
"Sampai akhirnya, suatu pagi dia memberi saya kejutan bahwa dia hamil! Saya sangat bahagia, sampai air mata kami tumpah begitu saja. Itu adalah kali pertama kebahagiaan saya terasa lengkap dan sempurna. Apapun yang dia inginkan saya berusaha untuk mewujudkan. Tapi sayang, dia bukan wanita yang banyak menuntut. Dia hanya ingin agar saya setia padanya! hari itu dan selamanya!"
Air mata Yocelyn kembali meluncur, di ikuti setetes air mata Devan. Mengingat dia adalah orang yang turut andil pernah mengecewakan perasaan Charla, meskipun sebelumnya sudah berdamai.
"Saat kehamilannya berusia tujuh bulan, dia ingin pergi dan melahirkan di kota ini, London!" air mata Darren semakin deras mengingat masa itu.
"Dengan senang hati saya membawanya ke sini, tanpa ada firasat buruk sedikitpun. Dia mengajak saya ke kampusnya di Oxford. Dia bercerita banyak hal tentang saat - saat dia masih kuliah di sana. Dia bilang dia jatuh cinta pada seorang kakak tingkatnya. Tapi dia tidak mau percaya akan cinta, karena masa lalu keluarganya yang kelam. Mereka hanya menjalin kedekatan dan hubungan tanpa status selama bertahun - tahun."
Devan kembali meneteskan air matanya, karena menyadari dialah pria yang di maksud.
"Tiga hari kami di Oxford, kami pergi ke kota ini. Kami tinggal di apartemen dia saat masih di sini! Kami menghabiskan waktu bersama dan bekerja secara online, karena sebagian besar pekerjaan kami ada di Swiss."
"Selama dua bulan menjelang kelahiran little Charla, kami habiskan untuk berkeliling kota. Dia mengajak saya untuk pergi ke tempat - tempat favoritnya selama di London. Termasuk ke kampus dimana dia melanjutkan kuliahnya yang terputus di Oxford, Demi bisa mengikuti laki - laki yang dia cintai saat itu."
Air mata Devan kembali menetes. Mengingat masa itu, dimana Charla rela melakukan apapun agar bisa dekat dengannya.
"Dia juga membawa ku ke sebuah gedung apartemen, dia bilang dulu laki - laki yang dia cintai tinggal di apartemen itu! tapi laki - laki itu kini sudah menikah, dan mungkin sudah memiliki anak. Dia juga bilang, istri laki - laki yang dia cintai itu pernah kehilangan janinnya karena bertemu dengan dia. Sungguh dia masih di hantui rasa bersalah akan hal itu. Dia ingin sekali menemui mereka dan kembali memohon ampun! dan memastikan mereka sudah benar - benar memiliki pengganti."
Mata tiga orang itu semakin di penuhi cairan bening. Bahkan Yocelyn sampai tersedu - sedu.
"Tapi nyalinya terlalu ciut untuk kembali muncul di depan mereka. Meskipun saya sudah berusaha membantu meyakinkan, namun nyatanya dia memilih untuk meninggalkan apartemen itu. Sampai akhirnya kami kembali ke apartemen kami."
"Sampai suatu hari, karena urusan pekerjaan yang penting, saya meninggalkan dia di apartemen seorang diri. Saya meeting di salah satu hotel bersama klien saya yang ada di sini. Selama meeting tak ada satu pesan atau satu panggilan pun darinya. Saya pikir semua baik - baik saja." Darren mengusap air matanya yang membanjiri pipinya.
"Namun siapa sangka, saat saya kembali dan mencari - cari dia, saya hanya mendengar suara tangisan bayi dari arah kamar kami. Pikiran saya kacau seketika itu juga. Dan semakin hancur saat saya mendapati dia tergeletak di lantai kamar dengan bersimbah darah. Dan tak jauh darinya little Charla menangis di lantai dengan tali pusat yang masih ada di jalan lahir." Air mata Darren semakin deras tak terkira.
"De.. dengan keterbatasan saya, saya mengangkat little Charla dan melapisinya dengan selimut. Sa.. hah.. saya menghubungi rumah sakit dan seketika itu juga, ambulan dan dokter terdekat datang."
__ADS_1
Suara terbata - bata dari bibir Darren semakin membuat Yocelyn sesenggukan sembari memeluk erat suaminya.
"Saat dia di bawa ke rumah sakit, dia masih bernafas meskipun lemah. Namun setelah dua hari di rawat ..." Darren menghela nafas, seolah tidak sanggup lagi untuk bercerita. "Dia.. dia.. hiks! dia meninggalkan kami! meninggalkan kami berdua!" Air mata Darren semakin deras. Penyesalan yang bahkan belum hilang, kembali tumbuh dengan lebatnya.
Di ikuti Yocelyn yang sesenggukan di curuk leher Devan. Begitu juga Devan yang beberapa kali mengusap air matanya.
"Saya ingat, dia pernah bilang, jika anak kami perempuan akan dia beri nama yang sama dengannya. Dengan menambahkan kata Little di depannya. Untuk itulah, saya gunakan nama Little Charla Caroline untuk putri kami. Agar saya selalu mengingatnya!"
Devan juga ingat bahwa, dia ingin memberi nama Ivander nama yang sama dengannya. Karena dulu dia pernah membahas hal itu dengan Charla, hanya sekedar candaan pada masa itu. Namun siapa sangka Charla mewujudkan candaan itu.
"Little Charla tumbuh tanpa adanya seorang ibu. Tanpa kasih sayang seorang ibu. Bahkan dia lahir dengan cara yang mengenaskan. Tak ada pertolongan. Dan sampai saat ini penyesalan itu tak kunjung hilang dari hidup saya. Saya akan mengingat sepanjang usia saya."
"Dan saya semakin menyesal, kenapa saya menuruti dia, agar tidak menyewa PRT untuk di apartemen. Saya sangat menyesal kehilangan istri saya! Dia adalah satu - satunya wanita yang mau menerima kekurangan saya!" lanjut Darren masih dengan air matanya.
"Memangnya apa kekurangan, Tuan? bukankah Tuan terlihat sempurna?" tanya Devan setelah menghapus air matanya.
Namu akhirnya, Darren menurunkan tangan kirinya. Mata Devan dan Yocelyn mengikuti arah gerak tangan itu.
Tuk tuk tuk!
Darren memukul area betis kaki kirinya. Namun siapa sangka, keluar bunyi tuk tuk dari sana. Yang menandakan kaki kirinya adalah kaki palsu.
Yocelyn kembali menangis tidak karuan. Mengingat betapa tulusnya Charla mencintai kekurangan suaminya.
Devan pun tak luput dari air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Tak ada kalimat yang bisa keluar dari bibirnya untuk saat ini.
Menyesal tak mencari kabar tentang Charla semenjak gadis itu memutuskan untuk meninggalkan London. Pandangan mata Devan terlihat kosong, dengan tangan yang masih memegangi pinggang istrinya yang masih menangis sesenggukan di pelukannya.
__ADS_1
"Dia adalah gadis yang tulus. Meskipun aku tidak tau apa memang sejak kecil dia gadis yang tulus atau tidak. Yang jelas dia sangat tulus mencintai saya!" lanjut Darren sembari menghapus air matanya.
"Dia memang gadis yang tulus sejak awal aku mengenalnya belasan tahun yang lalu!" sahut Devan, masih dengan tatapan kosong ke arah depan.
Darren menoleh Devan, matanya menyusuri setiap inchi dari wajah tampan Devan. Sesaat kemudian Darren mengajukan pertanyaan.
"Maaf, apa kalian yang bernama Devan dan Yocelyn?" tanya Darren ragu.
Devan dan Yocelyn tersentak kaget. Keduanya menatap Darren dengan penuh tanda tanya.
"Iya!" jawab Devan lirih.
Darren sedikit menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. Ada perasaan lega yang merasuki hatinya.
"Sebenarnya sampai saat ini saya tidak juga kembali ke Swiss, karena ingin bertemu dengan kalian" ucap Darren. "Beberapa kali saya dan little Charla mendatangi apartemen kalian, tapi pihak apartemen bilang, kalian sudah tidak tinggal di apartemen itu lagi! Dan mereka menolak memberikan informasi dimana kalian tinggal!"
"Ada apa ya?" tanya Devan.
.
.
**Sedih nggak? 🥺**
__ADS_1