
Esok paginya . . .
Devan dan Yocelyn tengah menyantap sarapan yang di siapkan oleh pihak hotel. Sebagai penghuni hotel kelas eksklusif, tentu mereka mendapatkan pelayanan yang lebih.
Yocelyn dan Devan duduk berhadapan dengan menu sarapan yang luar biasa. Sesekali Devan menyuapi istri tercintanya.
Wajah Yocelyn tampak begitu cerah pagi ini. Berbeda dengan kemarin, saat masih di Singapura.
Devan sangat menyukai wajah Yocelyn yang seperti ini. Karena jelas tak ada gurat kesedihan yang membuat Devan memikirkan istrinya.
Sampai kerja pun ia tak akan fokus, jika istrinya memasang wajah masam atau ngambek sekalipun.
Dengan di temani udara yang masih terasa dingin, dan pemandangan menara Eiffel yang menjulang ke langit, mereka terlihat begitu bahagia.
Ya! karena tekanan sangat mempengaruhi ekspresi dan gerak gerik seseorang. Apalagi untuk gadis sepolos Yocelyn. Yang baru pertama mengenal cinta dengan suaminya.
"Nanti kita ke sana ya!" ucap Yocelyn setelah menyelesaikan santap paginya.
"Iya, Sayang!" jawab Devan.
"Emm.... kalau naik kereta ke sana bisa nggak?" tanya Yocelyn.
"Kan dekat, Sayang! ngapain naik kereta?"
"Aku mauuu" rengek Yocelyn manja.
"Baiklah!" jawab Devan pasrah. "Kalau begitu kita cari pemberhentian kereta api yang lebih jauh. Mau?" tawar Devan. "Biar jalan keretanya lebih lama!"
"Mau!" jawab Yocelyn cepat dengan wajah berbinar.
"Ok! ayo siap - siap!" ucap Devan.
"Ok, Sayang!" Yocelyn beranjak dari duduknya dengan senyum yang melebar.
Devan rela melakukan hal konyol sekalipun, asal istri tercintanya itu bahagia.
Ya! saat ini mereka tengah berada di stasiun yang bahkan cukup jauh dari hotel. Jika hotel ke menara Eiffel hanya butuh beberapa menit. Maka dari stasiun tempat mereka berada sekarang bisa menghabiskan waktu setengah jam perjalanan kereta. Belum lagi waktu untuk sampai di menara Eiffel.
Hal konyol yang di lakukan turis seperti Devan dan Yocelyn mungkin sangat jarang di lakukan oleh orang pada umumnya. Tapi demi kebahagiaan orang tercinta, hal tidak masuk akal dan buang - buang waktu pun akan di lakukan.
"Ah! akhirnya aku naik kereta!" seru Yocelyn yang duduk di samping Devan. "Terima kasih, Sayang!"
Cup!
Yocelyn mendaratkan kecupan di pipi laki - laki yang sedari tadi ia peluk lengan yang kekar itu.
"Sama - sama, Sayangku!" jawab Devan dengan mencubit gemas pipi Yocelyn dengan tangan lainnya.
__ADS_1
"Ini adalah pertama kalinya aku naik kereta, Sayang!"
"Masa?"
"Iyalah!"
"Papa mana mungkin ngizinin aku naik kereta!" Yocelyn memajukan bibirnya.
"Kasian istri Tuan Devan ini!" ucap Devan mencubit hidup Yocelyn.
"Emm... sakit dong Sayaang!" menyingkirkan tangan Devan yang menggoyang hidungnya. "Terima kasih ya Sayang! kamu selalu mewujudkan keinginan ku! Kamu benar - benar suami sempurna untukku!" ucap Yocelyn berbinar menatap Devan.
"Tugas ku membahagiakan kamu, Sayang!" jawab Devan membalas senyuman manis Yocelyn. "Sudah kewajiban ku memberikan apa yang kamu inginkan. Katakan, apa lagi yang kamu mau?"
Tiba - tiba wajah Yocelyn berubah menjadi pasi. Lalu mengalihkan wajahnya dari Devan. Perasaan sedih kembali menyerangnya.
"Sayang, kamu kenapa? apa aku salah bicara?" tanya Devan sedikit menunduk untuk melihat wajah Yocelyn yang murung.
"Maafkan aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk kamu." ucap Yocelyn lirih.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Devan yang seketika di landa kepanikan. Devan tau arah bicara Yocelyn kemana.
"Aku . . ." Lidah Yocelyn tercekat seolah tah sanggup bicara lagi.
"Sayaang... sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah memikirkan hal itu lagi!" ucap Devan selembut mungkin.
"Tetap saja hal itu sering mengganggu pikiran ku secara tiba - tiba"
Devan melingkarkan tangan di pundak istrinya dan membawa tubuh Yocelyn untuk di peluknya. Memberikan ketenangan pada istrinya yang dapat kapan saja berubah murung jika mengingat perihal anak.
"Kamu tau, Sayang! ini adalah kali pertama aku naik kereta dengan mu, wanita yang paling aku cintai di muka bumi ini setelah Mama ku!" ucap Devan mengalihkan pikiran Yocelyn.
"Kamu tidak pernah mencintai wanita lain sebelum aku?" tanya Devan.
"Pernah, tapi tidak sedalam ini!"
"Apa buktinya kalau tidak sedalam kamu mencintai aku?" tanya Yocelyn menoleh Devan dengan raut wajah yang sudah berubah lagi.
Devan tersenyum tipis, karena usahanya berhasil untuk mengalihkan fokus istrinya.
"Buktinya, kamu yang aku nikahi, dan sejak mengenal kamu, tak ada lagi satu wanita pun yang mampu membuat ku berpaling dari kamu!" jawab Devan dengan wajah serius. "Aku mencintai lebih dari apapun, Sayang!" ucap Devan lembut dan tulus.
"Terima kasih, Suami ku!" ucap Yocelyn dengan memeluk tubuh Devan erat.
"Aku yang harus berterima kasih padamu, Sayang! kehadiran mu dalam hidupku benar - benar membawaku menjadi Devander Gibran yang jauh lebih baik!" ucap Devan kemudian mencium puncak kepala Yocelyn.
"Tapi aku bukan istri yang sempurna untuk kamu, Sayang! sudah dua tahun kita menikah, tapi rahim ku tak kunjung berguna untuk mu!"
__ADS_1
"Ssstt!" Devan menggelengkan kepalanya cepat. "Jangan bicara yang tidak - tidak, Sayang! please!" Devan terlihat sangat memohon. "Dengan kamu yang selalu memasang wajah bahagia dan berbinar saja sudah cukup membuat hati dan hidupku bahagia!"
"Kamu menghiburku?" tanya Yocelyn.
"Sayaang.. apapun yang aku ucapkan untuk kamu adalah nyata! aku hanya butuh senyummu, hatimu, ragamu dan kesetiaan kamu padaku!" ucap Devan dengan tatapan yang begitu dalam, sembari jari jemari yang mengusap lembut pipi istrinya itu.
"Mana mungkin aku berani tidak setia, Sayang!" jawab Yocelyn. "Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku!" ucap Yocelyn sumringah.
Devan tersenyum bahagia dengan tangan yang masih betah membelai wajah cantik Yocelyn.
Tak terasa kereta sampai di stasiun tujuan. Mereka turun dengan menyatukan jari jemari mereka. Dan melangkah menjauh dari kereta api yang mereka naiki tadi.
Dan sampailah mereka di menara Eiffel. Tempat yang menjadi salah satu keajaiban dunia itu.
Mereka mengabadikan momen kebersamaan mereka di sana. Dengan kamera yang di bawa oleh Yocelyn.
Berbagai pose mereka ciptakan di sana. Foto - foto romantis pun tak luput dari jepretan kamera yang timer nya sudah di setting sebelumnya.
Beberapa jam kemudian mereka meninggalkan lokasi itu, dan berpindah ke pusat perbelanjaan. Yocelyn tampak sangat antusias berbelanja.
"Kalau aku beli ini kamu mau?" tanya Yocelyn menunjukkan syal couple berwarna biru yang menurutnya cocok untuk menggambarkan karakter dirinya dan Yocelyn.
"Why not!" jawab Devan santai.
Devan langsung membayar semua belanjaan Yocelyn yang tidak terlalu banyak, tapi cukup menguras kantong. Mengingat paris adalah surga belanja untuk kalangan menengah keatas.
Tapi bagi seorang Devander Gibran, cucu konglomerat dari London, uang itu tidak ada harganya.
Mereka meninggalkan pusat perbelanjaan dan beralih pada pusat kuliner yang menggiurkan lidah keduanya.
Menjelang sore, mereka kembali menggunakan kereta api untuk kembali ke stasiun semula. Dan kembali ke hotel bersama supir yang setia menunggu mereka di stasiun.
Sungguh lucu sekali bukan kegiatan mereka ini. Naik kereta hanya karena rasa ingin naik kereta. Berkumpul dengan berbagai macam manusia. Sungguh tidak biasa kalangan seperti mereka berkumpul dengan orang - orang yang berasal dari berbagai kelas.
.
.
.
.
**Happy reading 🌹🌹🌹**
__ADS_1
**Maaf telat up! 🙏🤩**