikan pipi nya yang saat unu mungkin sudah merah seperti tomat. Riesta pun mengurutu sendiri, "Merayuku di tempat umum."
"Hmm? Sayang tadi kamu bilang apa?."
"Ah? Tidak! Heheh."
"Oh!."
Mereka pun segera naik mobil dan pergi meninggalkan mall LFG, hari sudah sore dan langit pun berubah menjadi berwarna jingga. Mereka berdua segera pulang menuju istana yang sangat nyaman bagi mereka berdua yaitu rumah.
Beberapa menit kemudian akhirnya Juna dan Riesta tiba di rumah, Juna pun turub dari mobil membuka pintu mobil Riesta, lalu ia mengendong Riesta.
"HEHH!."
"Sayang, hari ini aku ingin memiliki waktu hanya berdua denganmu!."
BLUSH!
Kedua pipi Riesta memerah setelah Juna berbicara dan mengendong nya dari halaman rumah, sampai akhirnya Juna membuka pintu dan melempar Riesta ke atas kasur berukuran King.
BUUK!
"Sayang? Kamu mau ngapain? Aku belum mandi, saat ini tubuhku lengket. Jadi, berikan aku waktu untuk mandi ya?."
"Kenapa kamu bertanya? Tentu saja kita akan bikin anak. Aku tidak peduli jika tubuhmu lengket, berkeringat atau apa pun. Aku menginginkanmu saat ini juga! Dan kali ini aku tidak akan melakukan nya dengan lembut!."
"EHH!!."
Juna pun segera melepas dasi, kemeja, dan juga sepatu hitam nya. Ia pun mulai mendekati Riesta yang masih duduk di atas kasur, menatap wajah malu-malu wanita yang sangat ia cintai.
"Aakkh!."
Mereka pun melakukan ritual sebagai sepasang suami dan istri. Hingga membuat Riesta kelelahan dan ia pun pingsan, sebab Juna terus melakukan aksi nya sehingga membuat Riesta tidak memiliki tenaga untuk bangun. Juna pun menatap wajah sang istri nya yang bercucuran keringat, ia pun menyudahi ritual itu sebab ia tidak tega melihat wajah istri nya. Dan melihat banyak sekali bekas ****** merah di seluruh tubuh Riesta.
"Maaf atas ke egoisanku, sayang! Pasti kamu sudah lelah."
Juna pun segera menyelimuti Riesta, ia pun segera turun dari tempat tidur. Dan Juna segera membersihkan diri nya, setelah selesai mandi ia pun kembali memeluk sang istri nya dengan erat, mengusap lembut rambut coklat sang istri, tak lupa ia memberi kecupan lembut di kening Riesta.
CUP!
"Selamat tidur, istriku!."
Juna pun tertidur sembari memeluk tubuh Riesta.
Hari yang cukup terang menyinari kamar itu, dan tak lupa suara kicauan burung yang berada di atas pohon membuat penghuni kamar yang masih menutupi diri nya dengan selimut lembut pun terbangun, wanita itu terbangun ia melihat kamar nya yang sepi dan tidak terlihat sosok Juna.
__ADS_1
"Humm!?."
Kring . . . !!!
Kring . . . !!!
Ponsel Riesta pun berdering, ia segera mengangkat telepon dari Reina.
\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=
'Halo, Rei?.'
'Akhirnya kakak mengangkat telepon dariku juga!.'
'Huh? Memang ada apa Rei?.'
'Rei sudah menelepon kakak 20x tapi kakak tidak mengangkat telepon, jadi Rei khawatir. Apakah kakak baik-baik saja?.'
'Oh, maafkan kakak! Kakak tadi ketiduran, kakak baik-baik saja.'
'Syukurlah! Oh iya kak, kakak apakah kakak nanti masuk kerja?.'
'Kerja!?.'
'Rei, maaf kakak harus bersiap-siap dulu! Nanti kakak akan meneleponmu lagi.'
'Ah? Ya sudah kak, tapi nanti jangan lupa telepon Rei lagi ya.'
'Iya . . . Iya!.'
\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=
Riesta pun segera loncat dari tempat tidur, ia segera membersihkan diri nya. Bersiap-siap untuk berangkat bekerja, tentu saja Riesta sedikit kesal kepada Juna kenapa dia tidak membangunkannya.
Riesta pun akhirnya memutuskan untuk menelpon pak Gino, tak lama kemudian pak Gino menjemput Riesta. Riesta pun duduk di belakang supir, lalu Riesta pun sedikit bertanya ke pak Gino.
"Pak Gino, apakah suami saya. Eh, maksud saya pak Juna sudah berada di kantor?."
"Sudah nyonya, tadi Tuan menitipkan pesan. Nyonya hari ini tidak perlu bekerja, Tuan menyuruh nyonya untuk beristirahat."
"Apa-apaan! Aku masih ingin bekerja, kenapa dia melarangku bekerja! Huuft!."
"Hehehe. . . Mungkin tuan tidak ingin nyonya kelelahan bekerja."
Riesta pun sudah tiba di perusahaan Marsh, pak Gino pun segera membukakan pintu untuk Riesta.
__ADS_1
"Terima kasih pak Gino, mulai besok anda tidak perlu membukakan pintu untuk saya. Saya kan bisa membuka pintu mobil nya sendiri, saya tidak ingin merepotkan pak Gino."
"Itu sudah menjadi pekerjaan saya nyonya. Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang supir."
"Pak Gino, please. Mulai saat ini biar saya saja yang membukakan pintu mobil nya, saya tidak ingin menambah bebam pekerjaan anda."
"Baiklah! Kalau nyonya meminta, kalau begitu saya permisi."
"Iya! Hati-hati pak Gino!."
Pak Gino pun segera pergi karena masih ada pekerjaan yang harus ia kerjakan, pekerjaan yang memang secara khusus di perintahkan oleh Juna secara diam-diam. Dan tentu saja Riesta tidak boleh mengetahui tentang penyelidikan terhadap sepupu Riesta yaitu Reina.
Tetapi dalam hati Riesta melihat pak Ginonyang terlihat buru-buru dia sedikit curiga, karena tidak biasa nya melihat pak Gino yang terlihat tergesa-gesa.
"Tidak biasanya pak Gino pergi lebih cepat, mungkin beliau harus mengantarkan ayah dan ibu. Aku tidak boleh curiga terhadap nya."
"Aku harus buat perhitungan dengan Juna! Kenapa dia tidak membangunkanku, dan sekarang dia menyuruhku untuk berhenti bekerja! Apa-apaan dia!."
"Apalagi siksaan tadi malam membuat sekujur tubuhku sangat lemas, kedua kaki ku terasa sangat kaku. Dan aku juga harus berusaha untuk menutupi bekas merah yang ia tinggalkan di sekitar leherku!."
Riesta pun segera menekan tombol lift, ia merasakan kedua kaki yang masih lemas karena semalam Juna benar-benar membabi buta tubuh nya. Tak lama kemudian lift pun berhenti, Riesta segera berjalan cepat untuk segera tiba di ruangan Juna.
Riesta pun segera membuka pintu besar yang sudah ada di depan mata nya, tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk ke ruangan CEO. Dan tak lupa menutup nya kembali, dan terlihat seorang pria tampan yang terlihat sangat serius menatap layar monitor. Juna tidak menyadari bahwa saat ini Riesta sudah masuk ke ruangan nya, saat mendengar suara teriakan wanita. "JUNAA!!." Juna pun terkejut dengan suara yang sangat familiar, ia pun langsung menutup layar laptop nya dengan cepat.
"Oh, istriku. Kenapa kamu datang? Bukannya aku menitipkan pesan kepada pak Gino?."
"Kenapa kamu begitu tega kepadaku? Aku akan tetap bekerja di sini! Dan tentu saja aku datang ke sini sebagai seorang sekretaris yang membantu pekerjaanmu."
"Ooh . . Seperti nya energimu sudah terisi penuh? Apakah kita harus melanjutkan ritual yang semalam kita lakukan di sini?."
"HUH!? KAMU GILA! SUDAHLAH AKU PERGI DARI RUANGAN INI!."
Riesta pun segera berbalik badan meninggalkan ruangan CEO, Riesta pun menutup pintu itu dengan kekuatan penuh.
BRAKK!
"Pfft . . . Dia masih saja malu-malu seperti anak kucing."
Di balik pintu Riesta masih berusaha untuk menghilangkan kesal nya, sebab Juna mengatakan sesuatu yang membuat Riesta tidak ingin mendengarnya lagi.
**Jangan lupa ya kakak-kakak ! Tinggalkan LIKE dan VOTE jika sudah membaca novel ini 🥰🥰
Bersambung. . . . .
THANK YOU 😍😍**
__ADS_1