
Beberapa minggu kemudian, kehamilan Yocelyn sudah memasuki trisemester kedua. Yocelyn tidak lagi mengalami muntah - muntah hebat di pagi hari. Hanya sesekali mual saja, dan tidak terlalu parah.
Dan selama itu pula Devan tak mengizinkan Yocelyn keluar apartemen. Selain bersama dengan dirinya. Apapun itu alasan sang istri, Devan akan melarangnya.
Tentu saja Devan belajar dari pengalaman sebelumnya. Kali ini Devan benar - benar menjaga kehamilan sang istri, agar tidak sampai menyesal dua kali.
Sore ini, tepat jam empat sore waktu London. Keanu beserta istrinya mendatangai apartemen Devan. Dimana saat Devan belum pulang dari perusahaannya.
"Papa! Mama!" seru Yocelyn saat berada di ujung tangga dan melihat kedua orang tuanya masuk ke dalam ruang tengah.
"Sayaaang?" panggil Mama yang sudah merindukan putrinya itu.
Dengan hati - hati Yocelyn menuruni tangga yang sedikit menikung itu. Dengan sigap Erina berjalan di sampingnya. Untuk memastikan Yocelyn menuruni tangga dengan aman. Karena semenjak hamil, tidak setiap hari Yocelyn menuruni tangga itu.
"Mama, Yocelyn kangen!" ucap Yocelyn memeluk Mamanya yang menyambut dirinya di bawah tangga.
"Apa lagi Mama, Sayang! Suami mu benar - benar kelewat batas! Masak iya istrinya nggak boleh main ke mansion nya sendiri!" gerutu Mama kesal sembari merapikan rambut Yocelyn yang berantakan, akibat rebahan.
"Kata Devan, bulan depan baru boleh keluar apartemen, Ma! itupun harus sama Erina dan bukan ke mall!"
"Huh! anak itu benar - benar!" gerutu Mama kesal. "Tidak jauh beda dengan Papa kamu dulu! kalau anak perawan sih nggak masalah, tapi inikan istri hamil! dipikir nggak bosen apa!"
"Sudahlah, Ma.. Devan pasti punya maksud baik untuk Yocelyn, dan cucu kita!" sahut Papa Keanu.
"Kok tumben Papa belain Devan?" ujar Yocelyn mengerutkan keningnya.
"E . . ." Papa Keanu tampak berfikir. "Kamu lupa Mama tadi bilang apa? kalau Papa dulu juga melakukan hal itu? Itu karena Papa tidak mau terjadi apa - apa dengan Mama dan kandungannya! Apa lagi kamu mengalami insiden di mall, pasti Devan trauma!" Keanu menghela nafas, karena berhasil mendapatkan kalimat uang tepat.
Untuk seorang pemimpin seperti dia pasti bias mengatur kalimat dengan tepat dan cepat, walau dalam keadaan terhimpit sekalipun.
"Iya juga sih!" jawab Yocelyn mengangguk pelan.
"Tapi Papa tidak seposesif itu!" sahut Mama ketus yang membuat Keanu sedikit nyengir. "Duduk yuk!" ajak Mama.
Semua duduk di ruang tengah, tepat di depan TV berukuran besar. Tak berapa lama kemudian pelayan datang dengan membawa nampan berisi dua gelas jus alpukat, dan satu kopi pesanan Papa Keanu.
"Kamu sudah tidak mual lagi?" tanya Mama mengusap perut Yocelyn yang belum terlihat jika tengah hamil. Karena memang tubuh Yocelyn ramping dan susah gendut.
"Sedikit!" jawab Yocelyn.
"Kalau sampai b*jing*n itu tidak menjaga kamu dengan baik lapor Papa!" sahut Papa. "Papa tidak mau anak dan cucu Papa tidak mendapat kasihkan Sayang!"
"B*jing*n seperti apa yang Papa maksud?" sahut Devan yang tiba - tiba muncul dari arah ruang tamu.
Seketika semua mata terarah ke sumber suara. Dimana mana Keanu tampak menarik nafas dalam.
"Paaa?" tanya Devan dengan nada dingin tanpa melihat Keanu, sembari duduk di samping istrinya, meletakkan satu tangannya di pundak sang istri.
__ADS_1
"B*jing*n seperti mu!" ucap Keanu.
"Oh!" Devan hanya mengangguk santai tapi mencekam di telinga Keanu. Dengan tangan yang mengusap lembut perut istrinya.
"Awas saja kalau kamu berani melakukan hal membuat aku murka!" ucap Papa Keanu.
"Kalau anak dan istri Papa murka bagaimana?" tanya Devan dengan senyum devil nya.
"Berhentilah bicara yang tidak - tidak!" sahut Keanu.
"Papaa?" panggil Devan dingin dengan lirikan setengah mengejek pada Papa mertuanya itu.
"Sebaiknya berhenti membahas yang tidak penting!" seru Mama.
"Hemm!" Devan menghela nafas sembari mengangguk dan kembali mengusap perut istrinya.
Tanpa malu, Devan menunduk, mendekatkan wajahnya pada perut Yocelyn. Dan mendaratkan ciuman perut itu. Reflek tangan Yocelyn mengusap rambut kepala Devan dengan senyuman manis di bibirnya.
Melihat Yocelyn yang tampak sangat bahagia, membuat hati Mama bergetar. Dia sangat senang putri satu - satunya mendapat suami yang ternyata cukup perhatian dan sangat menyayanginya.
Keanu yang melihat itu sebenarnya sangat bahagia. Tapi dia juga di landa kekhawatiran. Mengingat sebelumnya siapa Devan. Dia sungguh melihat Devan adalah dirinya, saat belum menjadi menantunya. Meskipun sekarang dia tak mendapat satu bukti pun jika Devan menyeleweng.
Setelah makan malam, Keanu dan istrinya pergi meninggalkan apartemen menantu mereka. Lagi - lagi Devan hanya mengizinkan Yocelyn untuk mengantar sampai depan pintu apartemen saja.
"Yuk masuk, Sayang!" ajak Devan setelah mertuanya menghilang di balik pintu lift.
# # # # # #
Keanu dan istrinya duduk di kursi sebuah mobil limousine. Di mana sang sopir tampak fokus mengemudi.
Sedangkan Keanu tampak di landa dilema. Dia harus mengakhiri sesuatu yang tidak di ketahui siapapun. Selain Devan yang entah dari mana dia bisa tau semua itu. Sungguh di luar dugaan, padahal dia sudah cukup berhati - hati kali ini.
Melihat Devan yang memperlakukan Yocelyn lebih dari yang dia lakukan pada istrinya dulu, membuatnya mulai yakin jika Devan benar - benar berubah. Tidak seperti dirinya.
"Mama masuk duluan ya? Papa ada urusan sebentar!" ucap Keanu saat mobil berhenti tepat di depan mansion megah miliknya.
"Mau kemana, Pa? ini kan sudah malam!"
"Paling cuma satu atau dua jam, Papa akan kembali. Papa cuma mau menemui teman Papa sebentar, dia baru pulang dari Aussie!"
"Hemm.. baiklah!"
"Mama langsung tidur saja, jangan nungguin Papa!"
"Iyaa"
Supir kembali melajukan mobil limousine itu. Meninggalkan mansion dengan hanya membawa Keanu di kursi belakang.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, mobil mewah itu berhenti di parkiran gedung apartemen. Keanu turun dari mobilnya dan segera memasuki gedung itu.
Dengan langkah cepat, Keanu menuju satu pintu di apartemen itu dan menekan salah bel yang ada di daun pintu.
Clek!
Tak butuh waktu lama, pintu itu sudah terbuka oleh seorang gadis cantik tengah memakai lingerie berwarna merah menyala, di balut kimono tipis dengan warna senada.
Lagi - lagi mata Keanu hampir di buat buta oleh belahan dada yang terlihat menyembul keluar. Tapi kali ini sekuat hati, Keanu menahan gejolak di pikirannya.
"Om?" panggil gadis itu dengan suara manjanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Keanu sedikit dingin.
Gadis itu mengerutkan keningnya, kemudian menebar senyuman, lalu menarik tangan Keanu untuk masuk ke apartemen gadis itu.
Sebuah apartemen kecil tapi di penuhi dengan barang - barang berkelas. Tentu saja apartemen itu di beli oleh Keanu tanpa sepengetahuan istri dan anak - anaknya.
Entah berapa kali dalam hidupnya, dia membelikan apartemen untuk wanita - wanita yang di simpan secara khusus oleh Keanu. Atau gadis - gadis yang dia kencani di masa muda dulu. Yang jelas dia sempat berhenti bermain - main seperti ini setelah menikahi sang istri.
Namun beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat Yocelyn tengah menjalani program kehamilan pertama, Keanu kembali tergoda oleh seorang gadis yang menurutnya sangat luar biasa.
Hal itulah yang membuat Keanu takut jika sang anak perempuan akan menjadi korban Devan. Laki - laki yang masa mudanya hampir sama dengan dirinya.
Gadis bertubuh seksi dan menggoda itu menutup pintu apartemennya dan langsung mengunci rapat. Seolah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
.
.
.
**Apa yang akan di lakukan Keanu hayo**?
**Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya kakak 🤩**
**Mohon dukungan untuk novel super receh ini**.
**Happy reading 🌹🌹🌹**
__ADS_1