
Dengan perasaan bergemuruh, Keanu duduk di kursi penumpang bagian belakang dengan mengepalkan satu tangannya yang bersandar di pintu. Giginya tampak mengerat kuat, menduga - duga, siapa bagian dari Group G yang menyembunyikan putri semata wayangnya selama ini.
"Tambah kecepatan, bod*h!" ucap Keanu kesal pada supirnya.
"Siap, Tuan!" jawab sang supir menginjak gas lebih dalam.
Raut wajah Keanu benar - benar seperti tengah di panggang di bara api. Pikirannya benar - benar di penuhi tentang putrinya, kenapa sampai pengawal Group G melindungi putrinya.
Sssttt!
Mobil yang membawa Keanu berhenti tepat di depan pintu gerbang Group G. Dimana para pengawal dan security Group G terlihat masih berjaga di pintu gerbang yang tertutup itu. Mereka semua menunjukkan wajah garang mereka pada para pengawal Keanu yang masih setia di lokasi.
"Tuan, kita tidak bisa masuk!"
"Shi..iit!" umpat Keanu sambil membuka pintu mobilnya kasar.
"Apa kalian tidak mengenali aku?" tanya Keanu ketus pada para pengawal Group G.
"Kami mengenali anda Tuan Keanu!" jawab Ketua shift security yang berdiri di antara jajaran pengawal lainnya.
"Buka gerbang ini atau aku akan membawa alat berat untuk menghancurkan gerbang ini juga kalian semua!" ancam Keanu tegas menunjuk jajaran pengawal Group G.
Semua pengawal Group G saling pandang. Ketua shift security memilih menghubungi Christ, namun tak ada jawaban.
"Cepat!" bentak Keanu dengan kepalan tangannya yang tampak sangat erat.
Akhirnya atas rundingan bersama, Keanu di izinkan masuk tapi hanya seorang diri.
"Baiklah!" jawab Keanu ketus.
Keanu berjalan memasuki gerbang dengan langkah cepat. Dengan raut muka amarah Keanu menatap tajam dan sinis pada jajaran pengawal Group G yang langsung menutup kembali pintu gerbang kokoh setinggi 2,5 meter itu.
"Aku akan menghancurkan mu kalau sampai kau turut andil atas menghilangnya putri ku, Devan bangs*t!" gerutu Keanu sepanjang perjalanan melewati taman depan gedung hingga menuju lobby dengan berjalan kaki.
# # # # # #
Sementara di ruang kerja Devan, dengan asyiknya Yocelyn duduk di meja kerja Devan dengan puding di tangan kiri dan sendok kecil di tangan kanannya, yang dia beli di resto sebelumnya.
Devan berdiri menghadap Yocelyn, mengunci tubuh Yocelyn dengan kedua tangannya yang dia tumpukan pada meja kerjanya. Jarak wajah mereka sangat dekat. Bahkan saling bisa merasakan nafas masing - masing.
"Bagaimana kalau Papa menemukan aku dan membawa aku secara paksa?" tanya Yocelyn memanyunkan bibirnya sambil melahap pudingnya.
"Aku akan menjemputmu, Sayang!" jawab Devan dengan senyum gemas pada kekasihnya itu.
"Janji?" tanya Yocelyn sambil menyodorkan sendok berisi puding ke mulut Devan.
"Janji!" jawab Devan yakin, kemudian langsung melahap pudingnya.
Devan sangat menikmati puding di mulutnya. Tapi bagi Devan bukan pudingnya yang enak, melainkan karena kekasihnya yang menyuapinya.
"Sayang, perasaan ku tidak enak!" ucap Yocelyn meletakkan pudingnya di atas meja, namun belum sampai menempel di meja, Devan sudah meraihnya dan meletakkan di meja dengan jarak cukup aman dari Yocelyn dan tangannya, agar tidak tersenggol.
"Ada aku, Sayang!" ucap Devan, "apa yang membuatmu khawatir?" tanya Devan membelai wajah cantik Yocelyn.
Spontan Yocelyn melingkarkan tangannya di leher Devan dengan gaya manjanya.
"Aku takut kita tidak bisa bertemu lagi!" ucap Yocelyn yang terlihat sangat sedih dan takut.
"Apapun caranya aku pasti mendapatkan kamu, Sayang!" ucap Devan meraih bibir Yocelyn dengan bibirnya.
Mereka berciuman dengan lembut. Devan menghisap bibir Yocelyn dengan sangat lembut. Kedua tangan Devan yang semula menempel di meja, berpindah ke pinggang dan punggung Yocelyn. Devan memeluk erat tubuh gadis yang berusia 7 tahun lebih muda darinya itu.
Keduanya tampak memejamkan mata mereka. Menikmati desiran lembut yang menjalar secara halus di tubuh mereka. Devan mengeratkan pelukannya, saat merasakan tubuhnya menginginkan lebih dari berciuman.
Braakkk!!
Tiba - tiba pintu terbuka dengan paksa dan keras di ikuti suara ribut dari security dan sekretaris Devan juga Christ. Spontan keduanya menoleh ke arah pintu. Dan saat itu juga mata Yocelyn membulat dan tubuhnya sedikit bergetar.
"Papa!" gumam Yocelyn lirih tepat di dekat telinga Devan yang juga melihat arah pintu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Yocelyn!" teriak Keanu dengan suara menggelegar memenuhi seisi ruang kerja Devan.
Mata Keanu membulat sempurna menatap Devan dan Yocelyn, dengan posisi yang masih berpelukan.
"Apa yang kau lakukan pada putri ku, bangs***!" tanya Keanu dengan nada tinggi, bahkan mampu memecahkan gendang telinga jika saja bicara tepat di depan telinga.
Devan terlihat sangat tenang, seolah tidak ada rasa takut sedikit pun dalam dirinya menghadapi Keanu. Devan mengangkat sebelah sudut bibirnya dengan tatapan sinis saat Keanu meluncurkan pertanyaan itu.
__ADS_1
Yocelyn turun dari meja, dan langsung memeluk erat lengan kanan Devan seolah meminta perlindungan dari amukan sang Papa.
Dengan tangan kirinya, Devan memerintahkan semua karyawannya yang ada di ambang pintu untuk keluar. Spontan mereka semua menjauh dari ruang kerja Devan. Dan Grace menutup pintu ruangan Devan. Meninggalkan dua pria yang sama - sama berkuasa, dan sorang gadis yang menjadi rebutan.
"Memangnya yang ada di otak mu, apa yang aku lakukan pada putrimu?" tanya Devan dengan senyum sinis.
"Laki - laki brengsek seperti mu pasti sudah mencuci otak putri ku!" jawab Keanu dengan amarah yang membakar kepalanya.
"Hah!" Devan tergelak dengan ucapan Keanu. "Kau mengatai aku brengsek?" tanya Devan sinis dengan senyum mengejek.
"Yah brengsek!" tegas Keanu, "lepaskan putri ku atau aku akan menghancurkan gedung ini!"
"Hahahaha!" Devan tertawa mendengar penuturan Keanu. "Apa kau yakin berani melakukan itu hah?" tanya Devan sinis.
Dengan mengeratkan giginya, Keanu menatap tajam mata Devan.
"Kalau gedung ini runtuh, itu artinya gedung dan kekuasaan mu juga akan runtuh!" ucap Devan tegas dengan rahang yang mengeras.
"Yocelyn!" teriak Keanu tanpa memperdulikan ucapan Devan. "Kemarilah!" ucap Keanu tegas menatap tajam putrinya yang justru bersembunyi di balik lengan Devan.
"Papa, jangan pisahkan aku dari Devan!" ucap Yocelyn merengek dengan memeluk erat lengan Devan.
"Sayang, kamu tidak tau siapa laki - laki itu!" ucap Keanu tegas. "Dia bajing*n!"
Yocelyn hanya menggeleng seolah tidak perduli dengan ucapan Papanya. Melihat itu Devan mengusap tangan kekasihnya di lengannya dengan senyum tipis.
Keanu semakin terbakar melihat putrinya di sentuh oleh Devan di depan matanya sendiri.
"Lepaskan brengsek!"
Buuggh!
Aakh!
Sebuah tinjuan mendarat di pipi kiri Devan bersamaan dengan teriakan histeris Yocelyn yang melihat Devan di pukul oleh Papanya dengan nafas menggebu. Kepala Devan hanya bergerak sedikit mengikuti arah tinjuan Keanu, dan seulas senyum sinis terbit daro bibirnya.
"Daddy!" teriak Yocelyn menatap mata sang Papa.
"Kenapa? kau membela laki - laki ini!"
Yocelyn hanya melihat Papanya, lalu meraih pipi Devan dengan kedua telapak tangannya.
"Yocelyn!" teriak Keanu meraih tangan putrinya yang mengusap pipi Devan. "Kita pergi dari sini!" ucap Keanu menarik tangan kanan putrinya.
"Tidak Papa!" ucap Yocelyn dengan tangan kirinya yang berpegangan kuat pada Devan agar tidak sampai terbawa oleh Papanya. Devan pun ikut memegangi tangan kekasihnya agar tidak terlepas.
"Ayo!" tegas Keanu.
"Devan!" teriak Yocelyn meminta bantuan Devan.
"Keanu!" panggil Devan, "kita bisa bicara baik - baik!" ucap Devan.
Keanu langsung berhenti menarik tangan putrinya, tanpa melepas genggaman tangannya pada lengan Yocelyn. Keanu menatap tajam mata Devan yang menatap matanya serius.
"Apa yang bisa di bicarakan dengan baik - baik dengan pria brengsek seperti mu tentang putriku, hah?" tanya Keanu tegas.
"Kalau aku brengsek lalu kau apa!" balas Devan yang sudah tidak sabar menghadapi Keanu.
"Yocelyn, dengarkan Daddy!" Keanu beralih pada putrinya, karena melawan Devan pun bukan hal yang mudah. "Kamu hanyalah gadis polos, Sayang! kamu tidak tau siapa laki - laki ini!"
"Dia Devan! dia laki - laki yang baik!" jawab Yocelyn, "aku sudah mengenalnya, Dad!"
"Belum!" tegas Keanu. "Apa yang di kenal gadis polos seperti kamu tentang pria brengsek?" tanya Keanu tegas.
"Devan baik, bukan brengsek!" tegas Yocelyn.
"Yocelyn!" teriak Keanu, "dia ini seorang Casanova!"
Spontan tampak Devan mengeratkan giginya mendengar Keanu yang terang - terangan mengungkap jati dirinya.
"Casanova?" gumam Yocelyn menatap mata Devan, seolah bertanya, apa itu casanova.
Devan tidak menjawab dia hanya menatap teduh pada kekasih polosnya.
"Ayo! ikut Papa!" ucap Keanu kembali menarik tangan Yocelyn.
Tapi lagi - lagi Yocelyn enggan melepas tangannya di lengan Devan.
__ADS_1
"Yocelyn, kalau kamu tau Casanova itu apa! kamu pasti akan membencinya!" ucap Papa yang langsung membuat Yocelyn berfikir penuh
Devan mulai merasa khawatir dan takut, jika Yocelyn akan lepas darinya karena kata Casanova yang di ucapkan Keanu. Di mana Devan yakini Yocelyn tidak tau artinya.
"Itu artinya dia juga akan membencimu, Keanu!" sahut Devan.
Spontan Yocelyn mengerutkan keningnya, mencoba mencerna maksud dari ucapan Papa dan kekasihnya.
Sementara Keanu menatap tajam mata Devan seolah ingin menelannya hidup - hidup. Tapi yang di tatap seolah masih memiliki pikiran yang waras dan dingin.
"Lepaskan tangan putriku!" ucap Keanu melihat tangan putrinya yang di genggam erat oleh Devan. Keanu merasa jengkel tangan putrinya di genggam oleh Devan.
"Aku akan melepaskannya, jika kau tidak akan mempersulit aku untuk menemuinya!" tawar Devan.
"Jangan mimpi!" ucap Keanu dengan nada tinggi. "Kau sudah berani membawa kabur putriku! itu artinya kau sudah bermain api dengan ku, Devan!"
"Siapa yang membawa kabur putrimu!" tanya Devan.
"Kau!" jawab Devan tegas.
Devan melihat situasi sudah tidak lagi kondusif. Dia berfikir akan percuma saja jika berdebat dengan Keanu untuk saat ini.
"Pergilah, Sayang!" ucap Devan pada Yocelyn yang langsung menggelengkan kepalnya. "Aku janji akan menjemputmu!" ucap Devan yang membuat Yocelyn menatapnya sendu.
"Apapun yang kau lakukan! aku tidak akan melepas putri ku untukmu!" ucap Keanu tegas.
"Termasuk jika istri kesayangan mu yang jantungan itu tau siapa kau sebenarnya?" tanya Devan sinis.
"Apa maksudmu?" tanya Keanu.
"Kau tau apa maksud dari ucapan ku Keanu!" jawab Devan dengan senyum sinisnya.
"Lepaskan putriku!" ucap Keanu tajam seolah tidak perduli dengan ancaman Devan.
"Aku janji akan menjemputmu, Sayang!" ucap Devan.
"Tapi ..." Yocelyn merasa enggan melepaskan tangannya yang bergandengan dengan Devan.
"Hemm!" Devan mengangguk, seolah meyakinkan Yocelyn.
"Janji temui aku di mansion!" ucap Yocelyn.
"Iya, Sayang!" jawab Devan.
"Berhenti memanggil putriku sayang! aku jijik mendengarnya!" ucap Keanu tegas.
Namun Devan hanya mengangkat sudut bibirnya.
Pada akhirnya tangan mereka yang bergandengan erat, terlepas. Yocelyn mengikuti langkah cepat Papanya dengan sedikit berlari. Devan sendiri menatap teduh pada Yocelyn yang terus menoleh ke belakang seolah berkata, aku mau bersamamu saja.
Pada akhirnya Devan ikut keluar dari ruang kerja dan terus melihat Yocelyn hingga mereka masuk ke dalam lift. Mata Yocelyn tak sedikit pun lepas dari Devan.
Aku berjanji akan menjemputmu, Sayang! aku janji akan membawamu kembali! kita akan hidup bahagia! ucap Devan dalam hati.
.
.
.
.
.
Happy reading!
Jangan lupa, tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.