
Devan berjalan menuju apartemennya di lantai 30 dengan langkah gontai. Jas hitam nan mahalnya bahkan sudah menggantung di pundak kirinya. Devan membuka pintu utama apartemennya dengan malas. Bayangan Yocelyn, melintas begitu saja di depan matanya.
"Sayang?" seru Devan seolah Yocelyn masih ada di apartemennya.
Devan terlihat begitu malas saat mengingat kenyataan Yocelyn sudah tidak lagi ada di apartemennya. Devan menjatuhkan tubuhnya kasar ke atas sofa ruang tengah yang menghadap dinding kaca.
Matanya menyusuri lantai bawah, dan mentok di area dapur. Biasanya setiap pulang kerja, Devan pasti menangkap tubuh Yocelyn berdiri di sana tengah membuat kopi, atau hanya sekedar membuat dapur berantakan, karena belajar memasak yang hasilnya jauh dari kata sempurna.
Devan mengangkat sudut bibirnya mengingat masakan Yocelyn. Sangat jauh dari kata yummy. Tapi karena buatan sang kekasih dengan susah payah, Devan selalu memakannya.
"Apartemen sepi tanpa kamu, Sayang!" lirihnya menghela nafas.
Tiba - tiba Devan ingat ponsel Yocelyn. Dengan cepat Devan mendial nomor kekasihnya itu. Tiga kali panggilan tidak ada jawaban, Devan tampak frustasi.
"Aaakhh!" teriaknya kesal melempar ponselnya ke sofa dan menyisir rambutnya kasar menggunakan jari jemari tangannya.
Devan berdiri dan mendekati dinding kaca, menatap kota London yang riuh saat menjelang senja. Tapi bagi Devan terlihat sangat sunyi dan sepi.
"Aku harus mulai menyusun rencana!" gumam Devan. "Aku tidak sanggup kalau harus berlama - lama jauh dari Yocelyn!" lanjutnya meremas gorden dengan erat.
Ddrrrtt!
Ponsel Devan berdering nyaring, dengan nada dering yang khusus dia aktifkan untuk panggilan dari kekasihnya. Secepat kilat, Devan langsung kembali menyambar ponselnya.
"Sayang!" seru Devan antusias menerima panggilan Yocelyn.
"Sayaaang?" jawab Yocelyn manja, sambil berbisik.
"Kamu kenapa?"
"Aku takut Papa dengar, terus ponsel ku di sita!"
"Owh, jangan keras - keras kalau begitu!"
"Kapan kamu menjemput ku?" tanya Yocelyn sambil memanyunkan bibirnya. "Kamu bilang, janji akan menjemput ku!"
"Iya, Sayang! aku janji!" jawab Devan. "Aku sedang menyusun rencana supaya kita bisa kembali!" lanjutnya.
"Iya!" jawab Yocelyn sedikit lega.
"Setelah pulang dari Indonesia, aku akan menjemputmu!"
"Kamu mau ke Indonesia?"
"Iya, besok! Rakha akan bertunangan"
"Rakha?" tanya Yocelyn mengingat - ingat nama Rakha.
"Saudara angkat ku!"
"Oh, brarti lama dong?" tanya Yocelyn sedih.
"Aku janji tidak akan lama! hanya beberapa hari saja!"
"Oke!" jawab Yocelyn lega. "Sayang, kamu jangan menghubungi aku kalau aku tidak menghubungi mu ya?"
"Kenapa begitu?"
"Aku harus menyembunyikan ponsel ini!"
"Baiklah," jawab Devan kecewa.
"Sayang, kamu bisa jelaskan pada ku, apa yang di maksud Papa, kalau kamu itu Casanova! apa itu Casanova?" tanya Yocelyn dengan polosnya.
"Em..." Devan tampan berfikir. "Sayang, aku akan menjelaskan itu setelah aku pulang dari Surabaya!"
"Kenapa begitu?" tanya Yocelyn kecewa.
__ADS_1
"Aku jelaskan semua kenapa Papa kamu membenci ku dekat dengan mu!"
"Janji?"
"Iya, Sayang! Janji!"
"I'll miss you!"
"Me too!" jawab Devan.
"Sayang, ada yang datang! bye!" ucap Yocelyn cepat.
"Bye bye Sayang!" jawab Devan, tapi panggilan sudah di matikan oleh Yocelyn.
Devan merasa lebih lega setelah mendengar suara kekasihnya. Devan kembali memikirkan cara untuk bisa membawa Yocelyn, dan barulah berfikir cara terbaik untuk bisa mendapat restu.
# # # # # #
Di kamarnya setelah menyembunyikan ponselnya, Yocelyn langsung kembali duduk manis di sofa.
"Masuk!" teriaknya pada orang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Nonaa!" seru Erina yang mendengar Yocelyn kembali, dan langsung datang ke mansion.
Bukannya menjawab Yocelyn justru memanyunkan bibirnya.
"Nona kenapa seperti itu?" tanya Erina mendekati Yocelyn lalu duduk di sampingnya. "Apa Nona tidak tau, mansion serasa gempa setiap hari semenjak Nona kabur?"
"Tapi selama kabur aku sangat bahagia!" jawab Yocelyn tanpa rasa berdosa.
"Nonaa..."
"Kamu mau bantu aku kabur lagi tidak?"
"Jangan mimpi ya Nona!" jawab Erina tegas. "Saya bisa di gantung Tuan besar di menara big ben!" lanjutnya.
"Ck!" Yocelyn berdecih kesal.
"Hehe!" Yocelyn tersenyum kikuk.
"Brarti benar!" Erina tampak terkejut.
"Iya!" jawab Yocelyn dengan senyum manis yang biasa dia tunjukkan pada Devan.
"Pantas saja dari tadi senyum Nona tidak seperti biasanya! ternyata sedang kasmaran" ucap Erina.
"Memangnya biasanya seperti apa?"
"Biasanya senyum Nona itu kecut!"
"Memang sebelumnya hidup ku itu kecut!" jawab Yocelyn, "jadi senyum ku juga kecut! kalau sekarang aku punya kekasih yang sangat baik hati, jadi senyum ku juga cerah!"
"Ciee.. first love nih!"
"Haha! betul!" jawan Yocelyn.
Aku tidak pernah melihat Nona muda sebahagia ini! batin Erina melihat dalam senyum Yocelyn.
"Erin! kamu harus mendukung hubunganku dengan kekasihku!" ucap Yocelyn. "Jangan jadi pengkhianat!"
"Pengkhianat bagaimana?"
"Kalau kamu tidak mendukungku, itu brarti kamu mendukung Papa dan artinya kamu mengkhianati ku!"
"Lah, tapi kalau Tuan besar memecat saya bagaimana?"
"Kalau kamu tidak mendukungku, maka aku yang akan membuatmu di buang jauh dari kehidupan ku! aku tidak mau lagi punya asisten seperti kamu!"
__ADS_1
"Nonaa.. jangan buat saya pusing dong!"
"Tidak ada penawaran!"
Erina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ini namanya buah simalakama! batinnya menggerutu.
# # # # # #
Dengan menggunakan private jet, Devan, Oma dan Opa pergi meninggalkan UK alias London. Menuju Indonesia, negara kelahiran Devander dan sang Oma.
Selama pesawat mengudara, pikiran Devan hanya di penuhi oleh ide terbaik untuk bisa menyatukan cintanya dengan sang kekasih.
Selama di Indonesia mereka masih berkomunikasi melalui ponsel pintar mereka. Tentu saja dengan Yocelyn yang masih telfon dengan sembunyi - sembunyi.
Beberapa hari berlalu, Devander telah kembali ke London. Hatinya sudah di penuhi dengan kerinduan yang membuncah pada sang kekasih. Tapi apalah daya, dia belum menemukan ide terbaik untuk bisa membawa sang kekasih keluar dari mansion yang sudah pasti di jaga ketat.
"Sayang, kamu bilang sepulang dari Indonesia kamu akan memberi tahuku, arti dari Casanova?" ucap Yocelyn melalui panggilan telponnya. "Apa Casanova itu sesuatu yang buruk?" lanjutnya.
"Aku akan menjelaskan setelah kita bertemu, Sayang!" jawab Devan.
"Memangnya kenapa sih, kamu tidak langsung menjawab saja!"
Bisa saja kamu akan meninggalkan aku kalau kamu tau aku Casanova! eh bekas Casanova! ucap Devan dalam hati.
"Pokoknya aku akan menjelaskan saat kita tengah mengobrol berdua, bukan melalui telfon seperti ini!"
"Kelamaan, Sayang! aku sudah tidak sabar! kenapa Papa tidak rela aku dekat dengan karena kamu yang Casanova! apa Casanova itu seburuk Gay atau Lesbi!" cerocos Yocelyn melalui panggilan seluler saat Devan baru saja kembali ke apartemennya.
"Em...." Devan berdiri di dekat dinding kaca menatap kota London dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak punya jawaban terbaik untuk kekasihnya.
"Apa?" tanya Yocelyn yang tidak sabar.
"Kamu harus percaya padaku! aku akan menjelaskan tentang apa itu Casanova saat kita sudah bersama!"
"Kamu selalu saja begitu!"
"Yocelyn!" teriak sebuah suara dari sebrang membuat Devan ketar ketir.
Dan saat itu juga panggilan mereka berakhir.
"Shi***!" umpat Devan yang masih merindukan Yocelyn. "Jangan sampai ponsel Yocelyn ketauan oleh Keanu!" gumamnya.
Hati Casanova itu kini di penuhi perasaan yang tidak enak. Untuk pertama kalinya, seorang Devan hatinya kacau balau memikirkan seorang gadis.
.
.
.
.
Happy reading . . .
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.