
"Kenapa dia dengan mudah nya mengatakan hal mesum seperti tadi! Apalagi ini kantor, tempat yang tidak mungkin untuk melakukan hubungan suami istri! Otak nya benar-benar sudah rusak! Huufh!."
"RIIEE . . .STA!."
"WHOOA!."
"Siapa itu? Sini kalau berani! Tunjukkan wajahmu, aku tidak takut!."
DOOR!!
"Riesta! Tenang ini aku, Dina!."
"Dinaa! Kamu mengejutkanku! Untung saja aku memiliki jantung yang kuat. Dina kenapa kamu masih bekerja? Bentar lagi hari pernikahanmu, seharusnya kamu mengambil cuti saja."
"Humm. . . . Maleslah, aku tidak suka di rumah terus. Apalagi harus melihat wajah William yang selalu saja memohon seperti anak kecil! Haiish . . . ! Aku merasa seperti merawat bayi besar."
"Riest! Seperti nya semalam direktur Juna melahapmu habis-habisan ya?."
BLUUSH!
"SSTTT. . . . DINA! Jangan berbicara hal seperti itu di sini! Aku benar-benar sedang sebal kepada nya!."
"Lho? Kenapa sebal? Bukannya seharusnya kamu bahagia? Pokoknya kamu harus buktikan ke media berita itu, bahwa kamu tidak mandul! Dan tetap berusaha membuat bayi dengan direktur Juna, aku akan tetap mendukungmu!."
"Dinaaa!!! Kenapa sekarang pikiranmu sama seperti Juna? Dia selalu mengatakan hal-hal mesum! Dan benar yang kamu katakan, Juna benar-benar tidak memberikanku kesempatan untuk beristirahat!."
"Ooh . . . . ! Direktur Juna benar-benar hebat! Aku setuju dengan direktur Juna, Riest! Kamu pasti bisa memiliki anak, aku akan terus berdoa untukmu!."
"Oh, aku kembali kerja dulu ya! Bye!."
"Dinaaa!!."
Huuhf!!
"Selalu saja seperti itu, Dina . . Dina."
"Oh benar, aku harus menelepon Reina!."
Reista pun segera menelepon sepupu nya Reina, dan mereka pun mengobrol cukup lama melalui telepon.
Keesokan hari nya, hari kebahagian yang kedua. Yaitu hari pernikahan Dina dan William, banyak sekali tamu yang datang. Termasuk Evan Sagara yang merupakan rival bisnis William dan juga klien penting di perusahaan Marsh, tetapi tetap saja Evan Sagara tetap merayu Dina untuk membuat William cemburu.
Dan tentu saja hanya dalam 1 menit amarah William meledak-meledak saat melihat si rival bisnis sedang mengobrol dengan mempelai wanita.
"HEYYY! KAU ADA PERLU APA DENGAN ISTRIKU! JANGAN COBA-COBA UNTUK MEREBUT ISTRIKU DARIKU!."
__ADS_1
Dina pun menepuk kepala William yang sangat mudah sekali di kompor-kompori oleh Evan.
"Will, jangan melakukan hal yang memalukan! Sifatmu masih saja seperti anak kecil, lihatlah para tamu sedang mengawasi kita berdua. Seharusnya, kamu tenang sedikit apalagi ini hari pernikahan kita."
"Oouch! Huum!! Biarin! Aku tidak peduli dengan mata-mata yang mengawasu kita, aku ingin membuat perhitungan dengannya! Kenapa si pria playboy ini berada di sini! Dan aku tidak suka bila kamu mengobrol dengannya!."
"Will, aku tahu kamu sedang cemburu. Aku hanya mengobrol sebentar dengannya, kan sekarang aku sudah menjadi istri sah mu. Dan aku hanya mengobrol dengannya seperti seorang teman dan juga aku yang mengundang nya ke sini, sebab dia merupakan klien di tempatku bekerja. Jadi, tenangkanlah emosimu itu."
Juna dan Riesta yang melihat dari kejauhan seorang pria yang memakai tuxedo berwarna putih terlihat sangat heboh ketika melihat sang istri nya mengobrol santai dengan seorang pria lain.
"Haizz . . . Lihat lah sahabat kecilmu itu sudah membuat kehebohan lainnya.
"Heehehe . . . Begitulah Will, dia memang selalu seperti itu. Padahal dia sudah menikah, tapi masih saja cemburu dengan Evan. Itu mengingatkanku kepada seseorang."
"HUM . . . Apakah seseorang nya itu aku?."
"Uhm . . . Apa kamu merasa aku sedang membicarakanmu? Heeh!."
"Sepertinya aku harus memberikanmu hukuman saat ini juga."
"HEH?."
CUP !
Juna pun menciun bibir mungil istri nya yang berdiri di sampingnya, menahan kepala sang istrinya.
"Mommy! Sampai kapan aku menahan ini semua! Lihatlah! Wanita ****** itu, tersenyum bahagia di atas penderitaan yang saat ini aku rasakan!."
"Sayangku, kamu harus tetap sabar! Dinginkan lah kepalamu itu, dan ingat kata-kata Mommy. Jangan sampai rencana yang sudah kita buat gagal karena ketidak sabaranmu!."
"Humf! Tapi sampai kapan! Reina tidak senang bila melihat wanita ****** itu berbahagia bersama pria yang Reina suka!."
"Tidak akan lama lagi, kamu pasti akan mendapatkan Juna."
"Baiklah! Reina akan bersabar, tapi apakah Mommy yakin kalau rencana ini akan berjalan lancar?."
"Pasti!."
Kedua wanita itu memandangi penuh amarah saat melihat Riesta yang tersenyum bersama Juna dari kejauhan. Lalu, Reina pun melangkahkan kaki nya untuk mendekati sepupu yang berdiri di samping pria yang di sukainya.
"Haeem!."
Riesta pun langsung mendorong pelan bidang dada Juna. Dan Riesta menyudahi ciuman Juna, sebab Reina yang tiba-tiba bersuara.
"Rr- Rei!?."
__ADS_1
"Kakak, tidak perlu gugup seperti itu. Apalagi sampai mendorong kakak Juna."
"Ka-kakak tidak gugup kok! Kakak hanya terkejut."
"Kakak jangan bohong, tenang saja kak. Rei baru saja sampai di sini. Kak Ries, ayo kita ke situ!."
"Oh, okay!."
Dalam hati Riesta dia bernafas lega.
"Syukurlah, Rei baru datang. Kalau dia melihat ciuman tadi, aku tidak tahu mau di taruh mana lagi wajahku ini! Apalagi tadi hampir saja aku kehabisan nafas karena aku tidak bisa bernafas, karena rasa gugupku."
"Kak? Ayo! Kenapa masih berdiam diri disitu?."
"Huh? Iya!."
Pernikahan Dina dan William berlangsung sangat hikmat, dan sakral. Pernikahan mereka di laksanakan hanya 2 jam, karena memang Dina tidak suka dengan pernikahan yang terlalu megah, mewah dan ribet.
Setelah 2 jam, tentu saja itu adalah perpisahan bagi kedua wanita yang saling berpelukan perpisahan.
"Dinaa!!."
"Riesta? Kenapa kamu menangis? Kita tidak bakal perpisah selama nya, dan suatu hari nanti kita bertemu kembali bersama calon anak-anak kita kelak."
"Ak . . . Aku sudaah berusaha menahan air mataku, tapi mereka terus saja mengalir. Hiks . . . Hiks."
"Ooo . . Sini-sini! Cup . . . Cup, adikku kecilku. Seharusnya kamu jangan menangis, kalau kamu menangis aku pun ikut menangis."
"Hum! Baiklah, maaf kalau aku terlalu cenggeng."
Riesta pun menyudahi pelukan perpisahan dengan Dina. Ia pun kemudian menatap tajam sahabat kecil nya yaitu William.
"Will! Kamu harus jaga baik-baik Dina ya!! Kamu jangan membuat nya bersedih, jangan sakiti hati nya, dan satu lagi yang paling penting kamu JANGAN SELINGKUH!!"
"Janji padaku ya! Kalau kamu sampai membuat Dina menangis, maka aku tidak akan menganggapmu sebagai kakak lagi! Dan tentu saja aku akan buat perhitungan denganmu! Ingat itu baik-baik!"
"Iya . . . Iya! Aku akan menjaga nya dengan sangat baik, dan aku tidak akan mengecewakannya, ataupun membuat nya bersedih."
"Baiklah! Aku pegang janjimu itu."
"Semoga pernikahan kalian langgeng, sampai maut memisahkan."
"Amin! Makasih atas doa nya."
"Iya!."
__ADS_1
Pesta Pernikahan William dan Dina pun telah rampung, dan para tamu undangan segera pulang ke rumah masing-masing termasuk Riesta dan Juna.
JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT KAN AGAR ADA NOTIF KETIKA UPDATE DAN TERUS DUKUNG AUTHOR ❤❤