
Ting!
Ponsel Devan kembali berbunyi, dan lagi - lagi nama yang sama yang muncul di layar ponsel Devan. Membuat Charla membuang nafasnya kasar.
Devan mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menyala sepanjang malam. Devan menggeliat dan aura ketampanannya semakin jelas terlihat di pelupuk mata Charla yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak gerik Devan.
Mata Devan terbuka, dan langsung menoleh ke arah Charla yang menatapnya tanpa bergerak. Devan menyadarkan dirinya sepenuhnya, dan segera duduk setelah mampu membuka mata sepenuhnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Devan.
"Hemm!" Charla hanya mengangguk malas.
"Itu baju untukmu!" ucap Devan menunjuk satu paper bag di atas meja.
"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Charla, tanpa menjawab ucapan Devan. "Kamu sudah tidak mau tidur denganku?"
"Aku hanya tertidur di sini" jawab Devan sambil mengusap wajahnya.
Bohong! batin Charla.
"Kamu kenapa?" tanya Devan yang melihat Charla tak seperti biasanya.
"Kemana saja kamu selama ini?"
"Aku ke Indonesia!" jawab Devan santai.
"Oh ya?"
"Hemm!" Devan mengangguk. "Sebaiknya kamu mandi dan ganti baju mu!" ucap Devan.
Charla tidak menjawab pertanyaan Devan sama sekali. Dia berdiri dan berjalan ke sofa tempat Devan duduk. Tanpa aba - aba Charla duduk di pangkuan Devan, dan meletakkan satu tangannya di pundak Devan. Spontan Devan berusaha membuat Charla untuk pindah.
"Kenapa?" tanya Charla menatap mata Devan yang kebingungan.
"Charla, rasanya sangat tidak nyaman!" jawab Devan tanpa membalas perlakuan hangat Charla.
"Kamu sudah tidak mau ku sentuh lagi?" tanya Charla yang memainkan jarinya di dada Devan, dengan membentuk garis - garis abstrak.
"Charlaaa.." ucap Devan lirih menyingkirkan tangan Charla dari dada bidangnya.
"Kenapa?" tanya Charla merasa kesal.
"Sebaiknya ganti handuk mu ini dengan baju!" ucap Devan menunjuk handuk kimono yang di pakai Charla, "kamu bisa sakit karena sudah semalaman memakai handuk seperti ini!"
"Apa peduli mu kalau aku sakit?" ucap Charla kembali memainkan tangannya di dada Devan.
"Charla, please! jangan seperti ini!" tolak Devan halus.
"Bukankah pagi ini sangat dingin?" tanya Charla dengan suara seraknya.
"Memang!" jawab Devan.
"Selama ini, setiap kali kita bersama, jika pagi sedingin ini kamu pasti meminta ku untuk menghangatkan tubuhmu!" ucap Charla dengan suara menggoda sambil menciumi leher Devan.
"Charla, stop!" ucap Devan, menjauhkan tubuh Charla dari dadanya.
"Kau sudah bosan bermain dengan ku?" tanya Charla, "karena kau sudah punya mainan baru?" tanya Charla sebelum Devan sempat menjawab.
Devan menghembuskan nafasnya kasar. Memikirkan sesuatu yang sulit si jelaskan pada Charla.
Dengan berani Charla mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Devan sepenuhnya. Membuat Devan buru - buru mencoba menyingkirkan Charla dari pangkuannya secara halus.
"Bukankan kamu menyukai stand seperti ini Devan?" tanya Charla dengan nada menggoda.
"Charla" ucap Devan lirih.
__ADS_1
Charla melepas tali handuk kimono nya, sehingga pundak mulusnya mulai terlihat. Spontan Devan membuang pandangannya dari Charla.
"Lihat aku!" ucap Charla mencoba membuat Devan kembali melihatnya.
"Charla, please!" pekik Devan dengan terpaksa menatap mata Charla. "Jangan sampai aku marah padamu!"
Charla mengangkat kedua tangan Devan dan meletakkannya di kedua buah dadanya yang masih tertutup handuk kimono tanpa sabuk itu, yang bisa sewaktu - waktu terbuka jika terjadi gerakan berlebih.
"Kamu dulu sangat menyukai permainan seperti ini bukan?" tanya Charla.
"Charla!" pekik Devan menarik tangannya dengan paksa.
"Devan!" balas Charla.
"Charla, hari ini aku ada janji," ucap Devan lembut, "jadi tolong, segera ganti bajumu, kita sarapan bersama dan aku akan antar kamu pulang!" lanjutnya.
"Janji?" tanya Charla mengerutkan keningnya, "bukankah ini hari sabtu yang artinya kamu libur bekerja?" tanya Charla.
"Iya memang! ini hari sabtu"
"Lalu dengan siapa kamu punya janji?" hardik Charla.
"Emm..." Devan tampak berfikir.
"Yossy?" tanya Charla menebak paksa.
"Yossy?" tanya Devan balik.
"Tebakan ku benar bukan?" tanya Charla menatap tajam pada Devan. "Dimana kamu menyimpannya?"
Spontan Devan mengangkat tubuh Charla secara paksa, dan mendudukkan Charla di sofa. Devan langsung meraih ponselnya di atas meja. Devan langsung memasukkan sandi ke ponselnya.
Yocelyn : Hari kamu jadi membawaku jalan - jalan kan? kamu dimana? kenapa tidak membalas pesan ku?
Pesan terakhir yang di kirim Yocelyn setelah 30 menit menunggu balasan Devan.
Devan : Of course, Darling! Maaf, aku baru saja bangun! Nanti aku jemput jam 9!
Sedari tadi Charla mengamati setiap gerak gerik seorang Devan membuatnya sedikit muak.
Ting!
Yocelyn : Thank you Kakak Devan sayang!"
Devan : Iya, Sayang!"
Devan membalas pesan senyum tipis di bibirnya, karena selalu ada kata sayang yang tersemat di sela - sela percakapan mereka. Melihat itu, membuat Charla semakin terbakar cemburu bercampur kesal.
Apa yang aku rasakan ini? bukankah aku yang dulu memintanya untuk tidak menganggap aku sebagai penghalang dalam hubungannya dengan gadis manapun di luar sana! ucap Charla dalam hati.
Setelah mengakhiri pesannya dengan Charla, Devan beralih menatap Charla.
"Cepat ganti bajumu Charla!" ucap Devan datar, "kita sarapan bersama!"
"Kita mandi bersama!" jawab Charla tanpa basa - basi.
"Ck! kamu mandi di dalam, aku akan mandi di kamar mandi tamu!" jawab Devan lembut.
"Aku mau mandi bersama mu!"
"Charla, please!" ucap Devan menatap teduh pada Charla. "Aku sudah tidak bisa seperti dulu! aku ingin merubah image ku!"
"Bulshit!"
Devan berjongkok di depan Charla, menggunakan satu lututnya sebagai tumpuan. Memegang kedua tangan Charla yang sama sekali tidak melihatnya.
__ADS_1
"Aku punya janji dengan saudara dan ipar ku yang harus aku tepati!" lanjut Devan. "Semua harus berakhir, kamu pasti menemukan laki - laki baik yang akan mencintaimu!"
"Kenapa haru orang lain yang mencintai ku?" tanya Charla, "kenapa bukan kamu saja? selama ini kamu tau, hanya kehadiranmu yang tidak pernah aku tolak!" ucap Charla berapi - api.
"Aku tau Charla! aku minta maaf! tapi dari awal aku sudah bilang, aku tidak bisa mencintai kamu!" ucap Devan mengusap rambut kepala Charla.
Tanpa menjawab Charla berdiri dari duduknya, dan mengambil paper bag dengan kasar. Lalu berjalan kembali ke kamar tanpa melihat Devan sedikitpun. Devan yang masih berjongkok di bawah mengamati setiap gerak - gerik Charla, hingga tak terlihat di ruang tamu lagi. Devan berdiri, lalu mengusap wajahnya kasar.
Aku menyesali diriku yang bangga mendapat julukan Tuan Casanova! Kenyataannya membuat diriku di posisi yang sulit seperti ini! ucap Devan dalam hati.
Beberapa saat kemudian, keduanya keluar dari kamar hotel mereka. Dan bersama - sama berjalan ke arah restoran di lantai bawah dengan saling diam.
"Kamu mau makan apa?" tanya Devan sambil membaca buku menu di tangannya.
"Terserah!" jawab Charla cuek.
Spontan Devan melirik Charla yang berpura - pura sibuk menatap layar ponselnya.
"Berikan kami menu sarapan terlaris di restoran ini dua porsi!" ucap Devan pada Waiters yang berdiri di samping meja mereka.
"Baik, Tuan!" jawab Waiters itu dan berlalu dari meja yang di tempati Devan.
"Charla?" panggil Devan.
"Jangan memanggilku Charla!" ucap Charla sinis.
"Lalu aku harus memanggilmu siapa?"
"Manusia paling menyedihkan!" ucap Charla sinis!"
Devan menarik nafasnya dalam, dan membuangnya kasar.
"Bagaimana bisa aku memanggilmu seperti itu?"
Charla hanya mengangkat kedua pundaknya cuek. Hingga pesanan mereka datang tidak ada lagi obrolan di antara keduanya.
Keduanya makan tanpa bersuara, tapi Charla benar - benar makan tak seperti biasanya. Dia makan dengan lahap dan cepat. Devan tau itu di sengaja oleh Charla.
Jam setengah delapan, Devan membawa Charla keluar dari area hotel dan mengantarkan Charla pulang ke apartemennya.
"Apa mobil mu ada di Club?"
"Kemarin aku di jemput!" jawab Charla cuek.
"Sudah sampai!" ucap Devan saat berhenti di depan gedung apartemen Charla.
Charla turun tanpa sepatah katapun, dia langsung masuk ke lobby tanpa melambaikan tangan atau apapun sejenisnya.
Devan pun hanya menatap punggung Charla sampai tak terlihat. Sesekali dia membuang nafasnya kasar. Setelah itu kembali melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen.
Maaf baru up! Author sibuk.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar juga dukungan lainnya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.