Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Teman!


__ADS_3

"Kamu bisa menempati apartemen ini!" ucap Devan setelah membuka pintu apartemen di lantai 20 di gedung yang sama dengan apartemennya.


"Ini apartemen mu?" tanya Yocelyn setelah menutup pintu.


"Bukan! aku menyewa apartemen ini untuk satu tahun ke depan!" jawab Devan, "aku tinggal di lantai 30!"


"Oh! berapa sewa apartemen ini? aku akan menggantinya!" ucap Yocelyn melepas tas ranselnya.


"Tidak perlu!" tolak Devan tegas. "Uang bukan masalah penting bagiku!"


"Tapi..!"


"Tidak ada tapi!" sahut Devan memotong kalimat Yocelyn. "Aku akan meminta mu angkat kaki dari apartemen ini, jika kamu memaksa untuk menggantinya!"


"Apa kamu yakin!"


"Ya!" ucap Devan menghentikan tangan Yocelyn yang hendak membuka tas ranselnya.


"Terima kasih!" ucap Yocelyn tulus.


"Sama - sama!" jawab Devan. "Kamu bisa melihat kamarmu!" ucap Devan menunjuk pintu kamar.


Yocelyn berjalan ke arah pintu kamar, dan membukanya pelan. Devan ikut mendekat ke arah pintu.


"Maaf, apartemen ini tidak terlalu besar!" ucap Devan, "mungkin sebelumnya kamu tinggal di mansion atau istana"


"Tidak masalah! aku tetap suka!" jawab Yocelyn sambil membuka pintu walk in closed. "Yang penting aku bisa bebas dari jeratan keluarga ku! Dan juga ..." Yocelyn menghentikan kalimatnya, melirik Devan sekilas yang mengikuti langkahnya.


"Juga apa?" tanya Devan penasaran menatap teduh mata Yocelyn.


"Aku bisa punya teman selain Erina!" jawab Yocelyn menghentikan langkahnya.


"Erina?" Devan mengerutkan keningnya.


"Asisten ku itu!"


"Oh!"


"Emm.. Devan?" panggil Yocelyn seperti sungkan untuk bicara.


"Apa?" tanya Devan.


"Kita bisa berteman kan?" tanya Yocelyn ragu.


"Teman?"


"Iya!" jawab Yocelyn ragu akan ucapannya sendiri.


Devan menatap mata Yocelyn yang seperti penuh harap untuk bisa berteman dengannya. Sesaat kemudian Devan mengangkat sudut bibirnya.


"Bisa!" jawab Devan menyodorkan tangannya. "Teman!" ucap Devan.


Seketika raut wajah Yocelyn berubah. Sepertu gadis yang lepas dari cekikan.


"Teman!" ucap Yocelyn meraih tangan Devan dengan senang hati. "Akhirnya aku punya teman!" celetuk Yocelyn kegirangan.


"Sebelumnya kamu tidak punya teman?" tanya Devan yang langsung di jawab gelengan oleh Yocelyn.


"Aku hanya berteman dengan Erina yang setengah mengekang ku!" jawab Yocelyn cemberut.


"Yossy?" panggil Devan lembut.


"Iya?"


"Bisa lepaskan tanganku?" ucap Devan.


"Oh!" Yocelyn membuka mulutnya lebar dan membulatkan matanya menatap tangannya yang sedari tadi masih menjabat tangan Devan erat. "Maaf! maafkan aku!" ucap Yocelyn melepas tangannya. "Aku tidak pernah berjabat tangan dengan orang asing sebelumnya! jadi aku tidak tau cara berinteraksi dengan orang asing dengan baik!" ucap Yocelyn.


"Tidak masalah! santai saja!" ucap Devan dengan senyum menawannya.

__ADS_1


Tampan juga! batin Yocelyn.


Yocelyn masuk ke ruang walk in closed, mengedarkan pandangannya pada almari yang kosong. Dan hanya melihat handuk kimono yang menggantung, juga handuk panjang dan handuk kecil yang terlipat rapi di almari terbuka.


"Kamu tidak punya baju ganti?" tanya Devan yang melihat Yocelyn seperti kebingungan.


"Iya!" Yocelyn mengangguk. "Aku hanya membawa satu set pakaian dalam dan topi yang aku beli secara sembunyi - sembunyi!" jawab Yocelyn tanpa malu.


Gadis ini benar - benar polos! batin Devan.


"Aku akan membawakan bajuku untuk bisa kau pakai sementara" ucap Devan.


"Ah! tidak perlu!" ucap Yocelyn, "aku akan meminta bantuan Office Girl untuk membelikan!"


"Ini sudah malam! tidak ada Office Girl yang bertugas saat malam!" ucap Devan.


"Oh iya!"


"Kamu tunggu di sini!"


"Baiklah!"


Devan keluar dari apartemen Yocelyn dan langsung memasuki lift, dan menuju apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Devan langsung membuka walk in closed di kamarnya. Devan memilih beberapa bajunya yang di ambil secara acak. Devan mengambil beberapa kaos dan kemejanya. Lalu memasukkan ke dalam paper bag dan membawanya kembali ke apartemen Yocelyn.


Di dalam apartemen Yocelyn, Yocelyn duduk di tepi sofa ruang tamu yang dekat dengan jendela.


"Maafkan Yocelyn Pa, Ma!" gumam Yocelyn menatap gelap malam kota London. "Yocelyn ingin punya teman! setelah Yocelyn puas menikmati angin segar, Yocelyn akan kembali!" lanjutnya. "Kalau boleh Yocelyn ingin tau rasanya jatuh cinta seperti di Novel dan Drama series yang Yocelyn tonton!"


Sesaat kemudian Devan membuka pintu utama apartemen Yocelyn yang langsung di sambut Yocelyn dengan senyum manisnya.


"Ini! pakai seadanya!" ucap Devan menyerahkan paper bag yang dia bawa. "Besok aku belikan baju yang layak untuk mu!" ucap Devan.


"Kenapa aku jadi merepotkan mu!" ucap Yocelyn yang merasa tidak enak hati.


"Hihihi!" Yocelyn tersenyum kikuk mengingat ucapannya sendiri.


"Istirahatlah! aku akan kembali ke apartemen ku!" ucap Devan.


"Iya, makasih ya Devan!" ucap Yocelyn yang hanya di angguki Devan.


Devan berbalik menghadap pintu utama untuk keluar. Baru satu langkah, Devan mendengar suara Yocelyn memanggilnya.


"Devan!" panggil Yocelyn.


"Apa?" tanya Devan menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadap Yocelyn.


"Caranya order makanan di restoran bawah gimana ya?"


"Kamu sudah lapar lagi?" tanya Devan membulatkan matanya seolah tak percaya dengan perut Yocelyn yang tampak ramping itu.


"Tidak!" sahut Yocelyn, "untuk besok pagi!" lanjutnya, "aku tidak punya ponsel untuk menelpon. Ponsel ku sudah aku buang di saluran air depan Mall tadi supaya Papa tidak bisa melacak ku!"


"Niat sekali kamu kabur dari rumahmu!" ucap Devan tergelak.


"Ya iyalah! sudah lama aku menantikan hari ini!"


"Kamu bisa menggunakan telepon itu!" Devan menunjuk telepon apartemen di dekat sofa. "Kamu tekan angka 5, angka itu akan otomatis terhubung pada restoran di bawah!" jelas Devan.


"Ok! baiklah!" jawab Yocelyn. "Kalau Office Girl?"


"Kamu bisa menekan angka 3! itu akan langsung terhubung pada kepala Cleaning service apartemen ini!" lanjut Devan. "Kalau kamu benar - benar berniat untuk kabur sebaiknya kamu tinggal di apartemenku, saat Cleaning service membersihkan apartemen ini! dan saat menerima pesanan makanan sebaiknya kamu tidak menunjukkan wajah asli mu!"


"Lalu caranya?"


"Kamu bisa meminta mereka untuk meninggalkan troli makanan di depan pintu dan ambil menggunakan topi!" jelas Devan, "mereka selalu meletakkan nota tagihan di trolinya!"


"Oh Ok!"

__ADS_1


"Jika ada kesempatan yang baik dan tepat, aku akan membawa mu jalan - jalan!"


Seketika Yocelyn menganga tak percaya, jelas wajahnya menunjukkan seolah di penuhi bunga - bunga yang bermekaran.


"Janji?" tanya Yocelyn.


"Iya!"


"Yes!" pekik Yocelyn. "Dari awal aku sudah yakin, kalau kamu adalah Tuan Devan yang baik hati!" ucap Yocelyn yang terlihat seperti anak kecil.


Devan menyungging senyum di bibirnya menatap gadis yang mencuri perhatiannya sejak pertama kali melihatnya itu.


Kamu tidak tau saja, kalau sebenarnya aku ini binatang buas yang bisa menerkam mu kapan saja! ucap Devan dalam hati.


Tapi khusus dirimu aku akan bersikap baik padamu! aku tidak punya niat sama sekali menghancurkan masa depan gadis polos sepertimu! ucap Devan dalam hati.


"Ya sudah istirahatlah!" ucap Devan sambil kembali berjalan ke arah pintu utama dan membukanya.


"Iya!" jawab Yocelyn menatap punggung Devan.


"Selamat malam!" ucap Devan sebelum keluar dari apartemen yang di tempati Yocelyn.


"Malam!" jawab Yocelyn dengan senyum manisnya.


"Aku akan mengunci pintunya dari luar!" ucap Devan. "Kamu masih ingat sandinya kan?"


"Tentu saja!" ucap Yocelyn menunjukkan catatan yang di berikan Devan.


"Good!" ucap Devan lalu menutup pintu apartemen Yocelyn.


Aku harus mencari tau tentang gadis lugu ini! dia cantik dan berhasil menarik perhatianku dnegan sikap naturalnya. Tapi aku juga harus berhati - hati. Sepertinya dia bukan anak orang sembarangan! ucap Devan dalam hati sambil berjalan ke apartemennya.


Di apartemen Yocelyn, dia langsung membuka paper bag yang di berikan Devan. Dan mengeluarkan semua isinya. Ada 2 kaos lengan pendek dan 2 kemeja lengan panjang, dan semua terlihat kebesaran untuk Yocelyn.


"Ini baju - baju miliknya?" tanya Yocelyn pada dirinya sendiri.


"Yaa ampun harum sekali!" ucapnya mencium baju - baju Devan.


"Jelaslah! yang punya juga tampan dan kaya raya!" jawabnya sendiri, lalu cekikikan sendiri.


Yocelyn langsung masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya dengan kemeja lengan panjang Devan yang berwarna tua. Setelah memakainya dia langsung menghadap cermin di almari yang ada si walk in closed.


"Tidak buruk!" gumamnya menatap pantulan dirinya di cermin. "Ini kali pertama aku memakai baju yang bukan milikku! baju laki - laki pula!" gumamnya di lanjutkan dengan cekikikan mengingat siapa pemilik kemeja itu.


Yocelyn berputar, memandangi tubuhnya yang pahanya hanya tertutup separuh.


"Terlihat sangat lucu memakai baju seperti ini!" gumamnya, "kalau di Mansion, mana boleh aku keluar menggunakan baju terbuka!"


Setelah puas memandangi dirinya di cermin dan mencium wangi kemeja yang di pakainya, Yocelyn langsung kembali ke kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidurnya.


"Selamat tidur, Devan!" gumam Yocelyn menatap langit - langit kamarnya.


Tak butuh waktu lama bagi Yocelyn untuk terlelap.




Selamat membaca Part ini. Semoga suka dengan jalan ceritanya.


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya.



Terima kasih,



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2