Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Dunia yang Sempit


__ADS_3

Setelah menyadari ucapannya yang sedikit berani, gadis itu segera menutup mulutnya. Dan itu membuat sudut Ivander semakin terangkat. Queenara dan Arga pun semakin terkekeh.


"Eh, maaf maaf!" ucap gadis itu sembari menunduk. "Saya permisi dulu kak!" pamit gadis itu pada Queenara dan Arga.


"Eh, sini aja!" ucap Queenara.


"Aku masih ada kelas kak!" ucapnya sembari berdiri dan berlalu dari meja itu.


Mata Ivander dan senyuman kecilnya tak lepas dari gerak gerik gadis yang menarik perhatiannya itu.


"Kejar deh!" sahut Arga.


Menyadari dirinya tengah di pantau para sepupunya. Ivander segera menghapus senyumnya dan menatap kedua sepupunya itu.


"Apaan sih!"


"Kejar deh! sebelum cinta pertama di sambar orang!"


"Tch!" Ivander berdecih, begitu para sepupunya menyadari gelagatnya.


"Ivander!" sapa seseorang dari belakang.


Tanpa menoleh pun Ivander hafal itu suara siapa. Ivander enggan menoleh pada lea yang sudah berdiri di sampingnya.


"Hai Kak Queenara dan Kak Arga!"


"Hemm!" Queenara hanya tersenyum sekilas.


Sementara Arga hanya mengangkat kedua alisnya untuk merespon sapaan Lea.


"Boleh aku duduk di sini?" menunjuk kursi tang abru saja di tinggalkan gadis Maba itu.


"Duduk aja! kan kursi umum!" jawab Ivander.


"Terima kasih." Lea duduk dan langsung menebar senyum pada tiga bersaudara itu.


"Kak Qiandra dimana kan Queen?" membuka obrolan


"Lagi sibuk dia!" jawab Queenara sekenanya.


Belum sempat ada obrolan antara Lea dan dirinya, Ivander sudah berdiri dan merapikan ponsel dan beberapa barang miliknya.


"Aku ke kelas dulu!" ucap Ivander pada Queenara dan Arga.


"Buruan! jangan sampai terlambat!" sindir Arga.


"Apaan sih!"


Ivander berlalu dari meja itu. Sementara mata Lea menatap kecewa pada Ivander yang selalu menghindarinya.


"Emm.. Lea kami sudah makan?" tanya Queenara.


"Eh, sudah kok kak!" Lea tersadar dari lamunannya menatap Ivander. "Kak, aku pergi dulu ya, ada kelas!"


"Oh, iya!" jawab Queenara dan Arga dengan santainya.


Lea mengejar Ivander yang tengah berjalan cepat di koridor yang menuju ke arah perpustakaan.


"Ivander!" panggil Lea sembari meraih lengan Ivander dan memeluknya. "Kamu kenapa sih selalu menghindar?" tanya Lea dengan centilnya.


"Lepas Lea!" Ivander menarik paksa tangannya yang di peluk Lea. "Lepas!" Ivander berkata dengan nada sedikit tinggi.


Mau tak mau Lea melepas tangan Ivander dengan bibir yang mengerucut.


"Ivander nanti malam jalan yuk!"


"Sorry aku sibuk!" jawab Ivander sekenanya.

__ADS_1


"Kamu cuma beralasan kan?"


"Untuk apa aku beralasan Lea!"


"Kamu cuma ingin menghindari aku, kan?"


"Sudahlah Lea, berhentilah bersikap seperti ini. Kamu merugikan dirimu sendiri."


"Aku tidak merasa rugi, Ivander!"


Saat pintu perpustakaan sudah terlihat, mata Ivander menangkap sosok gadis itu tengah masuk ke dalam perpustakaan.


"Pergilah, jangan ikuti aku! aku ada urusan!" ucap Ivander meninggalkan Lea di koridor.


"Ivander!" panggil Lea yang tak di hiraukan Ivander.


Ivander segera masuk ke dalam gedung perpustakaan. Selangkah demi selangkah dia lalui untuk menyusuri setiap barisan rak. Mencari sosok gadis yang mencuri perhatiannya.


Tap!


Langkah kaki Ivander berhenti saat mendapati gadis itu di rak yang berhubungan dengan seni rupa dunia. Dia berdiri dengan tangan yang terangkat. Hendak meraih sebuah buku yang cukup tinggi.


Ivander mendekat, dan langsung mengambil buku yang ingin di ambil oleh gadis itu.


"Eh!" gadis itu terhenyak saat melihat sebuah tangan mengambil buku incarannya.


"Ternyata kau juga pendek!" ucap Ivander menggoyangkan buku itu di depan wajah gadis cantik itu. "Dasar kecil!" ledek Ivander dengan seulas senyuman.


Aku tidak dapat memungkiri ketampanannya. Tapi kenapa dia tidak terlihat segarang waktu Ospek ya?


Gadis itu tertegun dengan pikirannya menatap wajah Ivander yang lebih tinggi darinya.


"Hey!" Ivander menjentikkan jarinya di kening gadis itu.


"Eh, kak! jangan suka memanggilku kecil bisa tidak?" menyadarkan dirinya dari lamunannya menatap Ivander sembari meraih buku di tangan Ivander.


"Memangnya kenapa? kan lucu, imut juga" ucap Ivander dengan senyuman jahil.


"Ikut aku!" Ivander menarik tangan gadis itu dan membawanya ke suatu tempat, meninggalkan ruang perpustakaan. Di mana di situ ada sebuah Mading yang bertuliskan nama mahasiswa baru berdasarkan program studi yang mereka ambil.


Ivander membuat gadis itu berdiri di depannya menghadap mading. Gadis yang hanya setinggi bahunya itu tampak kebingungan dengan maksud dari kakak tingkatnya itu.


Ivander mengangkat tangan kanan gadis itu dan mengarahkan pada daftar mahasiswa baru di Fakultas Seni Rupa dan Desain.


Membuat jari telunjuk gadis itu menunjuk dan menempel kaca. Ivander menarik turun jari lentik itu.


Di awali dengan abjad A turun ke bawah sampai huruf L. Dan berhenti di sebuah nama.


"Little Charla Caroline!" ucap Ivander membaca nama milik gadis itu. "Tidak salah kan jika aku memanggil mu kecil?" bisik Ivander di telinga Charla.


"Haaa" Little Charla menutup mulutnya yang menganga mendapati kesalahpahaman nya pada Ivander.


Ivander tersenyum di salah satu sudut bibirnya. Menatap pada gadis yang membuatnya gemas itu.


Charla menoleh Ivander dengan senyum kikuk dan salah tingkah. Dia kesulitan menempatkan posisi dirinya.


"Hehe!" Charla tersenyum kikuk sembari menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.


"Kenapa?" tanya Ivander.


"Hehe, maaf kak! aku salah paham." Charla semakin canggung.


"Tapi jika dilihat - lihat ... " Ivander memainkan jari telunjuk kanannya di dagu. Menatap dada Charla. "Dada mu memang kecil sih, hahaha!" Ivander terkekeh tak berdosa di depan Charla.


"Apaaa?" Spontan Charla membulatkan mata dan bibirnya. Tangannya hendak memukul Ivander.


Namun Ivander berhasil menghindar dan berlari meninggalkan Charla yang reflek mengejar Ivander.

__ADS_1


"Awas kamu harimau mesum!" teriak Charla mengejar Ivander.


Kejar - kejaran itu menarik perhatian beberapa mahasiswa di sekitarnya. Termasuk sepasang mata Lea yang tengah duduk bersama teman - temannya.


Puk!


Puk!


Puk!


"Harimau mesum!"


Charla memukuli Ivander yang berhasil di kejar nya. Sementara Ivander terkekeh dengan menggunakan kedua tangannya sebagai tameng.


"Heh! itu kenyataan, kecil!" ucap Ivander.


"Dasar mesum!"


"Stop! kecil stop!"


"Mesum! mesum! mesum!"


Hap!


Ivander berhasil menangkap kedua tangan Charla.


"Lepas mesum! lepas!" Charla memberontak sekuat tenaga.


"Hey hey! lihat! semua melihat ke arah kita!"


"Biar semua tau, kalau kau itu harimau mesum!"


"Jangan sembarangan ya! jangan ngada - ngada!"


"Memang iya!" Charla menatap mata Ivander.


Ivander yang tidak sabaran menarik tangan Charla, menjauh dari tatapan para mahasiswa di sana. Termasuk sepasang mata Lea yang menatap mereka dengan kesal, cemburu dan ingin tau apa hubungan mereka.


Ivander menarik tangan Charla sampai di toilet. Ivander membawa Charla masuk ke dalam toilet pria..


"Hey! apa - apa an ini! jangan gila!" teriak Ivander.


Hap!


Ivander mendekap tubuh serta tangan Charla dari belakang. Menghadapkan pada sebuah cermin besar di dalam toilet yang hanya ada beberapa mahasiswa yang langsung keluar begitu mendapati dua mahasiswa seperti akan ribut.


"Lihatlah, kan memang kecil semua!" bisik Ivander.


"Baiklah, semua milik ku memang kecil! puas kamu! kamu harimau mesum, pasti suka dengan yang besar - besar! mangkanya kamu selalu mengatai ku kecil!"


"Hahaha! kan namamu memang little, jadi untuk apa marah, aku memanggil mu kecil. Sesuai dengan tubuhmu dan ukurannya!" ucap Ivander dengan mengulum senyuman.


Charla mengerutkan keningnya melihat senyum Ivander yang seperti mengejeknya.


"Senyum mu menyebalkan!" ucap Charla menatap wajah Ivander dari pantulan cermin.


Ivander semakin tersenyum menatap pantulan wajah kesal Charla yang semakin terlihat menggemaskan.


"Lepaskan aku! aku mau keluar! ini toilet pria! memalukan!" tegas Charla sembari memberontak.


Sialnya Ivander semakin mengeratkan pelukannya.


.


.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


Ea, ketemu juga nih gedenya 🥰🥰


__ADS_2