Cinta Pertama Direktur

Cinta Pertama Direktur
S2 : Sial! Kenapa DIA harus datang ?


__ADS_3

Dina terus berlari di koridor rumah sakit, sembari melihat nama pasien yang di tempel di tembok dinding setiap pintu yang jarak nya cukup jauh dari pintu ruangan pasien yang lainnya.


Dina pun berhenti tepat di depan pintu yang di samping nya bertuliskan nama 'Ny. Riesta Sebastian' Tanpa mengetuk pintu Dina pun segera masuk.


"Oh Dina!" sebut wanita cantik yang masih terbaring di atas kasur bersama wanita yang berdandan polos seperti anak kuliahan.


Wanita yang duduk di sofa menemani Riesta hanya melirik sinis ke arah Dina, terlihat pancaran mata yang tidak senang dengan kedatangan Dina.


"Sial! Kenapa dia harus datang! Gagal deh rencanaku untuk mengugurkan calon bayi kak Riesta!" batin Reina bergereget sebal dalam hati.


"Riesta! Maaf aku datang terlambat! Dan aku lupa membawakan buah tangan untukmu."


"Dimana kakak William? Kau mau ngapain ke sini?"


"Kenapa kau malah menanyakan suamiku? Dan tentu saja aku menjenguk sahabat karibku!"


Mereka pun berbalik pandang, mengacuhkan wajah musuh yang berada di depannya.


"Tch! Kenapa harus dia yang jadi istri kak William! Padahal lebih cantik, muda dan sexy an aku! Aku tidak menerima nya, tapi sekarang aku akan mendapatkan kak Juna yang jauh lebih tampan dan kaya dari kak William!"


"Dasar wanita bermuka dua! Penampilannya saja sok manis, tapi hatinya busuk! Aku tidak akan membiarkan Riesta dalam bahaya!"


"Sudah . . . Sudah! Kalian berdua, oh iya benar apa yang di katakan Rei. Kamu kesini sendirian?"


"Iya. Oh bagaimana keadaanmu? Calon bayimu sehat-sehat saja kan?"


"Baik-baik saja. Dokter memberikanku resep obat untuk mengurangi mual."


"Syukurlah!"


Hari pun sudah mulai sore, dan karena Riesta tidak ingin di rawat inap. Juna pun menjemput sang Istri yang masih berada di rumah sakit, awal nya Juna menyuruh Riesta untuk tetap di rawat inap di rumah sakit. Tetapi, Riesta menolaknya sebab saat Riesta berlama-lama di rumah sakit itu hanya akan mengingatkan pada kepergian sang ibu yang meninggal karena kanker darah atau yang di sebut Leukimia. Tentu saja Riesta tidak bisa menghilangkan rasa sedih nya di masa lalu, ia masih teringat-ingat senyuman manis dari ibu nya untuk terakhir kalinya.


Tak lama kemudian Juna pun tiba di rumah sakit, dengan membawa kursi roda. Ia sudah berada di kamar tempat Riesta di rawat sementara.


"Aku bisa jalan sendiri."


"Sayang, kamu jangan keras kepala dong. Kamu sedang dalam pemulihan, seharusnya kamu di rawat inap. Haiizz . . Baby, kenapa mama mu sangat keras kepala? Ini kan demi kebaikan kalian berdua."


"Aku ingin pulang! Aku sudah sembuh, tidak mau menginap di rumah sakit! Humfh!"


"Iya . . Iya! Makanya kamu duduk di kursi roda ini ya. Istriku?"

__ADS_1


"Aku bukan lansia, tidak mau duduk di kursi roda itu."


"Sepertinya aku harus menggunakan cara yang kasar padamu!"


"HEYY! KAU MAU NGAPAIN! TURUNKAN AKU! AKU SUDAH BILANG, AKU BISA JALAN SENDIRI!"


"Ssttt . . . Untuk kali ini menurutlah! Tadi bukannya kamu yang bilang sendiri, tidak mau duduk di kursi roda. Lalu sekarang aku mengendongmu, kamu menyuruhku untuk menurunkanmu."


"Humfh! Tapi tidak seperti ini juga, tidak enak di lihat oleh Reina, dokter, suster dan pasien yang lain!"


"Sekarang tutuplah wajahmu, pasti mereka tidak bisa melihat wajahmu!."


"Heh!? Juna turunkan aku, tidak!"


Juna pun mengendong Riesta ala fireman carry, mengabaikan teriakan Riesta yang menyuruhnya untuk menurunkan dirinya. Kedua kaki Riesta terus bergerak-gerak mencoba agar sang suami segera menurunkan dirinya, di saat Juna sudah keluar dari kamar rawat dan sekarang menuju lobby utama rumah sakit. Banyak sekali mata memandang seperti pasien, perawat dan para staf dari rumah sakit melihat Juna yang mengendong Riesta dengan sangat romantis membuat mereka semua iri dan ingin merasakan yang saat ini Riesta alami.


"Itu bukannya pasien Ny. Riesta?"


"Aduuh . . Romantis sekali! Membuatku iri melihatnya, memiliki suami yang sangat perhatian dan sekaligus TAMPAN dan KAYA siapa sih yang tidak iri."


"Iya benar sekali! Apalagi zaman sekarang sudah sangat jarang sekali menemukan seorang pria yang seperti Tn. Sebastian. Banyak dari pria zaman sekarang hanya mempermainkan hati wanita, wanita seperti sebuah pakaian!"


Riesta pun yang mendengar semua suara yang berlalu lalang di sekitar nya, tatapan mata yang memandangi diri nya yang saat ini menjadi seorang princess negeri dongeng. Riesta pun hanya menutup wajah nya menggunakan kedua tangan nya, saat ini ia ingin sekali sampai di rumah mereka berdua.


Juna pun membuka pintu mobil dekat sopir, ia pun segera menurunkan Riesta dengan sangat lembut.


"Sayang, kita sudah meninggalkan rumah sakit. Apa kamu masih ingin menutupi wajah cantikmu?"


"Iya! Bodoh amat! Aku masih kesal padamu. padahal sudah aku bilang, aku bisa jalan sendiri malah kamu mengendong diriku!"


"Sayang, jangan ngambek seperti itu. Iya, iya aku mengaku salah. Aku tidak ingin Istri tercintaku kenapa-kenapa, jadi aku mengendongmu. Bukannya tadi aku menawarkanmu untuk duduk di kursi roda?"


"Huumh! Aku tidak ingin membahas itu lagi!"


Riesta yang masih menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya, masih merajuk pada Juna. Menurutnya saat ini Riesta tidak ingim datang ke rumah sakit itu lagi, sebab Juna mengendong nya seperti seorang pangeran yang sedang mengendong sang princess. Itu pasti membuat dirinya menjadi VIRAL di rumah sakit SMC.


20 menit kemudian pasangan pasutri yang sedang berbahagia karena akan hadir suara anak kecil yang akan menambah kelengkapan keluarga kecil mereka. Anak pertama nya yang sudah mereka nanti-nantikan selama 3 tahun lebih.


"Sayang, kita sudah sampai di rumah."


"Besok, kamu lebih baik jangan bekerja dulu. Demi kesehatanmu dan calon anak kita, oh benar! Nanti kita pekerjakan asisten rumah tangga."

__ADS_1


"Huh? Kenapa aku tidak boleh bekerja? Padahal kan aku sudah sehat!"


"Sstt . . Sayang, tolong kamu jangan keras kepala. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada dirimu dan calon anak kita, jadi mulai besok kamu istirahat di rumah."


"Humm! Tapi sampai kapan? Aku akan bosen kalau tidak bekerja!"


"Tidak lama kok, kata dokter sampai janin yang ada di perutmu sudah kuat kamu baru boleh kembali bekerja. Dan jangan lupa makan obat nya!"


"Uhm! Oke! Baiklah!"


Juna pun kembali mengendong Riesta, ibu Wendy pun yang sudah stand by di rumah mereka membukakan pintu untuk pasutri. Tetapi, tentu saja Juna dan Riesta terkejut karena mereka sama sekali tidak mengetahui kalau ibu Wendy sudah berada di dalam rumah bak istana.


CREAK!!


"HUH!?"


"Selamat datang!" ucap ibu Wendy dengan suara yang sangat bersemangat menyambut pasutri yang baru saja bahagia karena sebentar lagi akan hadir buah hati mereka yang akan mewarnai keluarga kecil mereka.


"Ibu? Kenapa ibu ada di sini" sontak Juna yag wajah nya terkejut melihat ibu nya sendiri.


"Kenapa wajahmu terkejut seperti itu? Tentu saja ibu di sini akan menjaga menantu kesayangan ibu."


"Sayang, cepat turunkan aku!"


"Nak Riesta jangan terlalu malu seperti itu. Kamu kan jangan beraktivitas terlalu berat, sekarang kamu beristirahatlah."


"Huh? Tapi, aku merasa tidak enak. Seharusnya aku menyambut ibu, membuat hidangan untuk ibu, dan b—"


"Sayang, tadi kamu dengarkan apa yang di bilang ibu."


"Uhm! Beristirahatlah."


"Nah, begitu. Sekarang kamu beristirahatlah."


"Iya! Kamu jangan formal seperti ini pada ibu, sekarangkan kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi anggaplah aku seperti ibu kandungmu."


"Uhm! Terima kasih ibu Wendy."


"Iya! Sama-sama."


JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT KAN AGAR ADA NOTIF KETIKA UPDATE DAN TERUS DUKUNG AUTHOR ❤❤

__ADS_1


__ADS_2