
🍄 Keesokan harinya . . .
Ivander turun dari mobilnya, ini adalah hari kedua kegiatan Ospek. Ivander sengaja berangkat 30 menit lebih awal dari jadwal.
Di kampus masih terlihat sepi. Hanya beberapa panitia dan Maba saja yang sudah datang. Ivander melangkahkan kakinya menyusuri koridor untuk menuju ruang panitia.
Saat melewati toilet dia melihat seorang gadis Maba yang tengah menyadarkan sebelah lengannya di tiang beton. Menghadap lapangan, namun kepalanya menunduk menatap ponsel yang tengah di mainkan jari jemarinya.
Ivander melangkahkan kakinya mendekati gadis Maba yang sudah tak asing di matanya itu. Ia berdiri tepat di samping gadis itu, tanpa di sadari oleh gadis itu.
"Kecil? kau rajin juga jam segini sudah di sini?" tanya Ivander yang membuat gadis itu terlonjak kaget sampai ponselnya hampir saja melompat dari tangannya.
"Dasar harimau mesum! mengagetkan aku saja!" umpatnya kesal. Namun sepersekian detik ia menutup mulutnya karena merasa bersalah.
Ivander mengangkat sebelah alisnya, "Kau menyebut ku apa?" tanya Ivander dengan nada santai, namun matanya memancarkan sebuah hardikan.
"Em.." gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Emm... kakak pembina!" ucapnya kemudian.
"Bukan," Ivander menggelengkan kepalanya pelan, tapi sangat terlihat menakutkan di mata gadis cantik itu. "Yang barusan itu loh! Harimau apa?" Ivander mendekatkan telinganya pada wajah gadis yang bahkan sudah kesulitan untuk sekedar bernafas itu.
Gadis itu mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum kikuk dengan menunjukkan semua gigi putihnya.
"Harimau apa?" tanya Ivander lirih namun sangat tajam di telinga.
"Emm... Hehehe.. Ha.. harimau me...sum" jawab gadis itu lirih sembari beringsut ketakutan.
Ivander menegakkan tubuhnya berhadapan dengan gadis yang menunduk dan hanya bola matanya saja yang bergerak ke kanan dan kiri seolah mencari pertolongan.
Ivander mengangkat dagu gadis itu menggunakan ujung jari telunjuknya. Dan menghadapkan penuh wajah itu kepadanya. Seulas senyuman tipis terbit di bibirnya.
Bukannya lega melihat senyum itu, gadis itu justru semakin merasakan hawa panas di sekitarnya.
Tampan sih, tapi kok mengerikan!
Batin gadis itu.
"Ternyata nyali mu juga kecil," ucap Ivander dengan santainya. "Kau lupa siapa namaku?"
"Kak Ivander!" jawabnya.
Kemudian berbalik meninggalkan gadis yang seketika tertegun.
Dia memang sangat tampan sih. Benar saja dia jadi pusat perhatian. Lalu apa si Lea itu kekasihnya?
Ucapnya dalam hati sembari menatap punggung tegap Ivander yang mulai menjauh dari pandangannya.
***
Sepuluh menit lagi semua peserta wajib berkumpul di lapangan. Ivander duduk di ruang panitia sembari mengecek persiapan untuk Ospek hari ini.
"Udah siap semua, Van!" ucap Lea pada Ivander.
"Ayo kita mulai!" ucap Ivander.
"Hem, ayo!" jawab semua tim pembina.
Seperti biasa, Ivander berjalan keluar dengan di ikuti Lea yang selalu saja berusaha menempel padanya. Sifat acuh Ivander tak membuatnya menyerah begitu saja.
__ADS_1
Semua sudah pada posisi. Ivander kembali memimpin kegiatan itu. Namun hanya sesaat. Di lanjutkan oleh Lea yang dia minta untuk memimpin di depan peserta Ospek.
Ivander bersama tim pembina lainnya, berjalan memasuki barisan peserta Ospek. Dengan memasang muka garang masing - masing.
Ivander sengaja untu memilih memasuki barisan di mana ada gadis yang dia temui tadi pagi. Dan tentu saja, nyali gadis itu kembali menciut.
Tap! langkah kaki Ivander berdiri tepat di sampingnya.
Ivander putar balik menghadap ke depan, dan mengambil sikap istirahat di tempat di antara gadis itu dan Maba lainnya.
Aduh! kenapa sih Si harimau mesum berhenti di sini. Sengaja sekali menakuti ku.
Gerutu gadis itu dalam hati.
Ivander mengangkat sudut bibirnya, saat menyadari gadis itu sedang di landa keringat dingin. Karena rasa takut padanya.
Sedikit - demi sedikit Ivander kembali melangkah sampai di barisan paling belakang.
Ya, selama Ospek berlangsung Ivander sangat suka mengerjai gadis Maba yang dia panggil kecil itu. Sampai akhirnya kegiatan Ospek itu berakhir.
# # # # # #
🍄 Hari pertama masuk kuliah telah di mulai . . .
Ivander, Arga, dan Queenara tengah asyik makan di kantin kampus. Mereka bertiga asyik berbincang di meja persegi dengan kursi di setiap sisinya.
Tak ada Qiandra di antara mereka, karena Qiandra tengah sibuk dengan persiapan S3 nya. Qiandra memang melaju lebih cepat dari yang lain.
"Vallen bilang dia ingin ikut kuliah kita di sini!" ucap Queenara.
"Baguslah!" sahut Ivander. "Biar hubungan kita semakin erat!"
"Apaan sih!" celetuk Arga.
"Hahaha!" Queenara dan Ivander terkekeh bersama.
Ivander terkekeh sambil melihat ke sekitarnya, sampai akhirnya mata Ivander menangkap sosok yang cukup lama tidak dia lihat.
Mahasiswa baru yang kini mulai menempuh pendidikannya dengan pakaian bebas. Bukan lagi baju asal sekolahnya.
Gadis itu tengah membawa makanan di atas nampan. Dan matanya berkeliling mencari tempat duduk yang kosong. Tapi semua sudah penuh. Menyisakan satu kursi yang ada di mejanya.
Ivander membuang muka, berpura - pura tidak tau jika gadis itu sedang mencari tempat untuk duduk.
Melihat sebuah kursi kosong di samping seorang Mahasiswi, gadis itu berjalan mendekati kursi itu.
"Misi Kak, boleh aku duduk di sini?" tanya gadis itu.
Sontak Queenara dan Arga menoleh gadis yang masih berdiri itu.
"Eh, boleh dong!" jawab Queenara. "Sini duduk! biar kita saling kenal!"
"Makasih kak!" ucap gadis itu sembari duduk di kursi kosong.
"Sama - sama!" jawab Queenara dan Arga bersamaan.
"Baru ya?" tanya Queenara.
__ADS_1
"Iya, kak!"
"Ambil prodi apa?"
"Seni rupa dan Desain!"
"Wow! hobi ya?" tanya Arga.
"Iya kak!" jawab gadis itu dengan senyuman di bibirnya, tanpa menyadari Ivander yang masih menunduk dalam dengan sebuah topi yang menutupi sebagian wajahnya.
"Emang hobi kamu apa?"
"Melukis?"
"Wow!" Queenara tampak sangat tertarik. "Kamu bisa melukis wajah?"
"Bisa! kakak mau aku lukis?"
"Mau banget lah!"
"Kakak tinggal di mana?" di apartemen tidak jauh dari sini!"
"Kapan - kapan aku main boleh? aku akan bawa alat lukis!"
"Boleh banget! minta nomor kamu dong!" Queenara menyodorkan ponselnya.
"Ok, kak!" gadis itu menyodorkan nomornya dan menyimpan dengan sebuah nama.
"Thanks ya!" ucap Queenara tanpa membaca nama gadis itu.
"Sama - sama kak!"
"Ya udah makan, jangan hiraukan Queenara yang banyak bicara!" ucap Arga.
"Iya kak!"
Gadis mulai menyantap makanannya tanpa bicara lagi sampai habis. Dan saat hendak mengambil minum barulah Ivander mulai mendongak dan barulah mata mereka bertemu.
"Ukh!" gadis itu tersedak oleh minuman yang baru masuk setengah tenggorokan.
"Kamu kenapa?" tanya Arga.
"Eh, nggak papa kak!" gadis itu tiba - tiba salah tingkah.
"Minum hati - hati, kecil!" ucap Ivander.
Spontan wajah gadis itu berubah. "Kenapa sih kak, selalu manggil aku kecil?" tanyanya kesal. "Malu - maluin aja tau nggak!" lanjutnya memanyunkan bibirnya.
Ivander mengangkat sudut bibirnya, tersenyum kecil melihat ekspresi gadis itu.
Sementara Queenara dan Arga langsung bisa menangkap dari reaksi Ivander yang tak biasa. Mereka berdua tampak saling lirik dan tersenyum misterius.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹