
Ivander duduk di kursi yang dia pilih. Kehadirannya di kelas itu, mencuri perhatian banyak mata. Tapi wajah cuek yang dia tunjukkan membuat nyali mahasiswi yang belum mengenalnya akan menciut.
Beberapa saat kemudian, acara Ospek di mulai. Ivander dan seluruh Maba berkumpul di lapangan kampus.
Para kakak pembina sudah berdiri tegap di depan barisan Maba. Menghadap para Maba yang tangannya sudah terkunci di punggung masing - masing.
"Dengarkan semua!" teriak Arga yang merupakan wakil ketua panitia Ospek.
Teriakan itu mengawali kegiatan Ospek hari ini. Dan itu berlanjut sampai senja tiba.
Sampai semua Mahasiswa kini merasa lelah. Mereka duduk di lapangan. Tentu saja tanpa alas.
Tim konsumsi membagikan jatah makanan yang sudah di siapkan untuk seluruh Maba.
"Ivander?" sapa gadis yang tak asing bagi Ivander. "Aku duduk di sini ya?" tanya nya.
"Terserah!" jawab Ivander cuek pada gadis yang berseragam sama dengannya itu.
"Thanks!" ucap gadis itu dengan senyuman manis sembari duduk dengan membawa kotak makanan miliknya.
Gadis itu merasa bangga, karena dia menjadi satu - satunya mahasiswi yang mengenal Ivander. Apalagi Ivander menjadi pusat perhatian, tentu saja dia kecipratan tenar. Lumayan sekalian pansos di kampus batinnya.
Dan memang benar banyak mahasiswi baru maupun lama yang memperhatikan mereka berdua.
Ivander memulai memakan makanan penutup hari ini dengan lahap, tanpa berkata sepatah kata pun pada gadis cantik di sampingnya.
Gadis cantik yang berharap di ajak bicara, atau di tawari pulang bersama. Atau mungkin juga di perkenalkan sebagai teman. Namun hasilnya nihil.
Ivander bahkan seolah tak mengenalku!
Batin gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Eh, siapa namamu?" tanya Ivander tanpa menoleh nya.
Spontan mata gadis itu membuka lebar menoleh Ivander. Sungguh tak menyangka dia akan di ajak bicara.
"Lea!" ucap gadis itu cepat, dengan sedikit bergetar saking shock nya. "Haha, masak dulu satu kelas lupa sih!" lanjutnya sok akrab.
"Emm.. sorry Lea, aku mau menemui sepupu ku dulu!" Ivander berdiri setelah makanannya hampir habis.
"Tapi Ivander!" celetuk Lea.
Ivander sidah tidak peduli, dia segera membuang kotak makannya dan beranjak dari lapangan.
Memasuki lorong dan menghampiri Arga dan Queenara yang tengah menyelesaikan makanan mereka di salah satu sisi kampus.
"Eh, King of the year datang nih!" ucap Queenara dengan senyuman menggoda Ivander.
"Diam! bosan sekali rasanya!"
"Eittz! aku aja bangga jadi sepupu mu! kok bosan sih?" sahut Arga.
Ivander duduk di samping Arga dan menyandarkan punggungnya di kursi. Dan saat itu juga beberapa kakak pembina mencuri - curi pandang pada keberadaan Ivander.
"Junior, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Fay, salah satu tim pembina.
__ADS_1
"Bosan, di lapangan jadi tontonan!"
"Eh, itu bukan tontonan! itu karena kamu menarik perhatian!" sahut Queenara.
"Iya betul! itu karena kamu paling menonjol boy!" ucap Fay.
# # # # # #
🍄 Satu tahun berlalu . . .
Setelah kegiatan Ospek kala itu berakhir, Ivander berminat untuk menjadi tim panitia Ospek.
Selama setahun ini Ivander menempuh pendidikan dengan sangat baik. Dia selalu meraih nilai yang memuaskan.
Sepertinya sifat casanova sang Daddy di masa muda tidak menurun padanya. Terbukti sampai detik ini dia bahkan belum pernah jatuh cinta ataupun menjalin hubungan.
Libur semester untuknya telah berakhir. Dia kembali meninggalkan mansion untuk pergi ke kampusnya.
"Kak, Jesselyn masih kangen juga!" ucap Jesselyn yang menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur Ivander. "Kakak kan harusnya masih libur!"
"Kakak harus mengurus Ospek para Maba, Jess!" jawab Devan sembari menyisir rapi rambutnya.
"Besok Jesselyn pulang sekolah sudah tidak ada kakak!"
"Kan ada Mommy dan Daddy!"
"Kalau tidak ada kakak tetep aja sepi!" Jesselyn memiringkan tubuhnya membelakangi Ivander, menghadap nakas yang mana terdapat sebuah foto saat mereka masih duduk di bangku setingkat SD.
Setelah memastikan penampilan sesuai harapan, Ivander duduk di tempat tidur sebrang Jesselyn berbaring membelakanginya.
Menjatuhkan tubuhnya di belakang Jesselyn menghadap Jesselyn yang memanyunkan bibirnya.
"Kenapa sih, kalian semua harus kuliah di sana? London juga banyak kampus yang bagus!"
"Karena tradisi baby Jesselyn!" jawab Ivander gemas mencubit pipi adik satu - satunya itu.
"Eh, aku udah bukan baby ya!" celetuk Jesselyn.
"Tetep aja kalau ngambek kayak baby!"
"Kakak!" Jesselyn memutar tubuhnya menghadap Ivander yang terkekeh.
"Rasain ini!" Jesselyn bangkit dari tempat tidur dan terkekeh melihat sang kakak yang naik darah.
"Ah! Jesselyn!" teriak Ivander, karena rambut yang baru saja di tata rapi di acak - acak oleh Jesselyn.
"Hahaha!"
"Awas kamu ya!" Ivander beranjak dan hendak mengejar Jesselyn yang berlari ke arah pintu. Tapi seketika Ivander menghentikan langkahnya. "Dasar bayi!" umpat Ivander.
Ivander kembali ke meja rias yang ada di kamarnya. Kembali merapikan rambutnya yang acak - acakan.
"Kalau jauh bikin kangen, kalau deket resek!" gerutu Ivander pada sang adik yang sudah keluar entah kemana.
Ivander memakai jaket jeans nya, kemudian mengambil tas punggung berukuran sedang. Dan membawanya keluar kamar.
__ADS_1
"Kak, sudah siap?" tanya Mommy Yocelyn.
"Sudah Mom!" jawab Ivander.
"Ayo berangkat!" sahut Daddy Devan, yang kini sudah menginjak kepala lima itu.
"Iya!" jawab Ivander. "Dimana Jesselyn, Dad?"
"Di mobil!" jawab Daddy Devan.
Mobil limousine keluaran terbaru itu membawa mereka meninggalkan mansion. Dad & Mom selalu mengantar sang putra setiap kembali ke Oxford.
# # # # # #
Mereka sampai di apartemen Ivander saat hari menjelang malam. Lantai apartemen itu masih sepi. Hanya apartemen Ivander yang terisi. Karena para sepupu menghabiskan hari libur mereka di Indonesia.
"Kak, ingat ya? untuk jadi pembina yang baik dan tegas. Jangan seenaknya dengan para junior!" tutur Devan.
"Iya, Dad!" jawab Ivander. "Oh ya, Dad! Ivander baru ingat!" beranjak menuju ruang belajarnya.
"Apa?" tanya Daddy Devan dengan mata yang mengikuti pergerakan putranya.
Ivander keluar dari ruang belajar dengan membawa selembar foto di tangannya.
"Perempuan yang bersama Daddy, Dad Alex, Uncle Rakha, juga Uncle Alfred dan Uncle Zayn itu siapa, Dad?" tanya Ivander sembari menyerahkan sebuah foto pada Devan. Spontan Yocelyn dan Jesselyn ikut nimbrung melihat foto apa yang di berikan Ivander.
Devan dan Yocelyn sedikit membeku menatap foto yang kini ada di tangan Devan. Yocelyn menatap wajah suaminya. Dan mata mereka bertemu. Yocelyn memberi kode untuk bercerita.
"Namanya Charla Caroline!" jawab Devan. "Dia salah satu teman terbaik kami!" jelas Devan tanpa melihat sang putra.
"Charla Caroline?"
"Iya!" jawab Devan, dengan menatap foto yang berisi enam orang. Dan Charla satu - satunya perempuan di foto itu.
"Dimana dia sekarang?"
"Diaa... sudah meninggal!" jawab Devan lirih.
Ivander dan Jesselyn sedikit membuka mulutnya karena shock.
"Darimana kakak dapat foto ini?" tanya Mama.
"Saat mempelajari sejarah kampus di perpustakaan lama, aku mencoba mencari - cari peninggalan di zaman Daddy kuliah. Karena pihak kampus tau Ivander anak Daddy, jadi mereka mengizinkan untuk Ivander membawa foto itu!" jawab Ivander.
Devan mengangguk. "Kembalikan saja, kak!"
"Tapi Ivander masih kepo tentang masa muda Daddy. Karena sebagian dosen senior bilang, Ivander berbeda dengan Daddy!"
"Hah!" semua mengerutkan keningnya.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
**Heemm... Masa muda Daddy Devan tidak baik untuk di tiru ya Kakak Ivander! Love you 😘
Happy reading 🌹🌹🌹**