
“ Riesta, ini ibu berikan resep rahasia turun temurun dari mendiang ibu saya (nenek Juna). Minumlah resep ini, sebelum melakukan hubungan dengan Juna.” kata ibu Wendy memberikan wadah obat berbentuk kotak kepada Riesta.
“ Semoga berbuah, dan ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, dan Juna. Oh dan lagi, Riesta jangan terlalu banyak memikirkan omongan semua orang, kamu harus tetap positif Thinking , kamu harus tetap semangat, apa pun yang terjadi kami akan selalu berada di sisi Riesta menantu ibu. Dan ibu sangat berterima kasih, karena kamu sudah berhasil meluluhkan hati keras Juna. Dan berhasil membuat Juna balik ke rumah setelah 5 tahun lama nya dia tidak pernah mengunjungi ibu dan ayah.” tambah ibu Wendy yang sangat bersyukur karena Juna memiliki istri berhati malaikat, dan seorang istri yang mampu meluluhkan keras nya hati Juna. Dan bisa membuat Juna lebih peduli terhadap kedua orang tua nya setelah 5 tahun Juna hanya memikirkan tentang bisnis ayah nya.
“ Amin. . . Aku yang seharusnya sangat berterima kasih banyak kepada ibu, ibu sudah sangat baik kepadaku, peduli, dan selalu di mengajakku pergi jalan-jalan keluar seperti hal nya anak dan ibu kandung, yang tidak pernah aku rasakan sejak beberapa tahun saat ibuku meninggalkanku untuk selamanya.” jawab Riesta bersuara lemah lembut dan mencium kedua tangan ibu Wendy, tanpa di sadari air menetes di kedua mata Riesta dan mulai membasahi kedua pipi nya.
“ Terima kasih bu! Riesta sangat bersyukur memiliki ibu mertua yang sangat baik, perhatian, dan menyayangi Riesta layak nya seorang anak. Pasti Riesta akan memberikan yang terbaik untuk ibu.” lanjut Riesta. Suara nya mulai tidak jelas karena air mata yang terus berderai membasahi pipi nya.
“ Sama-sama! Jangan menangis sayangku, itu sudah menjadi tugas seorang ibu. Dan kamu juga termasuk keluarga Sebastian, jadi jangan merasa terbebani ya! Sekarang ayo kita turun, dan kamu menginaplah disini. Ibu sudah menyiapkan kamar. Oh ibu punya hadiah untukmu. Ayo ikut ibu! Pasti kamu akan sangat menyukai nya, ibu yang milih sendiri, dan pastinya Juna akan sangat suka saat kamu mengenakannya. Hihihi.” ucap ibu Wendy yang menghapus air mata Riesta. Lalu ia pun meminta Riesta untuk menganggap ibu Wendy seperti mendiang ibu nya Riesta. Dan kemudian ibu Wendy pun segera mengajak Riesta ke kamar Juna, sebab ibu Wendy masih memiliki satu hadiah untuk Riesta.
“ Ibu. Ibu selalu memberiku hadiah, aku merasa gagal sebagai menantu yang selalu untuk ibu. Apalagi tadi aku hanya membawa dessert seadanya.” tutur Riesta. Ia merasa kalau dirinya bukan lah.
“ Ish. . . Nak Riesta jangan ngomong seperti itu. Kamu adalah menantu ibu yang paling baik, perhatian, peduli terhadap ibu. Selalu ada untuk ibu, ibu merasa kalau ibu memiliki seorang anak. Dan merasa menjadi seorang ibu lagi, kan kamu tahu sendiri Juna dia tidak pernah memperhatikan ibu, selalu dingin, cuek dan tidak pernah menghubungi ibu lewat telepon.” jawab ibu Wendy. Dia pun curhat kembali tentang Juna yang sangat cuek kepadanya, dan tentu saja itu membuat ibu Wendy merasa bahwa ia tidak memiliki seorang anak. Tetapi, setelah kedatangan Riesta. Beliau merasa sangat di perhatikan, dianggap sebagai seorang ibu.
“ Jadi kamu jangan merasa canggung, tidak ingin merepotkan ibu. Dan jangan bilang seperti itu lagi ya. Cantik!.” tambah ibu Wendy yang meminta Riesta agar tidak merasa canggung jika bersama nya. Dan ibu Wendy berharap Riesta menganggap ibu Wendy seperti ibu kandung nya sendiri. Lalu, ibu Wendy melarang Riesta untuk mengucap kata GAGAL.
“ Um. Baiklah ibu.” sahut Riesta sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“ Nah ayo! Sebelum kedua para pria selesai mengobrol.” ajak ibu Wendy yang menarik tangan Riesta, lalu menggandeng tangan Riesta penuh kasih sayang.
“ Iya bu!” ucap Riesta sembari tersenyum lebar, daan kedua mata Riesta pun terlihat ikut tersenyum.
Kedua wanita cantik itu pun berjalan kembali, dan mereka pun segera menuju kamar Juna sewaktu pertama kali Riesta memasuki kamar bekas Juna sebelum akhirnya Juna memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah yang saat ini sudah di tempati bersama Riesta.
KREK!
Sang ibu membuka pintu, di ikuti Riesta yang berjalan di belakang ibu mertua nya. Lalu mereka pun menutup pintu agar tidak ketahuan oleh kedua pria yang tengah mengobrol di ruang makan, dan wanita paruh baya itu pun membuka lemari yang besar dan lebar.
KERK!
Lalu sang ibu pun memberikan kotak berwarna merah maroon yang di pegang nya kepada wanita cantik yang duduk di sofa depan kamar tidur.
“ Bukalah!” pinta ibu Wendy menyuruh Riesta untuk segera membuka kotak berisi hadiah darinya.
“ Ibu. . . .” jawab Riesta bernada lembut menyebut kata ibu, dan menerima kotak hadiah darinya.
__ADS_1
“ Bukalah dan pakailah, ketika Juna sudah selesai mandi.” perintah ibu Wendy yang membuat Riesta sangat penasaran saat sang ibu mertua menyuruhnya untuk memakai hadiah dari nya saat Juna selesai mandi.
Riesta pun membuka kotak berukuran sedang berwarna merah maroon matching dengan pita yang berada di atas kotak.
Saat Riesta sudah membuka kotak itu, dia pun menjembreng satu set lingerie sexy, model tanpa lengan dan bahan nya benar-benar sangat transparan hingga membuat lemari yang berada tak jauh dari Riesta menjembreng baju itu terlihat sangat jelas.
Riesta menelan saliva yang tiba-tiba seperti tertahan di tenggorokan nya saat melihat satu set lingerie yang sangat sexy. Dan Riesta pun melihat pakaian dalam yang masih di dalam kotak yang saat ini di pangku di paha nya, dia pun berpikir pasti pikiran mesum yang di miliki Juna merupakan sifat yang di turun kan dari ibu mertua Riesta.
“ Ibu ini terlalu sexy? Dan seperti nya . . . Hum . . .” ujar Riesta bersuara malu-malu, ia masih memandangi lingerie sexy yang saat ini berada di tangan nya. Ia pun hanya bisa menelan ludah nya kembali, dan ini pertama kali nya ia harus menggunakan lingerie.
“ Pasti Juna akan menyukai nya. Jangan lupa di pakai saat kalian ingin tidur, ibu tidak akan mengganggu kalian.” jawab ibu Wendy yang tersenyum bahagia, dan terlihat dari gaya centil nya berlompatan kecil. Riesta pun langsung tahu apa maksud dari kata-kata dari ibu mertuanya, membuat kedua pipi Riesta merah saat sang ibu memberikan hadiah yang membuat Riesta hanya bisa menelan ludah, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Ehh? Ibu! Ries-.” sela Riesta yang memegang kain baju ibu Wendy, sembari menundukkan kepalanya.
Krek!!
( **Jangan lupa ya kakak-kakak ! Tinggalkan LIKE dan VOTE jika sudah membaca novel ini 🥰🥰 )
__ADS_1
Bersambung. . . . .
THANK YOU 😍😍**