Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Menjemput Daddy dan Mommy


__ADS_3

Ivander dan Charla sudah sampai di Bandara. Mereka kini menunggu di terminal penjemputan. Sesekali mereka terlihat bercanda tawa bersama.


Kenapa harus Ivander yang menjemput? bukannya tidak ada pengawal atau mata - matanya yang berada di Oxford untuk menjemput Devan dan istrinya. Melainkan Devan ingin kehidupan mereka seperti manusia normal pada umumnya.


"Daddy! Mommy!" seru Ivander saat melihat orang tuanya keluar.


"Ivander!" seru Mommy Yocelyn.


Mereka berpelukan, Ivander menciumi wajah Mommy nya. Kemudian memeluk tubuh kekar Daddy nya.


Sementara beberapa langkah di belakang Ivander, Charla tengah berdiri dengan menyatukan kedua tangan di depan pahanya. Menatap kedua orang Ivander yang tampak sangat menyayangi putra nya. Charla mengangkat sudut bibirnya. Merasakan desiran bahagia di dalam dirinya. Ingin rasanya Charla menyatu bersama pelukan tiga orang di depannya itu.


"Mom! Dad! kenalkan!" Ivander mengarahkan kedua orang tuanya untuk melihat Charla.


Charla yang menjadi pusat perhatian tiga pasang mata itu mendekat dengan menyungging senyum manis.


"Siapa, Van?" tanya Mommy.


"Nama saya Lala, Aunty!" sahut Charla sebelum Ivander menjawab.


Charla menyodorkan tangannya pada Yocelyn.


"Oh, Hai Lala!" jawab Yocelyn menyambut uluran tangan Charla sembari di lanjutkan dengan cipika cipiki.


"Pacar kamu?" tanya Mommy pada Ivander.


"Kepo deh, Mommy!" jawab Ivander yang bingung harus menjawab apa. Karena Charla melarangnya.


"Anak Mommy sudah besar rupanya!" Yocelyn tersenyum melihat Ivander dan Charla bergantian.


Charla beralih mengulurkan tangannya pada Devander. Namun tatapan mereka langsung bertemu. Tenyata sedari Devander memperhatikan pergerakan Charla. Seperti ada sesuatu dari Charla yang mencuri perhatiannya.


"Hai Uncle, perkenalkan! nama saya Lala!"


"Dad! Daddy" panggil Ivander yang melihat Daddy nya seperti orang yang tengah melamun.


"Ehh!" Devan menyadarkan dirinya dengan menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian meraih tangan Charla. "Halo siapa nama mu?"


"Lala, Uncle!"


"Oh, halo Lala! salam kenal!"


"Iya, Uncle!" jawab Charla.


Keduanya melepas jabatan tangan. Ivander kembali menatap Charla, kali ini tatapan matanya jatuh pada rambut Charla yang tergerai.


"Mommy sudah makan siang?"


"Sudah di pesawat tadi"


"Mau langsung ke apartemen?"


"Iya, langsung ke apartemen aja! Mommy capek!"


"Ok!"


"Kamu ikut kami ke apartemen ya, Lala! nanti pulangnya biar di antar Ivander!"


"Iya, Aunty!"


Ivander meminta kedua orang tuanya untuk jalan lebih dulu. Sedang dirinya berjalan berdua bersama Charla mengikuti langkah orang tuanya.


Charla yang berjalan di belakang, tersenyum melihat jari jemari Devan dan Yocelyn saling terpaut. Hatinya teduh melihat hal itu. Ia pun berharap jika dirinya dan Ivander akan seperti mereka. Tetap romantis dan saling menyayangi sampai tua.


Ivander melajukan mobilnya menuju apartemen keluarganya, dengan Daddy Devan di sampingnya. Sedang Charla duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama Mommy Yocelyn. Dia duduk tepat di belakang Ivander.


"Kamu juga kuliah di Oxford?" tanya Yocelyn pada Charla.


"Iya, Aunty."

__ADS_1


"Prodi apa?"


"Seni Rupa dan Desain."


"Kamu pasti kuliah karena hobi!" tebak Yocelyn.


"Saya hobi melukis dan menggambar, Aunty!"


"Oh ya?"


"Iya! kapan - kapan Lala akan meminta foto Aunty dan Uncle pada Ivander, Lala akan lukiskan foto kalian yang paling romantis!" ucap Charla dengan suka cita.


"Wah, serius kamu bisa?"


"Iya, Aunty! Beberapa waktu lalu aku juga melukiskan foto Kaka Queenara! dia sangat cantik!"


"Kamu juga kenal Queenara!"


"Kenal Aunty! dia sangat baik dan energik! Kak Queenara juga mengajak ku untuk ikut mencoba hobinya. Tapi sepertinya bakat kami memang sudah berbeda. Aku sama sekali tidak bisa mencobanya. Menurut Lala hobinya sangat ekstrim, memanah, menembak, juga Karate. Sedangkan Lala mendengar suara pistol saja sudah pengen lari!" Charla bercerita dan berceloteh tanpa ragu seperti menganggap Yocelyn adalah ibunya sendiri.


"Haha! Queenara memang luar biasa!" sahut Yocelyn.


Ivander senang sekali melihat kekasihnya yang tampak sangat mudah akrab dengan Mommy nya. Karena itulah harapan Ivander, mengingat kekasihnya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melihat sang ibu kandung.


Sementara Devan hanya mendengar pembicaraan dua perempuan itu.


Kenapa aku merasa seperti mengenal gadis ini?


Batin Devan melirik Charla dari kaca spion bagian tengah.


"Ah, Aunty! Maaf Lala tidak bisa ikut ke apartemen kalian, Lala harus kembali ke apartemen sekarang." ucap Charla.


"Kenapa kok mendadak?" tanya Yocelyn.


"Lala lupa sesuatu, Aunty!" jawab Charla. "Kak, aku turun di depan saja! aku akan lanjut naik taksi ke apartemen." ucap Charla pada Ivander.


"Sekalian aku antar, deket juga dari sini!"


"Sama sekali nggak! justru memang harusnya seperti itu! Aunty akan pukul Ivander kalau berani membawa anak gadis orang tapi tidak mau mengantarnya pulang!" ucap Yocelyn menatap Ivander yang mengemudi. "Dengan itu Ivander?" tanya Yocelyn.


Ivander tersenyum dengan memperlihatkan gigi putihnya. "Iya Mommy ku sayang!" jawab Ivander dengan masih fokus pada kemudinya.


"Terima kasih, Aunty!"


"Iya, sayang!" jawab Yocelyn. "Memangnya kamu tinggal di apartemen sama siapa?"


"Sendiri, Aunty!" jawab Charla.


"Orang tua kamu?"


"Mereka di London"


"Oh, kamu juga dari London! wah pas sekali!" seru Yocelyn.


"Hehe, iya Aunty!"


Suasana kembali hening, mata Charla melirik sekilas pada Devan, yang sedari tadi tampak diam dan tak banyak bicara.


Mobil Ivander pun berhenti tepat di sebuah gedung apartemen. Spontan mata Devan membulat melihat gedung apartemen itu.


Tentu saja gedung apartemen itu tidak asing baginya. Dulu dia sering datang ke apartemen itu, dan masuk ke apartemen seorang gadis. Dan kini di buat bingung, Ivander pun dekat dengan gadis yang tinggal di gedung itu.


"Aunty aku turun dulu, ya?" pamit Charla.


"Ok, Lala!" jawab Yocelyn.


"Uncle, Lala permisi, maaf merepotkan" ucap Charla pada Devan, namun Devan masih tertegun melihat gedung apartemen itu.


"Dad? Daddy kenapa sih dari tadi seperti orang linglung!" seru Yocelyn.

__ADS_1


"Eh, maaf! iya!" ucap Devan kemudian.


Charla turun dengan pintu yang sudah di buka oleh Ivander. Ivander menutup pintu penumpang belakang. Lalu berhadapan dengan Charla, sebelum Charla masuk.


"Kenapa mendadak minta pulang?" tanya Ivander.


"Hihi, aku masih canggung, Kak!" jawab Charla.


"Padahal yang aku lihat kamu bisa langsung akrab dengan Mommy!"


"Tapi aslinya masih canggung!"


"Tch! padahal aku mau sama kamu terus!"


"Udah, cepat balik! mereka pasti lelah!"


"Ya udah! aku pulang! bye sayang!"


"Bye bye!" Charla melambaikan tangannya pada Ivander yang masuk ke mobilnya.


Ivander kembali melajukan mobilnya menuju apartemen.


"Boy? jawab dengan jujur! kalian punya hubungan?" tanya Yocelyn.


"Iya, Mom!" jawab Ivander santai.


"Boy? Mommy senang pada akhirnya ada yang bisa membuat anak laki - laki Mommy jatuh cinta. Tapi kamu harus ingat, Boy! jaga dengan baik! jangan di permainkan!"


"Pastilah, Mom! jangan khawatir! anak Mommy bukan buaya darat!"


"Jangan merugikan dia!"


"Merugikan bagaimana?"


"Meminta yang bukan hak kamu!"


"Maksud Mommy?" Ivander melirik Mommy nya dari kaca spion tengah.


Sedangkan yang di lirik melihat suaminya yang seperti tengah mengulum senyuman.


"Mommy lihat dia gadis baik - baik! Jika benar dia masih perawan, jangan membuatnya menyerahkan itu padamu!"


Ivander menelan ludahnya dengan sangat susah. Dia bahkan tadi baru membahas hal itu dengan Charla.


"Tapi kan kita sudah lewat tujuh belas tahun, Mom! bukankah sudah sewajarnya pasangan yang saling mencintai melakukannya!" elak Ivander.


"Pokoknya Mommy tidak suka! atau kamu sudah melakukannya!" hardik Yocelyn.


"Nggaklah, Mom! baru juga satu minggu yang lalu kamu sepakat berpacaran!"


"Awas saja kalau kamu melanggar peraturan Mommy!"


"Iya, Mom! Ivander usahakan!"


Yocelyn menatap sang putra dan suaminya bergantian.


Aku dulu juga hampir menyerahkan mahkota ku pada Daddy mu sebelum kami menikah, Boy! untung Daddy mu saat itu sudah bertobat!


*Mommy hanya tidak mau putri Mommy, Jesselyn kehilangan mahkota sebelum menikah.


Mommy sekarang tau bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu, Boy! yang akan terluka jika melihat putra atau putri merebut atau di rebut mahkotanya secara paksa*!


Ucap Yocelyn dalam hati.


.


.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2