Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Wanita itu mengkhawatirkannya?


__ADS_3

LIKE          👍


FAVORIT   ❤


VOTE         ⭐


Mereka bertiga pun menumpuk salah satu tangan mereka di atas tangan kedua orang yang tangan sudah bertumpuk. Dan lalu mereka bertiga bersorak bersama-sama, dan setelah itu lalu peri dan setan kecil merencanakan ide tanpa memberitahu kepada William asli.


“ Hey! Peri kecil . . . Aku ingin berbicara 4 mata kepadamu.” ucap setan kecil yang mengajak peri kecil untuk berbicara face to face, dan terlihat sangat serius.


“ Hah? Kau ingin berbicara denganku? Tumben sekali, tidak seperti kau yang biasanya. Oke. . . Oke!.” jawab peri kecil yang terkejut karena sangat jarang sekali setan kecil mengajak peri kecil mengobrol face to face.


“ Tuan kami pergi dulu ya! Tuan jangan lupa dengan kesepakatan yang baru saja di buat! Tuan harus segera mendapatkan pendamping . . .” ujar peri kecil yang mulai berjalan menyusul setan kecil yang sudah berada di depan. Peri kecil itu pun tak lupa memberikan semangat untuk William agar bisa mendapatkan pendamping di masa depan kelak.


“ Good Luck!.” seru peri kecil mengangkat salah satu tangan nya jari-jari tangan nya di sembunyikan di telapak tangan nya.


Peri kecil dan setan kecil pun mulai menghilang dan hanya meninggalkan bekas bulu sayap kecil putih yang bercahaya yang berasal dari sayap peri kecil. Dan juga butiran kecil berwarna hitam pekat yang juga berasal dari setan kecil, William yang masih berdiri diam di awan berwarna putih. Dan William masih merenungkan perkataan yang baru saja di sampaikan peri kecil tentang mendapatkan pendamping hidup. William hanya tertawa kecil, lalu dia pun bermonolog dengan diri sendiri.


“ Hehh! Aku! Dengan wanita itu? Itu tidak mungkin sekali!.” sahut William dengan raut wajah suram, dan menurut nya tidak mungkin sekali jika dia mendapatkan wanita yang sangat galak seperti Dina. Dan tentu saja William memprioritaskan keselamatan dirinya sendiri.


“ Emang dasar mereka berdua tidak sama sekali membantuku! Masa mereka berdua begitu tega melihat majikannya yang tampan seperti ku ini harus bersama wanita yang temperamen nya lebih buruk dari seekor Kanguru?.” ucap William yang berteriak-teriak kepada dua versi mini nya yang sudah berjalan cukup jauh dari nya.


“ Sudalah! Aku lebih baik kembali ke dunia nyata.” gumam William yang sedari tadi berada di alam bawah sadar.

__ADS_1


Di dunia nyata. Dina yang terus berteriak memanggil William yang sudah 15 menit tertidur di kursi panjang khusus yang biasanya di gunakan jika ada orang yang pingsan atau meninggal di stasiun Jamsil.


“ Hey! Bangunlah wahai pria aneh!!.” teriak Dina yang terus membangunkan sembari mengerakkan lengan tangan William, agar membuat William tersadar.


“ Hey! Kau kenapa! Kau jangan membuatku khawatir! Kau jangan mati suri di tempat seperti ini dong!.” lanjut Dina yang mulai khawatir kepada William. Sebab, sedari tadi William tidak merespons nya sama sekali. Dan tentu saja Dina berpikir bahwa saat ini William sudah pergi untuk selama-lamanya, Dina pun memukul-mukul kedua pipi William.


PUK. . . !


PUK. . . !


“ Kau jangan menakutiku seperti itu! Ya . . . Ya aku minta maaf kalau tadi aku berkata kasar kepadamu!.” ujar Dina yang terus mengatakan ‘aku minta maaf’ kepada William sembari mengusap-usap tangan William agar menjadi lebih hangat, sebab sedari tadi tangan William sangat dingin dan membuat Dina takut kalau terjadi sesuatu kepada William.


“ Please . . . Sadarlah! Kau jangan menambah beban di hidupku, jika kau meninggal kau juga jangan menakuti-nakutiku.” timpal Dina.


Teh panas itu yang masih penuh dan sudah tidak terlihat lagi kepulan asap dari atas gelas teh itu. Dina yang terus memandangi gelas teh nya, dan gelas itu yang awalnya terlihat kepulan asap sekarang sudah tidak ada lagi kepulan asap. Pertanda bahwa teh itu sudah tidak hangat lagi, apalagi sudah 15 menit waktu berlalu.


Dan saat Dina memandangi gelas itu. Jari tangan William bergerak, dan William membuka mata nya. Mata William melihat ke segala arah, dan sampai pada akhirnya Dina melihat bahwa William sudah siuman. William pun bertanya kepada Dina.


“ Aku ada dimana? Dan kenapa aku bisa ada di sini?.” tanya William yang akhirnya siuman, dan tentu saja William bingung karena seharusnya dia berada di stasiun, tetapi saat dia membuka mata yang di lihat hanya ruangan asing.


“ Kita ada di ruang khusus untuk pengunjung di stasiun Jamsil. Kau pingsan tepat saat kita mau menuju ke pintu exit 4. Aku minta maaf mungkin karena tadi di perusahaan aku memukulmu dan juga membanting tubuhmu, aku benar-benar minta maaf.” jawab Dina yang bernafas lega akhirnya William siuman dan membuat nya tenang karena tidak terjadi apa-apa pada William.


“ Kita batalkan saja perjalanan kita menuju Lotte World, kau harus segera di rawat di rumah sakit. Oh iya sekarang kau minum teh nya dulu, maaf kalau teh nya dingin.” kata Dina yang mulai mengkhawatirkan keadaan William dan dia tidak mau sesuatu buruk terjadi menimpa William, dan Dina pun memberitahu William lebih baik membatalkan perjalanan mereka, karena sekarang lebih penting merawat William ke rumah sakit.

__ADS_1


“ Aku tidak apa-apa. Kita tetap jadi ke Lotte World, kau juga seperti nya sangat bersemangat ke tempat itu.” jawab William sembari membangunkan tubuh nya dan meminum teh yang di berikan oleh penjual aksesoris. Karena di stasiun Jamsil tepat di mana William jatuh pingsan jadi pemilik toko kedai tradisional yang tadi sudah membantu memanggilkan petugas keamanan untuk segera membawa William ke ruangan khusus untuk penumpang dari berbagai usia. Lalu dia pun membuatkan teh hangat yang di jual oleh pemilik toko minuman tradisional.


“ Yakin kau sudah enakkan? Tapi aku tidak tega melihatmu, wajahmu sangat pucat. Lebih baik kita ke rumah sakit saja ya!.” sahut Dina dengan nada lembut nya menanyakan keadaan William saat ini, dan tentu saja Dina masih khawatir dengan William sebab wajah William terlihat sangat pucat.


“ Iya aku sudah baikkan. Kan aku meminta untuk mengelilingi kota Seoul, bukan malah mengunjungi rumah sakit. “ sela William yang tidak ingin bila wisata nya ini harus di ubah menjadi wisata ke rumah sakit, dan William tak lupa menunjukkan kepada Dina bahwa saat ini dia sudah dalam kondisi FIT


“ Ayo! Nanti keburu Lotte World nya tutup.” sambung William yang mengajak Dina untuk segera menuju Lotte World.


“ Benaran kau sudah tidak apa-apa?.” tanya Dina singkat.


“ Iya . . Aku sudah kuat! Lihatlah . . .” sahut William yang melakukan olahraga kecil pada kedua tangan dan kaki nya, sembari melompat-lompat kecil.


Cak . . Cak . . . Hiaah!!


William menunjukkan sedikit gerakan Taekwondo dasar kepada Dina, dan juga mencampurkan nya dengan lompatan tendangan kaki.


“ Kan? Tenang saja! Aku ini sebenarnya masih sangat kuat!!.” sambung William yang kembali menunjukkan senyum hangat kepada Dina.


“ Pfft.... Hati-hati nanti malah punggungmu yang sakit. Ya baiklah! Kita lanjutkan perjalanan lagi!.” jawab Dina yang mengusap air di mata nya akibat tertawa melihat William yang begitu terlihat semangat sampai-sampai menunjukkan sedikit Taekwondo dasar kepada nya.


( **Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika sudah membaca novel ini 🥰🥰 )


Bersambung**. . . . .

__ADS_1


__ADS_2