
Tetapi, Riesta tetap menyuruhnya untuk tidak perlu mengkhawatirkan dirinya, dan menyuruh Juna untuk bekerja seperti biasa. Di luar ruangan rumah sakit Juna segera menelepon kedua orang tua untuk memberikan berita baik tentang kabar kehamilan Riesta.
\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=
"Halo? Juna? Ada apa tumben pagi-pagi menelepon ibu?"
"Halo ibu. Sebentar lagi ibu akan menjadi seorang nenek"
"Maksudmu Riesta hamil? Ibu akan menjadi seorang nenek? Alhamdulillah, sekarang kamu dan Riesta lagi dimana?"
"Aku lagi di RUMAH SAKIT SMC"
"Baik! Kamu kasih tahu Riesta ada di ruang mana, ibu dan ayah akan segera meluncur ke rumah sakit!"
"Ok!"
\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=
Juna pun telah selesai memberi kabar kepada orang tua nya, ia pun segera pergi untuk bekerja. Walaupun sebenarnya ia ingin berada di sisi sang istri dan juga janin yang sedang di perut Riesta, tetapi Riesta menyuruh Juna untuk pergi bekerja. Dan Juna pun menuruti perintah dari Riesta, ia pun segera meninggalkan rumah sakit.
25 Menit kemudian. Juna sudah tiba di perusahaan Marsh, para karyawan pun terheran-heran tak biasa nya Direktur Juna datang sendirian biasanya selalu bersama sekretaris Riesta, apalagi karyawan yang berlalu lalang pun melihat wajah Direktur Juna yang terlihat sangat lesu, dan sangat gelap hingga atmosfer itu terasa sangat dengan dan para bawahan yang berada di situ ikut merasakan hawa yang berasal dari Direktur Juna. Tetapi tidak ada satu pun karyawan yang berani mendekati atau menanyakan kepadanya, para karyawan pun hanya bisa menahan rasa penasaran nya dan juga hawa dingin yang mengelilingi di sekitar mereka.
Direktur Juna pun menekan tombol lift khusus untuk nya, di dalam ia masih memikirkan keadaan sang Istri Riesta yang terbaring di rumah sakit bersama calon bayi di dalam perutnya. Juna teringat dengan perkataan Riesta saat di rumah sakit.
'Tenang sayang, nanti aku bisa minta tolong sepupuku Reina untuk datang kesini.'
Juna pun menganggkat kedua alis nya saat dirinya sampai melupakan sesuatu yang sangat penting, apalagi Riesta meminta sepupu nya Reina untuk menemani diri nya di rumah sakit. Dan tentu saja kekhawatiran Juna semakin menjadi-jadi, tak lama lift itu pun berhenti.
TING!
Juna pun segera keluar dari lift dan berjalan seperti biasa, walaupun sebenarnya dia sangat tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja. Tentu saja para karyawan yang berada di sekitar nya menundukkan kepala mereka sembari mengucapkan "Selamat pagi". Juna masih saja mengabaikan nya, membuat para karyawannya terkejut dan heran tidak biasanya Direktur Juna berangkat sendirian, dan mengabaikan sambutan dari mereka. Walaupun sebelumnya Juna hanya memberikan sinyal tangan pada karyawannya, tetapi kali ini karyawan itu pun sudah memiliki firasat kalau saat ini Direktur Juna dalam keadaan bad mood. Jika Direktur Juna dalam mode bad mood maka itu hal yang paling di takuti oleh karyawannya, apalagi tadi tidak terlihat batang hidung Sekretaris Riesta yang selalu bersamanya.
Dina yang masih tak sengaja lewat, dia pun merasa sangat aneh dengan Direktur Juna. Dina pun tanpa berbasa-basi bertanya pada Direktur Juna.
"Direktur Juna! Dimana Sekretaris Riesta?" tanya Dina tanpa mengucapkan kata basa-basi dan membuat karyawan yang mendengar suara Dina terkejut. Dan ada yang berbisik pelan membicarakan tingkah laku # Dina yang memang tidak sopan kepada Direktur Juna.
__ADS_1
"Dia berani sekali!"
"Woow! Tanpa basa-basi langsung mengatakan dengan sangat lantang."
"Sombong sekali dia! Mentang-mentang sudah menjadi istri sah dari keluarga konglomerat, jadi tidak sopan pada Direktur Juna!"
"Oh, aku lupa memberitahumu. Riesta masuk rumah sakit."
"What!? Riesta sakit apa?"
"Tenanglah! Riesta baik-baik saja."
"Lalu? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?"
"Riesta sedang hamil."
"Benarkah? Syukurlah! Lalu kenapa anda malah tetap bekerja? Dan siapa yang menemani Riesta di rumah sakit, seharusnya anda menjaga istri anda Direktur Juna!"
"Sepupu nya."
"Maafkan saya sekali lagi Direktur Juna! Saya mohon izin untuk pulang!"
"Kau mau menjenguk Riesta?"
"Iya!"
"Cepatlah pergi! Dan satu lagi, tolong jaga Istri ku dan juga calon anak kami. Aku mempercayakanmu sepenuhnya!"
"Baik! Siap laksanakan!"
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Dina pun segera berlari mengambil tas nya yang berada di atas meja kerja nya, dan segera meninggalkan pekerjaan nya yang menumpuk di atas meja. Sebab, saat ini Dina sangat mengkhawatirkan sahabat karib nya Riesta. Dan terlebih lagi saat tahu kalau wanita licik (Reina) yang akan menemani Riesta di rumah sakit, Dina pun tidak ingin terjadi suatu hal buruk pada Riesta. Dina pun segera mempercepat langkah kaki nya, dia sampai tidak memiliki waktu untuk menghubungi suami nya (William) yang masih bekerja.
Kenapa Dina masih bekerja di perusahaan Marsh, dan malah bukan bekerja di perusahaan Stallone yang merupakan perusahaan bisnis milik keluarga William. Apalagi di tambah Dina yang sudah menjadi istri dari William Stallone, dan juga sudah menjadi bagian keluarga Stallone. Itu karena Dina ingin terus menjaga Riesta dari jarak terdekat nya, apalagi saat kedatangan sepupu Riesta yang bernama Reina. Dina memiliki firasat buruk tentang Reina, dan pada awal pertemuannya dengan Reina yang memiliki kesan buruk.
__ADS_1
Dina pun berpikir bahwa sebenarnya Reina berusaha untuk menghancurkan rumah tangga Riesta dan Juna. Jadi Dina pun memilih untuk mengawasi gerak-gerik dari sepupu Riesta, secara diam-diam tanpa memberitahu pada Riesta dan juga William. Dan tentu saja Dina tidak bekerja sendirian, akhirnya Direktur Juna pun yang sudah mengetahui kalau selama beberapa bulan ini Dina mengawasi pergerakan Reina. Lalu, Direktur Juna dan Dina bekerja sama mengawasi pergerakan Reina beserta keluarga nya. Walaupun sampai sekarang masih belum ada hasil nya apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Keluarga Aileen.
TING!
Dina pun segera keluar dari lift, dia pun mulai meninggalkan perusahaan Marsh. Segera memesan taksi, lalu Dina pun segera masuk ke dalam mobil taksi dan memberitahu ke mana tujuan nya pada supir taksi.
"Ke Rumah Sakit SMC!"
"Baik!"
25 menit kemudian. Dina pun sudah sampai di Rumah Sakit SMC, ia pun segera membayar taksi itu. Dan Dina pun segera ngacir masuk ke rumah sakit SMC, saat berada di dalam Dina pun segera bertanya kepada petugas resepsionis rumah sakit.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
"Siang. Saya ingin bertanya pasien yang bernama Riesta Sebastian dia di rawat di ruangan apa?"
"Oh! Dia pasien yang tadi pagi di gendong oleh pria yang tampan itu ya?"
"Iya!"
"Lalu anda siapa nya Ny.Riesta?"
"Saya teman kantor nya."
"Ny. Riesta sekarang di rawat di kamar VVIP Rose."
"Terima kasih!"
"Iya! Sama-sam—"
Dina pun segera berlari saat sudah mengetahui ruangan dimana Riesta di rawat, suster pun hanya melihat terheran-heran.
\= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \= TAP \= \= \= \= \=
JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT KAN AGAR ADA NOTIF KETIKA UPDATE DAN TERUS DUKUNG AUTHOR ❤❤
__ADS_1