
Seketika Charla membuka matanya lebar. Dan menoleh benda keras apa yang di tabrak oleh lengannya.
"Akh!" teriak Charla saat melihat sebuah kepala berada tepat di sampingnya.
"Morning, baby?" sapa Ivander.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Charla yang spontan terduduk menghadap Ivander.
"Baru saja!" jawab Ivander santai dengan masih terbaring di atas tempat tidur Charla dengan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.
"Jam berapa ini?"
"Jam tujuh!"
"Apa!" pekik Charla. "Aduuh! aku belum mandi! kenapa kamu nongol tiba - tiba sih!" gerutu Charla sembari mengusap muka bantalnya.
"Jemput kamulah, sayang! kita ke kampus bersama."
"Haduh! aku bisa sendiri! duluan sana!"
"No! mulai hari ini aku akan antar jemput kamu, sayang!" Ivander bangun dan mendaratkan kecupan di bibir Charla.
"What! apa kata mahasiswa lainnya kalau mereka melihat kita berangkat bersama?" Charla di buat panik sendiri.
"Sudahlah, ayo mandi!" ucap Ivander menyingkap selimut yang masih menutupi sebagian tubuh Charla.
Dengan bibir yang mengerucut, Charla beranjak dari tempat tidurnya. Meraih kaos yang semalam dia lepas dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Sedang Ivander membuka tirai jendela, dan mematikan lampu tidur di kamar Charla. Lalu keluar dan membuka gorden ruang tamu yang menyatu dengan pantry itu.
Ivander duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Menunggu Charla yang tengah bergerak cepat di dalam kamar mandi dan juga di kamarnya untuk berias seadanya.
20 menit berlalu, Charla keluar dengan pakaian casual. Tanpa di lebih - lebihkan, meskipun ada Ivander yang akan berjalan di sampingnya saat di kampus.
"Sarapan dulu, sayang!" ucap Ivander menunjuk sandwich yang sudah dia pesan dari restoran di bawah.
"Makasih!" ucap Charla duduk di samping Ivander di meja makan.
Mereka meninggalkan apartemen bersama, dan Ivander melajukan mobilnya ke arah kampus.
Ciit!
Mobil Ivander berhenti bersamaan dengan mobil yang di kemudikan Qiandra berhenti di sampingnya.
"Cih! pamer tuh!" celetuk Argha yang duduk di samping Qiandra.
"Hahaha!" Qiandra terkekeh kecil.
"Eh keluar yuk! pengen liat ekspresi mereka!" sahut Queenara.
"Emang di situ ada pacarnya kak Ivander yang waktu itu?" tanya Jesselyn melihat mobil sport putih milik Ivander.
"Hemm!" Queenara mengangguk.
Tanpa pikir panjang Jesselyn keluar dari mobil dan langsung memutari mobil. Dan berdiri tepat di samping pintu penumpang mobil Ivander.
Qiandra, Queenara dan Jesselyn terkekeh, melihat lucu aksi Jesselyn.
"Siapa dia?" tanya Charla melihat Jesselyn yang menyilangkan kedua tangannya di dada, menunggu yang di dalam pintu itu keluar.
"Adik ku" jawab Ivander.
"Adik?" pekik Charla menoleh Ivander.
__ADS_1
"Iya" jawab Ivander.
"Kuliah di sini?"
"Belum, dia masih kelas 1 SMA."
"Terus kok dia ada di sini?"
"Dia hanya ingin mengenal University of Oxford."
"Oh?" Charla mengangguk. "Dia bakal marah nggak sama aku?" tanya Charla ragu. "Tatapan matanya seperti menganggap ku buronan." gumam Charla melihat Jesselyn yang memasang wajah garang di balik pintu mobil.
"Haha!" Ivander terkekeh melihat ekspresi Charla. "Dia sangat baik, manja dan menggemaskan, baby! mungkin dia ingin mengenalmu dengan cara yang berbeda. Menyembunyikan sifat aslinya."
"Benar begitu?" tanya Charla menatap ragu pada Ivander.
"Iya, Sayang!" jawab Ivander. "Kalau dia macam - macam sama kamu, aku tidak akan membantunya menyelesaikan tugas sekolahnya!"
"Hehehe!" Charla terkekeh. "Ya udah turun yuk!" Charla hendak membuka pintu.
"Eitz!" Ivander menahan tangan Charla.
"Kenapa?"
"Mumpung masih di dalam mobil!" bisik Ivander, sembari meraih tengkuk leher Charla. Dan mulai mengecup beberapa kali bibir Charla.
"Kak! di lihat adik mu!" ucap Charla mendorong wajah Ivander.
"Tidak terlihat!" bisik Ivander sembari mengunci kedua tangan Charla dengan tangannya yang lain.
"Kaak!" pekik Charla di sela - sela bibirnya yang di serang Ivander.
Tuk tuk tuk!
"Mengganggu saja!" gerutu Ivander menoleh keluar mobil.
Dimana keempat pengganggu tengah berdiri dengan tatapan menunggunya untuk keluar.
Dengan perasaan dongkol, Ivander membuka kunci mobil. Lalu keluar dengan gaya cool nya.
"Ngapain aja, bro?" tanya Argha.
"Ganggu aja kalian ini!" gerutu Ivander sembari memutari mobil. Dan membuka pintu untuk Charla.
Dengan ragu dan malu - malu, Charla keluar dari dalam mobil Ivander.
"Pagi, Kak!" sapa Charla pada ketiga kakak tingkatnya.
"Pagi princess Charla" balas Queenara.
"Hem" Qiandra hanya sedikit menyungging senyum tipis sembari mengangkat kedua alisnya.
"Pagi Little!" jawab Argha.
"Pagi?" sapa Charla pada Jesselyn yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Emmm...." Jesselyn melihat penampilan Charla dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Pagi juga!" jawab Charla tersenyum kecil. "Kenalkan!" Jesselyn mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut oleh Charla. "Jesselyn!" ucap Jesselyn tegas dan penuh penekanan.
"Charla!" ucap Charla menyebutkan namanya. "Salam kenal!"
"Iya!" jawab Jesselyn cepat. "Kak Charla pacar kakak ku?" tanya Jesselyn menyelidik.
"E...." Charla tampak ragu untuk menjawab. Matanya melirik ke kanan dan kiri dimana mereka semua menunggu jawaban Charla. Kecuali Ivander yang berdiri santai dengan bersandar di badan mobil.
__ADS_1
"Jawab saja seadanya, sayang!" sahut Ivander.
"Hehhe!" Charla hanya tersenyum kikuk.
Ivander yang paham sifat Charla, memotong percakapan mereka. "Sudah tau tidak perlu di tanya lagi!" potong Ivander. "Ayo masuk!"
"Yaa ampun! galak bener!" sahut Queenara.
"Udah, Kak! ayo masuk semua!" ucap Ivander meminta semua untuk masuk ke kampus.
Semua berjalan, dan Ivander memilih membawa Charla untuk berjalan di barisan paling belakang.
Kebersamaan Ivander dan Charla tentu saja menarik beberapa pasang mata. Termasuk dua pasang mata yang menatap jengah pada gadis itu.
Ivander mengantar Charla sampai di depan kelas Charla. Dan baru kemudian dia kembali berjalan ke fakultas tempatnya menuntut ilmu. Fakultas Master of Bussiness Administration. Di mana Argha dan Queenara juga berada di fakultas itu.
Sebelum ke kelasnya Ivander menyempatkan diri untuk menghampiri salah satu Fakultas di Oxford University. Yaitu Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi.
Ivander masuk ke salah satu kelas di sana. Tepatnya di kelas Mahasiswa semester 3. Mata tajam Ivander langsung menangkap dan mengunci sosok yang tadi sempat dia lihat di area parkir.
"Ivander!" seru gadis itu tersenyum senang saat melihat Ivander berjalan ke arahnya.
Namun ekspresinya berubah saat tak melihat gurat baik dari wajah tampan Ivander Gibran.
Ivander tidak bicara sedikit pun, dan langsung meraih tangan Lea dan menariknya keluar, menjauh dari teman - teman di kelasnya.
"Ivander!" pekik Lea yang kesakitan karena pergelangan tangannya di cengkeram kuat oleh tangan kokoh Ivander.
Push!
Ivander menghempaskan tangan itu setelah sampai di belakang kampus.
"Beruntung tidak ada yang melaporkan mu pada Dekan! dan kau juga beruntung, aku tidak melihat dengan mata kepala ku sendiri!" ucap Ivander tegas dan berapi - api.
"Maksud kamu apa Ivander?" tanya Lea.
"Pura - pura bodoh? atau pura - pura lupa? kenapa tidak lupa ingatan sekalian!" ucap Ivander tegas.
"Aku tidak mengerti Ivander!" ucap Lea.
"Seperti apa kau menjambak rambut Charla?" tanya Ivander dingin.
"Menjambak rambut Charla?" tanya Lea berpura - pura tidak mengerti. "Siapa Charla?"
"Apa seperti ini!" ucap Ivander tanpa menjawab pertanyaan Lea, dengan menarik kuat rambut Lea.
"Akh! sakit Ivander!" pekik Lea.
Ivander melepas rambut Lea yang ia tarik dengan cara menghempaskan kasar.
"Aku bukan tipe laki - laki yang mudah berperilaku kasar pada perempuan! kecuali perempuan ular seperti mu!"
"Satu kali lagi aku mendengar mu mengganggu Charla, urusan mu dengan ku! bukan dengan Charla!" ucap Ivander tegas. "Dan taruhan mu adalah perusahaan Papa mu!" lanjut Ivander sembari melangkah pergi meninggalkan Lea yang masih kesakitan memegangi rambut panjangnya.
"Sial! berani sekali gadis itu mengadu pada Ivander!" gerutu Lea menghentakkan kakinya kesal.
Dengan langkah kesal, Lea kembali ke kelasnya.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹