Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Saat nya MOVE ON!


__ADS_3

LIKE          👍


FAVORIT   ❤


VOTE         ⭐


“ Oke!!.” sahut William yang langsung buru-buru untuk segera menuju Lotte World, sampai tidak sadar William memegang tangan Dina.


“ Ops! Maaf!.” kata William yang langsung melepaskan tangan nya yang tidak sengaja tangan Dina.


“Hum!.” jawab Dina singkat. Di dalam hati Dina dia merasa sangat gugup saat William tidak sengaja menggenggam tangan nya


“ Oh benar! Kita harus kembalikan gelas itu.” sambung Dina berusaha untuk mencairkan suasana canggung antar William.


“ Ok baiklah.” jawab William singkat.


Mereka berdua pun menuju toko aksesoris yang menjual berbagai macam peralatan makan yang unik, lucu dan sedang trendi. Setelah mereka berdua sudah tiba di toko itu.


“ Permisi!.” ucap Dina dengan nada lembut mengetuk pintu toko kedai teh itu.


“ Iya?.” sahut pemilik toko yang berjalan menuju sumber suara seorang wanita.


“ Oh kamu ya. Pacarmu bagaimana keadaan nya?.” seru pemilik toko kedai yang mengenali Dina, kemudian pemilik toko itu bertanya kepada Dina keadaan pria yang bersama nya.

__ADS_1


“ Dia baik-baik saja. Dan maaf dia bukan pacar saya, dia hanya Klien saya pak. Saya kesini untuk mengembalikan gelas dan juga membayar teh yang bapak buat.” jawab Dina yang tersenyum, dia pun memberitahu kepada pemilik toko bahwa pria itu bukanlah pacarnya. Ia pun segera mengembalikan gelas tanah liat kepada memilik kedai teh, sembari mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar teh yang di buat oleh pemilik kedai itu.


“ Tidak usah bayar teh nya. Saya sangat suka menolong sesama manusia, dan saya senang kalau mendengar Klien nona baik-baik saja.” tolak pemilik toko kedai teh yang tidak menerima bayaran dari Dina. Kemudian beliau pun memberitahu pada Dina bahwa dia sangat suka bila membantu orang tanpa pamrih atau minta imbalan, dia pun merasa senang saat Dina memberitahukan bahwa keadaan William sudah baik.


“ Tapi . . . Saya merasa tidak enak hati terhadap anda.” timpal Dina yang merasa tidak enak terhadap pemilik toko kedai yang tidak menerima bayaran untuk teh yang di buat nya.


“ Jangan bilang seperti itu.” ujar pemilik toko yang masih tidak mau menerima uang dari Dina.


“ Baiklah. Ini pak mug nya. Terima kasih karena anda sudah menolong saya dan rekan saya. Saya tidak akan melupakan kebaikan bapak, suatu hari nanti jika bapak membutuhkan bantuan saya akan menolong anda.” jawab Dina yang membungkukkan badan nya secara terus menerus sembari mengulangi kata ‘Terima kasih’ kepada pemilik toko kedai teh.


“ Saya sangat berterima kasih! Karena Tuan sudah menolong saya. “ ucap William yang tiba-tiba masuk ke dalam toko kedai teh lalu ia membungkukkan badan nya sama seperti Dina.


“ Sama-sama.” jawab pemilik toko yang umur nya mungkin sudah berkepala 4, karena terlihat dari kerutan di sekitar wajah nya.


Dina dan William membungkukkan badan nya 45°. Dan tak lupa Dina mengembalikan gelas yang di pegang nya, mereka berdua pun berpamitan kepada pemilik toko itu. Ya, pemilik toko itu terlihat sudah sangat sepuh. Dan kalau saja pemilik toko itu tidak memberitahu kepada keamanan, mungkin saja tidak ada orang yang membawa William ke ruangan khusus di stasiun Jamsil. Karena pemilik toko itu sudah sangat lama berjualan di stasiun Jamsil jadi semua petugas keamanan yang berada di stasiun Jamsil sudah sangat mengenal dengan pemilik toko minuman tradisional.


“ Kau yakin sudah tidak apa-apa?.” tanya Dina yang masih mengkhawatirkan keadaan William.


“ Tidak. Tadi kan sudah ku bilang kan? Kau kan menjadi pemandu wisataku untuk mengajakku berkeliling kota Seoul, bukan menjadi pemandu wisata rumah sakit?.” jawab William. Dia memberitahu pada Dina bahwa dia sudah sangat sehat, dan tentu saja dia tidak ingin di rawat di rumah sakit. Apalagi saat ini ia ingin berkeliling di Seoul tempat kelahiran nya, dan tempat yang sangat jarang di kunjungi oleh nya selama 18 tahun.


“ Hmm . . . Benar juga, hehehe. Apalagi kalau Riesta tahu aku menyakiti sahabat kecil nya, pasti Riesta akan marah besar kepadaku.” seru Dina yang tersenyum dan tertawa kecil, dia pun setuju dengan jawaban William. Saat ini Dina menjadi pemandu Wisata, bukan pemandu rumah sakit. Lalu Dina pun baru mengingat kalau selama ini dia sudah melakukan kekerasan terhadap sahabat kecil Riesta, dan Dina berpikir jika Riesta mengetahui bahwa Dina melakukan kekerasan terhadap sahabat nya pasti Riesta akan sangat marah kepadanya.


“ Kau seperti nya belum mengetahui nya. Sebenarnya Riesta malah sangat senang melihatku tersiksa . . . Huhuhu.” batin William yang bersedih karena Riesta sangat tidak peduli kepada William bila dia mendapatkan nasib buruk, Riesta malah menertawainya

__ADS_1


“ Tapi maaf aku tidak ingin memberitahukan kepadamu, karena kau tadi sudah memukul dan membantingku. Hehehe.” gumam William yang tersenyum licik.


BUFF!!


Setan kecil pun muncul di sebelah telinga kiri William. Dan tiba-tiba setan kecil itu muncul dengan suara yang sangat keras.


“ HEEYY! KAU MASIH SAJA MENYIMPAN DENDAM KEPADA WANITA CANTIK SEPERTI NYA?.” bentak setan kecil yang tiba-tiba muncul di alam bawah pikiran William.


“ Awwhh! Kau membuat telinga ku sakit! Dasar setan kecil! Dan memang nya kenapa kalau aku masih dendam kepada nya? Itu bukan urusanku!.” gerundel William sembari mengusap telinga nya, dia pun sangat kesal karena setan kecil yang tiba-tiba muncul lagi di alam pikiran nya.


“ SETIDAKNYA KAU LIRIKLAH WANITA CANTIK DI SAMPINGMU ITU! MOVE ON DONG! APA KAU MAU MENJADI JOMBLO SEUMUR HIDUPMU?.” perintah setan kecil yang menyuruh William asli untuk satu kali saja memandang wanita cantik (Dina) dan juga menyuruh William untuk segera Move on dari Riesta.


“ DAN SATU LAGI! JIKA KAU MASIH SAJA BELUM MENDAPATKAN SEORANG WANITA, IBUMU AKAN TERUS MENJODOHKAN MU KEPADA WANITA LAINNYA! KAU MAU ITU! BUKAN NYA ITU SEPERTI DRAMA-DRAMA KOREA?.” gerutu setan kecil yang semakin kesal terhadap William yang masih saja keras kepala, lalu ia memberitahukan kepada nya jika William terus saja menjomblo maka sang ibu akan terus menjodohkan nya bersama dengan anak perempuan dari teman ibunya.


“ Hum . . . . Benar juga ya! Kau lumayan cerdas juga ya setan kecil. Aku pun sampai lelah setiap kali aku pulang ke rumah orang tua ku, pasti ibuku langsung mengajakku ke restoran dan tiba-tiba saja langsung bahas tentang perjodohan.” jawab William. Kedua mata nya menyipit, sembari memegangi dagu nya. William pun setuju dengan apa yang di katakan oleh setan kecil, dari pada dia harus melarikan diri dari rumah setiap kali sang ibu menjadwalkan kencan buta kepadanya.


“ Sejak dulu aku lebih pintar darimu! Kau saja yang terlalu mudah di bohongi!.” ejek setan kecil yang tersenyum pede sembari mengejek Tuan nya yang tidak memiliki ide pintar seperti nya, lalu ia pun akhienya memuji diri nya sendiri.


“ Heuh? Tadi kau berkata apa barusan setan kecil?.” sahut William. Dia pun menatap setan kecil yang berani mengejeknya, kedua mata William seakan-akan seperti ingin menantang kembali setan yang bermulut pedas itu.


“ Oh! Tentu saja tuanku lebih pintar daripada diriku. . . Jadi aku memuji kepintaran anda.” jawab setan kecil. Ia langsung memuji William, sebab jika ia dan William bertengkar kembali maka peri kecil akan menghukumnya kembali.


“ Oh tentu saja dong. Heh . . . Heh.” seru William.

__ADS_1


( *Jangan lupa tinggalkan like dan vote jika sudah membaca novel ini 🥰🥰 )


Bersambung*. . . . .


__ADS_2