Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Nasehat


__ADS_3

Jam pulang kuliah tiba, seperti biasa mereka akan keluar berempat menunggu jemputan satu persatu.


Devan kembali menjemput Yocelyn. Yocelyn berjalan mendekati mobil Devan yang berhenti tepat di depannya.


"Sayang!" sapa Yocelyn membuka pintu penumpang bagian depan.


"Hai!" balas Devan dengan senyum yang mengembang.


Yocelyn duduk di kursi penumpang, matanya sempat menoleh Ayra yang menunggu sendirian di halte penjemputan.


"Kasihan Ayra nunggu taksi!" ucap Yocelyn pada Devan.


"Tumben?" tanya Devan.


"Supirnya mengalami insiden setelah mengantar Ayra! terus di rawat di rumah sakit!"


"Kamu mau memberi tumpangan?" tawar Devan.


"Emang kamu izinkan?"


"Kalau kamu mau kenapa tidak, Sayang!"


"Yeay! aku panggil dia dulu ya?" ucap Yocelyn kembali melepas seat belt nya.


"Iya, Sayang!"


Yocelyn kembali keluar dari mobil suaminya, menghampiri Ayra yang duduk menunggu taksi.


"Ayra!" panggil Devan. "Pulang bareng aku yuk!" ajak Yocelyn.


"Nggak deh Yocelyn, nggak enak sama suami kamu!" jawab Ayra berpura - pura. Dalam hatinya sangat mengharapkan bisa dalam posisi dekat dengan Devan.


"Suami ku bilang tidak apa - apa, dia mau antar kamu pulang!"


"Tapi aku tidak enak, Yocelyn!"


"Sudahlah, ayo!" ucap Yocelyn sembari menarik lengan Ayra.


"Iya deh!" jawab Ayra.


Yocelyn duduk di kursi depan, dan Ayra duduk di kursi belakang Yocelyn. Mata nakal Ayra tentu saja langsung tertuju pada Devan yang sedang memegang kemudi.


"Ayo, Sayang!" ucap Yocelyn setelah memakai sabuk pengaman.


"Ok!" jawab Devan sembari melajukan mobilnya.


"Rumah kamu di mana, Ra?" tanya Yocelyn menoleh Yocelyn yang duduk di belakangnya.


"Daerah Lancashire, Yocelyn!"


"Oh!" Yocelyn mengangguk paham.


Sementara Devan langsung melajukan mobilnya ke daerah yang di maksud Ayra tanpa bertanya langsung pada Ayra.


Dan Ayra, begitu menikmati pemandangan yang menurutnya sangat indah. Apa lagi kalau bukan wajah tampan Devan yang menggoda dari arah samping. Sesekali Ayra melihat kaca tengah yang memperlihatkan wajah tampan Devan dari depan.


Tuan Devan benar - benar tampan! tapi kenapa dia sudah tobat sebelum aku mendapatkan kesempatan seperti mereka!


Jurus apa yang di pakai Yocelyn untuk menaklukkan Tuan Casanova satu ini?


Batin Ayra berkelana kemana - mana.


Devan menyadari tingkah Ayra yang menurutnya sangat mengganggu. Tapi Devan sangat pandai menguasai dirinya. Devan tetap terlihat santai dan tenang.


"Maaf ya Yocelyn dan Tuan Devan, aku merepotkan kalian!" ucap Ayra mencoba untuk mendapatkan suara Devan yang selalu terdengar seksi di telinganya.


"Tidak masalah, Ra!" jawab Yocelyn.


Yocelyn kecewa, karena Devan sama sekali tak meresponnya. Bahkan seolah menganggapnya tidak ada.


Tuan Devan, kenapa kau selalu cuek padaku!

__ADS_1


Batin Ayra memanyunkan bibirnya melihat Devan yang begitu cuek.


Sampai akhirnya sampailah di daerah Lancashire.


"Daerah mana rumah mu?" tanya Devan tanpa menoleh Ayra.


"Hampstead!" jawab Ayra dengan senyum mengembang karena Devan mengeluarkan suaranya.


Devan kembali diam, dia hanya fokus mengemudikan mobilnya menuju jalan yang di ucapkan Ayra.


"Tuan Devan pernah ke daerah sini?" tanya Ayra mencoba mengakrabkan diri dengan Devan di depan Yocelyn.


"Hemm!" jawab Devan cuek setengah dingin.


Ini orang dari dulu sampai sekarang susah sekali di dekati!


Ucap Ayra dalam hati.


"Gang itu!" ucap Ayra setelah mulai mendekati tempat tinggalnya.


Tanpa bicara lagi Devan berhenti tepat di depan rumah yang di maksud Ayra.


"Mau mampir dulu nggak Yocelyn?" tanya Ayra sebelum turun dari mobil Devan.


"Nggak usah deh, Ra! kapan - kapan aja!" jawab Yocelyn menoleh ke belakang. "Soalnya aku mau ikut suami ku ke kantor!" lanjut Yocelyn.


"Oh!" Ayra mengangguk melihat Devan yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. "Ya udah, thanks ya sudah di antar!"


"Sama - sama, Ra!" jawab Yocelyn.


Ayra turun dari mobil, dia masih berdiri di tepi jalan. Memastikan mobil Devan meninggalkan depan rumahnya.


"Kemana ya Asher! dia menghilang begitu saja!" gumam Ayra.


# # # # # #


"Sayang, kamu boleh bersahabat dengan siapapun," ucap Devan saat sudah meninggalkan Ayra, "tapi kamu harus ingat, jangan terlalu dekat, dan juga jangan terlalu baik!" lanjut Devan.


"Kenapa?" tanya Yocelyn.


"Iya sih!" Yocelyn mengangguk.


"Bisa saja mereka hanya baik saat di depan kamu, dan busuk di belakang kamu!"


"Kalau menurut kamu, mereka benar - benar baik atau tidak?" tanya Yocelyn pada Devan. "Kamu ahlinya membaca gerak gerik orang!"


"Kalau mereka berani mengkhianati kamu, mereka akan berhadapan dengan ku!"


"Kok jawaban kamu gitu sih?" tanya Yocelyn yang merasa tidak masuk dengan pertanyaan yang dia berikan.


"Aku mengawasi mereka dari jauh, kalau ada yang berkhianat, aku akan turun tangan!" ucap Devan. "Yang jelas kamu jangan terlalu baik dengan mereka! dan jangan terlalu percaya dengan mereka


"Langsung pada intinya!" ucap Yocelyn kesal karena Devan menjawab bertele - tele. "Jadi berdasarkan penilaian kamu, mereka tidak baik?" tanya Yocelyn fokus menatap Devan yang sedang mengemudi.


"Aku tidak mau kamu kecewa! kamu kan baru kali ini punya teman!" jawab Devan.


"Ayolah, Sayang! jawab dengan benar!" rengek Yocelyn.


Devan hanya menyungging senyum tipis. Seolah membenarkan ucapan istrinya.


Yocelyn menyadarkan punggungnya dengan menggigit ujung kukunya. Seolah berfikir, benarkah mereka bukan sahabat yang baik.


Apa iya, aku akan selamanya tidak punya sahabat seperti orang - orang pada umumnya!


Tanya Yocelyn dalam hati.


# # # # # #


Tiga hari kemudian . . .


"Ayra!" sapa Cleo pada Ayra yang baru turun dari mobil yang mengantarnya ke kampus.

__ADS_1


"Hai, Cleo sayang!" balas Ayra.


"Tumben kamu di antar supir kamu lagi! kemana sugar daddy kamu?" tanya Cleo.


"Entahlah! dia menghilang sejak empat hari yang lalu!" jawab Ayra malas.


"Oh!" Cleo mengangguk sembari memikirkan sesuatu.


Aku juga tidak pernah bertemu lagi di klub, sejak malam itu! Padahal dia sangat cocok untuk di jadikan sugar daddy!


Batin Cleo.


"Kenapa Cleo?" tanya Ayra yang melihat Cleo seperti sedang melamun.


"Eh, tidak ada!" jawab Cleo tersenyum kaku. "Jadi sekarang nggak punya sugar daddy dong?" ucap Cleo.


"Nggak! cuma kencang singkat doang!" jawab Ayra.


"Haha! aku tau, mana bisa sih kamu nggak bercinta sehari saja!"


"Haha! garing tau, kalau nggak ada aktivitas seperti itu!" ucap Ayra. "Lebih parahnya, aku takut dompet aku ikut garing! kan nggak enak!"


"Kalau urusan dompet garing aku juga takut! hahah!" sahut Cleo tergelak.


"Nah kan! hahah!"


Mereka masuk secara bersamaan seperti biasa. Dua sahabat yang entah akan selamanya atau tidak.


# # # # # #


Beberapa hari kemudian . . .


Hari ini, tepat hari pertama Yocelyn dan teman - temannya ujian semester tujuh. Devan kembali mengantar Yocelyn ke kampus.


"Kamu harus fokus dengan ujian, Sayang!" ucap Devan setelah membuka pintu penumpang untuk istrinya.


"Siap, Suamiku!" jawab Yocelyn mengecup singkat pipi Devan.


Devan menangkup wajah Yocelyn menggunakan telapak tangannya. Lalu mencium setiap inchi dari wajah istrinya. Mereka sama sekali tidak malu dengan itu, karena hal seperti itu juga sudah biasa terlihat di sana.


"Dah dah!" Yocelyn melambaikan tangan dan berjalan masuk ke kampusnya.


Devan tetap berdiri di samping mobilnya setelah membalas lambaian tangan Yocelyn. Devan masih menatap punggung istrinya sampai tak terlihat.


"Tuan Devan!" panggil seseorang.


Devan menoleh ke arah sumber suara. Devan tetap terlihat santai, tapi dia juga terlihat enggan menanggapi orang itu.


.


.


.


.


.


.


.




Happy reading kakak🌹🌹🌹



Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya 🥰🥰

__ADS_1



Salam


__ADS_2