
🍄 Keesokkan paginya di Pusat pemerintahan FG corp. London . . .
Devan tengah duduk santai di sofa ruang kerjanya. Begitu juga dengan Yocelyn yang hari ini memilih untuk ikut suaminya ke kantor.
Di sebrang sofa mereka, duduklah seorang laki - laki, dengan sebuah tongkat kaki satu yang di letakkan di samping sofa.
"Aku senang kita akan menjadi besan!" ucap Devan pada Darren yang menyungging senyum. "Aku baru tau jika Ivander punya kekasih saat mengunjungi anak - anak di Oxford!"
"Sebenarnya aku sudah mengetahui sebelumnya. Tapi aku pikir biasalah anak muda berpacaran. hanya saja aku tidak menyangka jika Ivander akan mendatangi Little Charla tengah malam begitu!" ucap Darren. "Maafkan aku Devan, bukan aku tidak suka. Tapi aku tidak ingin putri ku satu - satunya seperti sang ibu. Yang mencintai terlalu dalam, tanpa bisa memiliki!" ucap Darren.
Seketika Devan sedikit menunduk. Menghela nafasnya. Sedang Yocelyn kembali ikut bersedih.
"Jika saja Charla masih hidup, ingin rasanya aku bersimpuh di kakinya untuk meminta maaf!"
"Sudahlah, Devan! Lagi pula selama aku mengenalnya, Charla tidak pernah bilang benci sama kamu. Dan seandainya dia masih hidup, dia pasti senang melihat putrinya akan menikah dengan putra mu!"
"Semoga saja begitu!" ucap Devan lirih.
Yocelyn dengan tulus memeluk punggung suaminya. Ia pun ikut hanyut dalam kenangan masa lalu mereka.
"Aku tau Ivander tidak akan seperti dirimu, mangkanya aku membebaskan Charla untuk tinggal bersamanya!" ucap Darren. "Selama 18 tahun usianya, tak pernah sekalipun gadis itu jatuh cinta. Dia hanya gadis yang sangat manja pada Daddy nya. Entahlah, saking manjanya dan nyaman dengan ku, dia pernah bilang untuk punya pacar, kalau hanya menyiksa batin saja. Karena kebanyakan fenomena remaja saat ini seperti itu bukan. Jatuh cinta kemudian sakit hati dan bahkan berakhir tragis."
"Kamu benar, Darren! aku harap Ivander seperti saudara kembar ku saja!" ucap Devan.
"Maksud kamu Alexander?"
"Iya, dia hanya pernah jatuh cinta dua kali dalam hidupnya. Dan ternyata itu gadis yang sama. Hanya saja bertemu di usia yang jauh berbeda!" Devan tersenyum kecil, mengingat keunikan Alexander.
"Sepertinya Ivander memang seperti saudara mu!"
"Iya, dia memang tidak pernah jatuh cinta sebelumnya! dia hanya mencintai aku dan Jesselyn." Sahut Yocelyn.
"Baguslah, aku harap dia setia pada putri ku dan bisa menjaga putri ku dengan baik!"
"Iya!" jawab Devan.
"Lebih baik sekarang kita bicarakan bisnis yang akan kita kembangkan bersama" ucap Darren.
"Betul!" jawab Devan.
"Kalau begitu aku ke kamar saja ya, Dad? aku ingin istirahat!" ucap Yocelyn.
"Iya, sayang!"
Obrolan Devan dan Darren beralih pada bisnis yang akan mereka kembangkan.
# # # # # #
Mulai pagi ini, Ivander berangkat ke kampus bersama Charla. Dia jauh lebih semangat dan bangga, karena gadis yang di cintai nya kini berstatus sebagai tunangannya. Meskipun tak ada satu pun yang tau kecuali para sepupunya.
Ivander melajukan mobilnya di belakang mobil yang di kemudikan Argha. Mereka memarkir mobil dengan berdampingan. Lalu keluar berempat. Karena Qiandra tidak ke kampus. Qiandra menempuh pendidikan tertinggi, sehingga jadwalnya pun tidak bisa di samakan dengan yang lain.
Argha jalan berdampingan dengan Queenara. Sedang Ivander berdampingan dengan Charla. Mereka memasuki koridor kampus.
__ADS_1
"Aku ke fakultas ku duluan ya?" ucap Charla, karena hanya dia yang berbeda prodi.
"Aku antar, sayang!" ucap Ivander.
"Tidak usah, kak! aku kan bukan anak kecil!" jawab Charla.
"Charla...Charla.. bentar lagi married, masih aja manggil calon suami kakak!" celetuk Argha. "Apa bedanya sama manggil aku"
"Hehehe!" Charla tersenyum kikuk.
"Memangnya kenapa?" sahut Ivander.
"Panggil sayang, darling, honey atau apa gitu!"
"Aku nggak keberatan kok!"
"Tetep aja nggak enak di dengar! jadi kayak kakak adik!"
"Ya udah sayang, panggil aku selain kakak!" ucap Ivander pada Charla.
"Emmm.. panggil apa?" Charla tampak berfikir.
"Apa aja yang penting panggilan sayang!"
"Emm. ..apa ya?" Charla bingung. "Ntar deh aku pikir, takut telat masuk kelas nih!" ucap Charla.
"Ya udah ayo aku antar! nggak usah dengerin jomblo akut!"
"Aku sendirian aja!" jawab Charla. "Bye bye, sayang!" ucap Charla melambai tangan sekilas lalu beranjak dari rombongan.
Rasanya memang beda ketika di panggil sayang!
Ucap Ivander dalam hati.
"Biasa aja kali!" sahut Queenara yang menyadari tertegun nya Ivander.
"Apaan sih!"
***
Charla berjalan ke arah fakultas dimana dia menuntut ilmu. Namun sepersekian detik langkahnya terhenti oleh seorang mahasiswi, yang tak lain adalah Lea.
"Enak ya? ada yang antar jemput tiap hari?" ucap Lea menyindir tanpa melihat Charla.
Mendengar celotehan Lea yang seperti siap menyudutkan dirinya, Charla kembali melangkah. Berusaha cuek dan acuh pada Lea yang ternyata mengikuti langkahnya.
"Jurus apa yang kamu gunakan? sampai laki - laki setampan Ivander mau menjemputmu?" ucap Lea dengan sinisnya.
Charla, si gadis lugu itu tidak sedikitpun menoleh pada Lea.
"Lihat girls! merasa paling cantik saja dia!" ucap Lea pada temannya.
"Hahaha!" teman - teman Lea tertawa sinis.
__ADS_1
"Mungkin dia cuma numpang tenar pada Ivander Gibran, sang putra mahkota FG corp! supaya dikenal banyak orang di kampus ini!" ucap satu teman Lea.
"Atau jangan - jangan dia di perintahkan oleh orang tuanya untuk merayu sang putra mahkota, supaya bisnis keluarganya berkembang pesat!" sahut Lea.
Spontan beberapa mahasiswa menoleh pada Charla dan rombongan Lea. Dan itu membuat Charla merasa risih.
"Cih! memalukan!" celetuk satu lagi teman Lea.
"Jika berdasarkan fakta, bagaimana mungkin Ivander mau dengan tubuh kotor itu!" ucap teman Lea.
"Kalau pun mau juga pasti karena khilaf!"
"Atau karena di jebak!" sahut teman Lea satunya.
"Hahaha!"
Tap!
Langkah kaki Charla berhenti. Spontan ketiga gadis di belakangnya itu ikut berhenti, sembari menunggu apa yang akan di lakukan Charla.
Charla menoleh dan menghadap ketiga gadis itu dengan tatapan kesal dan benci. Charla menatap satu persatu wajah kakak tingkat yang paling di bencinya itu.
"Maaf ya kakak - kakak yang cantik! tapi saya bukan mahasiswi penggoda! Saya adalah tunangan Ivander Gibran!" Charla mengangkat tangan kirinya, dan menunjukkan cincin bertahta berlian yang melingkar di jari manisnya pada ketiga gadis itu.
Sontak ketiga gadis itu menyipitkan mata mereka untuk memastikan keaslian cincin itu. Kemudian membuka mulutnya heran, karena itu ternyata cincin berlian asli.
"Jadi wajar dong kalau saya pulang pergi atau kemanapun di antar oleh tunangan saya?" tanya Charla.
Dan hal itu berhasil membuat beberapa mahasiswa di sekitar menoleh pada empat mahasiswi yang menjadi pusat perhatian pagi ini.
"Bohong ini pasti!" ucap teman Lea.
"Jika tidak percaya, silahkan cek tangan kiri Ivander! apakah cincin kami sama atau tidak!" ucap Charla.
"Hahaha! dia pasti masih berada di alam mimpi!" ucap Lea.
"Kalian yang sedang tidur!" seru Charla memberanikan diri. "Ini adalah bukti cinta kami! jika kalian ingin selamat, sebaiknya segera bangun!"
Dengan tegas Charla menurunkan tangannya kembali, dan berbalik. Melanjutkan langkahnya untuk ke kelas dengan rasa puas berhasil membungkam mulut Lea.
Sementara Lea membeku menatap punggung Charla. Sedang dua temannya menatap Lea dan Charla bergantian.
"Hancur sudah harapan ku!" gumam Lea lirih.
"Kalaupun iya, mereka baru bertunangan, belum menikah!" bisik teman Lea.
Namun Lea hanya mengedipkan matanya beberapa kali. Dia masih shock mendapati kenyataan itu.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Lea sebaiknya mundur ya!🤩
Happy reading 🌹🌹🌹