Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Tertangkap Basah!


__ADS_3

Jam tiga pagi, barulah Ivander menyelesaikan membaca buku diary Charla. Rasa ngantuk sudah menyerang matanya sejak satu jam yang lalu. Tapi rasa penasaran kisah kekasihnya mengalahkan rasa kantuk itu.


Akhirnya ia kembali mengunci diary itu setelah puas memandangi foto orang tua mereka, yang ia juga miliki di apartemen.


Sedikit banyak ia mulai bisa menyimpulkan, jika Mommy Charla pernah mencintai Daddy nya. Namun Daddy nya lebih memilih menikahi Mommy Yocelyn.


Ivander membaringkan tubuhnya di samping Charla. Dengan ikut masuk ke dalam selimut tebal Charla. Mencari kehangatan dari tubuh kekasihnya itu.


***


Jam setengah enam pagi, suara alarm membuat mata Charla mengerjap malas. Ia menggeliat hendak meraih ponselnya yang berada di atas nakas tanpa membuka mata.


Setelah mematikan alarm, Charla merasa ada sesuatu yang membelit perutnya. Dengan malas Charla segera membuka matanya dan ...


"Aakh!" teriak Charla, tersentak kaget melihat Ivander yang terlelap di sampingnya. "Kak! apa yang kamu lakukan di sini?"


Ivander tak bergeming, dia masih tampak tertidur dengan pulas.


"Kak!" panggil Charla menepuk pipi Ivander.


"Emm?" jawab Ivander tanpa membuka mata.


"Sejak kapan Kamu di sini, Kak?" tanya Charla yang masih shock dengan keberadaan Ivander.


"Semalam, sayang." jawab Ivander malas tanpa membuka mata. Ia masih nyaman memeluk tubuh kekasihnya. "Hari ini kan hari libur, tidak perlu bangun pagi! tidur saja." ucap Ivander menarik tubuh Charla ke dalam dekapannya tanpa membuka mata.


"Tapi kak, kalau ada yang lihat bagaimana?" tanya Charla.


"Memangnya siapa yang akan lihat kita? aku masih ngantuk baby." tanya Ivander sembari mencium puncak kepala Charla yang berada di bawah dagunya.


"Ya mungkin saja!"


"Hanya aku kan yang kamu kasih tau sandi apartemen ini?" Ivander masih bercakap tanpa membuka matanya.


"Iya, tapi kan Daddy Charla juga tau!" jawab Charla dengan manjanya.


"Kan Daddy di London!" jawab Ivander santai.


"Siapa bilang Daddy di London!" sahut seseorang bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar.


Sontak sorot mata Charla mengarah pada pintu kamar. Sedang Ivander yang masih menutup mata, segera membuka matanya lebar sembari mengendurkan tangannya yang memeluk Charla, saat mendapati suara yang sangat asing di telinganya.


"Haaa" Charla membuka mulutnya lebar melihat Darren yang berdiri tegap di ambang pintu. Tentu saja satu tongkat satu kaki di tangan kirinya.


Sedang Ivander terperanjat dan segera beranjak dari tempat tidur Charla. Dia yakin laki - laki itu adalah Daddy kekasihnya.


"Sejak kapan Daddy datang?"


"Satu jam yang lalu!"

__ADS_1


"Daddy, Charla tidak melakukan apapun! Charla bahkan baru tau dia ada di sini!" jelas Charla penuh ketakutan.


"Little Charla, Daddy datang mendadak karena ingin memberi kamu kejutan, tapi justru Daddy yang di kejutkan!" ucap Darren dengan sedikit tinggi.


"Maafkan saya Uncle! ini memang salah saya. Tapi kami benar - benar tidak melakukan apapun!" ucap Ivander yang ikut panik.


Kenapa jadi begini?


Batin Ivander.


"Jelaskan itu nanti, Ivander! orang tua mu sedang dalam perjalanan kemari!" ucap Darren.


"What!" pekik Ivander. "Mommy juga?" tanya Ivander lebih panik dari sebelumnya.


"Tentu saja, anak nakal!" jawab Darren ketus.


"Apa!" pekik Ivander. "Aduh!" Ivander menepuk kepalanya.


Kalau dengan Daddy mungkin aku masih bisa selamat. Tapi kalau Mommy?


Aakh! bodoh sekali aku ini!


Ivander tampak tidak tenang, dia diliputi rasa gelisah. Mommy adalah orang paling menyeramkan menurutnya. Meskipun Mommy nya adalah orang yang lembut. Tapi dia sangat menghindari untuk membuat Mommy nya kecewa dan marah.


"Duduk kalian disini!" ucap Darren dengan nada tegas, sembari menunjuk sofa ruang tamu.


Charla duduk dengan perasaan was - was, Dia terus saja menunduk tanpa berani melihat ekspresi Daddy nya yang tengah mengamati mereka berdua dengan berdiri di samping meja makan.


Ivander yang berjalan di belakang Charla, ikut duduk di samping Charla. Jika saja Mommy nya tidak terdengar ikut, dia pasti akan jauh lebih santai.


Ivander duduk di samping kiri Charla, tapi dia terlihat lebih santai di banding Charla. Dia akan bertanggung jawab apapun hukuman yang akan di timpakan padanya sebagai laki - laki yang mendatangi apartemen seorang perempuan tanpa izin.


Ivander mengusap pundak sebelah kanan Charla. Seolah berkata, semua akan baik - baik saja. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahan ku.


Jika Mommy tidak percaya dengan penjelasan ku, melakukan visum akan menyelamatkan kami. Lagi pula kami sungguh belum pernah melakukannya.


Ucap Ivander dalam hati.


Ting tong!


Suara bel pintu berbunyi. Sontak Ivander dan Charla menoleh arah pintu utama. Dengan gerakan cepat, Darren segera membukanya.


Clek!


Terlihatlah Devan dan Yocelyn yang berdiri dengan saling bergandengan. Devan tampak diliputi rasa terkejut, karena kembali datang ke apartemen itu setelah puluhan tahun.


Sedangkan ekspresi Yocelyn diliputi tanda tanya dan menahan amarah pada sang putra.


Kemudian mata ketiga orang tua itu saling bertemu. Karena sudah lama mereka tidak bertemu sejak pertemuan terakhir, saat Darren membawa Little Charla ke mansion.

__ADS_1


Ivander berdiri, menghadap para orang tua yang masih berdiri di ambang pintu.


"Sejak kapan anak Mommy seperti ini?" tanya Yocelyn sembari berjalan tergopoh - gopoh menghampiri putranya.


"Mom, dengarkan penjelasan Ivander dulu, Mom!" ucap Ivander mengangkat kedua tangannya ke arah sang Mommy.


"Penjelasan yang seperti apa lagi? ini sudah jelas! rasakan ini!" dengan gemas dan geram Yocelyn menarik telinga Ivander.


"Auwh! auwh! Mom! dengarkan Ivander dulu dong!" rengeknya memohon ampun. "Mom, Ivander hanya membaca buku Charla, karena ngantuk Ivander langsung tidur di samping Charla!"


"Apapun alasannya, kamu sudah datang ke apartemen seorang gadis di tengah malam. Kamu melanggar aturan Mommy!" Tangan Yocelyn masih menarik telinga Ivander.


"Mom, lepaskan dulu telinga anak itu, bisa putus nanti!" ucap Devan.


"Hih!" Yocelyn melepas dengan kasar tangannya dari daun telinga putranya. "Baru juga kemarin di bilangin jangan lakukan hal yang tidak - tidak! pagi hari sudah kena razia!" ucap Yocelyn kesal.


"Moomm?" ucap Ivander lirih.


Seketika Ivander menggosok telinganya yang memerah. Dan Charla hanya melihat ngeri pada telinga Ivander.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Darren pada Devan dan Yocelyn. "Di depan mata saya putra Tuan Devan dan Nyonya meniduri putri saya! sementara saya di London. Saya tidak tau apakah mereka setiap hari seperti ini?" ucap Darren. "Dia putri saya satu - satu nya, Tuan dan Nyonya tau itu. Dan saya yakin putri saya ini masih perawan saat berangkat ke Oxford!"


"Mereka harus menikah secepatnya!" pungkas Yocelyn dengan nafas naik turun. Keputusan singkat tanpa runding.


"Tapi Aunty kami belum genap 20 tahun!" ucap Charla.


"Usia bisa di atur, Little Charla!" ucap Yocelyn.


"Mom! Ivander juga belum selesai sarjana!"


"Bukankah dua tahun lagi selesai? kau hanya ambil S1 tiga tahun bukan?"


"Iya, Mom!" jawab Ivander memelas. "Tapi masak menikah usia 18 tahun sih?" tanya Ivander. "Lagi pula ini sudah modern mom! di luaran sana juga banyak kok tanpa menikah tapi tinggal satu atap!"


"Garis keturunan Mommy tidak boleh seperti itu!"


"Kenapa?"


"Sekali tidak tetap tidak!"


"Bagaimana jika kami akhirnya memiliki anak?"


.


.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2