
"Tidur rupanya!" gumam Devan setelah membuka pintu kamar lantai bawah yang di tempati Yocelyn. Dengan TV kamar yang masih menyala.
"Yossy?" panggil Devan duduk di tepi tempat tidur Yossy.
Gadis ini memang benar - benar cantik! batin Devan menatap wajah mulus Yocelyn.
"Yossy?" panggil Devan lagi dengan menggoyang sedikit bahunya.
Yocelyn mengerjapkan matanya, menyadarkan dirinya kembali.
"Devan!" gumamnya setelah sadar sepenuhnya, spontan duduk dari tidurnya. "Maaf, aku ketiduran!" ucapnya mematikan TV nya yang masih menyala.
"Aku sudah bawa semua pesanan mu!" ucap Devan.
"Hah?" Yocelyn tampak bingung.
"Hemm!" Devan mengangguk pelan, "bangunlah!" ucap Devan yang juga langsung berdiri.
"Hemm!" Yossy keluar dari selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Devan kembali menelan ludahnya melihat kaki Yocelyn yang tampak putih dan mulus. Dengan sekuat hatinya Devan berjalan keluar dengan di ikuti Yocelyn yang sama sekali tidak menyadari gestur Devan.
Devan duduk di sofa ruang tengah, tepat di samping beberapa paper bag untuk Yocelyn. Yocelyn duduk di sofa yang sama, hanya berbatasan dengan barisan paper bag.
"Ini semua berisi baju untukmu!" ucap Devan menunjuk beberapa paper bag di sampingnya.
Yocelyn merasa tidak enak saat membuka salah satu paper bag yang berisi 3 potong baju.
"Satu paper bag saja berisi 3 potong!" ucap Yocelyn, "Belum yang lainnya?" tanya Yocelyn membayangkan banyaknya baju yang di belikan Devan.
"Memangnya kamu tidak akan ganti baju?" tanya Devan melirik Yocelyn yang raut wajahnya terlihat sangat polos.
"Tapi aku tidak enak menerima semua ini!" ucap Yocelyn, "kamu sama sekali tidak mau menerima uangku!" lanjutnya.
"Aku sudah katakan, uang bukan masalah penting bagiku!" ucap Devan serius. "Jangan pernah membahas masalah uang dengan ku!"
"Makasih Devan!" ucap Yocelyn tulus.
"Dan ini ponsel untuk mu!" lanjutnya menyerahkan paper bag kecil yang ada di atas meja.
"Yaa ampun, Devan!" celetuk Yocelyn setelah membuka paper bag yang di berikan Devan. "Aku tidak meminta ponsel keluaran terbaru! aku hanya butuh untuk hiburan!"
"Aku khawatir kamu tidak bisa mengoperasikan ponsel biasa! karena aku yakin kamu sudah terbiasa dengan ponsel mahal keluaran terbaru!" ucap Devan.
"Hehe! iya sih!" Yocelyn tertawa kikuk, "tapi kan aku juga bisa belajar!"
"Pakai ini saja!" ucap Devan, "lagi pula ponsel mu sebelumnya juga seperti ini kan?"
"Iya!" jawab Yocelyn dengan senyum manisnya.
"Christian sudah memasukkan kartu di dalam ponsel itu!" ucap Devan. "Kamu tinggal memakainya.
"Terima kasih banyak Devan!" ucap Yocelyn yang berpindah duduk di samping Devan. "Kamu sangat baik padaku, sama seperti Kakak ku!" lanjutnya memeluk pundak Devan.
Devan kembali menelan ludahnya dengan sangat susah berdekatan dengan Yocelyn yang terlihat sangat menarik perhatiannya.
"Sama - sama!" jawab Devan mengusap lengan Yocelyn.
Yocelyn melepas pelukannya dan langsung membuka dus book ponsel barunya. Dan mulai mengutak - atik ponsel yang kini menjadi miliknya.
"Ayo makan dulu!" ucap Devan merebut ponsel di tangan Yocelyn. "Aku lapar!" lanjutnya.
"Kamu sudah pesan makan siang!"
"Itu!" ucap Devan menunjuk troli makanan.
"Wah! kamu sangat teliti!" puji Yocelyn.
Yocelyn mendorong troli makanan dan membawanya ke hadapan Devan. Yocelyn kembali duduk di samping Devan.
__ADS_1
"Selamat makan!" ucap Devan yang langsung mengambil pisau dan garpu untuk memakan steak pesanannya.
"Kamu juga!" jawab Yocelyn yang juga mengambil pisau dan garpu.
Makan siang di ruang tengah tampak sangat santai meskipun mereka baru saling kenal.
"Nanti malam aku ada undangan pesta!" ucap Devan setelah makanan di piringnya sudah tandas.
"Pesta?" tanya Yocelyn. "Friday night!"
"Hemm!" Devan mengangguk.
"Boleh aku ikut? aku akan menyamar!" ucap Yocelyn.
"Apa!" pekik Devan.
"Tidak boleh kah?" tanya Yocelyn memanyunkan bibirnya.
"Emh! bukan begitu!" Devan bingung harus menjawab apa.
"Lalu?"
Devan tampak memikirkan alasan yang tepat agar Yocelyn tidak kecewa berlebihan.
"Itu pesta khusus, hanya yang punya undangan yang bisa hadir!" jawab Devan kemudian.
"Tapi kan, kamu bisa membawa ku menggunakan undangan mu!"
"Tidak bisa, Yossy! karena..." Devan tampak kembali berfikir.
"Sudahlah! jangan di lanjutkan! aku sudah tidak tertarik!" ucap Yocelyn merajuk.
"Itu lebih baik!" gumam Devan lirih, tapi masih bisa di dengar Yocelyn.
"Hufft!" Yocelyn membuang nafasnya kasar.
"Iya sih!" Yocelyn memanyunkan bibirnya.
"Begini, aku berencana besok akan membawamu pergi berlibur!" ucap Devan.
"Serius?" tanya Yocelyn yang ekspresi wajahnya berubah menjadi bersinar.
"Iyaaa!" jawab Devan serius pula.
"Yes!" Yocelyn kegirangan meninju udara. "Terima kasih Kakak Devan!" ucap Yocelyn memasang wajah imutnya, merangkul lengan Devan.
"Emp! iya!" jawab Devan mengusap puncak kepala Yocelyn dengan gemas.
"Tapi kemana?" tanya Yocelyn, "tempat berlibur yang aman untuk buronan seperti ku?"
"Buronan!" pekik Devan menatap tajam pada Yocelyn.
"Hehehe! bercanda!" ucap Yocelyn mengusap wajah Devan pelan. "Papa pasti masih mencari ku, apa julukan untukku kalau bukan buronan? hihi!" Yocelyn tersenyum dengan menunjukkan semua gigi putihnya.
"Buronan itu untuk orang yang melakukan kesalahan!" ucap Devan mentoel hidung Yocelyn yang masih duduk di sampingnya.
"Kabur bukan kesalahan?" tanya Yocelyn serius.
"Iya sih!" jawab Devan.
"Kapan - kapan kalau kamu ada undangan pesta yang bisa bawa teman atau saudara, ajak aku ya!" ucap Yocelyn.
"Baiklah!" jawab Devan pasrah.
"Kalau malam ini, kamu tidak bisa mengusahakan kah?" tanya Yocelyn lagi.
"Tidak! sekali tidak tetap tidak!" jawab Devan tegas.
"Heemmp!"
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku membawa mu ke pesta gila malam ini! sama saja aku memasukkan mu ke lubang neraka! ucap Devan dalam hati.
Dari pada untuk mereka lebih baik untukku sendiri! lanjutnya melihat Yocelyn yang kembali mengambil ponsel barunya.
"Kamu mau tetap di sini, atau kembali ke apartemen mu?"
"Kembali ke apartemen ku saja!" jawab yocelyn, "aki terlalu merepotkan mu kalau di sini terus!"
"Baiklah"
Devan mengeluarkan ponselnya, dan mendial satu nomor di ponselnya.
"Matikan CCTV lantai 30 dan 20 sekarang!"
"Baik, Tuan!" jawaban dari sebrang.
Spontan Yocelyn menoleh pada Devan yang terlihat sangat mudah memerintahkan orang yang dalam saluran telponnya.
"Ayo!" ucap Devan.
"Sekarang?" tanya Yocelyn.
"Iya! sekalian aku kembali ke kantor!"
"Ok!" jawab Yocelyn mengambil semua paper bag di sofa di bantu dengan Devan yang membawa sebagian paper bag.
Mereka berjalan keluar dari apartemen Devan, dan berjalan beriringan memasuki lift. Devan mengantarkan Yocelyn, hingga Yocelyn masuk ke dalam apartemennya.
"Aku kembali ke kantor dulu" pamit Devan di ambang pintu utama.
"Iya! hati - hati!"
"Hemm!"
Devan kembali mendial nomor yang tadi setelah dia meninggalkan gedung apartemen.
"Nyalakan kembali!" ucap Devan
"Baik, Tuan!" jawaban dari sebrang.
Devan mematikan panggilan di ponselnya, dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
# # # # # #
Sore hari Devan melajukan mobilnya kembali ke apartemen. Box makan malam untuk Yocelyn sudah tersedia di kursi mobil sampingnya.
Devan memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil dengan menenteng kantong makanan di tangan kirinya. Devan berjalan di lorong lantai 20.
Ting!
Devan menekan bel pintu sekali sebagai tanda dia datang. Dan langsung menekan sandi tanpa menunggu di bukakan pintu oleh Yocelyn.
"Sore!" sapa Yocelyn keluar dari kamarnya saat mendengar bel berbunyi, namun Devan sudah dalam posisi masuk ke apartemen.
Sampai di sini dulu ya..
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1