
🍄 Pagi telah tiba . . .
Si tampan Ivander tengah mempersiapkan dirinya untuk melaksanakan Ospek tahun ini. Sebagai pengganti Arga tahun lalu, kini dia menjabat sebagai wakil ketua panitia Ospek.
Ivander berdiri menghadap ratusan Maba yang sudah memakai atribut Ospek. Dengan memasang wajah garang, Ivander menatap tajam seluruh Maba yang tampak mulai merinding.
Tatapan tajam Ivander, seperti tatapan harimau yang mengunci mangsanya. Jika lengah maka akan di terkam tanpa ampun.
"Mengerikan!" gumam salah satu Maba yang berharap jangan sampai tatapan mata mereka bertemu. "Bisa habis kepalaku!" lanjutnya membayangkan lebih jauh lagi.
"Ssst!" celetuk Maba di sampingnya yang memperingatkan gadis itu agar tidak bergumam sembarangan.
"Hem!" jawab gadis itu.
Eh, sepertinya kakak pembina berambut coklat bergelombang itu pacarnya? nempel terus sama si harimau itu! apa nggak takut di telan bulat - bulat.
Gadis Maba itu menelan ludahnya dengan sangat susah.
Suasana peserta Ospek kembali sunyi. Hanya terdengar suara para kakak pembina yang bergantian bicara dengan lantang dan tegas.
Setelah berbagai kegiatan Ospek usai. Saat ini semua peserta Ospe tengah beristirahat siang. Seluruh peserta hanya boleh menyelesaikan makan siang mereka di lapangan.
Dan hanya panitia Ospek saja yang boleh minggir ke koridor. Entah apa tujuannya. Tapi itulah rangkaian dari kegiatan Ospek tahun ini.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Ivander berdiri di tepi koridor. Menatap seluruh peserta Ospek yang tampak masih asyik makan sambil berkenalan dengan Maba lainnya.
Ivander berdiri tegap dengan lembaran kertas berisi nama seluruh peserta Maba di tangannya.
Setelah cukup puas memandangi para Maba yang seharusnya seangkatan dengannya itu, dia memutar tubuhnya hendak kembali ke ruang panitia.
Brukk!
Seorang peserta beratribut Maba yang tengah berlari, menabraknya dengan kencang.
"Maaf kak! maaf kak! maaf kak! saya sudah tidak tahan!" ucap gadis itu menunduk dalam tanpa berani melihat siapa yang dia tabrak.
"Mau kemana kamu?" tanya Ivander dingin.
Mengenali suara siapa yang dia tabrak, gadis itu membeku. Rasanya dia mau mati saja kali ini.
"Ke.. ke toilet, kak." jawabnya kemudian dengan tergagap.
Ivander melihat sekeliling yang tampak tidak ada panitia lain selain dirinya. Dan tak ada Maba yang berada di sekitarnya.
"Pergilah!" jawab Ivander santai.
Spontan gadis yang beruntung itu mendongak dengan senyum yang melebar.
"Terima kasih, Kak!" ucapnya sembari berlari melewati Ivander yang menatapnya.
Bukannya pergi, Ivander justru mematung di sana. Menyandarkan punggungnya pada tiang beton yang besar itu. Menatap lurus ke depan yang memperlihatkan sebuah Mading.
__ADS_1
Tap tap tap!
Suara langkah sepatu dari arah toilet terdengar di telinganya. Ivander tak bergeming.
"Permisi kak!" ucap gadis itu hendak melewati Ivander.
"Berhenti!" ucap Ivander.
Spontan langkah kaki gadis itu terhenti. Tubuhnya membeku, matanya membulat, menggambarkan rasa takut.
Matilah aku!
Batin gadis itu.
Dengan pelan - pelan gadis itu menoleh pada Ivander yang masih bersandar di tiang beton. Keraguan menyergap tubuhnya. Mata Ivander memang tidak tertuju padanya, tapi raut wajahnya yang dingin tampak seperti ingin mengunyah dirinya hidup - hidup.
"Ada apa ya kak?" tanya gadis itu takut - takut.
Ivander menoleh gadis yang memakai seragam sekolah berwarna putih lengan panjang berdasi pita, dan rok setengah paha berwarna navy bergaris itu.
"Dari mana kau berasal?" tanya Ivander.
"London, kak!" jawab gadis itu.
Ivander mengerutkan keningnya, menatap gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan kembali naik dan berhenti di bagian dada.
Melihat Ivander yang menatap dadanya cukup lama, spontan gadis itu menutup dadanya dengan kedua tangannya.
Bukannya takut, Ivander justru menyungging senyuman sinis. Menatap misterius pada gadis itu.
"Kecil? aku harap kau tidak mempermalukan London!" bisik Ivander sembari melewati gadis itu.
Seketika gadis setinggi 170 cm itu membuka mulutnya lebar. Tidak menyangka kakak pembinanya akan mengejek dadanya kecil.
"Hey kakak pembina yang terhormat!" teriak gadis itu menghentikan langkan Ivander.
Ivander berhenti, namun dia tidak menoleh ke arah gadis itu. Tatapannya tetap lurus ke depan.
Sedangkan gadis berambut pirang itu berjalan mendekati Ivander dan berdiri tegap di depan Ivander dengan tatapan tiada takut pada Ivander.
"Hai kakak pembina yang terhormat! apa pantas seolah wakil ketua Ospek mengatakan hal yang tidak senonoh pada peserta Ospek!" hardik gadis itu berapi - api. "Apa dada yang kecil mempermalukan kota London!" teriak gadis itu tepat di depan wajah Ivander.
Ivander mengerutkan keningnya menatap heran pada gadis itu.
"Aku bisa melaporkan ucapan kakak ya!"
"Melaporkan?" tanya Ivander, "melaporkan pada siapa? hari ini kedudukan ku tertinggi di sini! kecil!" lanjut Ivander dengan senyum sinis. Kemudian kembali melangkah meninggalkan gadis yang bingung harus bagaimana untuk mengancam dirinya.
"Awas kamu ya! kakak pembina menyebalkan, sok ganteng! sok keren! sok pintar! dan sok sok sok lainnya!" gumam gadis itu menghentakkan kakinya kesal, tapi sialnya masih terdengar oleh Ivander.
"Kembalilah pada barisan mu! jika terlambat aku akan menghukum mu berlari lapangan sebanyak waktu yang kau buang untuk mengumpat ku!" ucap Ivander tanpa menoleh gadis itu.
__ADS_1
"Haa!" gadis itu membulatkan mulutnya dan segera berlari ke arah lapangan dengan menahan kesal. Dia kembali bergabung dengan tim nya dengan bibir yang mengerucut.
Awas saja kau pembina mesum!
Gerutu gadis itu dalam hati menatap jauh Ivander yang berada di koridor. laki - laki itu tengah mempersiapkan sesuatu untuk kegiatan selanjutnya.
Gadis itu menunduk, melihat dadanya yang memang terlihat kecil, bahkan nyaris datar.
Memangnya harus sebesar apa?
Ucapnya dalam hati.
Gadis itu melamun menatap dadanya itu, sampai tak di sadari semua sudah dalam posisi siap di tengah lapangan. Sementara dia masih duduk bersila di tepian.
"Hey kecil!" ucap seseorang yang berdiri di depannya.
Gadis Maba itu melihat sepasang kaki yang di balut sepatu mahal. Secara perlahan mendongak keatas, ingin tau siapa pemilik kaki itu. Sampai akhirnya tatapan mereka bertemu.
Deg!
Pembina mesum!
Umpat gadis itu dalam hati kecilnya.
"Semua sudah siap, dan kau masih santai - santai di sini. Apa pantat mu lengket!" hardik Ivander.
"Hah!" gadis malang itu melihat semua sudah berbaris rapi di tengah lapangan. "Maaf kak!" ucapnya sembari berdiri.
"Hitungan ketiga belum masuk barisan, keliling koridor 5 kali!" ucap Ivander tegas.
"Ha!" gadis itu membulatkan bibirnya. "Dasar mesum!" umpatnya lirih sembari berlari ke tengah lapangan. Berkumpul dengan teman - teman nya yang sudah di bimbing oleh teman - teman Ivander lainnya.
Ivander sendiri kali ini berdiri di belakang barisan. Memastikan peserta Ospek tidak ada yang menyeleweng.
Ivander menatap data para peserta Ospek. Dan mencari nama gadis yang barusan terlambat. Sampai akhirnya dia menemukan nama gadis itu.
Fakultas Seni Rupa dan Desain!
Ivander membaca dalam hati program studi yang di ambil gadis itu.
Dia bilang, dia berasal dari London. Tapi asal sekolahnya bukan di London.
Ivander menatap punggung gadis yang sebenarnya dari awal sudah menarik perhatiannya itu.
.
.
🪴🪴🪴
Eh, eh, eh! kakak reader, nggak keberatan kan kalau novel ini berlanjut sampai kisah sang anak? heheh 🙏😁
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹