Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Hamil Lagi


__ADS_3

Dua minggu setelah membawa Devan dan Yocelyn ke makam istrinya. Hari ini Devan membawa Little Charla untuk bermain ke mansion Devan. Sekaligus berpamitan untuk kembali ke Swiss.


"Little Charla, main sama Ivander yuk?" ajak Yocelyn mencoba mengambil Little Charla dari gendongan baby sitter nya.


"Aaaa yayaya" ocehan Little Charla yang tidak jelas membuat Yocelyn gemas.


Namun akhirnya Little Charla berhasil di gendong oleh Yocelyn dan mengajaknya bermain di ruang bermain milik Ivander yang cukup luas dan lengkap.


Little Charla duduk dengan Yocelyn yang ikut duduk di belakangnya. Little Charla begitu senang dan antusias memperhatikan baby Ivander yang berjalan ke sana kemari dengan berbagai permainan yang ia miliki.


Meskipun jalannya masih sedikit goyang, tapi baby Ivander tidak mudah menangis dan tidak mudah menyerah.


Sedangkan di ruang tamu Devan dan Darren masih asyik mengobrol. Tentu saja obrolan para pria yang menjadi seorang pebisnis handal. Opa pun tak luput ikut generasi muda berbincang soal bisnis.


Sebagai senior, beliau memberi masukan kepada keduanya dalam menjalankan bisnis dengan banyak kaki.


Devan sudah biasa mendengarkan ceramah dan cerita Opanya. Sehingga dia bersikap biasa saja.


Berbeda dengan Darren, dia tampak sangat antusias dan mendengarkan dengan seksama pengalaman bisnis seorang Felix Gibran. Pendiri perusahaan raksasa, FG corp.


"Jika memungkinkan, suatu saat saya akan memboyong Little Charla untuk menetap di sini. Supaya dia lebih dekat dengan mendiang ibunya. Dan tidak melupakan siapa ibunya."


"Bagus itu, nak! meskipun ibunya sudah meninggal, anak kalian perlu tau siapa ibunya!" jawab Opa.


"Setuju!" sahut Devan.


Sesi berpamitan itu, di tutup dengan makan siang di ruang makan utama. Ruang makan yang di tujukan untuk menyambut tamu di mansion itu. Ada sekitar 50 kursi yang mengelilingi satu meja lonjong berukuran besar itu.


Mereka makan bersama di selingi obrolan santai, terutama tentang masa depan anak - anak mereka.


Opa dan Oma merasa senang Devan bisa berdamai bahkan menawarkan kerja sama dengan suami Charla. Tentu saja Opa dan Oma tau siapa Charla.


# # # # # #


🍄 Tiga bulan kemudian . . .


Seperti biasa, setelah bangun pagi Yocelyn akan membantu pelayan di dapur. Membuat makanan sehat khusus untuk baby Ivander. Dan secangkir kopi untuk Devan.


Yocelyn tengah memotong brokoli dan wortel saat ini. Kemudian memasak ayam di dalam wadah panci. Saat air berisi ayam itu mendidih mendak rasa mual di perut Yocelyn membuncah.


"Ugh!" Yocelyn menutup mulutnya dengan tangan kirinya.


Setelah tidak mampu menahan rasa mualnya, Yocelyn berlari ke toilet yang berada di dekat dapur.


"Huek!"


"Huek!"


"Nona!" seru Kepala Pelayan yang mengikuti Yocelyn ke toilet.


"Huek!"


"Nona kenapa, Nona?" Kepala pelayan itu panik dan membantu memijat leher bagian belakang Nona nya.


"Huek!"

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Yocelyn sudah membaik. Kepala pelayan membantunya untuk duduk di kursi meja makan yang berada di dapur.


"Saya ambilkan minyak angin ya, Nona? mungkin Nona muda masuk angin?"


"Jangan! aku tidak mau bau minyak angin!" jawab Yocelyn dengan wajah yang pucat.


"Say panggilkan Tuan sebentar, Nona!"


"Tidak perlu!" ucap Yocelyn.


Tapi kepala pelayan itu tidak menggubris ucapan Yocelyn. Melihat wajah Yocelyn yang pucat membuatnya panik. Begitu juga beberapa pelayan lainnya yang berada di sana.


Devan yang masih terlelap bersama Ivander di kamarnya, segera membuka matanya dengan malas. Saat mendengar pintu yang di ketuk beberapa kali. Dan terdengar suara seorang perempuan yang dia kenal sebagai kepala pelayan mansion.


"Masuk!" teriak Devan dengan mata yang malas untuk terbuka.


"Tuan, Nona muda muntah - muntah di dapur, Tuan!" ucapnya panik.


"Hah!" seketika Devan terduduk dan membuka matanya lebar.


Tanpa menoleh Ivander, Devan langsung bergegas meninggalkan kamarnya. Menekan tombol lift dan melesat sampai dimana sekarang Yocelyn sudah berpindah berbaring di safa ruang tengah.


Di sana sudah ada Oma yang duduk di sofa samping Yocelyn. Dan beberapa pelayan yang siaga di sekitar Yocelyn.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Devan panik.


"Kepala ku tiba - tiba pusing. Dan seketika itu perutku mual!"


"Panggil dokter!" perintah Devan pada kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari sofa.


Sesi tunggu - menunggu dokter telah berakhir. Karena dokter keluarga tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai di mansion itu. Dan Yocelyn pun sudah di pindah ke ruang kesehatan.


"Seperti Tuan muda Devan akan mendapat yang kedua!" ucap dokter itu.


"Apa maksudmu?" tanya Devan pada dokter yang mana teman SMA nya dulu.


"Dugaan saya Nona Yocelyn tengah hamil anak kedua!" ucapnya. "Tapi untuk pastinya lebih baik ke dokter kandungan!"


"Kau tidak mengarang cerita kan?" hardik Devan.


"Brother, aku ini dokter umum! bukan dokter kandungan! yang bisa memberi kepastian benar tidaknya itu dokter kandungan! jika berdasarkan aku ini hanya sebatas dugaan. Karena 80% mengarah ke sana!" jelas dokter itu.


"Baiklah, pergilah!" usir Devan tanpa rasa bersalah.


"Astaga! kau mengusir seorang dokter!" celetuknya.


"Kalaupun kau dokter, tetap saja hanya akan di panggil saat kami membutuhkan dokter seperti mu! karena kau dokter yang tidak bisa memberi kepastian untuk istriku, jadi untuk apa lagi! pergilah! aku mau ganti panggil dokter kandungan!"


"Tch! dasar Tuan muda lucknut!" umpat dokter itu lirih.


"Aku mendengarnya!" sahut Devan.


"Heheh, sorry Tuan muda!" ucap dokter itu.


Dokter itupun berlalu dari mansion. Tak lama kemudian barulah dokter kandungan datang.

__ADS_1


"Benar Tuan, Nona sedang hamil!" ucap sang dokter.


Nafas lega Devan berhembus bersamaan dengan wajah sumringah yang terpancar dari wajah Yocelyn.


"Kapan terakhir Nona datang bulan?"


"Datang bulan?" Yocelyn mengerutkan keningnya. "Ya Tuhan aku lupa, kapan terakhir datang bulan. Sudah lama aku tidak datang bulan!" jawab Yocelyn.


Dokter itu tersenyum kecil. "Jika memiliki waktu, sebaiknya Nona datang ke rumah sakit. Sekaligus kita lakukan USG!"


"Baik, dok!" jawab Yocelyn.


Kini Devan, Yocelyn dan Ivander sudah berada di kamar mereka. Seperti saat kehamilan Ivander, Devan begitu over protektif pada istrinya.


Mereka tengah berbincang dengan Ivander tentang seorang adik bayi. Meskipun Ivander belum sepenuhnya mengerti, tapi setiap jawaban yang keluar dadi bibir mungilnya selalu membuat kedua orang tuanya terkekeh. Seolah - olah dia tau tugas seorang kakak kepada sang adik.


"Ivander mau adik cowok apa cewek?" tanya Devan.


"Towok tewek!" jawab Ivander.


"Mau dua?"


"Iya, dua!" jawab Ivander.


"Kenapa?"


"Bial banyak! bial tepat main Ianderl (Ivander) penuh."


Cara bicara yang sungguh menggemaskan di telinga setiap orang tua.


Devan terkekeh, "coba bilang Mommy, Mommy Ivander mau adik lima!" Devan berbisik pada Ivander supaya bilang pada sang Mommy.


"Mommy, Ianderl mau adik yima!"


"Hahaha!" Devan terkekeh mendengar ucapan Ivander yang sesuai harapan.


Sementara Yocelyn menyebikkan bibirnya melirik tajam sang suami.


"Kalau Daddy mau bantuin hamil sih Mommy mau!" sahut Yocelyn.


"Aku kan nggak punya rahim, Sayang!"


"Emang aku kucing, beranak banyak makin enak!"


"Heheh!"


Keluarga Devan dan Yocelyn pun semakin lengkap dan bahagia mendapati akan hadirnya kembali buah hati.


Meski begitu, mereka tak lupa mengunjungi dimana calon anak pertama mereka di makamkan.


🪴🪴🪴


Selamat atas kehamilannya kembali Yocelyn Charlotte Anderson (Mrs. Gibran).


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2