
Tangan kanan Ivander mulai bergerak naik, menyusupi sela - sela antara leher dan rambut Charla. Kemudian dengan pelan menarik tengkuk leher bagian belakang Charla.
Lima senti... tiga senti... satu senti... Keduanya memejamkan matanya. Dan bibir mereka menyatu sempurna.
Lembut, begitu lembut ciuman itu di lakukan.
Dalam, begitu dalam Ivander menyusuri setiap inchi dari rongga mulut Charla.
Lidah itu menyusuri dan membelit lidah Charla dengan penuh dalam.
Tangan kanan yang semula berada di tengkuk leher Charla, kembali turun secara perlahan. Tubuh Charla meremang saat jari jemari Ivander turun dengan cara yang tak biasa.
Charla tau, jika tangan Ivander pasti hendak menyentuh buah dadanya. Charla pun bersiap jika Ivander menyentuhnya.
Dan benar saja, tangan Ivander sudah menangkup buah dada Charla sebelah kiri. Nafas Charla mulai tak beraturan.
Dan semakin tak beraturan, saat tangan Ivander mulai meremasnya. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali remasan itu berlangsung dengan pelan dan lembut.
Tangan Ivander mulai bergerak membuka kancing dress Charla yang berada di dadanya.
Gugup! Charla begitu gugup dengan gerakan tangan Ivander. Satu, dua, tiga kancing terlepas.
Tangan nakal itu mulai menyusup ke dalam baju. Menyisihkan kain yang menutupi bagian dada Charla.
Ivander memperdalam ciuman mereka. Dengan tangan yang semakin aktif meremas buah yang tertutup br* itu.
Tidak puas dengan remasan itu, Ivander menurunkan baju Charla sebelah kiri beserta tali br* nya hingga sampai lengan. Pundak mulus Charla pun terbuka.
Kemudian dengan mudah tangan itu menyusup sempurna ke dalam br*.
"Umh!" lenguh Charla saat tangan Ivander terasa hangat merem*s dadanya.
Keduanya masih memejamkan mata, menikmati desiran tak biasa yang tengah menguasai tubuh mereka.
Adik kecil Ivander mulai menegang sempurna. Charla pun menyadari pergerakan di bawah sana. Sedikit risih tapi ia tetap mengikuti alur.
Entah, kenapa Charla membiarkan tangan itu menyusuri dan mencari kenikm*tan dari dad*nya.
Nafas Charla semakin tak beraturan. Saat jari Ivander berulah semakin nakal. Ibu jarinya bergerak dan menyapu puncak dad* Charla beberapa kali.
Tentu saja puncak itu langsung menegang, dan terasa lebih keras. Karena sentuhan itu langsung menjalar ke seluruh tubuh hingga otaknya.
"Umh!" lenguh Charla semakin tak beraturan, dengan tangan yang melingkar semakin erat di leher Ivander.
Ibu jari dan jari telunjuk Ivander mulai bekerja sama, dengan memainkan puncak yang menegang itu.
__ADS_1
"Umh! umh!" Charla semakin tidak sanggup menahan rasa geli di area itu. Tapi rasa geli terasa sangat lain di tubuhnya. Tubuh itu merasakan perasaan asing yang belum pernah ia rasakan. Geli tapi bukan kegelian.
Ya, geli - geli nikmat. Itulah yang di rasakan gadis 18 tahun itu.
Menyadari nafas gadis yang di cintai nya mulai kesulitan, Ivander mengakhiri sesi ciuman dnegan rem*san dalam oleh telapak tangannya. Dan suara khas dari berciuman.
"Huh..huh..huh.." Charla menarik nafas dengan banyak dan cepat, seolah udara di sekitar akan segera habis.
Ivander menarik tengkuk leher Charla supaya menatap matanya. Namun baru satu detik mata itu bertemu, Charla langsung menghempaskan wajahnya pada dada kiri Ivander. Mengusapkan bibirnya yang basah di dada yang siap menjadi dada bidang sesuai bertambahnya usia.
"Huhh..hah!" nafas Charla masih belum beraturan. Ia memeluk erat tubuh Ivander dan memejamkan matanya. Mungkin ia masih malu dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Ivander menyusupkan wajahnya pada tengkuk leher Charla sebelah kiri. Memejamkan matanya, menikmati harum helaian rambut Charla. Mengusapkan lembut wajahnya pada pundak Charla yang masih terbuka.
Cup! cup! cup!
Ivander mengecup leher Charla, dan turun ke pundak dengan pelan. Lalu kembali mengendusnya dan kembali memeluk erat tubuh ramping Charla saat Charla bergerak karena rasa geli yang semakin tak biasa di pundaknya.
Beberapa saat, nafas Charla mulai teratur. Ivander mengendurkan pelukannya, begitu juga tangan Charla yang mulai mengendur.
Sepasang mata mereka kembali bertemu. Tangan Ivander terangkat untuk memperbaiki baju Charla yang berantakan akibat ulahnya.
"Marah nggak?" tanya Ivander dengan senyum tak berdosanya.
"Semakin nakal!" celetuk Charla mencubit lengan Ivander.
"Apaan sih, kak!" wajah Charla bersemu merah. "Rasanya aneh!"
"Hahaha!" Ivander semakin terkekeh. "Itu rasa nikm*t yang tak bisa di ucapkan dengan kata - kata sayang! nikm*t yang sempurna!" ucap Ivander.
"Memalukan!"
"Kalau ada yang lihat memang memalukan, kalau tidak yang berarti nikm*t!"
"Dengan kamu yang seperti ini, kamu yakin tidak akan mengambil keperawanan ku sebelum menikah?"
Ivander tersenyum miring, "Mangkanya aku tidak mau mencium mu di atas tempat tidur sayang!" jawab Ivander. "Jika aku mencium mu di tempat tidur, sudah pasti aku tidak mampu menahannya. Karena bukan hanya kancing baju kamu yang aku lepas!" ucapnya. "Tapi cel*na dalam mu juga, sayang! hihihi!"
"Ngawur!" celetuk Charla yang risih.
"Hahahaha!" Ivander terkekeh.
# # # # # #
🍄 Tiga minggu kemudian . . .
__ADS_1
Jam satu siang, Charla keluar dari kelasnya. Dia langsung berjalan menyusuri koridor ke kelas Ivander. Dia tak sabar ingin segera pulang.
Tap! langkah kakinya terhenti saat mendengar suara yang tak asing dari belakang gedung.
Charla berjalan ke arah belakang gedung, menyembunyikan tubuhnya agar tak terlihat oleh suara laki - laki dan perempuan yang tak asing di telinganya.
"Aku bisa membunuhmu kapan saja, jika kau berani melakukan itu lagi!" suara laki - laki yang di penuhi ancaman dengan nada dingin.
"Tapi Argha, aku tidak tau lagi cara untuk mendapatkan Ivander! aku mencintainya!"
"Kalau kau mengusik Ivander dan Charla, urusan mu bukan hanya dengan Ivander, tapi dengan aku, Qiandra, atau bahkan mungkin Queenara! kau tau kan siapa Queenara! cukup mudah baginya untuk mematahkan tulang - tulang mu!"
Deg! jantung Charla berdetak cukup kencang. Apa yang baru saja terjadi.
"Ampuni aku, Argha!" rengek dari suara Lea yang terdengar seperti menahan tangisan.
"Kali ini kau aku ampuni! tapi jika satu kali lagi terjadi, bukan hanya tubuhmu yang akan hancur, tapi juga bisnis keluarga mu! kau tau kan siapa kami!" bentak Argha.
"Ma..maaf Argha!" lirih Lea tercekat karena menangis.
Charla menutup mulutnya karena tak percaya. Dia berusaha agar terdengar oleh mereka yang tengah berdebat.
"Beruntung! aku tidak membuatmu di buang dari kampus ini!"
"Ma..maa..aff!" kalimat Lea semakin tidak jelas.
Terdengar kaki Argha yang bersepatu, mulai bergerak. Mendengar langkah itu, Charla segera berlari dengan mengendap. Agar tak terdengar oleh Argha dan Lea jika ia sempat mendengar percakapan pribadi mereka.
Berlari, Charla terus berlari, agar Argha tak sampai melihatnya berada di sekitar.
"Huh! huh! huh!" Charla berhenti saat sampai di gedung perpustakaan.
Ia menoleh ke belakang, seperti nya benar Argha tak sampai melihat keberadaannya. Alea duduk di kursi depan perpustakaan.
Apa yang terjadi? apa yang di lakukan Lea pada Ivander? Kenapa Kak Argha sampai semarah itu?
Batin Charla di penuhi pertanyaan.
.
.
🪴🪴🪴
Apa yang di lakukan Lea ya guys? 🤔
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan dukungannya, supaya Othor semakin rajin up! hehe
Happy reading 🌹🌹🌹