Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Friday Night part lll


__ADS_3

Gadis itu jatuh terduduk di pangkuan Ivander. Dan dengan sigap Ivander mendekap erat tubuh itu agar tidak memberontak. Dada mereka menempel dengan sempurna.


Kedua tangan gadis itu tepat berada di pundak kanan dan kiri Ivander. Tatapan mata mereka bertemu dalam jarak tak lebih dari 15 cm.


Diam, adalah sikap yang pertama kali terjadi di antara keduanya. Mematung dengan nada yang kembang kempis. Dan hanya kedipan mata yang bergerak.


Deg!


Deg!


Deg!


Detak jantung keduanya kembali beradu setiap mereka berada di posisi sedekat itu.


Wajah tampan Ivander memenuhi bola mata Charla yang berwarna coklat. Sedang bola mata hitam Ivander di penuhi dengan bibir Charla yang terlihat begitu manis walau tanpa lipstick dan riasan lainnya.


Entahlah, Baru kali ini Ivander begitu tertarik dengan bibir lawan jenisnya. Dan bisa di bilang, Charla adalah gadis satu - satunya pernah di ciumnya.


Cukup lama adegan diam dan saling mengamati itu berlangsung. Kali ini keduanya sama - sama tidak bisa mengontrol detak jantung keduanya.


Ivander yang sudah terbawa mimpi sejak pertama kali mencium bibir Charla kemarin, kini dia memiliki kesempatan jauh lebih menguntungkan. Tak ada satu mata pun yang melihat mereka. Karena Charla pasti malu jika ada yang melihat.


Pelan - pelan kepala Ivander bergerak. Mendekatkan bibirnya pada pada bibir ranum Charla.


Sepuluh senti, tujuh senti, lima senti, tiga senti, satu senti dan mata keduanya reflek terpejam.


Cup!


Ivander mengecup lembut dan dalam bibir tipis Charla. Ivander menarik bibirnya kembali, memberi jarak tiga senti meter. Dan hidung mancung keduanya hanya berjarak tak lebih dari satu senti.


Tatapan mata mereka kembali bertemu, seolah menunggu reaksi Charla. Menolak atau mengizinkan untuk melanjutkan adegan itu.


Naluri normal pada diri mereka, membawa mereka pada situasi yang sulit di artikan. Yang jelas dalam hati kecil mereka sama - sama tidak keberatan, untuk berada dalam posisi itu. Atau bahkan mungkin lebih dari itu.


Mata Charla mengedip beberapa kali, dan bibirnya tidak mampu untuk berkata apapun. Sedang Ivander menatap lembut mata yang tampak gugup itu. Namun Ivander yakin, Charla tidak menolak.


Ivander kembali menghilangkan jarak tiga senti mereka. Ya, bibir mereka kembali berpaut. Di awali dengan kecupan - kecupan lembut, kemudian bibir Ivander memaksa untuk membuka bibir Charla.


Karena ini untuk pertama bagi Charla, dia tidak tau harus bagaimana melayani ciuman seorang laki - laki.


Ivander pun baru pertama kali. Namun dia adalah laki - laki normal. Sedikit banyak dia pasti tau cara berciuman. Yang entah dia belajar dari mana.


Akhirnya bibir Charla berhasil sedikit terbuka. Ivander memainkan bibir atas dan bawah itu secara bergantian.


"Bernafas lah" bisik Ivander lirih dan kembali menautkan bibirnya.


Semakin dalam ciuman mereka, semakin erat tangan kiri Ivander memeluk pinggang Charla. Tangan kanan Ivander pun sibuk mengusap lembut punggung Charla.


"Emh!"


Reflek, kedua tangan Charla melingkar erat di leher Ivander. Saat merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Charla menekan perasaan aneh itu, namun tangannya semakin erat memeluk leher Ivander.

__ADS_1


"Huh!"


"Huh!"


Ivander melepas ciumannya, saat keduanya hampir kehabisan nafas. Bersamaan dengan tangan Charla yang mengendur di lehernya.


Charla menunduk dengan nafas menggebu. Dia malu untuk melihat wajah tampan Ivander yang masih menatapnya.


Ivander mengangkat dagu Charla. Menatap lembut bibir gadis yang baru saja di ciumnya, sampai yang punya bibir tersengal.


Ivander mengusap bibir basah Charla dengan ibu jarinya. Namun Charla yang salah tingkah justru menunduk dan mengusapkan bibirnya pada kemeja Ivander di bagian pundak.


Ivander merasa sangat nyaman saat memeluk gadis itu. Entahlah, apa yang dia rasakan, seperti menemukan bagian darinya yang hilang.


Kenapa begini?


Tanya Alea dalam hati, saat merasakan nyaman di pelukan Ivander.


Kesadaran dan keegoisan kembali menyadarkan Charla.


"Hey, apa yang baru saja kau lakukan!" hardik Charla.


"Hahaha!" Ivander terkekeh. "Apa kamu bilang? apa yang baru saja aku lakukan?" tanya Ivander. "Yang benar itu, apa yang baru saja KITA lakukan, baby!" ucap Ivander menekan kata kita.


"Kamu lancang!" protes Charla yang masih duduk di pangkuan Ivander.


"Hihihi! kamu juga mau," ucapnya santai. "Jadi kita sama - sama mau. Tidak paksaan." ucap Ivander penuh kemenangan.


"Aku tidak punya ilmu seperti itu, dasar kecil!" ucap Ivander. "Yang ku punya sekarang adalah, ini.." Ivander mengusap lembut bibir Charla dengan ibu jarinya.


"Ngawur!" ucap Charla menyingkirkan tangan Ivander.


"Aku tidak menerima penolakan, baby!" ucap Ivander tegas. "Yang jelas, mulai saat ini bibir ini milik ku!" ucap Ivander kembali mengusap lembut bibir Charla. Namun dengan cepat Charla menepisnya.


Ivander semakin tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Charla yang seolah malu - malu dan menyesal.


"Jangan menyesal, baby. Bibir ku juga hanya akan jadi milikmu!" ucap Ivander.


"Aku tidak setuju! aku tidak menyukai mu!" ucap Charla tanpa melihat Ivander.


Ivander tersenyum sinis. Kedua tangannya kembali melingkar erat di perut Charla.


"Sayangnya semua itu sudah terjadi, sayang!" bisik Ivander. "Kamu milikku!" bisik nya lagi dengan nada lebih tegas.


"Nggak! jangan sembarangan kamu ya!" Charla memberontak, hendak berdiri. Namun tangan kokoh itu lebih berkuasa dari pada tubuh rampingnya yang tidak ada tenaga.


"Dengarkan baik - baik, Ivander Gibran tidak menerima penolakan, sayang!" ucap Ivander yang tak bergeming meski kedua tangan Charla masih terus memukuli dada, pundak dan lengan Ivander.


"Lepaskan akuuu!" rengek Charla.


"Merengeklah dengan baik, baby!" ucap Ivander.

__ADS_1


"Menjijikkan merengek padamu!" ucap Charla ketus.


"Hihihihi! semakin kamu memberontak, semakin aku ingin menunjukkan pada dunia, bahwa Little Charla Caroline adalah milik Ivander Gibran!"


"Jangan bodoh ya!" bentak Charla.


"Tidak bodoh, sayang! harusnya kamu bangga! tidak akan ada yang berani mengganggu mu saat di kampus!"


"Cih! siapa bilang! yang ada aku pasti di telan bulat - bulat sama si Lea itu!" ucap Charla.


"Lea?" tanya Ivander.


"Iya! gara - gara kamu mencium ku kemarin, kemarin juga dia dan teman menjambak rambutku!" ucap Charla kesal.


"Apa!" pekik Ivander mengerutkan keningnya.


"Hah!" Charla membulatkan matanya, lalu menutup mulutnya. Seolah baru saja keceplosan. "Tidak - tidak! aku hanya salah bicara!" ucap Charla sembari beranjak dari pangkuan Ivander.


"Tunggu!" Ivander kembali menarik tangan Charla, hingga gadis itu jatuh di sofa samping Ivander.


Dengan gerakan cepat Ivander mengunci tubuh Charla hingga Charla bersandar pada pojokan sofa.


"Jelaskan padaku, apa yang di lakukan Lea padamu?" hardik Ivander tepat di depan wajah Charla yang bingung.


Ekspresi Charla tampak bingung. Dia hanya melirik kanan dan kiri, seolah mencari jawaban yang tepat.


"Cepat ceritakan! aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti mu!" ucap Ivander penuh penekanan.


"Tapi aku akan terlihat lemah di mata mereka, jika aku mengadu padamu!" ucap Charla memanyunkan bibirnya.


"Oh come on, baby! jangan biarkan aku kesal seperti ini. Cepat ceritakan bagaimana Lea bisa menarik rambut ini. Rambut yang mulai malam menjadi milikku!" ucap Ivander membelai rambut panjang Charla yang menjuntai.


Charla melihat ekspresi Ivander yang ia tau cukup keras. Setelah berfikir beberapa saat akhirnya, Charla memilih untuk bercerita.


Dimana dia yang tiba - tiba di tarik rambutnya dari belakang saat tengah duduk di kursi depan kelasnya.


Dan Lea juga membentak - bentaknya seolah dia adalah tersangka dalam suatu kasus. Charla yang bukan tipe gadis urakan, memilih diam saja dan cuek. Meskipun banyak mahasiswa yang menyaksikan hal itu.


Sebagian teman di kelasnya yang tau jika Charla tidak semurah itu merayu seorang Ivander, merasa kasian. Namun Charla tetap cuek, dia tidak suka di kasihani.


Dan sikap cuek dan berpura - pura tidak ada orang yang memarahi nya, membuat Lea dan temannya kesal dan pergi dengan meninggalkan satu tamparan di pipi kiri Charla. Dan sebuah ancaman.


Charla menyentuh pipinya tanpa membalas. Dia hanya menatap punggung dua mahasiswi itu, dengan tatapan yang sulit di artikan.


.


.


🪴🪴🪴


Jadi jangan lupa dukungannya ya kakak 🙏🤩🥰

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2