Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Jet Lag atau Apa?


__ADS_3

Setelah acara makan malam di salah satu restauran, Yocelyn dan Devan kembali ke kamar hotel mereka.


Seketika Yocelyn menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur yang empuk itu. Dia bahkan masih memakai sepatu dan syal couple yang tadi dia beli.


Devan yang juga masih memakai syal itu, menyusul duduk di samping tubuh istrinya. Menatap wajah lelah istrinya yang menutup matanya, tapi tidak tertidur.


Kamu pasti lelah, semalam melayani ku, kemudian seharian ini berjalan kaki!


Ucap Devan dalam hati, dengan senyuman tipis.


Dengan gerakan pelan Devan meraih kaki istrinya dan melepas sepatunya. Reflek Yocelyn membuka matanya.


"Sayang, biar aku lepas sendiri!" Yocelyn berusaha bangkit dari tidurannya tapi Devan menahannya.


"Biarkan aku saja"


Devan melepas sepatu istrinya itu dengan pelan, dan jelas terlihat kaki istrinya yang kelelahan. Kemudian Devan memijatnya dengan tekanan yang cukup untuk seorang wanita.


"Sayang, aku tidak perlu di pijit!" ucap Yocelyn.


"Kamu pasti lelah kan? seharian kaki ini berkeliling kota Paris."


"Hehe! tapi aku sangat bahagia hari ini!" ucap Yocelyn dengan mata berbinar. "Terima kasih ya, Sayang!" ucap Yocelyn.


"Jangan terlalu sering berterima kasih padaku" ucap Devan masih terus memijit kaki istrinya.


"Kamu juga pasti lelah kan?"


"Tidak juga"


"Masa?"


"Iya, Sayang! lelah ku itu hanya sebentar. Saat melihat bibirmu tersenyum, wajah mu memancarkan kebahagiaan,maka lelah ku akan hilang begitu saja!"


"Gombal deh" Yocelyn tersenyum tipis mendengar ucapan suaminya.


"Emang sih gombalin kamu, tapi itu serius Sayang!" ucap Devan melirik Yocelyn yang bersandar di kepala tempat tidur.


"Hehe!" Yocelyn tersenyum kikuk.


Sebenarnya dalam hati, Yocelyn sangat bahagia dan bangga memiliki Devan yang selalu memperlakukannya seperti ratu.


Menjadi istri Devan, benar - benar bak hidup di negeri dongeng. Devan yang sangat menyayanginya, memperhatikan dengan detail yang berhubungan dengannya.


Devan juga memberikan kartu belanja tanpa batas. Tapi bagi Yocelyn yang memang sudah terlahir di keluarga berdarah biru, sama sekali tidak gelap mata dengan kartu itu.


Beberapa saat kemudian, Yocelyn merasa kakinya lebih ringan. Sehingga meminta Devan untuk berhenti memijatnya.


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam waktu Paris. Yocelyn bebersih di kamar mandi, seraya mengganti bajunya dengan seragam dinasnya.


Lagi - lagi Devan selalu terpancing setiap melihat istrinya dengan pakaian seperti itu. Segera saja Devan menghampiri istrinya yang masih melepas ikat rambutnya di depan meja rias juga membersihkan wajahnya dari sisa make up.


Berjongkok sedikit dan melingkarkan tangan kekar dan putihnya ke perut ramping istrinya yang tengah duduk. Mendaratkan kecupan beberapa kali di pundak yang terbuka, sembari menatap pantulan mereka di cermin meja rias.


Yocelyn tersenyum tipis melihat wajah tampan suaminya. Setelah selesai dengan wajahnya, Yocelyn berdiri bersamaan dengan yang melonggarkan tangannya.


Yocelyn keluar dari kursi dan langsung berdiri menghadap Devan, melingkarkan tangan di leher suaminya. Dan langsung di balas dengan pelukan di pinggang istrinya itu. Dengan posesif menariknya hingga menempel sempurna pada tubuhnya.


"Mau?" tanya Devan langsung pada keinginannya.


"Apa?" tanya Yocelyn mengerutkan keningnya, berpura - pura tidak tau.


"Hemm... jangan pura - pura tidak tau ya, Sayaang" ucap Devan dengan senyuman licik. Lalu menciumi tengkuk leher Yocelyn sampai ke pundak yang hanya tertutup tali kecil itu.


Yocelyn terkekeh geli dengan ulah suaminya. Dan lagi - lagi Devan berhasil membawa istrinya untuk melayang - layang di atas awan, melintasi cakrawala.

__ADS_1


# # # # # #


Lima hari kemudian, Devan dan Yocelyn memutuskan untuk kembali ke London. Setelah mengelilingi kota Paris dan berbagai tempat wisata yang di tawarkan di kota berjuluk The City of Love itu.


Yocelyn yang biasanya baik - baik saja mendadak jet lag. Hingga malam tiba Yocelyn masih terbaring di tempat tidurnya di apartemen.


Hingga Erina dan pelayan pun ikut tidak bisa tidur malam ini. Mereka harus stand by bergantian, jika sewaktu - waktu Tuan nya memerintahkan sesuatu.


Devan dengan sabar merawat Yocelyn yang enggan untuk bangun. Dia senantiasa berbaring di samping istrinya. Yocelyn benar - benar lemas, pusing dan merasa sangat tidak nyaman.


"Sayang, makan mangga muda sepertinya enak!" ucap Yocelyn lemah. "Mulutku benar - benar tidak nyaman!" ucap Yocelyn.


"Mangga muda?" tanya Devan mengerutkan keningnya. "Di apartemen mana ada mangga, Sayang?"


"Aku tidak mau tau!" ucap Yocelyn sembari menutupi tubuhnya dengan selimut tebal sampai kepala. Karena dia sungguh malas untuk sekedar bicara panjang lebar. Apalagi adanya bantahan.


Devan menghela nafasnya, "Baiklah, aku akan minta tolong Christ untuk mencarinya" ucap Devan selembut mungkin.


"Cepetan" rengek Yocelyn manja tanpa membuka selimut tebalnya.


"Buka dulu dong selimutnya" rayu Devan mengusap pundak yang tertutup selimut tebal itu.


"Nggak!" jawab Yocelyn cuek.


Devan kembali menghela nafas, kemudian langsung meraih ponselnya di atas nakas dan menghubungi tujuan terakhirnya saat kesulitan melanda.


"Tuan, apa tidak ada perintah yang lain?" jawab Christ dari sebrang.


"Turuti perintah ku, Christ! kau sudah bosan bekerja?" tanya Devan santai tapi dengan nada yang cukup horor di telinga Christ.


"Baiklah, Tuan! saya akan mencarinya!" jawab Christ cepat.


"Hemm!" jawab Devan sembari mengakhiri panggilannya.


"Tunggu ya, Sayang. Sebentar lagi Christ pasti datang bawa mangga." Ucap Devan dengan mengusap puncak kepala Yocelyn. "Buka dong" bujuk Devan.


Happ!


Yocelyn membuka selimut tebalnya dan langsung menatap Devan dengan senyuman tipis dengan wajah yang masih sedikit pucat.


"Gitu dong" ucap Devan mencium singkat kening Yocelyn. "Kamu ini jet lag atau apa sih? biasanya nggak pernah seperti ini."


"Kamu nggak mau aku repotin?"


"Bukan begitu, Sayaang. Aku hanya tidak tenang jika kamu sakit!"


"Maaf!" ucap Yocelyn singkat dan lirih.


# # # # # #


Dua jam kemudian, Christ mengetuk pintu apartemen Devan dengan sekantong mangga di tangannya. Dengan wajah muram, dan rambut apa adanya, disertai baju yang biasa dia pakai untuk tidur.


"Tuan Christ!" pekik Erina saat membuka pintu.


Oh my God! ternyata dia sangat tampan kalau sedang berantakan begitu.


Ucap Erina dalam hati.


"Ini pesanan Tuan Devan!" ucap Christ sedikit ketus dengan menyodorkan kantong itu.


"Oh! terima kasih, Tuan" ucap Erina dengan senyuman misterius. "Tuan Christ tidak mampir dulu?" tawar Erina. "Erina buatkan kopi" lanjut Erina masih dengan senyuman kagum.


"Tidak usah!" jawab Christ dengan mata menahan kantuk.


"Oh!" Erina mengangguk.

__ADS_1


"Aku balik dulu!" pamit Christ.


"Iya, Tuan" jawab Erina.


Christ berbalik dan melangkah menuju lift. Dimana Erina masih betah menatap punggung tegap itu.


Christ masuk ke dalam lift dan berbalik sembari menekan tombol menuju lantai dasar. Saat menatap lurus ke depan dia mendapati Erina masih menatapnya dengan senyuman manis.


Apa yang di lakukan gadis itu? cantik juga tanpa make up seperti itu.


Ucap Christ dalam hati.


# # # # # #


Tok tok tok!


"Tuan, pesanan Tuan sudah datang!" ucap Erina.


Devan berjalan sembari membuka pintu, Yocelyn dan Devan sama - sama belum bisa memejamkan mata malam ini.


"Sayang, mau di apakan mangga muda ini?" tanya Devan di ambang pintu.


"Di makan pakai garam!" jawab Yocelyn.


"Hah!" pekik Devan dan Erina bersamaan.


Bersamaan dengan itu keduanya menelan ludah dengan sangat susah. Bagaimana tidak, bayangan mereka betapa masamnya memakan mangga muda hanya dengan garam saja.


"Ayo, cepat!" rengek Yocelyn.


"Lakukan sesuai perintah!" ucap Devan pada Erina.


"Baik, Tuan" jawab Erina mengangguk.


Erina membawa mangga muda itu kepada pelayan, dan menyampaikan keheranan yang baru saja dia lihat.


"Apa mungkin Nona muda hamil lagi?" tanya pelayan itu.


"Hamil?" pekik Erina.


"Mungkin saja!" jawab pelayan. "Sebaiknya kamu bertanya juga pada Tuan muda! mungkin Tuan muda tidak menyadari itu!"


"Iya juga ya!"


.


.


.




**Kira - kira beneran hamil nggak nih**?


**Komen ya kakak 😁**



**Happy reading 🌹🌹🌹**



**Jangan lupa berikan Author receh ini kenangan berupa Like dan Komentarnya ya kakak 🙏**

__ADS_1


__ADS_2